Dalam berbahasa kita harus sangat faham dalam menggunakan kata, dengan awalan me, di serta berbagai imbuhan lainnya.
(kira-kira begitu, aslinya pasti lebih tersusun indah).
Tentang falsafah menilai buku tadi, diterapkan oleh MT sangat-sangat tepat sekali.
Yaitu : menilai dan dinilai.
Sadar bahwa dirinya dinilai orang (sebagian besar menilai dari covernya), coba perhatikan bukunya MT : One million second chance, dicetak dalam cover yang mewah sekali.
Coba sekali lagi , saat menjelang malam hari, jangan nyalakan lampu di ruangan baca anda, maka diantara tumpukan buku dalam kegelapan itu, bukunya beliau dengan tulisan silver itu akan mencorong (bersinar) sendiri.
Sedemikian telitinya beliau berfikir, saat akan dinilai oleh orang lain.
Saat akan menilai, beliau sangat hati-hati sekali. Nasihat melihat cover itu mungkin dia abaikan untuk hal-hal tertentu. Buktinya beliau mengetahui dan nyambung kalau diajak cerita tentang kisah dari buku-buku yang bercover sederhana.
Seperti bukunya Florence Littauer (personality plus), yang menurut pendapat saya kurang menarik covernya, dengan warna kuning, dengan tampilan terlalu huruf terlalu ramai, atau buku-buku lainnya,sepertinya Pak Mario memahaminya dan sudah membacanya.Terbukti dalam menilai beliau tidak akan terlalu gegabah.
Implikasinya ke dalam penilaian pribadi dinampakkannya dalan tutur kata yang santun dan tidak membeda-bedakan orang yang diajak berbicara.
Psstt...namun hati-hati...saat Anda sudah menjadi target yang akan dinaikkan kelas personal-stylenya....Anda akan dikumpulkan dalam komunitas terbatas, atau diajak ngobrol berdua saja,satu persatu kekurangan kita akan dikupas tuntas......habis di teropong dari berbagai sisi.
Ya..kira-kira seperti warna kepiting yang masuk ke dalam air bertemperatur 100 derajat-lah, warna wajah kita.
saat itu .(saya tulis kecil, karena sebetulnya ini rahasia)
Saya yakin beliau sangat berbeda saat akan menilai dan saat akan dinilai.
Terakhir saya sisipkan cerita, dari mantan bos saya, yang sekarang jadi pengusaha bisnis jasa hospitality dan ketua PHRI di salah satu provinsi di nusantara ini.
Beliau dulu mantan pedagang asongan dan sedikit keras kehidupannya di terminal bus.
Saat itu dia berfikir, kalau suatu hari nanti saya beli mobil, yang penting bisa nggelinding, buat apa sih mahal-mahal. Itu khan pemborosan. Uangnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat lainnya.
Ternyata saat ini, mobil yang bagus itu (Mercedez-nya), baginya merupakan suatu kebutuhan. Bukan tuntutan pribadi, merupakan sudah seperti standar pergaulannya, misalnya dalam berkonvoi dengan rombongan VIP, coba kalau menggunakan mobil jelek : kemungkinannya bisa ketinggalan dari rombongan, atau ditolak oleh security untuk masuk area proyek yang akan dituju/diresmikan.
Hal lain yang dia dapat dari mobil mahal itu selain fungsi kenyamanan dan keselamatan itu adalah pencitraan.(ada hubungannya dengan dinilai orang).
Nah, khan ujung-ujungnya orang rela berbelanja mahal sekali, karena berhubungan dengan pencintraan dirinya.
Mungkin bagi mereka, biaya yang ditimbulkan dalam membangun citra-diri,di-posting atau dimasukkan ke dalam biaya-modal (investasi).
Demikian Bapak, yang ada dalam lintas fikiran saya tentang menilai dan dinilai.
Semua pertentangan yang berkenaan dengan obyektifitas adalah sebetulnya pertentangan subyektifitas.
Ketahuilah, bahwa harapan orang lain adalah peningkat nilai yang kekuatannya tidak sederhana, karena mereka mengharapkan Anda mencapai kemampuan yang lebih tinggi untuk menyampaikan keuntungan yang lebih besar bagi mereka. Itu sebabnya,
Tumbuhlah bersama harapan orang lain, dan Anda akan tumbuh mencapai ketinggian-ketinggian yang anggun.
Bila gaya pribadi Anda demikian tertata, jujur, anggun, berani, dan sangat ramah kepada kepentingan orang lain; Anda seolah tidak membutuhkan kemampuan asli apa pun, karena paruh kedua dari kemampuan Anda datang dari jutaan pribadi yang dengan berbahagia menyumbangkan kekuatan untuk pencapaian tujuan-tujuan Anda.
Entah kenapa, saya seperti melihat sosok Pak Mario begitu jelas mengejewantah dalam kata-kata diatas. Terimakasih telah membolehkan kami belajar begitu dekat dengan semua keindahan pembelajaran ini.
"Doubt, of whatever kind, can be ended by action alone."
Thomas Carlyle
1795-1881, Philosopher and Author
