H.Bambang Eka WIjaya:
"KABAR gembira!" teriak Umar. "Penduduk miskin berkurang jumlahnya, dari 39,3 juta orang pada bulan Maret 2006 atau 17,75 persen dari total penduduk, menjadi 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari 224,328 juta total penduduk Indonesia terakhir!" (Kompas, 3-7)
"Alhamdulillah! " sambut Amir. "Itu luar biasa, bahkan suatu keajaiban, kemiskinan bisa berkurang di tengah kenaikan nyaris tak terkendali harg kebutuhan pokok dari beras, sampai minyak goreng, saat bantuan langsung tunai (BLT) telah dihentikan dan program penggantinya belum disiapkan!"
"Itu data Badan Pusat Statistik--BPS! " tegas Umar. "Bahkan menurut BPS, dalam periode bulan Maret 2006--Maret 2007 itu gaji buruh secara riil tidak naik!" timpal Umar. "Lebih dahsyat lagi, garis kemiskinan pada perhitungan bulan Maret 2007 itu dinaikkan 9,67 persen menjadi Rp166.697 per kapita per bulan, dari Rp151.997 per kapita per bulan pada bulan Maret 2006!"
"Maka itu, perlu dicari tahu keajaiban apa yang terjadi dalam perekonomian nasional, sehingga di balik semua kontraindikasi itu bisa terjadi penurunan jumlah orang miskin!" tegas Amir. "Harus ada sesuatu yang menjadi causa prima, sehingga bisa terjadi keajaiban seperti itu!"
"Dari gaya bicaramu terkesan kau kurang percaya!" entak Umar. "Itu angka resmi hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional--Susenas! Jangan ikut-ikutan para ekonom, dong!"
"Memangnya ada apa dengan ekonom?" kejar Amir.
"Baik Hendri Saparini dari Tim Indonesia Bangkit maupun Drajad H. Wibowo dari Komisi XI DPR, menanggapi sinis angka hasil Susenas itu!" jelas Umar. "Kata Drajad, seperti halnya data pengangguran, data kemiskinan jauh bertentangan dengan realitas di masyarakat. Politisasi statistik kini benar-benar parah!"
"Saya tak berpikir sejauh itu! Maksudnya, soal politisasi statistik!" tegas Amir. "Saya hanya melihatnya dari kualitas pendataan yang dilakukan BPS, seperti waktu mendata orang miskin penerima BLT waktu itu, banyak terjadi kekeliruan! Saya jadi cemas, kalau perangkat itu juga yang dipakai dalam pendataan Susenas kali ini! Soalnya, kontraindikasinya dari berbagai pendekatan dengan realitas cukup mencolok, khususnya dengan tingkat pendapatan umumnya rakyat miskin yang justru makin terseok-seok! "
"Survei ini bukan mengukur secara kualitatif pendapatan rakyat, melainkan secara kuantitatif dari pengeluaran atau tingkat konsumsinya! " timpal Umar. "Bisa saja orang miskin atau penganggur mendapat bantuan dari keluarga atau pihak lain hingga konsumsi keluarganya meningkat! Misalnya menjelang pilkada atau pilkades, banyak calon jorjoran membagi-bagi bantuan kepada orang miskin untuk mendapatkan dukungan!"
"Mudah-mudahan saja begitu!" sambut Amir. "Tapi, terpenting dari hasil Susenas itu, tanpa ada pendekatan efektif dalam mengentaskan kemiskinan dilaporkan sukses, penguasa pun merasa cukup dengan apa yang telah dilakukan selama ini! Mau apa lagi? Begitu saja sudah oke, kok!" ***
