
Uji Coba Timnas
Fisik Layu, Semangat Mekar
Dua rangkaian uji coba berurutan yang digelar Pasukan Merah-Putih menuai hasil kontras. Setelah Kamis (21/6) menang 2-1 atas Jamaika, Minggu (24/6) malah ditekuk Oman 0-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Simulasi Ivan Kolev akan kondisi pertandingan yang dihadapi pada Piala Asia, Juli nanti, tentu mendapati banyak masukan. Salah satunya seputar kondisi fisik para pemain yang drop pada partai kedua.
“Pemain Indonesia memang kesulitan mempertahankan penampilan. Satu pertandingan baik, lalu pertandingan berikutnya turun,” ujar pelatih timnas asal Bulgaria itu.
Peringatan Paulus Pasurney, pelatih fisik PON Kaltim, Mei lalu, seputar fisik anak asuh Kolev pun bukan omong kosong. Bambang Pamungkas cs. hanya bisa konstan bermain cepat pada babak pertama, khususnya di bawah menit ke-30. Selepas itu, tempo permainan cepat yang diharapkan Kolev menurun.
“Saya tetap puas karena keinginan kita untuk bermain cepat sudah tercapai. Dalam waktu tersisa, kita harus memperbaiki kondisi pemain. Harus!” tegas Kolev.
Namun, hal itu bukan pekerjaan mudah. Meningkatkan kondisi fisik pemain dalam waktu kurang dari dua minggu dari pertandingan sesungguhnya dapat menjadi bumerang. Jika digenjot latihan fisik berat, bukan tak mungkin Firman Utina cs. akan terlambat recovery.
Hal ini pernah terjadi di Piala Tiger 2002. Saat itu Indonesia tampil loyo di partai pertama saat ditahan 0-0 Myanmar lantaran Kolev menggenjot fisik pemain seminggu sebelumnya.
Semangat Tinggi
Untungnya kelemahan fisik masih bisa ditutupi semangat para pemain yang terbilang bagus. Meski terlihat kelelahan dan konsentrasi cenderung menurun, mereka masih ingin menunjukkan permainan terbaik.
Hal ini tentu tak terlepas dari perlakuan manajemen timnas yang menyediakan fasilitas komplet para pemain. “Di ruang ganti, kami memberikan apresiasi tinggi seperti halnya yang terjadi saat pemain di Piala Dunia masuk ruangan. Kaus tertata rapi dan semua komponen timnas kompak mendukung mereka,” tutur Andi Darussalam Tabusala, manajer timnas.
Pemain pun tak perlu memikirkan hal nonteknis lain karena Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, dan Andi berjanji menuntaskannya. Hal ini tentu membuat pemain lebih lepas dalam bermain. “Kami sangat berterima kasih dan tentu ingin membuat yang terbaik untuk timnas,” janji Ponaryo Astaman, kapten tim.
Letupan semangat juga dilontarkan Bora Milutinovic, pelatih Jamaika. “Indonesia punya tim bagus, skill pemain baik. Ini berbeda dibandingkan dengan tim yang saya kalahkan saat menangani Cina tahun 2001. Sekarang Indonesia tergabung di grup berat, namun kesempatan lolos tentu ada,” ujar Bora.
Aplaus juga diberikan Gabriel Calderon, pelatih Oman. “Indonesia punya tim bagus dengan banyak pemain muda dan mengandalkan counter attack yang cepat. Tim ini punya banyak harapan di masa depan,” ungkap Calderon.
Jika kedua pelatih berpengalaman itu punya keyakinan atas timnas Indonesia, tentu Kolev dan manajemen pun seharusnya punya mental serupa. Piala Asia sudah dekat dan saatnya Indonesia menunjukkan diri kepada dunia: Ini kandang kita! (Ary Julianto)
Hasil Uji Coba Kamis (21/6)
Indonesia vs Jamaika: 2-1
Pencetak Gol: Bambang Pamungkas 59’ & 90’; Wori Wolfe 72’
Wasit: Ramachandran Krisnan (Malaysia)
KK: M. Ridwan 63’;
Formasi Indonesia (4-3-3): 1-Jendri Pitoy (K), 2-M. Ridwan, 5-Maman, 6-Charis, 4-Richardo/22-Supardi 47’ (
9-Mahyadi/16-Syamsul 71’, 11-Ponaryo/7-Eka 27’, 15-Firman/17-Atep 85’ (T), 8-Elie/19-Arif 71’, 20-Bambang, 13-Budi (D)
Hasil Uji Coba Minggu (24/6)
Indonesia vs Oman: 0-1
Pencetak Gol: Almukhain Ahmed 57’
Wasit: Shahbuddin Mohamad Hamidin (Brunei)
KK: Almahaijri Ahmed 22’, Almaini Badar 28’, Younis Al Mahyijani 67’
Formasi Indonesia (4-3-3): 23-Markus (K), 2-M. Ridwan, 5-Maman, 6-Charis, 14-Ismed/Ricardo 75’ (
9-Mahyadi/11-Ponaryo 70’, 7-Eka 27’, 15-Firman/17-Atep 80’ (T), 8-Elie/19-Arif 67’, 20-Bambang, 13-Budi /Erol 80’ (D)
Kondisi Timnas Saat Ini
Kelebihan
* Main bagus dengan umpan bola pendek dan cepat serta menyusur tanah.
* Kerja sama satu-dua pemain dan sistem 4-3-3 berjalan lancar.
* Umpan silang datar dengan banyak variasi.
* Pertahanan jauh di depan dan rapat dengan pemain tengah dan depan.
* Jarak antarpemain rapat.
Kelemahan
* Pertahanan sejajar sangat rawan menghadapi umpan terobosan dengan striker lawan yang cepat.
* Pertahanan banyak mengandalkan jebakan off-side.
* Stamina pemain tidak bisa konstan bermain 90 menit dalam tempo tinggi.
* Hanya sedikit pemain yang berani melakukan tendangan jarak jauh, keras, dan mempunyai akurasi bagus.
* Penyelesaian akhir masih lemah, terutama pemain dari lini kedua.
Wawancara Bora Milutinovic
Tak Ada Salahnya Bermimpi
Velibor “Bora” Milutinovic adalah satu-satunya pelatih yang pernah menangani lima negara berbeda di ajang Piala Dunia. Bora membawa Meksiko (1986), Kosta Rika (1990), Amerika Serikat (1994), dan Nigeria (1998) lolos dari babak pertama Piala Dunia. Hanya saat melatih Cina (2002) Bora gagal.
Bora Milutinovic, mencari tantangan baru bersama Jamaika.
Pelatih yang dikenal tak butuh waktu lama untuk sukses dalam menangani tim itu sekarang menukangi Jamaika, yang ditekuk Indonesia 1-2 (21/6). Saat melatih Cina, pelatih berdarah Serbia ini membawa pasukannya menang 2-0 atas Indonesia di Jakarta dan 4-1 di Kunming pada Pra-Piala Dunia 2002.
Apa kesan Bora pada kesempatan keduanya menghadapi Indonesia bersama tim berbeda, berikut penuturannya pada BOLA di area mixed zone dan sesaat sebelum naik ke bus tim Jamaika:
Halo, Bora. Bagaimana pengalaman kedua melawan tim Indonesia sekarang?
Tak terlalu bagus. Tim saya kalah. Seperti pelatih lain, saya tentu tak suka jika timnya kalah. Tapi saya kira hal ini wajar karena sebagian besar pemain yang saya bawa berusia muda dan masih minim pengalaman.
Bagaimana penampilan Indonesia?
Bagus. Organisasi mereka cukup rapi, baik saat menyerang atau bertahan.
Soal peluang Indonesia di Piala Asia nanti?
Jujur saja, cukup berat. Indonesia harus berhadapan dengan lawan kuat. Perlu kerja keras untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi dari apa yang sudah ditampilkan di laga lawan Jamaika. Arab dan Korsel bukan tim yang mudah dikalahkan, sedang Bahrain juga berpotensi jadi kuda hitam. Tapi, semua bisa saja terjadi asal mau kerja keras. Indonesia punya pelatih bagus. Apa yang saya lihat hari ini, pemain terlihat punya keinginan kuat untuk menang. Tak ada salahnya bermimpi sambil berusaha keras untuk mencapai mimpi itu.
Ada pemain Indonesia yang menurut Anda punya kemampuan bagus?
Nomor 20 (Bambang Pamungkas). Buktinya jelas. Dua gol ia cetak ke gawang kami.
Apa yang membuat Anda memutuskan melatih Jamaika? Apa target dengan tim ini?
Tantangan. Saya ingin membawa tim ini lolos ke Piala Dunia. Tak mudah memang karena banyak pemain baru. Tapi, saya lihat beberapa pemain punya kemampuan yang cukup menjanjikan.
Sampai kapan kontrak dengan Jamaika selesai? Tertarik untuk melatih Indonesia?
Apa pun bisa terjadi dalam dunia yang saya jalani. Bisa saja besok saya dipecat karena gagal membawa Jamaika menang atas tim Anda. Melatih Indonesia? Sekali lagi, apa pun bisa terjadi. (win)
Velibor “Bora” Milutinovic
Lahir: Bajina Basta (Yugoslavia), 7 September 1944
Karier pemain: 1967-1969 - OFK Beograd, Partizan Belgrade (Yugoslavia), AS Monaco, Nice, Rouen (Perancis), Winterthur (Swiss), Pumas Unam (Meksiko).
Karier pelatih:
1977-1981 Pumas Unam (Meksiko)
1983-1986 Meksiko (lolos ke perempatfinal Piala Dunia)
1987 San Lorenzo (Argentina)
1987 Udinese (Italia)
1990 Kosta Rika (lolos babak kedua Piala Dunia)
1991-1995 Amerika Serikat (lolos babak kedua Piala Dunia)
1995-1997 Meksiko
1997-1998 Nigeria (lolos babak kedua Piala Dunia)
1998-1999 Metro Stars (Amerika Serikat)
2000-2002 Cina (lolos ke Piala Dunia 2002)
2003-2004 Honduras
2004-2005 Al Saad (Qatar)
2006-... Jamaika
Bambang Pamungkas
Arjuna Memburu Gol
Penampilan positif dipertontonkan Bambang Pamungkas dalam beberapa laga uji coba timnas. Imbasnya posisi Bambang sebagai striker utama hampir pasti tak terusik. Isyarat mengenai hal tersebut disampaikan pelatih Ivan Kolev seusai uji coba melawan Jamaika, Kamis (21/6).
Bambang Pamungkas, tak masalah diplot jadi striker tunggal.
Dalam duel tersebut, Bambang mencetak dua gol. Kaki kira dan kanan Bambang hidup. Begitu juga sundulannya, tetap akurat dan mematikan.
“Bambang punya keunggulan bola-bola udara. Hal tersebut sangat membantu Indonesia untuk menghadapi Korsel, Arab Saudi, dan Bahrain, yang memiliki bek berpostur tinggi. Tembakan jarak jauhnya juga bagus, lihat saja gol keduanya. Yang paling penting dia bermain memakai otak,” ungkap Kolev.
Jika timnas mengusung pola 4-3-3 atau 4-3-2-1, Kolev hanya butuh satu orang striker murni yang ditempatkan sebagai target man. Dua pemain depan lain lebih berperan membuka ruang dan beroperasi di area gelandang.
Kalau Saktiawan Sinaga akhirnya tak masuk dalam tim, Indonesia hanya memiliki Bambang dan Zaenal Arif, yang ideal jadi striker murni. Memang masih ada Rahmat Rivai. Namun, selain masih berkutat dengan cedera, striker Persiter ini juga cenderung dimainkan sebagai gelandang sayap, sama seperti Arif, yang posisinya lebih melebar ke kanan atau kiri.
Jika bisa mempertahankan penampilan menawannya sebagai striker tunggal, Bambang sudah pasti bakal dikawal ketat bek lawan di Piala Asia. “Sudah risiko. Kalau saya ditempel ketat, semoga rekan lain bisa memanfaatkan ruang kosong di pertahanan lawan,” ujar pemain yang diibaratkan tokoh pewayangan arjuna dalam poster promosi Piala Asia ini.
Bambang mengaku sudah in dengan pola permainan Kolev. “Memang, dengan pola baru sebagai striker tunggal, saya dituntut lebih aktif mencari bola dan membuka ruang untuk pemain lain. Tapi, itu tak masalah. Dalam sepakbola modern, striker dituntut lebih cerdik,” ucap striker Persija yang akrab disapa BP ini.
Penampilan BP dipuji rekan setimnya. “Saya melihat karakter BP selalu punya energi berlipat saat tampil di ajang internasional membawa nama negara. Apalagi jika tampil di hadapan publik sendiri,” ujar Ponaryo Astaman, kapten tim sekaligus sahabat BP.
Kepergian Peter Withe seusai Piala AFF 2006 seakan menjadi berkah bagi BP, yang karakter permainannya disukai Kolev saat memegang timnas beberapa tahun sebelumnya. Nama BP seakan tenggelam di era Peter, yang lebih memilih Ilham Jayakesuma.
BP sempat terpental dari timnas di Piala Tiger 2004 dan belakangan kembali lagi dengan status pemain yang lebih sering duduk di bangku cadangan. “Soal saya diturunkan menjadi pemain inti atau tidak, berpulang pada pelatih. Sebagai pemain profesional, kita harus bisa menerima instruksi,” papar BP. (Ario Yosia/Erwin Fitriansyah)
Bambang Pamungkas
Panggilan: BP
Lahir: Salatiga, 10 Juni 1980
Postur: 171 cm & 60 kg
Anak ke: enam dari tujuh bersaudara
Saudara: Agus, Seno, Prasetyo, Eny, Nanik (kakak), Erna (adik)
Orangtua: Misranto & Suriptinah
Istri: Tri Buana Tunggal Dewi
Debut timnas: 2 Juli 1999, pertandingan persahabatan vs Lituania 2-2
Karier klub:
1988-1990 SSB Ungaran Serasi
1990-1995 Diklat Salatiga
1992 Persikas Kab. Semarang
1995-1999 Persikas Aspac Inti
1999-2000 Persija
2000-2001 EHC Norad Belanda
2001-2004 Persija
2005-2006 Selangor FC Malaysia
2007-... Persija
Karier Timnas:
1997 Pelajar Asia
1998 Pelajar Asia
1998 U-19
1999 Pra-Olimpiade
1999 SEA Games Brunei
2000 Pra-Piala Asia
2000 Piala Asia
2001 Pra-Piala Dunia
2001 SEA Games Malaysia
2002 Piala Tiger
2003 SEA Games Vietnam
2006 Merdeka Games
2006 Piala ASEAN
2007 Piala Asia
Prestasi :
Top scorer Piala Tiger 2002 (8 gol)
>> Kembali ke Atas
Gajah Putih Butuh Lawan Tangguh
Tak selamanya beruji coba di luar negeri bisa mendapatkan apa yang diharapkan. Apa yang dialami oleh timnas Thailand agaknya justru sebaliknya.
Tim Negeri Gajah Putih itu sedang menjalani latihan selama dua pekan di Jerman sebelum menjamu favorit juara Australia, Irak, dan Oman di Grup A. Sayangnya justru saat berada di Jerman, Kiatisuk Senamuang dkk. tak mendapatkan lawan tangguh.
Thailand hanya menjajal klub divisi empat Borrusia Fulda (menang 2-1), klub amatir TSV Lennarts, dan tim U-21 Eintracht Frankfurt. Padahal, awalnya Thailand sempat mendapat kabar bakal berhadapan dengan tim cadangan Borussia Dortmund.
“Saya sebetulnya lebih senang berhadapan dengan lawan kuat untuk melihat kelemahan yang masih ada di tim kami. Kami perlu lawan yang bisa melakukan serangan balik dengan cepat,” ucap pelatih Thailand, Chanvit Phalajivin, pada Bangkok Post.
Jika dibandingkan dengan lawan terakhir Thailand saat beruji coba di Bangkok, kualitas rival latih tanding kini tentu tak sepadan. Di Bangkok, Thailand memetik pelajaran berharga kala dikalahkan 1-3 oleh Belanda, yang membawa pemain macam Rafael van der Vaart, Dirk Kuyt, atau Wesley Sneijder.
Chanvit kelihatannya berusaha menghibur diri karena pasukannya gagal mendapat lawan berkualitas. “Semua pemain mendapatkan pelajaran berharga. Kami ingin memperbaiki kekuatan otot dan sejauh ini hasilnya cukup menggembirakan,” lanjut Chanvit.
Sebagai tuan rumah, Thailand, yang selama ini menjadi raja di kawasan ASEAN, membidik target lolos ke perempatfinal. “Kalau ingin mencapai semifinal, pemain harus mampu tampil konstan dengan semangat tinggi selama 90 menit penuh,” kata Worawi Makudi, Ketua Asosiasi Sepakbola Thailand. (win)
Tanda Tanya 16 Besar
Ketatnya persaingan di babak 32 besar Copa Dji Sam Soe telah usai. Bukan pekerjaan mudah bisa lolos ke fase 16 besar. Tapi, sebanyak 16 tim mampu membuktikan ketangguhan mereka.
Deltras adalah salah satunya. Mereka pun kini menunggu lawan di babak 16 besar yang akan diundi pada 29 Juni. Kendati tak dihuni pemain kelas wahid, kolektivitas klub asal Sidoarjo itu patut diwaspadai.
"Anjuran kami pada pemain untuk melebur egoisme individu berhasil. Kekompakan kini menjadi kekuatan kami," jelas Muntholib, asisten pelatih.
Tim polesan Jaya Hartono itu sudah menunjukkan koordinasi dan kerja sama yang rapi antarpemain kala menyingkirkan Persegi dan Persebaya. "Kami selalu melakukan komunikasi dan tidak bergantung pada satu kawan saja sehingga kami bisa saling menutupi," kata Andri Budianto, kapten.
Dari belahan barat, PSMS dan Sriwijaya FC mengancam persaingan. Kedua tim ini tampak serius untuk berprestasi di Copa. Namun, jika kompetisi LI sudah berjalan, fokus keduanya di pentas LI bisa menjadi kendala.
Sementara itu, Persita, yang ditangani Benny Dollo, pelatih peraih dua gelar Copa bersama Arema, mengintip di bagian tengah. “Kami akan melihat dulu siapa calon lawan kami pada undian babak 16 besar. Terus terang kami menghindari Sriwijaya dan PSMS,” jelas Andi Mulyadi, asisten manajer Persita. Ia juga mewaspadai Persija, Persipura, dan PSM.
Soal lolos ke babak selanjutnya, Benny tak memperlihatkan raut kegembiraan. "Soal lolos, kita lihat nanti. Tapi, saya tidak puas melihat performa tim di babak 32 besar. Permainan mereka kurang lepas, tidak tampil seutuhnya," ungkap Benny.
Persija sendiri sejak awal ingin menargetkan double winner seperti pada 2005. Namun, Hamka Hamzah cs. mesti bisa ekstra konsentrasi agar pengalaman buruk kehilangan dua gelar saat final 2005 tak terulang lagi.
Kuda Hitam
Undian yang terjadi lagi pada 16 besar ini pun membuat tim unggulan kembali berpikir ulang soal strategi. Sementara itu, tim dari divisi satu seperti Persemalra Maluku Utara, Gresik United, dan PSAP Sigli berharap terhindar dari para unggulan.
Di luar tim-tim unggulan, dua wakil Kalimantan, Pupuk Kaltim dan Persiba, bisa menjadi kuda hitam. Keduanya dikenal sebagai tim yang sangat kuat di kandang. Mereka pun kini menghuni papan tengah di klasemen Grup Dua LI.
Begitu pula dengan tim yang selama ini tampil bagus saat tandang, Persis Solo. Hanya, anak asuh Suharno masih perlu pembuktian untuk bertemu tim selevel dan kuat dari divisi utama.
“Siapa pun lawan di babak 16 besar nanti akan kami hadapi dengan serius. Kami tetap akan berusaha meraih hasil maksimal dalam setiap laga di ajang Copa, sekalipun tetap konsentrasi ke liga,” kata Abraham EWT, sekretaris manajer Persis.
Melihat antusiasme tim-tim yang lolos ke babak 16 besar serta undian random, bisa saja kejutan akan kembali terjadi di fase ini. (Ary/Marwis/Aning/Rizal)
TIM 16 BESAR*
1. PSMS (Medan/Divisi Utama)
2. Sriwijaya FC (Palembang/Divisi Utama)
3. PSAP (Sigli/Divisi Satu)
4. Persita (Tangerang/Divisi utama)
5. Persija (Jakarta/Divisi Utama)
6. Pelita Jaya (Purwakarta/Divisi Utama)
7. Persijap (Jepara/Divisi Utama)
8. Persis (Solo/Divisi Utama)
9. Gresik United (Gresik/Divisi Satu)
10. Persiba (Balikpapan/Divisi Utama)
11. Persekabpas (Pasuruan/Divisi Utama)
12. Pupuk Kaltim (Bontang/Divisi Utama)
13. PSM (Makassar/Divisi Utama)
14. Persemalra (Tual/Divisi Satu)
15. Deltras (Sidoarjo/Divisi Utama)
16. Persipura (Jayapura/Divisi Utama)
*) Undian pada babak 16 besar dilakukan pada 29 Juni 2007, tanpa unggulan, tanpa wilayah.
Random Murni
Perasaan harap-harap cemas tengah menggelayuti 16 tim yang lolos ke babak 16 besar. Maklum, pada 29 Juni BLI akan melakukan pengundian lawan mereka di Jakarta.
Sistem undian yang dipakai pun murni random dan meniadakan tim unggulan serta faktor kedekatan geografis. Ini sedikit menguntungkan tim dari divisi satu jika mereka bertemu tim selevel. Apalagi soal pemain asing pun masih tetap tiga yang diperbolehkan turun dan baru pada babak 8 besar lima pemain asing boleh merumput.
“Kami menganggap tim 16 besar ini adalah tim yang qualified sehingga dianggap punya kemampuan teknis selevel karena bisa menyingkirkan dua lawan. Soal geografis pun sama karena kami ingin melakukan penyebaran yang merata,” terang Joko Driyono, Direktur Kompetisi BLI.
Lagi pula jika diundi secara acak mereka punya kesempatan ditayangkan televisi mengingat saat ini sangat sulit menayangkan live terutama di Indonesia Timur.
So, Persemalra atau PSAP masih bisa berharap bertemu dengan Gresik United sehingga kesempatan tim dari divisi satu ini lolos ke 8 besar pun terbuka. Namun, lain soal jika mereka bertemu tim unggulan dari divisi utama seperti PSMS, Persija, Sriwijaya FC, atau Persipura.
Undian ini juga mesti disikapi dengan alokasi biaya perjalanan yang lebih besar karena bukan tidak mungkin tim asal Sumatra akan bertemu tim asal Papua atau Sulawesi. (ary)
Kuburan Para Unggulan
Gelaran Copa Dji Sam Soe 2007 berbeda dengan dua episode sebelumnya. Jika dua kali gelaran lalu tak banyak kejutan terjadi di fase 32 besar, kali ini banyak tim berlabel unggulan bertumbangan. Fase ini bak kuburan buat mereka.
Prestasi Persebaya, yang musim lalu melaju ke babak 8 besar, kini melorot. Tim berjulukan Bajul Ijo itu harus terhenti setelah kalah produktivitas gol dari Deltras, 1-1 di kandang, 0-0 saat tandang.
Begitu pula dengan Persik, yang sudah takluk dari tim divisi satu, Persibo Bojonegoro, karena kalah produktivitas gol saat away. Lalu Persib kalah adu penalti dari Persijap dan juara bertahan Arema kalah agregat gol dari Persekabpas.
Rontoknya Sugiantoro dkk. disinyalir karena rotasi buruk yang dilakukan pelatih Suhatman Imam. Pada dua laga, Suhatman terlalu memaksakan diri dengan tidak melakukan pergantian pemain meski beberapa pemain pilar kelelahan.
"Saya tak melakukan pergantian karena khawatir pola permainan yang sudah bagus memburuk dengan masuknya pemain baru," elak Suhatman.
Terlepas dari itu, Bajul Ijo nyaris hanya mengandalkan Pablo Rojas sebagai penggedor di depan. Karena itu, ketika Rojas dimatikan, Persebaya seperti tak punya taring. "Stok pemain terbatas, kami tak punya striker yang bisa mengimbangi Rojas," ujar Lilik Suhartoyo, manajer.
Tiga Asing
Sementara itu, Persik mengaku kurang berkonsentrasi meski sudah mengandalkan tiga pemain asing. “Sebenarnya format kami turun di Copa sama dengan di Liga Champion Asia. Mungkin ini disebabkan pemain kami kurang fokus saja di Copa,” terang Iwan Budianto, mantan manajer Persik.
Faktor hanya boleh tiga pemain asing turun di babak 64 dan 32 besar ini pula yang menyebabkan stok pemain Persib dan Arema sangat terbatas di lini depan dan tengah. Tanpa Cristian Bekamenga, Zaenal Arif, Eka Ramdani, dan Erik Setiawan, Persib tak bertaring.
Persmin pun disingkirkan tim divisi I Persidafon akibat alasan serupa. Di Stadion Maesa Tondano, Persmin, yang hanya mengandalkan striker lokal Jibby Wuwungan, tak mampu mencetak gol dan ditahan Persidafon 0-0. Pada leg kedua di Jayapura, Persmin keok 0-2.
Pada pertandingan itu, Persmin hanya mengandalkan pemain lokal lantaran pemain asing mudik ke negaranya dan ada jeda panjang di paruh musim liga ini.
“Sebenarnya itu tak terlalu bermasalah jika tim pelapis siap. Kendala kami sama, namun kami siapkan strategi kejutan,” ujar Benny Dollo, pelatih Persita.
Dari Persebaya, faktor pemain yang kerap lengah ketika unggul jadi penyebab. "Mental dan spirit tanding anak-anak sudah bagus. Tapi, menjaga untuk tetap fokus selama pertandingan yang masih kurang," terang Lilik.
Di sisi nonteknis, Persebaya juga terlalu apriori terhadap wasit. Pada leg pertama, misalnya, pemain Persebaya seakan kehilangan motivasi kala pelanggaran yang dilakukan pemain Deltras di kotak penalti tak berbuah tendangan penalti. (Rizal/Ary/Marwis/Kimmy/Budi)
Faktor Penyebab Kegagalan di Fase 32 Besar
* Rotasi pemain buruk.
* Stok pemain terbatas, terutama pemain asing.
* Terlalu apriori terhadap wasit dan terlalu berharap hadiah penalti dari wasit.
* Tak ada pemain di lini kedua yang mampu menjadi solusi ketika mengalami kebuntuan.
* Tampil kurang bagus dan penuh beban di kandang.
* Menganggap remeh lawan.
>> Kembali ke Atas
Gamang di Kandang
Beberapa tim yang lolos ke babak 16 besar merasakan betapa sulitnya laga kandang. Padahal secara nonteknis, tim tuan rumah diuntungkan dengan dukungan penuh dari suporter.
Seperti yang dialami Deltras di babak 64 besar lawan Persegi Bali FC dan Persebaya di babak 32 besar. The Lobster justru tampil lembek kala bermain di hadapan ribuan Deltamania. "Ketika ada tekanan harus menang, beban itu semakin berat, bermain tak bisa lepas. Akibatnya, kami sering melakukan kesalahan," beber Andri Budianto, kapten.
Kala menjamu Persegi di leg pertama babak 64 besar, Deltras bermain imbang 1-1, tapi mengamuk di leg kedua di stadion Kapten Dipta, Gianyar Bali, sekaligus menang 2-0. Hasil yang sama dicapai Deltras ketika tampil di leg kedua babak 32 besar kontra Persebaya.
"Itu juga karena lawan yang selalu ingin mengambil keuntungan di partai tandang dengan main lebih terbuka. Dalam sistem gugur, hal seperti itu sangat wajar," jelas Jaya Hartono, pelatih Deltras.
Faktor kandang juga menjadi pelajaran buat Persis. Ketika bermain di kandang sendiri mereka justru tidak sehebat di liga. Tim asuhan pelatih Suharno itu hanya bisa bermain imbang melawan Persikabo Bogor dan Persipasi Bekasi.
Tuntutan Suporter
Namun, hal itu tak lepas dari minimnya stok pemain yang dimiliki. Ketika itu banyak pemain mengalami cedera sehingga menyulitkan Suharno untuk meracik strategi yang pas. Belum lagi masalah dua pemain asing, Esteban Busto dan Leandro Naldoni Peduto, yang mengundurkan diri dari tim.
Terlepas dari masalah teknis, Greg Nwokolo cs. harus berhati-hati pula dengan tingginya tuntutan suporter. Saat ditahan Persipasi 0-0 di leg pertama fase 32 besar, suporter banyak menyuarakan ketidakpuasan. Aksi bakar dan lempar botol ke tengah lapangan menunjukkan perilaku para pendukung yang belum bisa menerima hasil kurang optimal. Padahal sebetulnya suporter harus bisa memahami perbaikan yang sedang dilakukan tim kesayangan mereka.
Faktor kandang apalagi di laga pertama juga menjadi kendala bagi tim. Secara nonteknis, sebenarnya tim yang main kandang di partai kedua lebih diuntungkan.
Namun, yang terjadi di Copa justru sebaliknya. Lihat saja Arema, Persib, PSIS, Semen Padang, dan Perseman, justru takluk pada leg kedua di kandang sendiri. “Ini bukti bahwa mereka tak bisa mengambil keuntungan psikologis tersebut,” tambah Benny Dollo, pelatih Persita.
Kemungkinan yang terjadi di Copa, banyak tim justru lebih tertekan saat bermain kandang, terutama leg kedua, sehingga malah bermain tak lepas. (ning/ary/riz)
Siankam Emako Ernest
Raksasa yang Cerdik, Lucu, dan Ramah
Selain Ilham Jayakesuma, ada nama Siankam Emako Ernest yang ditugasi pelatih Persita, Benny Dollo, sebagai tukang gedor benteng lawan.
Siankam Emako Ernest.
Duet striker yang dimiliki Persita ini terlihat sangat kontras, terutama soal postur tubuh. Yang satu terlihat agak pendek, sedangkan satunya cukup jangkung. Jika Ilham hanya punya tinggi sekitar 170-an cm, sedangkan Siankam Emako Ernest memiliki tinggi 190 cm dan berat 90 kg. Ia ibarat raksasa di antara pemain lokal lain. Dengan memiliki postur tubuh seperti itu, Ernest memang menjadi salah satu tumpuan Benny, terutama buat memenangi duel bola atas.
Namun, ada catatan lain dari Ernest. Meski bertubuh besar, pergerakan pemain berkulit hitam tersebut cukup lincah. Kelebihan lain yang dimiliki Ernest adalah punya tendangan geledek dan sodoran bolanya pun akurat. Dengan segala kelebihannya itu, Ernest menjadi momok bagi pemain belakang lawan.
“Kami harus berhati-hati menjaganya. Ernest sangat cerdik mencari ruang gerak. Aku memberi perhatian ekstra dalam mengawalnya,” ucap Christian Riffo, pemain belakang PSDS yang ditugasi mematikan pergerakan pemain asal Kamerun tersebut.
Santapan Lawan
Ernest sendiri menyadari dirinya selalu menjadi santapan lawan. “Dalam sepakbola, bermain keras adalah perbuatan yang halal. Tapi, terkadang tidak sedikit pemain yang berniat mencederai lawan,” katanya.
Untuk menghindari pemain lawan seperti itu, Ernest mengaku tak segan-segan mendatanginya untuk sekadar memberi nasihat. “Anehnya tindakan saya ini sering dianggap salah, terutama oleh wasit,” ucap pemain yang baru sekitar enam bulan berada di Indonesia ini.
Sikap buas dan ganas yang diperlihatkan Ernest di lapangan berubah total seusai pertandingan. Begitu wasit meniup peluit panjang, Ernest selalu mendatangi pemain lawan untuk bersalaman dan berangkulan. “Kita hanya musuh di lapangan, seusai pertandingan semua habis,” papar penggemar nasi goreng spesial ini.
Sikap ramah dan bersahabat Ernest ini juga diakui rekan-rekan satu timnya. “Orangnya lucu. Ernest suka bercanda. Yang palingku suka, ia sangat disiplin,” ucap Bobby Satria, pemain belakang Persita. (wisFoto: Arief Bagus/BOLA)
Siankam Ernest
Nama Lengkap: Siankam Emako Ernest
Panggilan: Ernest
Lahir: Kamerun, 21 Februari 1981
Postur: 190 cm/ 90 kg
Hobi: Jalan-jalan, musik
Negara: Kamerun (Paspor Ukraina)
Status: Menikah
Istri: Oksana
Pemain Favorit: Ronaldo dan I Putu Gede
Makanan Favorit: Nasi goreng spesial
Karier Klub: Racing Baoussam (Kamerun)
- Hadjuk Split (Kroasia)
- FC Volyn (Ukraina)
- Nimes Olympique (Prancis)
- Chengdu Blades FC (Cina)
- Persita (Indonesia)

Wooooooooooooowwwwwwwww ... brta bola.... kok gmbarnya snggat mengoda... membangkitkan gairah lelaki... heeeeeee