
Setelah berulang kali gagal, tim bulutangkis Indonesia kembali memasang target merebut Piala Sudirman X di Scotstoun International Arena, Glasgow, Skotlandia, 11-17 Juni. Mampukah hal itu diwujudkan dan bagaimana pula persiapan terakhir? Untuk menjawab permasalahan, berikut penuturan manajer tim Lutfi Hamid kepada Broto Happy W.
“Menghadapi perebutan Piala Sudirman di Glasgow, tim bulutangkis Indonesia saya nyatakan sudah siap tempur. Baik fisik, teknik, maupun persoalan nonteknis sudah dipersiapkan dengan baik. Pelatih dan pemain telah bekerja dengan baik sejak bulan Maret.
Untuk persoalan teknik, selain berlatih keras di Pelatnas Cipayung, tim juga telah dua kali melakukan pertandingan simulasi sebagai ajang pemanasan, yaitu di Bandung dan Batam. Bahkan, di Batam kita telah bertanding melawan tim Malaysia meski tamu tidak menurunkan tim terbaik.
Begitu pula dengan urusan nonteknis. Saat ini kondisi tim sangat kondusif dan baik. Kebersamaan dan kekompakan tim juga terbangun dengan menggelar acara-acara, termasuk makan bersama. Tinggal para pemain menjaga kondisi, fisik, dan waktu istirahat sebelum bertarung sesungguhnya di Glasgow.
Lewat persiapan seperti itu, kita berangkat dengan kekuatan penuh. Tim inti juga sudah disusun dan tidak ada masalah apa-apa. Tinggal di sana kita bisa mengatur strategi dengan baik. Semoga dengan persiapan seperti itu kita berhasil memboyong Piala Sudirman ke Tanah Air.
Tanpa Beban
Di Glasgow kita segrup dengan Korea, Denmark, dan Hong Kong. Hanya diunggulan di posisi lima justru menguntungkan. Kita menjadi underdog dan kondisi ini malah bisa menjadi satu kekuatan. Anak-anak justru bisa tampil tanpa beban dan sebaliknya lawan malah terbebani.
Tim akan berisi 19 pemain. Kenapa banyak pihak menyebut tim terlalu banyak, itu tidak lain karena kita akan lama di Glasgow, sekitar dua minggu. Selain itu, hal ini untuk mengantisipasi cedera atau kemungkinan lain yang terjadi.
Tim memang banyak terdiri dari pemain muda. Perebutan Piala Sudirman berlangsung dua tahun sekali sehingga pemain macam Greysia Polli dan Muhammad Rizal harus diberikan pengalaman dan suasana pertandingan untuk menggantikan Flandy Limpele atau Nova Widianto. Apalagi, ini pertandingan beregu, tentu berbeda dengan turnamen perseorangan.
Sebenarnya, sudah menjadi tradisi sejak perebutan Piala Thomas-Uber di Hong Kong 1996, kita selalu membawa pemain muda. Meski tak main, dulu pemain seperti Tony Gunawan, Candra Wijaya, atau Taufik Hidayat ternyata berdampak positif di kemudian hari. Meskipun harus mengeluarkan biaya besar, hal ini sebenarnya sangat penting bagi kematangan pemain di ajang beregu.
Lalu, kenapa kita berangkat seminggu lebih awal, tidak lain untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga, misalnya ada pemain yang kena penyakit demam berdarah, seperti yang dialami Joko Riyadi. Di sana kita bisa bersama-sama dan saya telah melakukan koordinasi dengan PPI di Glasgow, termasuk menyangkut makanan.
Untuk mengatasi kejenuhan, tentu sudah diantisipasi dengan baik. Tim Indonesia juga akan menyewa apartemen, yang dekat dengan stadion, sebab hotel yang disediakan panitia letaknya terlalu jauh. Saya yakin pemain tidak akan jenuh dan sebaliknya, dengan persiapan yang lebih lama kita bisa melakukan koordinasi dengan sangat baik.
Adaptasi dan aklimatisasi pemain akan lebih baik. Untuk menjaga kesehatan, dokter pun dibawa. Demi mencapai hasil maksimal, kita pasti berkorban. Tak hanya pemain, pelatih, tetapi juga ofisial harus meninggalkan pekerjaan. Semua itu demi satu tujuan, Piala Sudirman bisa dibawa pulang.
Menggandeng Sponsor
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tim Piala Sudirman mendapat dukungan dunia usaha. Ada kawan-kawan yang peduli dan ikut berpartisipasi demi kejayaan bulutangkis. Perusahaan Pertamina ikut mendukung tim Piala Sudirman.
Mereka tahu PBSI memiliki dana sangat terbatas dan butuh dana tambahan untuk kelancaran tim di Glasgow. Kehadiran sponsor tentu salah satunya untuk mengatasi persoalan urusan nonteknis. Kita berterima kasih atas dukungan dunia usaha terhadap bulutangkis.
Dengan begitu, target kita tetap juara. Meskipun tidak diunggulkan, kita mengincar gelar juara. Tidak ada cerita hanya memasang target masuk final. Dua tahun silam di Beijing, Indonesia masuk final, kini harusnya juara. Memang untuk mewujudkannya perlu perjuangan berat. Kita harus kerja keras untuk itu.
Saya pun lewat kesempatan ini mohon dukungan dari seluruh masyarakat. Mohon doa restu. Maklum, memboyong Piala Sudirman merupakan perjuangan berat. Kalau semua sudah dipersiapkan dengan baik, tentu pemain tinggal konsentrasi ke pertandingan saja.
Soal sebutan bahwa saya diberi tanggung jawab sebagai manajer tim karena memiliki tangan dingin, itu tidak tepat. Sebuah kesuksesan itu merupakan hasil kerja bareng. Istilah saya segala keberhasilan yang sudah kita raih itu adalah keberhasilan tim, bukan karena kerja saya seorang. Semua berkat dukungan dan kerja sama yang manis dari dari pemain, pelatih, ofisial, dan pendukung yang lain.
Saya selalu optimistis. Setiap kita bekerja dengan keras dan sungguh-sungguh, nanti Allah tentu akan memberikan ganjaran yang paling baik pula. Kalau seandainya gagal, semua menjadi tanggung jawab saya. Jangan mencari kambing hitam kepada pemain. Sayalah yang harus bertanggung jawab.
Merebut Piala Sudirman sudah merupakan harga mati!"

i want to meet U