Geser Ruudtje, Rooney-Ronaldo Sejajar Cole-Yorke
Jakarta - Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo menjadi kunci sukses Manchester United musim ini. Dapat disejajarkan dengan Andy Cole dan Dwight Yorke, Ruud van Nistelrooy pun tergantikan.
Keputusan Sir Alex Ferguson melepas van Nistelrooy ke Real Madrid di awal musim ini sempat mengundang tanda tanya. Bagaimana tidak, bomber asal Belanda itu adalah terbukti mematikan di depan gawang lawan. Buktinya adalah 150 gol yang telah dicetaknya dalam 219 laga bersama "Setan Merah".
Namun ternyata keputusan Fergie melepas Meneer Ruudtje tidaklah keliru. Kepergian itu justru memicu lahirnya duet maut dari sosok belia Rooney dan Ronaldo. Skenario regenerasi itulah yang kini membawa MU sukses menggondol gelar Premiershipnya sejak 2002/03 silam.
Dari 83 gol yang dicetak Red Devils di Liga Inggris musim ini, duet Rooney dan Ronaldo berkontribusi dengan melahirkan 31 gol diantara keduanya --Rooney 14 gol dan Ronaldo 17 gol. Nama terakhir bahkan masih berpeluang menjadi topskor, walau masih minus dua gol dari Didier Drogba yang jadi topskor sementara.
Jelas saja, kesuburan dua pemain itu membuat Old Trafford tidak bakal merindukan produktivitas Ruudtje dalam menjebol gawang lawan. Dan itu pun sudah diyakini Fergie sejak awal.
"Saya selalu mengagumi kemampuan mencetak gol dia (Nistelrooy) dan saya pikir semua orang pasti mengira-ngira bagaimana kami akan bertahan tanpa golnya. Tapi saya cukup yakin kami akan mampu menebar ancaman di depan gawang lawan," tukas manajer asal Skotlandia itu dilansir The Sun, Senin (7/5/2007).
Kepercayaan itu memang dijawab tuntas oleh Rooney dan Ronaldo. Secara total, duet bintang muda Inggris-Portugal itu sudah melahirkan 46 gol --masing-masing mencetak 23 gol-- di seluruh kompetisi yang diikuti MU musim ini.
Tak pelak, sang manajer pun menyejajarkan keduanya dengan duet Dwight Yorke dan Andy Cole. "Striker kembar" itu mencetak total 53 gol saat membantu MU meraih Treble 1998/99.
Walau disejajarkan, Rooney-Ronaldo sedikit lebih unggul dari pendahulunya itu. Alasannya, duet yang ada sekarang bukanlah duet dua orang striker yang memang bertugas mencetak gol. Jangan lupa, walaupun subur di depan gawang lawan, Ronaldo tetap seorang winger, bukan penyerang murni.
"Performa Rooney dan Ronaldo sangat luar biasa. Mereka bisa melahirkan gol diantara keduanya walau tanpa kondisi yang sama seperti Yorke dan Cole," pungkas Fergie.
Namun duet masa kini itu bukan tanpa cela. Yang paling nyata adalah ketidakmampuan mereka membawa MU menggondol tiga gelar dalam semusim, berbeda seperti pendahulunya.
9 Mei, Bukan Final tapi Pesta
Jakarta - 9 mei mendatang harusnya jadi final ideal antara Chelsea kontra Manchester United. Tapi Stamford Bridge justru akan menjadi tempat digelarnya pesta juara The Red Devils.
Saat Liga Ingris memasuki pekan ke-32, di Minggu pertama April lalu, siapa yang bakal meraih gelar juara musim ini masih tanda tanya besar. Tumbangnya MU di kandang Portsmouth sementara Chelsea menang 1-0 atas Watford membuat selisih poin yang sebelumnya konstan di angka enam terpangkas menjadi tiga.
Tak mengherankan pula kalau banyak pihak yang menyebut laga pekan ke-37 antara Chelsea dengan MU akan menjadi semacam final untuk menentukan siapa kampiun Premiership musim ini.
Tapi kondisi tersebut berubah dalam cepat dalam dua pekan terakhir. Saat The Red Devils terus meraih kemenangan, The Blues malah dua kali tertahan (atas Newcastle United dan Bolton Wanderers) yang membuat jarak keduanya kembali melebar.
Puncaknya terjadi di pekan ke-36 sepanjang Sabtu dan Minggu ini. Keberhasilan MU mengungguli saudara sekotanya Manchester City, tak diikuti Chelsea yang justru ditahan imbang tetangga London-nya, Arsenal. Selisih tujuh poin dengan dua partai tersisa, lepaslah gelar juara yang dua tahun terakhir terparkir di Stamford Bridge.
Alhasil partai "final" yang sedianya akan digelar di Stamford Bridge, Rabu (9/5/2007) mendatang menjadi kehilangan greget kalau tak mau dibilang tinggal formalitas saja. Memang masih ada gengsi besar yang dipertaruhkan, namun mengingat masih ada final lain di partai puncak Piala FA 19 Mei mendatang asumsi laga tersebut bakal kurang menggigit cukup beralasan.
Chelsea mungkin akan ngotot memenangi laga tersebut untuk menghindarkan mereka dari malu dan kekecewaan lain. Namun apapun hasil akhir usai 90 menit pertandingan, kenyatan pahit harus ditelan The Blues karena kandang kebanggaan mereka justru akan menjadi tempat digelarnya pesta juara MU. John Terry cs dipaksa ikhlas melihat lapangan yang menjadi rumah mereka "dikotori" selebrasi juara MU.
MU pastinya sudah berpesta sejak peluit akhir pertandingan Arsenal vs Chelsea di bunyikan, namun secara resmi selebrasi MU baru akan digelar Rabu mendatang saat mereka secara resmi diserahi tropi juara Liga Inggris di atas lapangan. Ya, Ryan Giggs cs akan melakukan victory lap sambil mengangkat tinggi-tinggi tropi juara dalam kondisi badan basah bermandi campagne, dan semua itu terjadi di Stamford Bridge.
Pahit buat Chelsea, manis untuk MU. Bagi Alex Ferguson dan pasukannya, tak ada yang lebih menyenangkan selain menggelar pesta kemenangan justru di kandang musuh bebuyutannya. Apalagi ini juga akan menjadi pembalasan setimpal setelah musim lalu di tempat yang sama MU justru datang mengantar gelar juara karena ditaklukkan 0-3.
Satu-satunya yang harus dilakukan The Blues kini adalah menghindari kekalahan di partai tersebut. Soalnya selain memberi dua kemenangan sekaligus buat "Setan Merah", tumbang di kandang atas MU jelas seperti mencoreng wajah sendiri. (din/ian)
Piala FA, Pembuktian Akhir MU-Chelsea Musim ini
Jakarta - Piala FA mungkin cuma turnamen kelas dua di Inggris. Tapi musim ini nilainya melonjak tinggi karena menjadi penentu siapa yang lebih baik di Inggris: Manchester United atau Chelsea.
Demikianlah fakta yang tak terhindarkan setelah Liga Inggris menyelesaikan pekan ke-36 sepanjang Sabtu (5/5/2007) hingga Minggu (6/5/2007) semalam. Kemenangan 1-0 MU atas Manchester City, disusul kegagalan Chelsea menuai poin maksimal saat bertandang ke Arsenal, membuat perebutan gelar juara Premier League berakhir dengan "Setan Merah" menjadi juara.
Tapi persaingan untuk menentukan siapa yang lebih superior di Inggris musim ini belum berakhir. Final Piala FA yang akan digelar 19 Mei mendatang menjadi the real final antara dua klub tersebut.
Bisa disebut demikian lantaran saat ini The Red Devils dan The Blues dalam posisi imbang 1-1. Poin satu Chelsea didapat dari Piala Carling yang direbut bulan Februari silam, sedangkan nilai MU tentu saja dari gelar juara Liga Inggris yang baru dipastikan beberapa jam lalu.
Chelsea dan MU memang masih akan berhadapan di Liga Inggris midweek ini di Stamford Bridge. Namun dengan kepastian gelar juara di tangan, sangat mungkin semangat Ryan Giggs cs menghadapi laga tersebut tak sepenuh hati lagi. Tinggallah Piala FA menjadi duel sengit musim ini.
Buat Chelsea laga final di Wembley nanti mungkin punya gengsi yang lebih tinggi. Soalnya meski kini skornya masih 1-1 tapi prestise Premier League tentu lebih besar ketimbang Piala Liga yang mereka menangi.
Apalagi sebelumnya mereka memasang target wah dengan meraih quadruple. Setelah kegagalan beruntun di Liga Champions dan Liga Inggris, Jose Mourinho tentu tak mau justru menderita treble kegagalan.
Kondisi MU juga tak jauh beda. Setelah tekad mengulang kisah delapan tahun silam saat meraih treble pupus di tangan AC Milan, dua gelar musim ini tentu bisa menjadi obat mujarab menghapus kekecewaan. Apalagi sejak musim 2003-2004 Fergie babes cuma meraih satu gelar tiap tahun -- kecuali musim 2004-2005 yang dilalui tanpa satu gelar pun diraih.
Dengan kondisi seperti itu, Piala FA jelas punya nilai lebih tinggi. Akankah Chelsea mempertahankan dominasinya dalam dua musim terakhir, atau MU yang bakal menyalip setelah sempat tertinggal 0-1? Jawabnya tentu masih harus ditunggu hingga 19 Mei mendatang.
Mourinho di Lini Depan Pasukannya
Jakarta - Melihat kegagalan Chelsea mengalahkan Arsenal tadi malam tidak seperti menyaksikan sebuah tim besar yang jadi pecundang -- berkat pemimpin perang bernama Jose Mourinho.
Di Emirates Stadium, Minggu (6/5/2007), Mourinho menggerak-gerakkan pulpen ke pahanya ketika Khalid Boulahrouz menjatuhkan Julio Baptista di kotak penalti dan wasit menunjuk ke titik putih. Mourinho tahu hukuman penalti buat Arsenal seperti hukuman mati di pengadilan.
Pada saat itu kondisi Chelsea laksana sekelompok kecil prajurit Sparta menghadapi pasukan Persia pimpinan Raja Xerxes: tak punya kesempatan menang. Dalam keadaan wajib menang, Chelsea malah tertinggal dan kalah jumlah pemain.
Tapi Chelsea miliki Mourinho, seperti Sparta mempunyai Raja Leonidas (dalam film 300), yang dengan suara lantang tak henti-hentinya membangkitkan semangat sekitar 300 prajurit elitnya agar tidak gentar menghadapi ratusan ribu pasukan Persia.
Mungkin seperti itu pula yang dilakukan Mourinho di ruang ganti saat turun minum. Apapun retorika yang disampaikannya, anak-anak buahnya terbukti bertarung habis-habisan di sepanjang babak kedua.
Secercah harapan muncul tatkala Michael Essien -- prajurit paling tak kenal lelah di kubu The Blues tadi malam -- mencetak gol balasan. Gol itu belum menyelamatkan pasukannya, tapi cukup berarti untuk meninggikan keberanian untuk terus bertarung.
Tiga kali Chelsea melakukan shot on goal berbahaya, tapi selalu dipatahkan Jens Lehmann. Beruntung pula mereka tidak kebobolan lagi oleh sundulan William Gallas dan tembakan Alexander Hleb.
Keberuntungan akhirnya tidak berpihak. Leonidas dan pasukannya ditumpas Xerxes. Mourinho dan skuadnya pun gagal menaklukkan Arsenal, dan harus menyerahkan titel Premiership kepada Manchester United.
Namun tugas Mourinho tidak berhenti di situ. Ia tidak membiarkan prajurit-prajuritnya yang gagah berani itu merasakan kepedihan. Ia menyuruh stafnya untuk merangkul para pemainnya dan tidak lesu. Salomon Kalou, misalnya, hanya punya waktu beberapa detik untuk duduk loyo di lapangan sebelum dibangkitkan oleh ofisial Chelsea.
Sementara Mourinho menunjukkan bagaimana seorang prajurit harus menyikapi kekalahan yang diderita dari sebuah perlawanan hebat. Ia memerintahkan timnya berkumpul dan membalas dukungan suporternya. Kalah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang baru.
Maka Kapten John Terry pun tidak berlama-lama berdiam diri merenungi kegagalannya mengangkat tropi juara seperti dua musim terakhir. Ia segera membuka kaosnya dan melemparkannya ke arah pendukung The Blues, lalu bersama-sama timnya mendekati suporternya.
Mourinho tampak sibuk bergerak. Bahasa non-verbalnya menunjukkan betapa Chelsea dan fansnya tidak boleh sedih atas kegagalan tersebut. Ia terus mengangkat kepalanya lebih tinggi, sebagai simbol bahwa kebanggaan tidak boleh dihilangkan oleh kekalahan.
Ucapan-ucapan Mourinho pun tidak sedikitpun menggambarkan kegagalan. MU tidak dinilainya lebih baik daripada mereka. "Masalahnya adalah, tim dengan jumlah poin lebih banyak adalah pemenang," tukasnya.
Selebihnya ia menghamburkan kata-kata pujian pada pasukannya. "Harus saya katakan, barangkali saya lebih bangga sekarang ketimbang waktu kami jadi juara."
Di penghujung perjuangan Mourinho berada di garis terdepan Chelsea, bukan sekadar menjadi orang di balik layar. Ia tahu kapan waktunya membalas Frank Lampard cs yang selalu berada di belakang dirinya sewaktu diterpa isu bakal didepak Roman Abramovich.
"Sepanjang musim ini pemain-pemainku menjadi pahlawan atas segalanya. Mereka sungguh brilian. Ini adalah sebuah pertandingan yang akan selalu diingat dan menunjukkan betapa besar Chelsea sebagai sebuah klub," demikian Mourinho.


