"Aku ingin kanti-kanti rimba segelo tokang baco tuliy hitung yoi, biak
piado nang nipu lagi (Aku ingin semua teman rimba bisa baca tulis dan
hitung, supaya tidak ada lagi yang menipu mereka)," ujar Jujur, salah
seorang anak rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas yang usianya
diperkirakan 17 tahun.
Jujur adalah salah satu dari lima anak rimba yang menuliskan 10 kisah
anak rimba atau Suku Anak Dalam yang dibukukan Komunitas Konservasi
Indonesia (KKI) Warsi.
Buku berjudul Kisah-kisah Anak Rimba setebal 80 halaman, lengkap
dengan gambar-gambar berwarna, itu diluncurkan secara resmi, Rabu
(2/5), bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Awalnya, anak-anak itu hanya ingin belajar membaca dan menulis agar
komunitas mereka tidak lagi diremehkan sebagai orang "kubu" alias
terbelakang. Meski fasilitas di hutan sangat minim, mereka tekun
belajar agar tidak lagi direndahkan oleh orang "terang" (di luar rimba).
Bahkan, Jujur bukan hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga
sudah terlatih untuk menjadi guru bagi anak-anak rimba. Semua
dilakukan karena tidak mau lagi anak rimba dianggap bodoh, tidak
beradab, dan kudisan.
"Saya yakin, kalau anak rimba mau belajar, kami akan lebih dihormati.
Saya berharap selalu ada anak rimba yang menjadi guru di hutan kami,"
ujar Jujur.
Kini, Jujur dan teman-temannya patut berbangga, sekalipun tidak
mengenyam pendidikan formal seperti anak-anak Indonesia lainnya,
mereka dapat mencapai kemampuan baca, tulis, dan hitung yang setaraf.
Mereka bahkan telah menghasilkan sebuah buku cerita.
"Saking semangatnya, aku menulis dua cerita sekaligus hanya dalam
semalam. Suatu saat nanti, aku akan punya buku yang berisikan hasil
karya saya sendiri," kata Jujur.
Belajar keras
Jujur dan 226 orang komunitas Suku Anak Dalam lainnya secara bertahap
sejak tahun 2000 mendapatkan pendidikan alternatif, gagasan KKI Warsi.
Sebanyak 27 di antaranya adalah perempuan. Mereka tidak belajar di
dalam kelas, tetapi di atas kayu-kayu kecil, beratap terpal tanpa
dinding, di bawah pohon rindang di dalam hutan Bukit Duabelas.
Mereka juga tidak mengenakan seragam sekolah. Ada sebagian yang masih
mengenakan cawat untuk laki-laki dan kain kemben untuk anak perempuan.
Waktu belajarnya pun disesuaikan dengan kemauan dan ketersediaan waktu
mereka. Ketika pagi hari membantu orangtua mengumpulkan makanan,
sekolah baru akan dimulai setelahnya. Saat belajar, mereka juga tidak
selalu duduk manis. Kadang lesehan atau bahkan sambil tiduran.
Kemauan keras dan hasrat yang kuat untuk belajar membuat mereka betah
belajar sampai malam meski hanya ditemani cahaya lilin. "Kami lebih
senang belajar seperti ini. Kalau di gedung sekolah, kami kesulitan.
Lokasinya terlalu jauh," tutur Ejam, anak rimba yang usianya
diperkirakan 17 tahun.
Dari seluruh siswa, ada 44 orang yang kemudian dididik menjadi calon
guru. Dari jumlah itu, yang masih aktif tinggal enam orang. Lainnya
mulai pasif membantu teman-temannya karena telah berkeluarga.
Ferry Apriadi, fasilitator pendidikan bagi orang rimba, mengatakan,
untuk melatih kemampuan mereka membaca, ia menghabiskan dua pekan
penuh setiap bulan. Untuk latihan, ia kerap datang dengan membawa
koran dan buku.
Sebuah modul khusus pun dibuat Warsi untuk memudahkan kegiatan
belajar-mengajar. Modul berwarna ini bagi anak-anak rimba cukup
menarik, penuh gambar dan angka atau huruf dalam ukuran lebih besar
sehingga mudah dipahami.
Anak-anak rimba juga dilatih menulis surat kepada staf Warsi. Banyak
hal yang mereka tulis dan sampaikan. Dengan kemampuan baca tulis yang
semakin baik inilah muncul ide untuk mendokumentasikan cerita-cerita
dongeng yang berkembang di tengah orang rimba. Anak-anak rimba pun
tertarik dan mulai menuliskan cerita yang pernah mereka dengar semasa
kecil.
Kisah di hutan
Cerita-cerita yang dimuat di dalam buku yang diluncurkan di Pendopo
Kantor Gubernur Jambi, kemarin, merupakan kisah-kisah yang membuat
mereka selalu terkenang. Bahkan, cerita kuno itu kerap terbawa dalam
mimpi anak rimba.
Pada masa kecilnya, Jujur selalu mendapat cerita-cerita menarik dari
mamak (ibu) pada malam hari sebelum tidur. Sambil rebah berderetan di
atas jalinan bambu, Jujur dan 13 saudaranya bisa mendapat tiga sampai
empat cerita dalam semalam.
Kalau ceritanya agak menakutkan, seperti "Hantu Benor" atau "Manusia
Jadi Gejoh (gajah)", Jujur dan saudara-saudaranya sering tidak berani
tidur. Terpaksalah si mamak memberi cerita lain yang lucu-lucu atau
yang berakhir bahagia. Satu per satu mereka akhirnya tertidur.
Hingga besar, Jujur selalu ingat kisah "Hantu Benor". "Cerita ini
paling berkesan buat saya, makanya saya mau tuliskan supaya bisa
dibaca semua orang," tuturnya.
Sebenarnya, cerita "Hantu Benor" sederhana saja, yaitu tentang hantu
berbadan besar yang sering mengambili benor (sejenis umbi-umbian yang
tumbuh di Taman Nasional Bukit Duabelas) pada malam hari. Ia hanya
akan menunjukkan wujudnya kepada orang-orang yang mengambili benor di
luar kebun miliknya.
Wujud hantu yang besar itu membuat orang rimba ketakutan dan lari
terbirit-birit, tetapi selalu terkejar juga oleh hantu.
Dari cerita ini, mamak menasihati anak-anaknya supaya jangan mencuri
di kebun orang lain karena nanti bisa mendapat musibah. Segala
pekerjaan yang dilakukan memang tergantung niatnya. Bila niat baik,
kebaikan pula yang akan didapatkan.
Sedangkan Ejam paling terkesan dengan cerita "Biawak Jadi Menantu
Raja". Ini cerita tentang seorang putri yang menikah dengan biawak.
Seperti kisah-kisah yang berakhir bahagia, biawak berubah menjadi
manusia atas pertolongan istrinya. Dari situ, anak-anak rimba
diingatkan untuk jangan putus asa menghadapi persoalan. Mereka harus
terus berusaha.
Meliana Tansri, penulis cerita anak yang sempat membaca buku tersebut
satu minggu sebelum acara peluncuran, mengaku menangis terharu.
"Mereka bisa membaca dan menulis tanpa mengenyam pendidikan formal,
bahkan kini telah menghasilkan sebuah karya yang dibukukan. Dunia kita
sudah makin terbuka," tuturnya.
Nilai-nilai budaya di negeri ini, menurut dia, berada dalam kondisi
yang semakin rapuh. Anak-anak kecil cenderung lebih menggemari
film-film kartun ketimbang membaca cerita-cerita rakyat yang memiliki
nilai dan pesan moral.
Di sisi lain, banyak cerita lokal yang belum didokumentasikan, seperti
kisah-kisah anak rimba ini. Maka, upaya anak-anak rimba itu patut
dihargai....
