Milan The Rainmaster
Hujan yang mengguyur kota Milan sejak sore ternyata membawa peruntungan tersendiri bagi Il Diavolo Rosso. Padahal, kondisi cuaca seperti ini diasumsikan lebih cocok bagi kubu Manchester United, yang terbiasa dengan iklim khas Britania: mendung, hujan, dan minim sinar matahari.
Howard Nurse, salah satu editor di situs sepakbola BBC, memprediksi bahwa lapangan yang basah dan licin akan menjadi makanan empuk bagi Ryan Giggs dkk.
“Saya meramalkan malam penuh kejayaan Eropa buat Manchester United,” sebut Nurse beberapa saat jelang kick-off. “Kondisi lapangan yang basah akan cocok dengan passing game cepat ala United. Para penyerang akan mendapat banyak peluang dan memaksa Dida, kiper Milan, melakukan kesalahan.”
Toh, yang terjadi justru sebaliknya. Pola Red Devils mandek dan speed Ronaldo dkk. sirna. Justru tuan rumah yang leluasa mengatur tempo serta mendikte irama permainan.
Yang menarik, derasnya siraman air dari langit justru ditanggapi positif Wakil Presiden Milan, Adriano Galliani. “Wow, ini hujan yang amat deras. Serasa seperti sedang berada di kota Manchester saja,” komentar Galliani beberapa saat sebelum laga. “Tapi lapangan yang basah adalah lapangan yang membawa keberuntungan.“
Kini terbukti siapa yang paling pantas dijuluki The Rainmaster! (bry)
Dilarang Ngomong Inggris!
Pendukung sering menjadi pemain ke-12, pun dalam jumlah sedikit ketika ikut bertandang ke kandang lawan. United praktis sulit merasakannya saat hadir di Italia.
Meski suporter Milan tidak mendapat masalah saat datang ke Old Trafford, United mendapat peringatan bisa memperoleh masalah. Uniknya problem yang ditakutkan bukan dari Milan, melainkan dari Roma.
Bila menoleh ke belakang, musim ini pendukung Setan Merah sudah dua kali terlibat masalah di rumah lawan. Setelah terjadi di kandang Lille, fan United berkelahi sebelum dan saat pertandingan perempatfinal pertama di Olimpico, rumah Roma, yang dimenangi Il Lupo 2-1.
Sebelum laga, Independent Manchester United Supporters Association (IMUSA) mengatakan ada kemungkinan beberapa pendukung fanatik yang biasa disebut ultras dari Roma akan ke utara untuk menimbulkan kericuhan sebagai balas dendam atas duel di Roma, bisa juga atas kekalahan 1-7 saat bertandang ke Manchester.
Sebagai pencegahan, IMUSA memperingatkan suporter United agar tidak mengenakan atribut merah. Bahkan, imbauan bertingkah laku sampai dikeluarkan, seperti tidak berbicara English. Sayang, peringatan ini sedikit terlambat. Lima ribu pendukung sudah telanjur bertolak ke Milano. (chrs)
Kaka
Top Scorer Virtual
Melihat dua gol Ricardo Izecson dos Santos Leite alias Kaka pada semifinal 1st leg di Old Trafford kontra Manchester United, Gennaro Gattuso begitu yakin rekan setimnya tersebut bakal menjadi penentu kelolosan AC Milan ke Athena.
“Jika Kaka mampu kembali memporak-porandakan United seperti di pertemuan pertama, saya jamin kami akan menang,” ujar Gattuso, seperti dikutip situs resmi Uefa.
Omongan Gatusso terbukti. Prediksinya mengena tepat sasaran. Kaka betul-betul menghancurkan United, baik dalam skor akhir maupun sektor moral bertanding. Lewat gol pembuka pada menit ke-11, keperkasaan Setan Merah memang langsung luluh.
Bagi Kaka pribadi, ini golnya yang ke-10 dalam musim 06/07. Dengan gagah berani, penyerang Brasil kelahiran Brasilia, 22 April 1982 itu, nangkring di tangga top scorer sementara Liga Champion musim ini.
Dia unggul empat gol atas Peter Crouch (Liverpool), Fernando Morientes (Valencia), Didier Drogba (Chelsea), dan Ruud van Nistelrooy (Real Madrid). So, bisa dibilang secara virtual gelar pencetak gol terbanyak kali ini sudah digenggam eks pemain Sao Paulo itu.
Pasalnya Drogba dan Morientes tak mungkin lagi mengejar defisit tersebut. Praktis satu-satunya pemain yang bisa melewati torehan gol Kaka adalah Crouch, mengingat The Reds masih akan merumput melawan Milan di laga final.
Jika ditotal jumlah gol per musim, Kaka hanya kalah tajam dari Van Nistelrooy, yang menjadi top scorer LC 02/03 dengan 12 gol. Sejak format berubah pada musim 91/92, rekor gol terbanyak Ruutje belum terusik.
Sementara itu, untuk kategori pemain Milan tertajam di LC sepanjang masa, Kaka tinggal membutuhkan tambahan sembilan gol agar bisa menggeser nama Andriy Shevchenko dari tangga teratas. Selama berseragam Milan, Sheva sukses mengumpulkan 29 gol.
Ia unggul atas nama-nama beken dan mapan semisal Filippo Inzaghi, Hernan Crespo, atau Clerence Seedorf. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Kaka sudah mengoleksi total 21 gol buat I Rossonerri. Melihat tren bagus seperti ini, bukan tak mungkin Sheva bakal ia depak. Tapi, tentu dengan catatan Kaka tak keburu hijrah ke luar dari San Siro. (shr)
Pelatih Liverpool, Rafael Benitez, enggan sesumbar walau tim asuhannya berhasil mempecundangi Chelsea di semifinal II Liga Champion sekaligus merebut satu tiket ke partai final. Sebaliknya, ia justru memuji penampilan The Blues walau sebelumnya sempat “diejek” sang arsitek tim, Jose Mourinho.
“Saya sungguh menikmati kemenangan ini. Atmosfer di stadion sungguh fantastis dan tim saya berhasil menampilkan permainan luar biasa. Para pemain mengetahui bagaimana cara mengalahkan Chelsea dan mereka bermain dengan semangat menggebu,” ujar Benitez.
“Namun, penampilan Chelsea juga fantastis. Mereka berhasil melakukan tekanan sehingga barisan pertahanan kami harus bekerja ekstra keras,” imbuhnya.
Secara khusus, Benitez mengacungkan jempol terhadap performa striker Chelsea, Didier Drogba.
“Drogba pemain yang sulit ditangani. Namun, Chelsea juga masih memiliki sederet pemain menyerang lain yang bertalenta, yang kerap membuat kami sulit mengontrol mereka,” ungkap pria kelahiran 16 April 1960 itu.
Sementara itu, kapten tim Liverpool, Steven Gerrard, mengungkapkan rasa terima kasih kepada Mourinho, yang telah membangkitkan semangat rekan-rekannya.
“Mourinho yang memberikan masukan bagi kami. Setiap hari kami membaca pernyataannya di media massa. Meski Mourinho pelatih hebat, terkadang ia membuat kami tertawa,” tutur Gerrard. (wta)
Jose Mourinho
Chelsea Tetap Lebih Baik
Tersingkirnya Chelsea di semifinal Liga Champion ternyata tidak mampu mengubah pendirian pelatih Jose Mourinho. Arsitek tim asal Portugal ini tetap bersikeras bahwa skuad arahannya masih lebih baik ketimbang sang rival, Liverpool.
“Liverpool memang tampil lebih baik di menit-menit awal. Namun, saya melihat tim berbaju biru yang bermain untuk menang di pertandingan,” ucap Mourinho. “Kami pantas berlaga di partai final. Chelsea adalah tim yang lebih baik di first leg dan second leg serta babak perpanjangan waktu,” lanjut pelatih yang membawa FC Porto menjuarai Liga Champion tiga musim silam itu.
Mourinho juga menyesal pertandingan harus diakhiri dengan babak adu penalti.
“Adu penalti adalah bagian dari permainan dan Liverpool lebih kuat di bagian tersebut. Chelsea telah menunjukkan kemauan yang lebih besar untuk menang, tetapi pada akhirnya Liverpool yang melaju ke final. Selamat untuk mereka. Saya bangga terhadap pemain-pemain saya dan senang bisa berbagi masa-masa menyulitkan ini bersama mereka. Saya tahu seluruh suporter merasa kecewa tetapi tetap memberi dukungan kepada kami,” ujar Mourinho. (wta)
