Search blog.co.uk

Posts archive for: 2 May, 2007
  • Something fresh

    7 Langkah Kesabaran

    Sebuah rumah gubuk kecil berdiri anggun di tanah pegunungan yang indah dan hijau. Di gubuk yang terpencil itu, tinggallah seorang kakek tua yang sangat terkenal karena kebijakasanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasehat si kakek tua itu. Suatu hari, datanglah seorang pria yang telah tiga hari lamanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di hadapan si kakek tua, pria itu memohon nasehat tentang bagaimana cara mengendalikan emosi yang tidak terkendali.

    Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek tua nan bijak itu pun berkata, ”Anak muda, setiap kali engkau tersinggung atau terpancing untuk marah-marah, ingatlah Tujuh langkah kesabaran. Untuk itu, lakukanlah sebagai berikut melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju tujuh langkah, dan lakukan hal tersebut tujuh kali kali berturut-turut. Lakukan dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah engkau ambil keputusan bertindak."

    Merasa mendapatkan nasihat bijak, pria itu pulang kembali ke desanya. Ia yakin sekali masalah emosi yang dideritanya pasti bisa terpecahkan. Tiga hari perjalanan kembali harus dia tempuh. Hari telah larut ketika ia sampai di rumah. Dengan pakaian yang lusuh, badan letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar istrinya. Di kepalanya, ia hendak meminta istrinya supaya menyediakan makan malam dan air hangat untuk mandi. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.

    Demi melihat pemandangan menjijikkan itu, langsung amarahnya meluap tak tertahankan lagi. ”Kurang ajar! Baru ditinggal sebentar saja sudah berani menyeleweng...!” Tanpa berpikir panjang, pria itu mencabut belati dan hendak menghabisi keduanya. Tetapi, seketika itu juga dirinya teringat dengan nasehat si kakek tua yang bijak. Sambil tetap mengangkat tangan menghunus belati, pria itu mulai menjalankan nasihat si kakek. Ia melangkah sambil menghitung, mundur tujuh langkah, maju tujuh langkah. Kembali lagi dilakukan hingga hitungan ke tujuh kalinya, sampai akhirnya suara hitungan dan hentakan kakinya membangunkan sang istri.

    Ketika istrinya menyingkap selimut, kagetlah pria itu karena mendapati orang yang tidur di samping istrinya ternyata adalah ibunya sendiri. Detik itu juga rasa syukur terucap dari mulutnya yang bergetar. Ia telah berhasil mencegah satu tindakan emosional dan bodoh. Seandainya saja kesabarannya tidak muncul di saat-saat yang genting tadi, mungkin orang-orang yang paling dicintainya itu telah mati di tangannya sendiri, dan hidupnya akan dirundung penyesalan sepanjang hayat.

    Dear friends. Kesabaran adalah mutiara kehidupan yang pantas dan harus kita miliki! Saat kita berjuang tetapi belum berhasil, kita membutuhkan kesabaran. Kesabaran dalam perjuangan bisa pula diartikan sebagai suatu keuletan, ketekunan, atau mental tahan banting. Ketika menghadapi orang lain yang sedang emosi, kita pun butuh kesabaran. Saat kita sendiri sedang marah, kita pun perlu rem atau kesabaran. Kesabaran dalam konteks tersebut berarti suatu kematangan mental untuk mampu menahan diri dan mengendalikan sikap-sikap kita supaya tidak terjerumus pada tindakan-tindakan irasional yang merugikan.

    Kesabaran merupakan ilmu hidup yang harus kita miliki jika kita ingin meraih sukses sejati. Tanpa kesabaran, kita akan mudah terjebak dalam komunikasi negatif dan sulit menjalin hubungan sosial yang konstruktif. Tanpa kesabaran kita cenderung mudah melakukan tindakan-tindakan tak terkendali yang mengundang penyesalan di kemudian hari. Sebaliknya, melatih kesabaran berarti memperkecil kemungkinan penyesalan. Jadi, saat emosi menguasai kita, ingatlah ren 7 pu , tujuh langkah kesabaran.

    PERAN DISIPLIN DALAM KEPEMIMPINAN

    Dalam sejarah ahli strategi perang Sun Tzu diceritakan sebuah episode di mana sang jenderal perang ini ingin membuktikan keefektifan sebuah kepemimpinan dikaitkan dengan kedisiplinan dan ketegasan. Dalam kisah tersebut digambarkan Sun Tzu bermaksud melatih kedisplinan sekitar 180 wanita istana. Sun Tzu mengajarkan rasa disiplin dengan melatih mereka cara baris berbaris. Namun perintah Sun Tzu diabaikan oleh seluruh wanita yang dilatihnya. Ini akibat ulah dua gundik Raja Ho Lu yang dijadikan pemimpin barisan yang tidak mau melaksanakan perintahnya. Demi menegakkan wibawa dan kepemimpinannya, Sun Tzu mengambil langkah yang sangat tegas. Ia memerintahkan supaya dua gundik istana itu dihukum penggal kepala di hadapan wanita-wanita yang mengabaikan perintahnya.

    Raja Ho Lu pun terkesima dengan ketegasan Sun Tzu yang berani memerintahkan untuk memenggal kepala dua gundik kesayangannya. Sun Tzu menjalankan ketegasan itu demi tegaknya wibawa dan efektifitas kepemimpinan seorang Panglima Perang. Ia buktikan, disiplin harus diteggakkan sekalipun harus bertentangan dengan kehendak Raja.

    Dalam dialog dengan Raja junjungannya tersebut, Sun Tzu menegaskan, "Maju tanpa mengharapkan pahala, mundur tanpa takut dihukum." Inilah gambaran totalitas seorang Panglima Perang dalam melaksanakan tugas junjungannya. Dia sangat tegas dan sangat berani. Dia menunjukkan profesionalisme yang tinggi serta wibawa sebuah jabatan di mata pelaksana perintah. Perintah seorang Panglima perang adalah hukum yang harus dilaksanakan dengan disiplin yang keras.

    Dalam pemikiran Sun Tzu, kepemimpinan harus mencakup lima sifat, yaitu kearifan, ketulusan, kebapakan, keberanian, dan ketegasan. Kearifan berarti kemampuan mengenali perubahan keadaan dan bertindak tepat.

    Ketulusan berarti kemampuan untuk bisa dipercaya sepenuhnya oleh bawahan. Kebapakan berarti memiliki kemampuan human relationship. Keberanian berarti memiliki kepastian dan keteguhan dalam mengambil keputusan atau bertindak. Dan ketegasan berarti kemampuan menegakkan kedisiplinan yang mendatangkan rasa hormat.

    Apa yang ditunjukkan oleh kisah Sun Tzu itu adalah sebuah kualitas kepemimpinan yang efektif, di mana sifat keberanian dan ketegasan dalam menegakkan hukum serta kedispilinan menjadi fondasi utamanya.

    Hukum tidak akan jalan tanpa kedisiplinan. Jika hukum tidak jalan, maka wewenang dan kekuasaan juga macet. Kekuasaan yang macet membuat siapa pun yang berkuasa tidak memiliki wibawa, tidak bisa menjalankan fungsinya, dan akhirnya ditinggalkan oleh pengikutnya. Inilah kehancuran sebuah kepemimpinan.

    Masalah penegakan hukum dan kedisiplinan ini sangat vital peranannya. Tidak saja di militer, tetapi juga di seluruh bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedisiplinan adalah jantung kehidupan sebuah bangsa. Bangsa yang tidak memiliki kedisiplinan akan hancur. Sebab tanpa kedisiplinan, hukum tidak bisa ditegakkan. Bagaimana masalah kedisiplinan ini mempengaruhi runtuh atau tegaknya sebuah bangsa, kita akan bahas pada kesempatan berikutnya.

    Friday, April 20, 2007
    LUMPUR LAPINDO , Kapankah Berakhir ?

    Sudah sepuluh bulan lebih sejak 29 Mei 2006, lumpur panas menggenangi sebagian wilayah Sidoarjo. Dengan kisaran semburan lumpur panas 5.000 m3/hari, prediksi sampai kapan semburan akan berakhir masih kabur. Masyarakat sekitar maupun korban, tetap diliputi perasaan harap-harap cemas akan masa depan mereka. Sementara itu, proses penanganan bencana, makin hari kian tidak prospektif. Hingga saat ini pemerintah (Timnas) bersama PT. Lapindo sudah sampai pada alternatif terakhir penanggulangan banjir lumpur tersebut.

    Jika sudah seperti itu, kepada siapa lagi publik menyandarkan keluhannya? Kondisi tersebut jelas menambah beban masyarakat sekitar dan korban. Pasalnya rakyat sebenarnya sudah bosan dengan segala kesemerawutan yang dilakukan pihak yang bersangkutan. Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa mewarnai proses penyumbatan sumber kebocoran tersebut. Belakangan ini lagi-lagi kita temui aksi massa (penduduk Perum TAS) yang menuntut pihak-pihak terkait untuk menuruti kemauan mereka yang terus hidup dalam kecemasan tertimbun lumpur. Bahkan aksi mereka menjurus pada tindakan yang nyaris anarkis, seperti pendudukan kantor Pemkab/DPRD atau pemblokiran jalan, dan ungkapan kekesalan lainnya. Artinya rakyat telah mencapai titik kulminasinya. Pelbagai peristiwa yang datang beruntun seperti membuat masyarakat kita “sakit”. Tatanan norma pun terancam chaos. Akibatnya situasi yang anomik seolah tinggal menunggu waktu. Pada tingkat minimal, jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, bisa menggiring pada terciptanya konflik horizontal.

    Berangkat dari pemaparan diatas, muncul satu pertanyaan. Apa yang sebaiknya dilakukan? Dan elemen-elemen masyarakat yang mana yang seharusnya berpartisipasi dalam proses “penyembuhan” tersebut? Lalu bagaimana?

    Ralf Dahrendorf (1958), memperkenalkan satu model penangkal konflik yang ia sebut dengan Imperatively Coordinated Association (ICA). Model dari sudut pandang Dahrendorf ini menyatakan bahwa pelembagaan di dalam masyarakat melibatkan kontribusi dari organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. Organisasi-organisasi ini dibentuk oleh hubungan-hubungan kekuasaan antara beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada di dalam masyarakat. Dimana kekuasaan itu menunjukkan adanya faktor paksaan oleh suatu kelompok atas kelompok lain yang menjadikan hubungan kekuasaan di dalam ICA itu mempunyai legitimasi (Bustami R, Harry Y: 2004). Dengan demikian, ketertiban sosial bisa dijaga dan dipelihara oleh proses-proses yang menciptakan hubungan otoritas di dalam berbagai tipe kekuasaan dari ICA yang hidup dalam seluruh batang tubuh sistem sosial itu.

    Konsep ini berusaha mencegah konflik dengan cara pelembagaan terhadap organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. Tidak peduli apakah organisasi atau kelompok-kelompok itu kecil atau besar, asalkan organisasi tersebut merupakan representasi dari hubungan kekuasaan antara beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada di dalam masyarakat, yang mampu memerankan kekuasaan tersebut secara leluasa dalam proses interaksi sosial sehari-hari. Berarti, penanganan potensi konflik akan melibatkan peran kelompok-kelompok yang dianggap punya otoritas dan mendapat legitimasi untuk menjalankan kekuasaannya di dalam masyarakat. Dalam konteks kali ini, pihak-pihak yang berkompeten adalah pemerintah (baik pusat maupun daerah) sebagai pemegang otoritas formal dan para pemuka adat (tokoh masyarakat) sebagai representasi otoritas kultural, serta PT. Lapindo sebagai kunci utama bencana ini. Dari situlah mereka harus mampu melembaga secara harmonis di dalam kehidupan bermasyarakat.

    Dalam konteks ini, pemerintah diharapkan bisa bertindak cepat dengan cara mengeluarkan keputusan-keputusan yang tepat dan akurat selama proses penanggulangan bencana, serta melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya tidak kontradiktif dengan keadaan di lapangan. Di lain pihak, para tokoh masyarakat juga diharuskan tetap mampu mengontrol keadaan umatnya agar tidak berulah destruktif. Sementara PT. Lapindo memegang peranan sebagai penyedia kebutuhan logistik para pengungsi dan penanggungjawab pemberian kompensasi ganti rugi material yang tidak bisa ditawar lagi.

    Dengan kata lain, keberhasilan pengendalian konflik model ini sangat tergantung dari kinerja masing-masing pemegang otoritas dan peraih legitimasi -sebagai kalangan yang berwenang terlibat dalam proses penanganan bencana- di masyarakat tersebut. Memang tidak ada yang menjamin jika model pencegahan konflik seperti ini bisa diterapkan sepenuhnya dalam situasi seperti saat ini, mengingat kondisi masyarakat sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap pihak-pihak yang akan terlibat dalam ICA tersebut. Namun paling tidak langkah ini merupakan bentuk tindakan mitigasi (preventif pencegahan) terjadinya bencana baru, atau sebentuk alternatif solusi pencegahan yang harus segera dilakukan agar peristiwa bencana sosial (kekacauan/konflik) tidak meluas dan bertambah parah.

    CS Itu Pekerjaan Mulia

    CS pertama Auto 2000 bersama "sang jendral" Sandi Prajitno

    Sekilas chatting dengan Aa . . . . .

    Aa_online : Assalamualaikum …
    Djodi Ismanto : Waalaikumsalaam …
    Djodi Ismanto : Aa .. lama gak online nih, … kemana aja ?
    Aa_online : Ah … Aa mah disini aja, Kang Djodi kumaha damang?
    Djodi Ismanto : Baik A, kumaha bulan madu?
    Aa_online : Ah, eta deuy, eta deuy … hehehe …
    Djodi Ismanto : Sori A, habis kaget nih Aa nikah lagi
    Aa_online : Aduh kenapa atuh musti kaget segala. Kan berpoligami teh diijinkan Allah.
    Djodi Ismanto : Diijinkan lho A, bukan diwajibkan
    Aa_online : Betul. Hukumnya sunnah.
    Djodi Ismanto : Kenapa sih Aa, nikah lagi?
    Aa_online : Aduuh ini lagi pertanyaanya … Kumaha nya ngajawabnya?
    Djodi Ismanto : Apa ada yg kurang dari Teteh?
    Aa_online : Wah, insya Allah bukan karena itu, Teteh itu wanita yang sangat luar biasa.
    Djodi Ismanto : Ya sok udah lah A , Saya cuma mau nanya tentang Pelayanan ( Customer Service ) dilihat dari sudut Islam ?
    Aa_online : Begini ya , Nabi Muhammad itu orang yang benar - benar menganut . . aduh lupa naon eta . . . Customer Satisfaction , beliau benar - benar tulus dalam melayani mulai dari istri - istri beliau , umat beliau dan lain - lain.
    Mulai dari urusan rumah tangga , beliau tidak pernah atuh merepotkan istrinya , semua yang bisa dikerjakan beliau pasti kerjakan , istilahnya ya menurut Aa , Nabi kita itu ringan tangan.Beliau selalu memudahkan urusan , meringankan masalah . . bukan begitu ilmu CS Kang Djodi ?
    Djodi Ismanto : Jadi A , CS itu berarti tugas mulia dong karena dengan membantu , memudahkan serta membuat orang lain senang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad.
    Aa_online : Nuhun , betul sekali itu , jadi ngga usah setengah - setengah dalam ber CS ya , karena dalam Islam pun itu masuk tugas yang mulia.
    Djodi Ismanto : Jadi sunnah kalo kita ber CS , begitu ya A.
    Aa_online : Insya Allah segala yang kita ikuti tentang Sunnah Rasul itu akan berkah , betul tidak ?
    Djodi Ismanto : Termasuk yang polygami eta A .
    Aa_online : Hus , eta mah lain masalahnya , Kumaha yeuh Kang Djodi eta deuy - eta deuy nu di bahas.
    Djodi Ismanto : Ngomong – ngomong ini Aa Gym sekarang ada di Darut Tauhid – Bandung khan ?.
    Aa_online : Ah , kumaha atuh , ini teh . . . .Aa Noer , . . . ini Noerhedi , kawan kamu dulu , saya kan dulu CS cordinator Auto 2000 Soekarno Hatta – Bandung . . . . .
    Djodi Ismanto : Euleuh – euleuh kumaha yeuh , saya kira dari tadi mah Aa Gym yang dari Bandung . . . . . .Ya udah ya Aa Noer , hatur nuhun atuh atas penjelasannya tentang ilmu CS nya . , Wassalammualaimum wr.wb.
    Aa_online : Walaikum salam wr.wb , sami - sami atuh , salam sama keluarga ya.

    RAHASIA DOA YANG TERKABUL

    Doa, adalah suatu kata yang sudah sangat kita kenal, bahkan mungkin kita sudah mengetahuinya sejak kita berada di dalam kandungan ibu.

    Doa juga selalu menjadi pegangan setiap orang di kehidupan ini, dan memang seharusnya demikian adanya. Kita tidak mungkin melupakan doa di dalam hidup kita.
    Tetapi, ada sebagian dari kita ini, yang merasa bahwa doa yang dia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kok tidak pernah dikabulkan. Padahal mereka ini selalu berdoa di setiap langkah kehidupannya.

    Pasti di setiap doa kita, selalu meminta kepada Tuhan...rejeki yang melimpah, agar kita bisa hidup enak dan bahagia. Dan, ternyata itu tidak pernah terjadi. Mengapa?
    Masih banyak orang yang merasa, bahwa betapa sulitnya mereka mencari rejeki untuk kehidupannya sendiri. Sangat banyak diantara kita, yang kebingungan mencari cara untuk memperoleh rejeki. Bekerja dengan sangat keras, semata-mata untuk mendapatkan uang dalam jumlah banyak, tetapi tetap saja hanya memperoleh sangat sedikit, atau bahkan tidak mendapatkannya sama sekali.
    Yaa, mereka inilah yang seringkali merasa "dianaktirikan" oleh Tuhan, karena kok doa mereka tidak pernah dikabulkan Tuhan.

    Dalam hal ini, saya sekedar ingin mengingatkan kepada kita semua, termasuk juga diri saya sendiri; bahwa sebenarnya Tuhan selalu mengabulkan doa setiap manusia, dengan melalui 3 (tiga) cara, yaitu:

    1. Doa yang secara langsung dikabulkan:
    Ini bisa langsung dinikmati oleh orang yang berdoa, diberikan Tuhan sesuai dengan apa yang didoakan tersebut. Ini biasanya doanya para ulama/kyai, wali Tuhan, nabi, dan rasul.

    2. Doa yang dikabulkan dengan cara digantikan:
    Keinginan doa tersebut, diganti oleh Tuhan dengan suatu hal yang pasti lebih baik. Misalnya, orang berdoa untuk memperoleh uang banyak, dan doanya diganti oleh Tuhan dengan menyelamatkannya dari marabahaya yang mengancam jiwanya.

    3. Doa yang dikabulkan dengan cara digantungkan:
    Inilah sebenarnya doa yang dikabulkan untuk sebagian besar umat manusia, termasuk kita semua yang merasa sebagai manusia biasa. Doa yang digantungkan, artinya adalah, bahwa doa yang kita panjatkan kepada Tuhan tersebut "sudah dikabulkan oleh Tuhan", tetapi dalam kondisi "masih menggantung di atas", yang harus kita raih jika kita ingin segera mendapatkan hasil dari doa kita.
    Istilah "digantungkan" ini, memberikan pemahaman bagi setiap orang, bahwa diperlukan suatu upaya semaksimal mungkin dari diri kita masing-masing; untuk meraih "yang digantungkan tersebut". Jika kita tetap berusaha dengan gigih, fokus, pantang menyerah dan selalu bersemangat positif, maka niscaya akhirnya doa kita pasti bisa kita dapatkan. Setinggi apapun Tuhan menggantungkan "doa yang telah dikabulkan-Nya", pasti kita dapat meraihnya, jika kita punya kemauan dan keuletan dalam berusaha meraihnya.

    Pemahaman tentang terkabulnya setiap doa kita, seperti uraian saya di atas adalah sangat penting. Jika Anda sudah memahami, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa selalu mengabulkan doa yang kita panjatkan ke Dia, maka kita tidak akan mudah menyalahkan Tuhan. Sebaiknya kita "introspeksi diri", sejauh mana kita sudah berusaha meraih doa-doa kita sendiri tersebut.

    RANTAI GAJAH

    Mengapa seseorang diciptakan memiliki dua buah mata dan keduanya menghadap ke depan? Dalam sebuah milis, pertanyaan itu dijawab bahwa karena Tuhan tidak ingin kita terlalu sering melihat ke belakang. Karena seringkali masa lalu terus menghantui, sehingga apapun yang ingin kita lakukan akan selalu teringat tentang kegagalan masa lalu dan membuat kita tidak berani melanjutkan tindakan. Padahal mungkin tindakan yang akan dilaksanakan tersebut dapat memperbaiki kehidupan, meningkatkan karir, membahagiakan keluarga atau diri sendiri.

    Memang orang bilang bahwa pengalaman harus dijadikan guru yang sangat baik dan kita harus belajar dari pengalaman. Tetapi buat saya justru pengalaman termasuk guru yang buruk, karena dia membuat kita jatuh dulu, berdarah-darah dulu, baru mengajarkan sesuatu kepada kita.

    Yang lebih parah adalah ketika pengalaman buruk kita menjadi rantai gajah. Seekor gajah seringkali dirantai di salah satu kaki belakangnya ketika mulai remaja. Karena saat itu gajah masih sulit diatur tetapi sudah mulai memiliki tenaga yang cukup besar. Rantai tersebut biasanya juga dikaitkan pada sebuah tiang besar sehingga gajah hanya akan bisa bergerak sebatas radius rantai antara kaki belakangnya dengan tiang besar.

    Bila akan dilakukan latihan terhadap gajah, maka rantai dilepas. Setelah selesai rantai akan dipasang kembali. Begitu terus sehingga gajah menjadi dewasa dan lebih mudah dikendalikan dengan perintah suara dari pelatih atau pawangnya, baru rantai itu dilepas.

    Apa yang terjadi dengan sang gajah? Dalam waktu yang cukup lama, gajah itu hanya bergerak sejauh jarak rantai kakinya selama ini. Dia sudah menjadi sangat terbiasa untuk hanya bergerak sebatas yang selama ini dia lakukan. Tidak berani melangkah lebih jauh dari batas rantainya selama ini.

    Begitulah yang terjadi bila masa lalu masih terus mengikat Anda untuk tidak berani melangkah terlalu jauh, bila Anda tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Anda akan seperti gajah yang dirantai kakinya sejak kecil.

    Anda mungkin pernah berbuat salah. Kesalahan itu bahkan mungkin sangat besar. Anda mungkin sangat menyesali kesalahan yang pernah Anda lakukan. Bahkan mungkin ada orang yang menjadi korban dari kesalahan Anda.

    Pertanyaan yang perlu Anda ajukan pada diri sendiri; Apakah Anda sudah minta maaf pada korban kesalahan Anda? Apakah Anda sangat yakin bahwa kesalahan tersebut tidak akan terulangi lagi?

    Sangat susah untuk menjawab ya bagi dua pertanyaan itu. Susah untuk menyatakan bahwa kita telah minta maaf pada korban kesalahan. Karena jauh lebih mudah mengakui dalam hati bahwa kita telah berbuat salah dibanding mengakui secara terang-terangan bahwa kita telah bersalah, apalagi bila harus minta maaf kepada orang yang menjadi korban kesalahan kita.

    Yakin tidak mengulangi? Pernah Anda coba tips untuk menuliskan semacam diary, setiap kesalahan yang kita lakukan untuk ke dua kali, ke tiga kalinya dan seterusnya? Maksud saya ketika sebuah kesalahan Anda lakukan, kemudian Anda ingat bahwa kesalahan sejenis pernah Anda lakukan sebelumnya, maka saat kesalahan itu Anda ulangi maka Anda tuliskan di diary Anda. Ketika kesalahan itu Anda ulangi lagi kemudian, Anda tetap tulis lagi di diary Anda.

    Dengan demikian diary khusus ini hanya berisi catatan kesalahan yang pernah Anda ulangi saja. Kemudian coba hitung ada berapa kesalahan yang pernah Anda lakukan hingga tiga kali atau lebih? Lalu Anda cari solusi agar menahan Anda untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.

    Misal, Anda sering telat datang ke rapat di tempat kerja Anda. Setiap kali telat, catatlah di diary hingga ke tempat rapat dan berapa lama Anda telat, serta penyebab keterlambatan Anda. Catatan yang menunjukkan penyebab keterlambatan Anda, akan membuat Anda mampu menahan diri untuk tidak mengulangi keterlambatan hadir. Bila tetap saja Anda tidak mampu, paling tidak Anda punya informasi jelas bahwa Anda tidak mungkin bisa hadir tepat, karena itu mengapa tidak minta rapatnya yang diundur.

    Baik, sekarang Anda sudah mendapatkan gambaran bagaimana menghalangi diri sendiri dari mengulangi kesalahan yang sama. Sehingga Anda sudah cukup yakin untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Anda juga sudah dengan ringan hati mengakui kesalahan yang Anda lakukan dan berhasil meminta maaf pada korban kesalahan Anda tersebut. Lalu mengapa Anda masih menjadi gajah?

    Tetapi orang yang menjadi korban kesalahan saya tidak bersedia memaafkan kesalahan saya, tidak mau menerima saya kembali menjadi sahabatnya, rekan bisnisnya, suaminya, atau apa saja hubungan Anda selama ini dengan dia? Lalu?

    Kok lalu?

    Ya, memang apa masalah Anda bila dia tidak bersedia menjalin hubungan kembali dengan Anda seperti dulu? Tidak ada masalah kan? Selain diri Anda, dia toh bukan satu-satunya orang yang hidup di dunia ini. Ada 6 milyar orang yang hidup di dunia ini. Ada lebih dari 250 juta orang yang hidup di Indonesia. Berapa orang yang hidup di provinsi tempat Anda tinggal? Berapa orang yang hidup di kota tempat Anda tinggal? Pasti ada lebih dari 100 ribu orang. Lalu mengapa Anda merepotkan hubungan dengan dia? Anda sudah yakin bahwa Anda tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, Anda juga sudah minta maaf atas kesalahan Anda. Jadi apakah seorang itu lebih berarti dari 100 ribu orang lebih yang ada di kota tempat Anda tinggal? Bahkan dia lebih berarti dari Pak atau Bu Walikota? Yang benar aja.

    Tidak perlu pula Anda melakukan hal yang dapat membuat dia rugi, bangkrut, hancur karir atau kehidupannya. Semakin Anda berusaha menghancurkan dia, semakin Anda menunjukkan bahwa Anda bukan orang yang punya harga diri - bukan orang yang punya kebanggaan. Biarkan saja dia hidup dengan caranya sendiri. Sementara Anda hanya perlu meneruskan hidup Anda, bergaul dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain, berbisnis dengan orang lain.

    Jadi setelah Anda tahu bahwa hidup Anda begitu berharga, mengapa Anda harus terbebani dengan masa lalu. Dengan orang-orang dari masa lalu. Anda jelas-jelas bukan seekor gajah yang hanya mau melangkah sebatas rantai yang membelenggu Anda, bahkan ketika rantai gajah sudah dilepas. Anda bukan gajah, atau Anda memang ingin menjadi gajah?

    Thursday, April 19, 2007
    K O P I

    Tahukah Anda?

    Anda suka minum kopi? Ternyata, awalnya kopi ditemukan tanpa sengaja oleh seorang Arab bernama Khalid. Waktu itu, kambing peliharaannya memakan sebuah biji sejenis berry dan tiba-tiba berubah jadi lebih lincah dan bersemangat. Melihat kejadian itu, Khalid mencoba merebus biji itu dan jadilah kopi pertama di dunia. Tapi, kopi sebenarnya lebih dikenal sejak beberapa sufi meminum kopi agar tetap bisa terjaga guna melaksanakan perayaan tertentu. Di akhir abad ke-15 kopi mulai menyebar dari Mekah ke Yaman hingga Venice Itali. Kemudian, akhirnya pada tahun 1652 dibawa ke Inggris oleh seorang Turki bernama Pasqua Rosee yang akhirnya membuka kedai kopi pertama di dunia di Lombard Street London.

    CUSTOMER SATISFACTION

    CS Gathering PT. Astra International , Toyota Sales Operation

    Customer Satisfaction

    " Memberikan pelayanan lebih dari hal yang diharapkan pelanggan merupakan
    kunci sukses suatu interaksi atau bisnis."

    Seperti biasanya pagi hari saat perjalanan menuju kantor dari daerah rumah di kawasan Johor - Medan , saya selalu mencari koran nasional yang juga terbit di Medan.
    Biasanya saya beli dari pengecer di daerah lampu merah Simpang Titi Kuning ( Deli Tua ) kearah Tanjung Morawa Medan , bukannya ngga mau berlangganan ke agen koran yang note bene harganya lebih murah , namun pelayanan serta service yang diberikan si pengecer koran membuat saya tidak bisa berpaling hati darinya.

    Seperti kebiasaannya yang sudah – sudah , ia selalu hapal nomor polisi , serta kebiasaan antri mobil saya di lajur 2 lampu merah.
    "Selamat pagi Pak , ini korannya" sementara ia sigap melihat uang yang saya sodorkan , untuk segera memberi kembalian sesuai dengan jumlah yang harus diberikannya , tidak lupa dia kemudian berkeliling mobil saya dan segera menginformasikan kalau ada yang kurang beres , ban yang agak kempes atau lampu rem yang cuma menyala sebelah.
    Sangat hebat untuk seorang pengecer koran di lampu merah.
    Namun pagi hari ini sangat luar biasa sekali , setelah memberikan kembalian pembayaran dari saya , dia langsung lari kepinggir jalan , kemudian dia kembali lagi membawa karung kecil.
    “ Pak , ini untuk Bapak dan keluarga dirumah , rambutan di kebun saya di Binjai sedang panen “, katanya sambil tersenyum. Agak terperanjat saya mendengarnya , lalu dia berkata lagi “ Semua pelanggan saya juga kebagian kok “ katanya sambil menunjuk tumpukan karung buah rambutan yang ia tumpuk dipinggir jalan.

    Belum lagi saya mengucapkan terimakasih karena masih terbengong - bengong , dia sudah menyambut pelanggan lain dan melakukan lagi hal yang sama seperti diatas.

    Dari penjual koran eceran di lampu merah kota Medan , saya mendapatkan ilmu luar biasa tentang Customer Satisfaction dan Marketing , yang mungkin secara teori otak kita sudah dapat banyak pelatihan , training , seminar serta gathering tentang CS , sementara hati kita belum juga bergerak melaksanakannya.
    Itulah sebabnya untuk berlangganan koran saya belum berpaling ke lain hati.

    Regards,
    DJODI ISMANTO
    Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian
    From nice city of Medan

    8 ETOS PENDONGKRAK GAIRAH KERJA

    Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai
    pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa
    mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
    “5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan
    ngeyel.

    Punya masalah dengan semangat kerja? Jangan gundah
    gulana, Anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang
    punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada
    solusinya!

    Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya
    melorot. “Itu lumrah,” kata Jansen Sinamo, ahli
    pengembangan sumber daya manusia dari Institut Darma
    Mahardika, Jakarta. Meski lumrah, “impotensi” kerja
    harus diobati.

    Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen,
    dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu
    motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja.
    Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja
    dalam konsep yang ia sebut sebagai “Delapan Etos Kerja
    Profesional”. Sejak 1999, ia aktif mengkampanyekan
    gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.

    Etos pertama: kerja adalah Rahmat.
    Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai
    kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat
    dari ALLAH. Anugerah itu kita terima tanpa syarat,
    seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya
    sepeser pun.

    Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja
    adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda
    kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup
    sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman
    dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan
    wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah
    yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita
    merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.

    Etos kedua: kerja adalah Amanah.
    Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri,
    atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga
    mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri
    menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima
    amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja
    sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya
    korupsi dalam berbagai bentuknya.

    Etos ketiga: kerja adalah Panggilan.
    Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua
    adalah darma. Seperti darma Yudistira untuk membela
    kaum Pandawa. Seorang perawat memanggul darma untuk
    membantu orang sakit. Seorang guru memikul darma untuk
    menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis
    menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang
    kebenaran kepada masyarakat. Jika pekerjaan atau
    profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap
    pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu
    kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita
    kurang baik mutunya.

    Etos keempat: kerja adalah Aktualisasi.
    Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli
    hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang
    membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara
    terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat
    kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh
    lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa
    pekenjaan.

    Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari
    kebutuhan psikososial manusia. Dengan bekerja,
    misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa
    pede ketika berjumpa koleganya. “Perkenalkan, nama
    saya Miftah, dari Bank Kemilau.” Keren ‘kan?

    Etos kelima: kerja itu Ibadah.
    Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua
    pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini
    pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara
    ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
    Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti
    ini:

    Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu
    berbulan-bulan untuk mengukir sebuah puncak tiang yang
    tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat dilihat
    langsung oleh orang yang berdiri di samping tiang.
    Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah
    membuat ukiran indah di tempat yang tak terlihat? Ia
    menjawab, “Manusia memang tak bisa menikmatmnya. Tapi
    ALLAH bisa melihatnya.” Motivasi kerjanya telah
    berubah menjadi motivasi transendental.

    Etos keenam: kerja adalah Seni.
    Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun,
    semua adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita
    bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi.
    Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang
    fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia
    keberhasilannya meraih penghargaan sains paling
    begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati
    pekerjaannya.

    “Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja
    berbulan-bulan di laboratorium yang sepi,” katanya.
    Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah seni. Bahkan
    ilmuwan seserius Einstein pun menyebut rumus-rumus
    fisika yang njelimet itu dengan kata sifat beautiful.

    Etos ketujuh: kerja adalah Kehormatan.
    Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah
    kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik,
    maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang
    kepada kita.

    Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta
    Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja
    (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang
    serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah
    kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum. Semua
    novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.

    Etos kedelapan: kerja adalah Pelayanan.
    Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan
    penjaga mercu suar, semuanya bisa dimaknai sebagai
    pengabdian kepada sesama.

    Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang
    lelaki tua sebatang kara karena ditinggal mati oleh
    istri dan anaknya. Bagi kebanyakan orang, kehidupan
    seperti yang ia alami mungkin hanya berarti menunggu
    kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah
    Cavennen, sebuah daerah yang sepi. Sambil
    menggembalakan domba, ia memunguti biji oak, lalu
    menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang
    membayarnya. Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal
    dalam usia 89 tahun, ia telah meninggalkan sebuah
    warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km!
    Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus
    menjadi subur. Semua itu dinikmati oleh orang yang
    sama sekali tidak ia kenal.

    Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai
    pada Mak Eroh yang membelah bukit untuk mengalirkan
    air ke sawah-sawah di desanya di Tasikmalaya, Jawa
    Barat. Juga pada diri almarhum Munir, aktivis Kontras
    yang giat membela kepentingan orang-orang yang
    teraniaya.

    “Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan
    dilengkapi keinginan untuk berbuat baik,” kata Jansen.
    Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut dengan istilah
    rahmatan lii alamin (rahmat bagi sesama).

    Pilih cinta atau kecewa
    * Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas
    itu bersumber pada kecerdasan emosional spiritual. Ia
    menjamin, semua konsep etos itu bisa diterapkan di
    semua pekerjaan.

    “Asalkan pekerjaan yang halal,” katanya. “Umumnya,
    orang bekerja itu ‘kan hanya untuk nyari gaji. Padahal
    pekerjaan itu punya banyak sisi,” katanya.

    Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga
    mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 -
    40 tahun untuk bekerja. Setelah itu pensiun, lalu
    manula, dan pulang ke haribaan ALLAH. “Manusia itu
    makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk apa
    menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu ‘kan waktu
    yang sangat lama,” tambahnya.

    Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias
    pada pekerjaan. Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai
    dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan
    terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.

    Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan
    aturan kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan.
    Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena
    belum mendalaminya dengan benar. “Kita harus belajar
    mencintai yang kita punyai dengan segala
    kekurangannya,” kata sarjana Fisika ITB yang lebih
    suka dengan dunia pelatihan sumber daya manusia ini.

    Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai
    pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa
    mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
    “5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan
    ngeyel. Jansen mengutip filsuf Jerman, Johann Wolfgang
    von Goethe, “It’s not doing the thing we like, but
    liking the thing we have to do that makes life happy.”

    “Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan
    banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak
    punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya
    saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu
    duri,” ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos
    ini.

    Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai
    macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak
    menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih
    banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa
    untuk menjadi lebih berdaya tahan.

    Bukan gila kerja
    * Dalam urusan etos kerja, bangsa Indonesia sejak dulu
    dikenal memiliki etos kerja yang kurang baik.

    Di jaman kolonial, orang-orang Belanda sampai menyebut
    kita dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas.
    Ini berbeda dengan, misalnya, etos Samurai yang
    dimiliki bangsa Jepang. Mereka terkenal sebagai bangsa
    pekerja keras dan ulet.

    Namun, Jansen menegaskan, pekerja keras sama sekali
    berbeda dengan workaholic. Pekerja keras bisa
    membatasi diri, dan tahu kapan saatnya menyediakan
    waktu untuk urusan di luar kerja. Sementara seorang
    workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen, kondisi
    kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua
    pihak. Bukan hanya bawahan, tapi juga atasan.

    Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja
    keras, sementara ia sendiri secara tidak sengaja
    melakukan sesuatu yang melunturkan semangat kerja
    bawahan. Jansen memberi contoh, atasan yang mengritik
    melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi tak pernah
    memujinya jika ia menunjukkan prestasi.

    Secara manusiawi hal itu akan menyebabkan bawahan
    kehilangan semangat bekerja. Buat apa bekerja keras,
    toh hasil kerjanya tak akan dihargai. Ingat, pada
    dasarnya manusia menyukai reward.

    Konosuke Matsushita, pendiri perusahaan Matsushita
    Electric Industrial (MET) punya teladan yang bagus.
    Pada zaman resesi dunia tahun 1929-an, pertumbuhan
    ekonomi Jepang anjiok tajam. Banyak perusahaan mem-PHK
    karyawan. MEI pun terpaksa memangkas produksi hingga
    separuhnya. Namun, Matsushita menjamin tak ada satu
    karyawan pun yang bakal terkena PHK.

    Sebagai gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja
    keras. Karyawan-karyawan bagian produksi dilatih untuk
    menjual. Hasilnya benar-benar ruarrr biasa. Mereka
    bisa berubah menjadi tenaga marketing andal, yang
    membuat Matsushita menjadi salah satu perusahaan
    terkuat di Jepang.

    Posted by DJODI ISMANTO at 19.4.07 0 comments

    Wednesday, April 18, 2007
    Ada Proses Didalamnya . . . . . .

    Dear friends…

    Ketika kita tercipta oleh Tuhan, pastilah itu karena kesengajaan bukan karena sebuah kesalahan atau khilaf. Karena proses penciptaan yang dilakukan Tuhan tidak mengenal “Defect”. Setelah kita dicptakan, kita akan diambil kembali juga oleh Tuhan. Kalau dalam kontek religius, kita sering mendengar “Sesungguhnya kita diciptakan oleh Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan”. Bahkan kita sangat meyakini kalau ini adalah kebenaran, bukan karya sastra seorang manusia namun hakiki kebenaran dari Yang Maha Benar.

    Secara sekilas, kata-kata itu sangat ringan. Yah, kita sadar sekali bahwa kita diciptakan Tuhan, suatu saat akan kembali kepada Tuhan. Mungkin ada segolongan minoritas manusia yang tidak mempercayai. Tapi dalam bahasan ini, kita anggap bahwa semua dari kita percaya akan hal tersebut.
    Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, untuk apa kalau kita hanya sekedar diciptakan dan lalu ditarik kembali?

    Wow, dibalik kalimat tersebut ada hal yang cukup sulit memberikan jawaban dengan definisi yang detail. Sangat general. Sangat luas. Sangat banyak. Sebagian orang mungkin hanya terdiam, karena baru mulai ada titik kesadaran atas pertanyaan itu. Ketika sebuah komputer Pentium 3 dirakit, digunakan untuk memberikan nilai tambah bagi pekerjaan manusia, lalu akan terkubur dengan munculnya Pentium 4. Tapi untuk sebagian orang komputer Pentium 3 tersebut bisa digunakan untuk membuat kerusakan dalam pekerjaan manusia. Memberikan nilai tambah misalnya untuk memudahkan pekerjaan sehari-hari, berkomunikasi, belajar, dll. Membuat kerusakan misalnya pembuatan virus, penyebaran pornografi, kejahatan hacker, dll. Apakah ini komputernya salah? Tentu saja bukan. Tapi usernya yang mestinya dimintai pertanggungjawaban.

    Dalam Al Qur’an Surat Asy Syams surat 91 : 8,9,10 sbb : 8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
    Manusia akan beruntung sementara jika menggunakan hardware (fisik jasmani) yang dikelola oleh software yang berusaha dalam proses kebaikan. Dalam bahasa Tuhan ”yang mensucikan”, dan sebaliknya. Jiwa dalam hidup manusia adalah hati dalam kontek non fisik.

    Sehingga proses yang ada didalam kalimat ”Kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan” adalah proses membersihkan jiwa kita, jika kita memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Proses tersebut benar-benar merupakan sesuatu yang dapat kita lakukan dengan sesadar-sadarnya, bukan karena kebetulan. Karena yang ditentukan oleh Tuhan adalah bahwa kita diciptakan dan akan ditarik kembali, maka proses tersebut menjadi tanggung jawab kita manusia.

    Sebagaimana komputer Pentium 3 tersebut diatas, bukan komputernya yang bertanggungjawab, namun usernya. Pada seorang manusia bukan tangan, kaki, badan, jantung, hati, otot secara fisik yang bertanggung jawab, namun lebih pada skala jiwanya. Karena gerakan dari fisik tersebut, kesengajaan yang didrive oleh jiwa.Untuk menjadi seorang yang beruntung maka proses yang baik, yang harus kita lakukan. Karena tidak akan terjadi pengulangan proses, maka kita berusaha agar proses tersebut tidak terjadi ”Defect”. Semoga inspirasi ini membawa manfaat untuk kita semua.

    MENCARI TEMPAT YANG CERAH

    Kesenangan seorang anak pada seekor serangga semacam belalang mungkin bukan hanya dialami di negara kita yang tropis seperti yang dulu kita alami saat kecil dan banyak memiliki jenis yang sangat banyak. Senang menangkap, memasukkan kedalam toples, plastik atau sengaja didiamkan dalam kamar. Hal ini ternyata sangatlah menarik ketika kita amati.

    Ketika binatang tersebut dilepaskan, selalu saja mengarah pada tempat yang lebih terang baik berupa lobang, sinar lampu, jendela atau pintu sekalipun. Ini mungkin kita akan menganggap hanya saja sebagai naluri seekor binatang, Tidak lebih! Namun jika kita kaji lebih jauh atau lebih dalam lagi, itu sebagian pesan isyarat dari alam yang seharusnya kita teladani. Belalang melakukan usaha / proses menuju tempat terang, dengan harapan dapat bebas kembali.

    Proses menuju terang tersebut dapat kita lakukan dengan penuh kesadaran. Kita drive diri kita, pemikiran kita, harapan-harapan kita menuju tempat lebih "terang" seperti halnya serangga tangkapan anak kita. Ada proses perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Tanpa henti. Tiada kata menyerah, untuk berbenah.

    Kita lihat belalang, saat dia tertangkap, kita bawa kedalam rumah. Coba kita lepaskan! Dia akan terbang, melompat. Dia menuju jendela atau pintu. Bahkan bisa saja tersesat atau tertipu menuju lampu. Berulang usaha tersebut, dilakukan. Tanpa kenal menyerah. Kekuatan dikerahkan dengan sebenarnya. Bahkan sangat maksimal. Belalang tersebut punya target keluar dari rumah dengan melewati titik terang yang dia lihat. Apakah usaha ini selalu berhasil. Tidak! Banyak yang gagal, namun tak patah semangat dia melakukan. Lihat, saat dia terbang dan menabrak kaca. Pastilah dia kesakitan, namun dia tidak begitu saja menyerah. Tanpa disertai rasa kuatir gagal. Yach...dia sudah melakukan suatu tugas "ihtiar" dengan sekuat kemampuannya.
    Ini benar-benar sesuatu yang kadang mengalahkan kita "seorang manusia". Kalau kita cermati, usaha kita dalam mencapai tujuan tidak jauh berbeda dengan belalang tadi. Namun dalam hal ketakutan dan kekuatiran, kita sama-sama yakin kalau kita manusia jauh terbebani. Ketika menghantam sedikit saja dalam masalah, kadang manusia sudah menjadi putus harap patah semangat. Mestinya dengan kita ihtiar sekuat-kuatnya, kita sertai dengan doa, kita harus serahkan hasilnya kepada Tuhan, karena tugas kita selaku manusia bukan menentukan hasil akhir tetapi berusaha sekuat tenaga mencapai hasil akhir sesuai harapan.

    Ketika belalang tidak berhasil keluar dari rumah, dia mungkin akan mati didalam rumah. Bisa jadi menjadi mainan dan bulan-bulanan anak kita. Atau diterkam oleh kucing kesayangan kita. Ketika belalang berhasil keluar dari rumah, maka dia harus usaha lebih kuat lagi mempertahankan hidupnya. Dan tentu dengan tantangan yang lebih besar lagi. Apakah ketika belalang gagal keluar rumah dia hanya bisa pasrah atas keadaannya? Tidak dia masih punya usaha yang kuat. Saat didekati oleh anak kita akan ditangkap, dia berusaha loncat, terbang lagi, menghindar. Sama halnya ketika akan diterkam kucing kesayanagan kita.

    Kalau dia selamat dan masih bertahan hingga pagi, mungkin masih bisa keluar dari rumah tersebut, saat anak-anak kita masih tertidur pulas. Saat pintu atau jendela kita buka pertama kali. Atau bahkan atas bantuan seseorang mengeluarkan dari dalam rumah. Sehingga kecerahan dia dapatkan.

    Hari ini kita belajar dari seekor serangga yang tak kenal lelah, tak kenal menyerah.... dan kita telah diajari bahwa kita harus selalu mencoba dan mencoba tiada henti. Kita harus bisa meniru, bahwa tugas kita bukan penentu hasil akhir. Tapi berusaha sekuat tenaga dan berdoa. Hasil akhir kita serahkan kepada Tuhan.

    Regards,
    From nice city of Medan

    PELARI GAWANG

    Saat di kelas 2 SMA Negeri 22 Jakarta , saya paling suka olahraga atletik yaitu "Lari Gawang". Maklum waktu itu terobsesi ingin jadi Captain Pilot pesawat tempur , jadi harus punya fisik yang prima . Nah , seorang pelari akan berlari dengan secepat-cepatnya, dan ketika ada tempat tertentu yang dipasang "Gawang" atau rintangan dia akan melompat dan lalu melanjutkan berlari. Sampai pada suatu tempat yang ada gawang, akan melompat lagi.

    Lari gawang tentu ada aturan main dalam melakukannya. Sama dengan lomba lari yang lain baik sprint, marathon, estafet dll, siapa paling awal sampai pada garis finish atau yang menggunakan waktu terpendek maka dia sebagai pemenang. Apakah selalu seperti itu? Tentu saja tidak. Selain satu hal tersebut sebagai syarat menjadi juara juga tidak melakukan sebuah pelanggaran apapun yang bisa menyebabkan gugur dalam lomba.

    Seorang pelari gawang yang baik, tentu akan melewati seluruh rintangan tanpa terkecuali. Semua gawang dalam lintasan larinya akan dilewati dengan dilompati. Lalu berusaha terdepan untuk sampai Finish sehingga waktu yang digunakan paling sedikit.

    Bagaimana kalau sang pelari tersebut tidak melompati gawang? Meskipun sampai finish lebih dulu dari yang lain. Apakah pelari tersebut tetap menjadi juara?

    Tentu saja tidak, dia akan di dis kualifikasi. Mengapa? karena tidak mengerjakan sesuatu dengan benar. Keluar dari hukum yang semestinya. Namun fenomena inilah yang paling sering kita dapati. Banyak sekali orang ingin maju, ingin berhasil, ingin sukses tetapi dia tidak bersedia melewati ujian ujian. Semua diambil cara termudahnya. Tidak berani menerima tantangan lebih jika harus berkorban dalam kesulitan.

    Banyak orang yang bisa "sampai finish" lebih dulu. Namun jalan yang diambil dengan cara tidak benar. Banyak demi pangkat, jabatan, uang, posisi dengan mudahnya korbankan orang lain, gesek dan gosok kanan kiri. Hal ini menjadi fenomena umum dalam lingkungan kita. Di masyarakat, kantor, organisasi, sawah, hampir semua pelosok tanah air ini dipenuhi dengan fenomena tersebut.

    Akankah kita menjadi Pelari Gawang yang tidak bersedia melompati gawang? Mari, Mari, kita berkomitmen bersama dan mulai merangkul temen lain, saudara lain, orang lain, untuk tidak menjadi pelari gawang yang pecundang. Selamat dan sukses selalu...

    Regards,
    From nice city of Medan

    SUCCESS STORY

    HEE AH LEE

    Don’t judge the book by it’s cover, jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Mungkin ini ungkapan yang tepat saat melihat sosok Hee Ah Lee. Betapa tidak, fisiknya jauh dari ukuran normal. Tangannya hanya punya empat jari berbentuk capit, sedangkan kakinya pun pendek sebatas ukuran lutut. Orang pasti akan kasihan melihat sosok wanita kelahiran Korea 22 tahun lalu ini.

    Tapi, rasa kasihan ini akan segera berubah menjadi kekaguman jika melihat Hee Ah Lee memainkan piano. Bayangkan, nada-nada sulit musik klasik karya komponis kenamaan seperti Chopin, Beethoven, Mozart, bisa dimainkannya dengan sangat apik. Padahal, tidak ada not balok dari musik klasik itu yang khusus dibuat untuk dimainkan dengan hanya empat jari. Hee sendirilah, yang mengubah empat jarinya sehingga mampu menari di atas tuts-tuts piano dengan lincah, layaknya sepuluh jari orang normal. ”Dari awal belajar piano memang saya diperlakukan sebagai orang normal,”sebut Hee.

    Terlahir dari seorang ibu bernama Woo Kap Sun, Hee sebenarnya sangat beruntung. Sebab, Woo yang tahu akan melahirkan bayi cacat dari awal menolak mentah-mentah anjuran beberapa orang dekatnya untuk menitipkan anaknya ke panti asuhan setelah lahir. Woo juga yang merawat, mendidik, dan mengajari Hee seperti orang normal lain. Woo bahkan menyebut anaknya itu sebagai anugerah Tuhan meski terlahir kurang sempurna. Ibunya itu juga yang kemudian dengan kesabaran ekstra mengajari Hee bermain piano sejak usia enam tahun.

    Saat mulai main piano, Hee bahkan tidak bisa memegang pensil. Butuh waktu dan kerja keras, serta dilandasi keuletan yang luar biasa untuk melatih jari-jari Hee. Belum lagi untuk mengenalkan not balok pada Hee yang punya keterbelakangan mental. Awalnya, untuk menguasai sebuah lagu saja, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Itu pun bisa dilakukan hanya dengan latihan intensif minimal sepuluh jam dalam sehari. Sungguh, gabungan cinta kasih seorang ibu ditambah ketekunan Hee sebagai anak, merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengubah kekurangan dan keterbatasan menjadi kelebihan yang luar biasa. Hee menyebut, ibunyalah yang telah menggembleng dirinya agar tumbuh mandiri, percaya diri, dan bersemangat baja menghadapi hidup.

    Dengan kemampuan yang diperoleh dari ketekunan dan keuletan berlatih itu, Hee kini telah berkeliling dunia. Ia menginspirasi orang dengan keyakinan bahwa tidak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita mau bekerja keras dan sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya. Meski begitu, sebagai manusia biasa ia pun mengaku pernah mengalami patah semangat. “Bayangkan Anda makan satu jenis makanan terus menerus sampai bosan. Tapi, aku memakannya terus. Aku berlatih terus menerus,” sebut Hee tentang bagaimana menaklukkan kebosanannya.

    Kini, sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano telah diterimanya. Ia juga telah mempunyai album musik sendiri berjudul Hee-ah, Pianist with Four Finger. Dengan berbagai kelebihan yang diolah dari kekurangan itu lah, kini ia juga mempunyai kehendak lain yang mulia, “Aku akan berkeliling dunia, bermain piano dari sekolah ke sekolah untuk memberi motivasi kepada kaum muda bahwa mereka bisa melakukan apa pun kalau berusaha,” kata Hee.

    Sungguh, sosok Hee Ah Lee adalah gambaran nyata keteladanan seseorang dengan ketekunan yang luar biasa. Hanya dengan keyakinan, keuletan, dan kerja keras disertai semangat pantang menyerah, seseorang dapat merubah nasibnya. Jika Hee yang kurang sempurna saja mampu, bagaimana dengan kita yang terlahir sempurna? Tinggal keyakinan dan tekad kuat disertai usaha sungguh-sungguh lah yang akan merubah kita.

    lihat artikel lain di :http://djodiismanto.blogspot.com/

    Regards,
    From nice city of Medan

    Tuesday, April 17, 2007
    Kenangan Terindah 1

    Kenangan di kampus , saya di barisan duduk nomor tiga dari kiri . . . .masih culun he he he

    " bila yang tertulis untukku , adalah yang terbaik untuk mu "
    " kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku "
    " namun takkan mudah bagiku , melupakan jejak hidupku "
    " yang t'lah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah "
    BAM by SAMSON

    Saling Tukar Ilmu , Cara Murah untuk Sukses Bersama

    Ada tiga tukang sulap, yaitu tukang sulap A, B dan C. Masing-masing mereka punya satu trik sulap yang berbeda. Satu tukang sulap hanya punya satu trik. Kemudian mereka saling bertukar trik sulap. Jadi, setiap tukang sulap akhirnya punya tiga trik sulap. Masing-maling pesulap tentunya telah mengeluarkan biaya tertentu untuk mempelajari trik andalannya tersebut. Dengan saling bertukar ilmu, mereka jadi punya trik lebih banyak dan bisa menarik penonton lebih banyak tanpa keluar biaya besar.

    Dalam dunia bisnis, kita tidak mungkin punya semua keahlian. Mungkin ada yang jago marketing saja, ada yang lihai produksi saja, ada yang ahli di teknologi saja, ada yang pakar di SDM dan seterusnya. Bagaimana caranya agar semua ilmu bisa dikuasai oleh masing-masing pebisnis? Kalau perusahaannya sudah besar, gampang, tinggal menggaji orang ahli atau cari konsultan yang mahal. Tapi, kalau masih perusahaan kecil, tentu hal ini jadi kendala terutama dari segi biaya dan waktu.

    Untuk mengatasi kendala biaya dan waktu, masing-masing pengusaha dengan keahlian berbeda itu bisa saling tukar ilmu. Mereka kemudian membuat kelompok. Si A yang ahli marketing tapi lemah di produksi saling bertukar ilmu denan si B yang ahli produksi tapi lemah di marketing. Si C yang jago teknologi saling tukar ilmu dengan si D yang menguasai SDM. Demikian terbentuklah suatu kelompok yang saling mendukung dan saling membantu satu sama lain, untuk kemajuan bersama.

    Cara seperti ini sudah banyak dikenal dengan Master Mind Group atau Kelompok Pemikir Utama. Mark Victor Hansen dan Robert Allen banyak menulis tentang ini dalam bukunya ‘One Minute Millionaire” dan “Kekuatan dari Fokus”. Anthony Robbins mempraktekkan dengan membentuk Master Mind Group yang beranggotakan pebisnis dengan pendapatan minimal 10 juta dollar per tahun. Pak Tung Desem Waringin pernah cerita kepada saya bahwa dia juga punya grup seperti ini yang bertemu sebulan sekali. Untuk pertemuan rutin ini, dia akan menolak tawaran seminar bila jadwalnya bentrok dengan pertemuan grup tersebut. Katanya, di antara anggota yang lain, saat itu Pak Tung adalah anggota yang paling miskin!

    Ide saling tukar ilmu ini bisa diterapkan dengan cara lain seperti:
    - Saling tukar koleksi buku, modul pelatihan, kaset/CD dll. Ini sudah saya lakukan dengan beberapa teman. Jadi, setiap akan bertemu, kami masing-masing membawa sesuatu untuk dipertukarkan, misalnya saya membawa buku “Multiple Streams of Income”-nya Robert Allen sedangkan kawan saya membawa CD “Wealth Dynamic”-nya Roger Hamilton.

    - Saling tukar ilmu dari seminar atau pelatihan yang diikuti. Bisa juga dua orang kawan masing-masing ikut seminar yang berbeda, kemudian saling berbagi ilmu yang didapat. Kawan saya pernah patungan dengan beberapa temannya untuk memodali salah satu di antara mereka untuk berangkat pelatihannya Robert Kiyosaki di Hawaii. Anggota yang berangkat itu kemudian ditugasi untuk mengajari ilmu yang diperolehnya tersebut kepada anggota yang tidak berangkat.

    - Membentuk Master Mind Group. Anggotanya antara 5 sampai 7 orang saja dengan syarat misalnya perusahaannya punya omset minimal 5 milyar setahun dan dari bidang usaha yang berbeda. Grup ini bertemu sebulan sekali dengan agenda menceritakan perkembangan dan masalah bisnis yang dihadapi. Masing-masing anggota bisa memberi saran atau ide mengenai permasalahan yang dihadapi anggota yang lain. Demikian seterusnya.

    - Mengikuti Mailing List bisnis. Di sini setiap anggota bisa saling berbagi cerita dan informasi yang bermanfaat bagi yang lainnya. Melalui mailing list juga bisa ditemukan kontak-kontak bisnis yang sedang dicari, misalnya seorang pedagang akhirnya bertemu supplier produk yang dicarinya. Mailing list juga bisa dilanjutkan dengan acara pertemuan “off air” seperti yang dilakukan oleh Mailing list Kuadran Empat, Marketing Club dan sebagainya. Saya sendiri merasakan banyak manfaat dari mengikuti mailing list.

    Masih banyak lagi yang bisa dilakukan dalam rangka saling bertukar ilmu untuk sukses bersama ini. Mungkin anda juga sudah menerapkannya. Sebagai penutup, saya punya cerita menarik. Beberapa bulan lalu saya berencana untuk ikut pelatihan Jay Abraham di negeri Jiran. Biayanya sekitar jutaan rupiah lah. Singkat cerita, saya berkenalan dengan seseorang di sebuah seminar. Saya ceritakan rencana saya tersebut. Dia menyarankan supaya saya membatalkan niat tersebut. Sebab, dia punya dua modul yang akan disampaikan dalam pelatihan tersebut. Dia akan berikan fotokopinya, saya tinggal ganti ongkosnya saja. Akhirnya, saya dapat modul tersebut dengan uang hanya seratus ribu saja!

    Mari kita saling tukar ilmu untuk kesuksesaan bersama. Semoga bermanfaat

    Tung DW , One of 20 Most Powerful People 2005 versi SWA

    Pencapaian yang luar biasa telah diraih lagi oleh , Pak Tung Desem Waringin. Kali ini beliau dinobatkan sebagai salah satu dari 20 The Most Powerful People 2005 versi majalah SWA. Begitu saya melihat beritanya di majalah, langsung saya kirim SMS dan mengucapkan selamat dan turut berbahagia atas penghargaan tersebut.
    Yang saya perhatikan dari Pak Tung adalah, dia selalu mencari peluang untuk melakukan Breakthrough dalam apa pun yang dilakukannya. Dia sendiri sering mengatakan bahwa dia adalah pelatih bisnis dan personal spesialis membantu kliennya melakukan "Breakthrough". Dia sendiri bukanlah seorang penjaja teori tanpa mempraktekkan sendiri teorinya.
    Breakthrough yang saya lihat sendiri sejak saya kenal dia tahun 2002 lalu di antaranya:
    - Tahun 2002, berhasil mendapat hak eksklusif Anthony Robbins di Indonesia
    - Tahun 2002, berhasil membawa delegasi terbanyak ke seminar Anthony Robbins di Singapura, sekitar 400 orang dari Indonesia.
    - Melakukan seminar atau berbicara di depan publik sampai dengan 60 kali per bulan
    - Berhasil membawa Robert T Kiyosaki ke Indonesia dan melakukan seminar di JCC
    - Berhasil meluncurkan buku pertamanya dan langsung meraih prestasi best seller dan masuk dalam catatan rekor MURI dengan penjualan di atas 10.000 eksemplar dalam sehari.
    - Menurut majalah Marketing saat ini dia tinggal di rumah super mewah dengan deretan mobil mewah di garasinya di Serpong, Tangerang. Dulu, waktu masih meng-coach saya tahun 2003, mobilnya masih Isuzu Panther.
    - Dia sendiri cerita bahwa incomenya selama 10 tahun dulu, sekarang dapat dia raih hanya dalam waktu 15 menit.
    Walaupun sudah jarang, dalam setiap kesempatan bertemu dengan dia saya selalu tanya: "Pak Tung, breakthrough apa yang telah bapak raih dan breakthrough apa yang sedang direncanakan?". Dengan penuh semangat dia akan menceritakannya. Dan biasanya saya selalu tertularkan oleh semangat dan pencapaianya yang diraihnya.
    Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan orang atau melalui milis, saya sering mendapatkan kritik atau komentar miring mengenai Pak Tung. Ada yang mengatakan dia sebagai penjaja mimpi sukses, ada yang berkomentar dia terlalu komersil, penjaja gaya hidup materialistis, ujung-ujungnya duit, dll. Saya pribadi menanggapinya sebagai suatu yang wajar. Lebih dari itu saya sendiri telah ikut menikmati kesuksesan yang dia tularkan kepada saya. Mungkin tidak sedikit juga yang merasakan pengalaman yang sama dengan saya. Bahkan, ketika saya di wawancara oleh majalah Bisnis Kita mengenai sosok Pak Tung, saya katakan Indonesia butuh banyak orang seperti dia. Kita perlu beribu-ribu orang seperti dia sebagai salah satu solusi keterpurukan bangsa kita.
    Amerika sendiri telah berhasil mengantarkan masyarakatnya meraih American Dream, salah satunya adalah karena adanya ribuan orang seperti Pak Tung ini. Orang-orang yang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi orang lain dan lingkungannya. Kita butuh orang seperti itu. Kita butuh Aa Gym, Ary Ginanjar, Arifin Ilham, Gede Prama, Hermawan Kartajaya, Andrie Wongso, Johannes Lim, Jansen Sinamo, James Gwee, Valentino Dinsi, Mario Teguh, Rhenald Kasali, Handi Irawan, Kafi Kurnia, FX Hadi, RH Wiwoho, Ronald NAC, RB Sentanu, Andrias Harefa, Reza Syarief, Aribowo Prijosaksono, Roy Sembel, . Kita butuh lebih banyak lagi orang seperti mereka. Mungkin anda akan termasuk di antaranya.

    "Hidup Jangan Tertidur!"

    Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan ''tertidur.' ' Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan ''tertidur.' '

    Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

    Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!

    Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah ''rahmat terselubung' ' karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

    Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.

    Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata,

    " Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!''

    Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas,

    ''Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.''

    Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

    Hidup ini seringkali menipu dan me nina bobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.

    Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin,

    ''Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalam an spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalam an manusiawi.''

    Manusia bukanlah ''makhluk bumi'' melainkan ''makhluk langit.'' Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ''rumah'' untuk mencari ''rumah'' yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

    Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.

    Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!

    Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulka n kekayaan -- apalagi dengan menyalahgunakan jabatan -- kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.

    Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:

    Belajarlah MENDENGARKAN.

    Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.

    Yang Mana Lebih Konyol?

    Seorang salesman mobil Mitsubishi dari SBM sedang berkeliling di sebuah desa si daerah Deli Serdang untuk menjual mobil saat bertemu dengan seorang petani yang sedang memberi makan sapinya. Ia memarkir mobilnya, lalu menghampiri si petani.

    “Selamat pagi, Pak. Saya seorang penjual mobil” sapanya penuh percaya diri.

    Si petani tersenyum sejenak, lalu mengembalikan perhatiannya ke sapinya.

    “Kenapa tidak beli sebuah mobil saja, Pak?” tembak si salesman.

    “Hmmh, terima kasih. Saya lebih memilih membeli seekor sapi saja” jawab si petani langsung.

    Si salesman tersenyum, “Betul. Tapi khan kalau mau jalan-jalan, kelihatan konyol berkeliling desa naik sapi?”

    Si petani balas tersenyum, “Betul. Tapi k

  • Something fresh

    7 Langkah Kesabaran

    Sebuah rumah gubuk kecil berdiri anggun di tanah pegunungan yang indah dan hijau. Di gubuk yang terpencil itu, tinggallah seorang kakek tua yang sangat terkenal karena kebijakasanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasehat si kakek tua itu. Suatu hari, datanglah seorang pria yang telah tiga hari lamanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di hadapan si kakek tua, pria itu memohon nasehat tentang bagaimana cara mengendalikan emosi yang tidak terkendali.

    Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek tua nan bijak itu pun berkata, ?Anak muda, setiap kali engkau tersinggung atau terpancing untuk marah-marah, ingatlah Tujuh langkah kesabaran. Untuk itu, lakukanlah sebagai berikut melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju tujuh langkah, dan lakukan hal tersebut tujuh kali kali berturut-turut. Lakukan dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah engkau ambil keputusan bertindak."

    Merasa mendapatkan nasihat bijak, pria itu pulang kembali ke desanya. Ia yakin sekali masalah emosi yang dideritanya pasti bisa terpecahkan. Tiga hari perjalanan kembali harus dia tempuh. Hari telah larut ketika ia sampai di rumah. Dengan pakaian yang lusuh, badan letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar istrinya. Di kepalanya, ia hendak meminta istrinya supaya menyediakan makan malam dan air hangat untuk mandi. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.

    Demi melihat pemandangan menjijikkan itu, langsung amarahnya meluap tak tertahankan lagi. ?Kurang ajar! Baru ditinggal sebentar saja sudah berani menyeleweng...!? Tanpa berpikir panjang, pria itu mencabut belati dan hendak menghabisi keduanya. Tetapi, seketika itu juga dirinya teringat dengan nasehat si kakek tua yang bijak. Sambil tetap mengangkat tangan menghunus belati, pria itu mulai menjalankan nasihat si kakek. Ia melangkah sambil menghitung, mundur tujuh langkah, maju tujuh langkah. Kembali lagi dilakukan hingga hitungan ke tujuh kalinya, sampai akhirnya suara hitungan dan hentakan kakinya membangunkan sang istri.

    Ketika istrinya menyingkap selimut, kagetlah pria itu karena mendapati orang yang tidur di samping istrinya ternyata adalah ibunya sendiri. Detik itu juga rasa syukur terucap dari mulutnya yang bergetar. Ia telah berhasil mencegah satu tindakan emosional dan bodoh. Seandainya saja kesabarannya tidak muncul di saat-saat yang genting tadi, mungkin orang-orang yang paling dicintainya itu telah mati di tangannya sendiri, dan hidupnya akan dirundung penyesalan sepanjang hayat.

    Dear friends. Kesabaran adalah mutiara kehidupan yang pantas dan harus kita miliki! Saat kita berjuang tetapi belum berhasil, kita membutuhkan kesabaran. Kesabaran dalam perjuangan bisa pula diartikan sebagai suatu keuletan, ketekunan, atau mental tahan banting. Ketika menghadapi orang lain yang sedang emosi, kita pun butuh kesabaran. Saat kita sendiri sedang marah, kita pun perlu rem atau kesabaran. Kesabaran dalam konteks tersebut berarti suatu kematangan mental untuk mampu menahan diri dan mengendalikan sikap-sikap kita supaya tidak terjerumus pada tindakan-tindakan irasional yang merugikan.

    Kesabaran merupakan ilmu hidup yang harus kita miliki jika kita ingin meraih sukses sejati. Tanpa kesabaran, kita akan mudah terjebak dalam komunikasi negatif dan sulit menjalin hubungan sosial yang konstruktif. Tanpa kesabaran kita cenderung mudah melakukan tindakan-tindakan tak terkendali yang mengundang penyesalan di kemudian hari. Sebaliknya, melatih kesabaran berarti memperkecil kemungkinan penyesalan. Jadi, saat emosi menguasai kita, ingatlah ren 7 pu , tujuh langkah kesabaran.

    PERAN DISIPLIN DALAM KEPEMIMPINAN

    Dalam sejarah ahli strategi perang Sun Tzu diceritakan sebuah episode di mana sang jenderal perang ini ingin membuktikan keefektifan sebuah kepemimpinan dikaitkan dengan kedisiplinan dan ketegasan. Dalam kisah tersebut digambarkan Sun Tzu bermaksud melatih kedisplinan sekitar 180 wanita istana. Sun Tzu mengajarkan rasa disiplin dengan melatih mereka cara baris berbaris. Namun perintah Sun Tzu diabaikan oleh seluruh wanita yang dilatihnya. Ini akibat ulah dua gundik Raja Ho Lu yang dijadikan pemimpin barisan yang tidak mau melaksanakan perintahnya. Demi menegakkan wibawa dan kepemimpinannya, Sun Tzu mengambil langkah yang sangat tegas. Ia memerintahkan supaya dua gundik istana itu dihukum penggal kepala di hadapan wanita-wanita yang mengabaikan perintahnya.

    Raja Ho Lu pun terkesima dengan ketegasan Sun Tzu yang berani memerintahkan untuk memenggal kepala dua gundik kesayangannya. Sun Tzu menjalankan ketegasan itu demi tegaknya wibawa dan efektifitas kepemimpinan seorang Panglima Perang. Ia buktikan, disiplin harus diteggakkan sekalipun harus bertentangan dengan kehendak Raja.

    Dalam dialog dengan Raja junjungannya tersebut, Sun Tzu menegaskan, "Maju tanpa mengharapkan pahala, mundur tanpa takut dihukum." Inilah gambaran totalitas seorang Panglima Perang dalam melaksanakan tugas junjungannya. Dia sangat tegas dan sangat berani. Dia menunjukkan profesionalisme yang tinggi serta wibawa sebuah jabatan di mata pelaksana perintah. Perintah seorang Panglima

  • Posting awal bulan Mei

    Doa Siapakah Yang Lebih Terkabul

    Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat. Hanya dua orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke sebuah pulau kecil yang gersang.

    Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa kepada Tuhan. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri-sendiri berseberangan di sisi-sisi pulau tersebut.

    Doa pertama yang mereka panjatkan. Mereka memohon agar diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke satu melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

    Seminggu kemudian, lelaki yang ke satu merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki ke satu itu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.

    Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

    Akhirnya, lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima pemberian Tuhan karena doa-doanya tak terkabulkan. Begitu kapal siap berangkat, lelaki ke satu ini mendengar suara dari langit menggema, "Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?"

    "Berkahku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan," jawab lelaki ke satu ini. "Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka, ia tak pantas mendapatkan apa-apa."

    "Kau salah!" suara itu membentak membahana. "Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa."

    "Katakan padaku," tanya lelaki ke satu itu. "Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus merasa berhutang atas semua ini padanya?" "Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!"

    Kesombongan macam apakah yang membuat kita menganggap bahwa hanya harapan dan doa-doa kita yang terkabulkan? Betapa banyak orang yang tidak mengorbankan sesuatu demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain.

    (diadaptasi dari "Whose Prayer Was More Powerful?", unknown, coffeeintherain. com)

    JEMBATAN MAAF

    Alkisah ada dua orang kakak-beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu-membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerja-sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalah-pahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

    Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf Tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan", kata pria itu dengan ramah. "Barangkali Tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

    "Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku,. ..... ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya. "

    Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan merasa senang."

    Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku.

    Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

    "Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku", kata sang adik pada kakaknya.

    Dua bersaudara itupun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.

    "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

    "Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini", kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."

    Mengubah Pola Pikir

    Sekelompok wisatawan tertahan di suatu tempat asing di luar kota. Mereka hanya menemukan bahan makanan yang kedaluwarsa. Karena lapar, mereka terpaksa
    menyantapnya, meskipun sebelumnya dicobakan dulu kepada seekor anjing yang ternyata menikmatinya dan tak terlihat efek sampingnya.

    Keesokan harinya, ketika mendengar anjing itu mati, semua orang menjadi cemas. Banyak yang mulai muntah dan mengeluh badannya panas atau terserang
    diare. Seorang dokter dipanggil untuk merawat para penderita keracunan makanan. Kemudian sang dokter mulai mencari sebab-musabab kematian si anjing
    yang dijadikan hewan percobaan tersebut. Ketika dilacak, eh ternyata anjing itu sudah mati karena terlindas mobil.

    Apa yang menarik dari cerita di atas?

    Ternyata kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri. We see the world as we are, not as it is. Akar segala sesuatu
    adalah cara kita melihat. Cara kita melihat mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan mempengaruhi apa yang kita dapatkan.
    Ini disebut sebagai model See-Do-Get.

    Perubahan yang mendasar baru akan terjadi ketika ada perubahan cara melihat.

    Ada cerita menarik mengenai sepasang suami-istri yang telah bercerai. Suatu hari, Astri, nama wanita ini, datang ke kantor Roy, mantan suaminya.
    Saat itu Roy sedang melayani seorang pelanggan. Melihat Astri menunggu dengan gelisah, pimpinan kantor menghampirinya dan mengajaknya
    berbincang-bincang. Si Bos berkata, "Saya begitu senang, suami Anda bekerja untuk saya. Dia seorang yang sangat berarti dalam perusahaan kami,
    begitu penuh perhatian dan baik budinya."

    Astri terperangah mendengar pujian si bos, tapi ia tak berkomentar apa-apa. Roy ternyata mendengar komentar si bos. Setelah Astri pergi, ia menjelaskan
    kepada bosnya,
    "Kami tak hidup bersama lagi sejak 6 bulan lalu, dan sekarang dia hanya datang menemui saya bila ia membutuhkan tambahan uang untuk putra kami."
    Beberapa minggu kemudian telepon berbunyi untuk Roy. Ia mengangkatnya dan berkata, "Baiklah Ma, kita akan melihat rumah itu bersama setelah jam
    kerja." Setelah itu ia menghampiri bosnya dan berkata, "Astri dan saya telah memutuskan memulai lagi perkawinan kami. Dia mulai melihat saya secara
    berbeda, tak lama setelah Bapak berbicara padanya tempo hari."

    Bayangkan, perubahan drastis terjadi semata-mata karena perubahan dalam cara melihat. Awalnya, Astri mungkin melihat suaminya sebagai seorang yang
    menyebalkan, tapi ternyata di mata orang lain Roy sungguh menyenangkan. Astrilah yang mengajak rujuk, dan mereka kembali menikmati rumah tangga
    yang jauh lebih indah dari sebelumnya.

    Segala sesuatu yang kita lakukan berakar dari cara kita melihat masalah. Karena itu, bila ingin mengubah kehidupan kita, kita perlu melakukan revolusi cara berpikir.
    Stephen Covey pernah mengatakan: "Kalau Anda menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda, tapi bila Anda menginginkan
    perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda."

    Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda.

    Ini contoh sederhana.
    Seorang anak bernama Alisa yang berusia empat tahun selalu menolak kalau diberi minyak ikan. Padahal, itu diperlukan untuk meningkatkan perkembangan otak dan daya tahan tubuhnya. Betapapun dibujuk, ia tetap menolak. Dengan maksud baik, kadang-kadang ia dipaksa
    menelan minyak ikan. Ia menangis dan meronta-ronta.
    Usaha tersebut memang berhasil memaksanya, tapi ini bukan win-win solution. Si orangtua menang, ia kalah.
    Ini pendekatan yang dimulai dengan Do.
    Maka ditemukanlah cara lain yaitu dengan mengubah paradigma Alisa.
    Si orangtua tahu Alisa sangat suka sirup, karena itu minyak ikan tersebut diaduk dengan air dalam gelas. Ternyata, ia sangat gembira dan menikmati "sirup"
    minyak ikan itu. Bahkan, sekarang ia tak mau mandi sebelum minum "sirup" tersebut.

    Contoh sederhana ini menggambarkan proses perubahan yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Perubahan ini bersifat sukarela dan datang dari Alisa
    sendiri. Jadi, tidak ada keterpaksaan.
    Inilah perubahan yang diawali dengan See. Perubahan yang dimulai dengan Do, bersifat sebaliknya, yaitu outside-in. Perubahan seperti ini sering
    disertai penolakan. Jangankan dengan bawahan, dengan anak kecil seperti Alisa saja, hal ini sudah bermasalah.

    Pendekatan hukum bersifat outside-in dan dimulai dengan Do. Orang tidak korupsi karena takut akan hukumannya, bukan karena kesadaran. Pada dasarnya
    orang tersebut belum berubah, karena itu ia masih mencari celah-celah yang dapat dimanfaatkannya.

    Pendekatan SDM berusaha mengubah cara berpikir orang.
    Akar Korupsi sebenarnya adalah pada cara orang melihat. Selama jabatan dilihat sebagai
    kesempatan menumpuk kekayaan, bukannya sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, selama itu pula korupsi tak akan pernah hilang.
    Inilah pendekatan inside-out. Memang jauh lebih sulit, tetapi efek yang dihasilkannya jauh lebih mendasar. Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri.

    Karena itu, untuk mengubah kehidupan, yang perlu Anda lakukan cuma satu: "Ubahlah cara Anda melihat masalah".
    Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang sendiri sebagai tantangan
    dan rahmat yang terselubung. Orang-orang ini sangat berjasa bagi Anda karena dapat membuat Anda lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif dan lebih sabar.

    John Gray, pengarang buku Men Are from Mars and Women Are from Venus, melihat masalah dan kesulitan dengan cara yang berbeda. Ujarnya,
    "Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh."
    Regards, From nice city of Medan

    Friday, April 27, 2007
    CHARLO MAMORA, SANG ARSITEK TRANSFORMASI ASTRA

    2457
    GELOMBANG perubahan bergejolak yang melanda Indonesia sejak 1997 sudah menelan 4 rezim berturut-turut: Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati. Di tingkat korporat, gelombang yang sama menggulung pula ratusan perusahaan, bank, dan grup konglomerat. Tokoh-tokoh bisnis zaman itu -– dulu wajah-wacana mereka mendominasi media massa -– kini lenyap bagaikan sekam terempas puting beliung ke rawa kumuh.

    Sungguh, suatu pagelaran change management yang gagal total. Sebuah tragedi nasional yang mesti jadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang bertelinga. Di antara sedikit grup usaha besar yang selamat, meskipun sempat babak belur, ialah PT Astra International yang didirikan William Soeryadjaya tahun 1957.
    Meskipun Om Willem tidak lagi di Astra saat krisis itu, tetapi generasi penerusnya, Teddy Rachmat dan Rini Soewandi, berhasil mendayung biduk Astra berselancar mengarungi badai. Kegagalan dapat dijelaskan. Begitu pula keberhasilan.
    Yang terakhir ini dikisahkan Charlotte Buttler dalam Dare To Do: The Story of William Soeryadjaya and PT Astra International (2002).
    Buttler menutup bukunya dengan kalimat begini, “The group that William had created looked indestructible. It had not just survived, but looked set to flourish once more.”

    Sebelum krisis, Astra dikenal sebagai grup paling kredibel di Indonesia, dan pasca krisis, predikat itu direbutnya kembali. Teddy Rachmat, CEO Astra 1984-2002 – diinterupsi sebentar oleh Rini Soewandi tahun 1998 – dikenal luas sebagai pemimpin terpuji yang menakhodai kapal Astra. Namun ada seorang tokoh yang nyaris tak pernah disebut media massa Indonesia di balik kelenturan Astra berselancar itu.

    Dialah sang arsitek transformasi Astra: Charlo Mamora.

    *** SIAPAKAH Charlo Mamora? Teddy Rachmat menjulukinya “Arsitek Astra”.
    Rachmat -– delapan belas tahun didampingi Mamora hingga pensiun -– lebih tajam mengkristalkan peranan pria kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, itu sebagai The Architect of Astra Human Capital Management and Management System Practices.

    “Dia ini mitra saya mengubah desain Astra menjadi kenyataan,” tegas Rachmat lebih lanjut. Di banyak halaman Dare To Do, Buttler menjelaskan lebih detail peranan instrumental dan strategis yang dimainkan Mamora bersama raksasa-raksasa Astra lainya seperti Budi Setiadharma, Michael Ruslim, Rudyanto Hardjanto, Benny Subianto, Hagianto Kumala, dan lain-lain. Sebagai eksekutif ex-IBM, Mamora begabung dengan Astra di akhir dekade 70-an.

    Tipikal eksekutif muda masa itu yang merasa karirnya sudah mentok di perusahaan multinasional, Mamora ikut merasa terpanggil membesarkan perusahaan lokal yang haus sumbangan profesionalisme dari putra-putri Indonesia yang beruntung mengecap kultur itu. Di barisan ini, satu dekade kemudian, Rini Soewandi, bankir ex-Citibank, juga ikut bergabung. Pasca Astra kelak, Rini bahkan melejit menjadi Menperindag dalam Kabinet Megawati. Pada permulaan dekade 80-an, Astra bertekad menjadi perusahaan profesional. Ketika Rachmat kemudian menjadi CEO, ia segera menerapkan Total Quality Management secara besar-besaran.

    Bersama Mamora sistem manajemen Jepang ini mereka adaptasi menjadi Astra Total Quality Management. Program ini pun menuai sukses. Inilah permulaan era pertumbuhan cepat Astra menjadi grup usaha besar dan profesional. Fase pertumbuhan cepat ini mengalami berbagai desakan sentrifugal yang bersifat memecah. Untuk mencegahnya, dibutuhkan kekuatan penahan yaitu budaya perusahaan (corporate culture). Pada tahun 1984, Mamora -– sarjana ilmu pasti dari Sanata Dharma, Yogyakarta, yang saat itu menjabat Kepala Divisi Pengembangan SDM merangkap Kepala Divisi Pengembangan Manajemen -– diserahi tugas memimpin pengembangan dan implementasi corporate culture Astra. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Catur Dharma Astra yaitu

    (1) Respek pada individu dan kerjasama;
    (2) Berjuang meraih keunggulan;
    (3) Pelayanan terbaik bagi pelanggan; dan
    (4) Menjadi aset bagi bangsa.

    Sejak itu pula tugas Mamora bersifat sangat strategis: Mentransformasikan Astra menjadi perusahaan unggul. Misinya saat itu dikalimatkan sebagai “To bring Astra to excellence”. Dalam kurun 1983-1987, Mamora menangani berbagai inisiatif strategis. Dalam rangka transformasi itu sejumlah sistem dan konsep dikembangkannya menjadi praktik standar di seluruh grup Astra. Bahasa manajemen Astra disatukannya. Rule of the game anggota Astra dirumuskannya. Ia juga membangun infrastruktur informasi untuk membantu para eksekutif Astra mencapai excellence.

    Di bawah kepemimpinan Mamora, tiga fungsi strategis dalam setiap transformasi: Pengembangan SDM, Pengembangan Manajemen, dan Sistem Informasi Manajemen dikendalikannya secara simultan. “Efek sampingnya, ada yang menuduh saya membangun kerajaan sendiri”, kenang Mamora tersenyum. Syukur, program yang dievaluasi oleh INSEAD Prancis ini dinyatakan sebagai sukses.

    Tahun 1988, Mamora mencanangkan Man Management Astra sebagai fase kedua menuju excellence. Melalui pelatihan yang masif, program ini membentuk gaya manajemen Astra yang dicirikan oleh kepedulian yang seimbang pada pengembangan SDM dan kinerja bisnis. Dalam empat tahun pertama sebanyak 1.500 manajer Astra sudah mengikuti program ini.

    Serentak dengan itu Mamora juga terlibat dalam pengembangan Astra VSCL (Vision, Strategy, Culture, and Leadership). “Saya yakin jika kami mempunyai VSCL yang benar maka excellence akan mengikuti Astra”, tegasnya. Fase berikutnya, Mamora menata kantor pusat Astra. Peran kantor pusat dirumuskannya sebagai fasilitator bagi anak-anak perusahaan. Untuk itu program pengembangan eksekutif diselenggarakan sekaligus mengelompokkan para eksekutif itu dalam kategori A, B, dan C.

    Para manajer kelas A mendapat coaching yang sistematik dari sang CEO: Teddy Rachmat sendiri. Selanjutnya sistem manajemen informasi juga dibangun sehingga kantor pusat dapat memperoleh informasi terkonsolidasi khususnya keuangan dan SDM. Sistem ini juga memungkinkan seluruh manajer Astra dapat berkomunikasi satu sama lain di seluruh Indonesia. Mamora yang banyak dibantu konsultan asing ini melanjutkan transformasi Astra menuju fase selanjutnya: Perusahaan kelas dunia! Memasuki paruh kedua dekade 90-an, Astra bertekad menjadi global player. “Untuk itu kompetensi SDM kelas dunia harus dibangun. SDM Astra harus berbasis pengetahuan. Kita harus bergerak ke arah human capital management.

    Era buruh murah sudah usai. Untuk itu kita harus didukung dengan manajemen informasi yang andal serta penguasaan teknologi yang kuat. Selain itu jaringan global harus dibentuk sehingga sumber daya global dapat kita akses. Dan kita harus beraliansi dengan pemain-pemain global lainnya”, tegas Mamora selanjutnya. Dengan fondasi rapi berjenjang seperti di atas, tampaknya cuma langit yang menjadi batas pertumbuhan Astra saat itu. Namun krisis total 1997 membuat Astra bagai menunggangi roller coster bersama ribuan perusahaan lainnya.

    Tetapi Astra toh akhirnya selamat sentosa seperti digambarkan Buttler di akhir bukunya. Intinya, apa yang dibangun Mamora bersama kawan-kawannya tidaklah sia-sia. Fundasi yang bagus tetaplah modal terpenting mengarungi cobaan yang bagaimana pun beratnya. Kualitas fondasi itu merupakan faktor menentukan untuk dapat dengan cepat bangun mengkonsolidasikan diri usai turbulensi krisis.

    *** TRANSFORMASI Astra sendiri butuh waktu 15 tahun dengan menghabiskan jutaan dolar untuk biaya konsultan saja. Program itu intinya

    (1) Proses transformasi secara berjenjang;
    (2) Dimulai dengan pengembangan konsep dan sistem;
    (3) Diikuti dengan pengembangan eksekutif;
    (4) Diteruskan dengan formulasi visi-strategi-nilai;
    (5) Dilanjutkan dengan mobilisasi organisasi secara heuristik.

    Apakah proses transformasi serupa dapat diulangi lebih efektif dan efisien? Mamora menjawab ya dengan mantap.

    Belajar dari pengalaman Astra, langkahnya dimodifikasi menjadi :

    (1) Adakan mobilisasi organisasi secara top-down dengan panduan visi yang berwibawa;
    (2) Selenggarakan retret eksekutif puncak untuk merumuskan dan mendalami visi-strategi-nilai;
    (3) Jalankan transformasi dengan Tripple-W: Winning Concept, Winning Systems & Culture, Winning Team.

    Dengan itu Mamora yakin waktunya pun bisa diringkas menjadi sekitar 5 tahun saja.

    Apakah negeri ini juga dapat ditransformasikan menjadi Indonesia Baru dalam tempo 5 tahun? Charlo Mamora, sang arsitek transformasi Astra, tertawa sambil menerawang.

    STOP

    Sepanjang kita hidup ini, banyaklah sudah kita melakukan kesalahan. Mungkin sekali bisa tidak terjadi kesalahan kalau saja kita bisa melakukan tindakan yang tepat pada waktunya. Tindakan apakah yang bisa mencegah kesalahan ??

    Satu kata saja: berhenti atau stop. Contohnya:

    *Anda menjadi seorang penjudi dan menyesalinya, itu karena anda tidak sanggup menghentikannya. Menghentikan keinginan berjudi, yaitu Stop.

    *Anda masuk dunia politik, dan anda terlibat kompromi-kompromi politik yang anda rasa tidak sepatutnya diteruskan. Tetapi anda tidak berani menghindar hanya karena anda mungkin sekali akan merasa malu terhadap para pelaku politik yang lain, yang rekan-rekan anda selama ini. Merasa akan hancur karir didunia dan itu akan menjadi akir dari kehidupan anda. Pada titik ini seharusnya anda berani mengambil keputusan untuk berhenti, untuk STOP.

    Tetapi ternyata tidak anda lakukan. Anda menjadi orang yang menyesali momen ini, yaitu: tidak berani mengambil keputusan. Anda menanggung beban perasaan dan kehidupan yang menekan.

    *Anda menjadi pengusaha dan baru setelah cukup lama menunda, waktu utang kepada Bank sudah menggunung, ingin banting setir menjadi pegawai saja yang bergaji berkala. Lakukanlah. Jangan terlalu ragu.
    Tidak akan ada orang yang bisa menolong anda, kecuali anda sendiri. Bukan istri anda, bukan pastor atau kyai atau sahabat sekalipun, bahkan ayah dan ibu kandung. Semua tergantung kepada anda seratus persen. Tergantung terutama kepada keputusan anda untuk berhenti. Berhenti menjadi pengusaha dan mengakui anda tidak berbakat. Itu membutuhkan ketenangan bertindak dan ketabahan hati. Pertimbangan yang akan menolong adalah pertanyaan: apakah saya akan meninggal dunia karena berhenti menjadi pengusaha ?? Tidak, kan ?? Nah, secepatnya ambil keputusan besar: STOP.

    Pertanyaan jitu ini harus sering kita lakukan dalam kehidupan: Apakah saya akan mati kalau melakukan itu ?? Risiko mati adalah risiko tertinggi dalam kehidupan. Tidak ada yang lebih tinggi dari mati. Saya sering mengulang risiko-risiko yang mungkin terjadi untuk sesuatu bagian dari kehidupan, misalnya

    Kalau bekerja menjadi pegawai: dipecat Kalau menikah : bercerai hidup atau bercerai mati

    Kalau pergi perang: luka badan dan/atau mati

    Kalau mencuri : dihukum

    Bersifat jujur : hidup tenang dihari tua (ini juga risiko)

    Bergaul baik : banyak kenalan yang positip

    Saya sendiri telah banyak melakukan STOP yang dapat saya ceritakan sebagai berikut ini.
    Pada tahun 1970 saya minta berhenti dari pekerjaan saya sebagai Kepala Biro Teknik dan Produksi di Perusahaan Negara Perkapalan "Alir Menjaya". Masalahnya gaji kecil dan kebutuhan meningkat dan saya harus melakukan korupsi karenanya, yang amat mungkin sekali bisa saya lakukan, kalau mau. Saya tidak mau korupsi dalam membiayai hidup saya.
    Saya harus berhenti: STOP!!

    Karena saya mempunyai status sebagai Pegawai Negeri, saya juga mengajukan permohonan berhenti kepada pimpinan saya yaitu Direktur Jenderal Produksi Maritim, Departemen Perindustrian Maritim. Proses berjalan sulit dan alot.
    Dua tahun lamanya saya tidak mendapat jawaban tetapi saya sudah mendapat Surat keputusan Berhenti dari Pimpinan PN Alir Mendjaya.
    Saya sudah tidak mau masuk kerja dan mencari nafkah sebagai salesman door to door menjual encyclopaedia Britannica, Time Life, Americana dan lain-lain. Padahal saya tahu gaji saya tetap dibayarkan dan diambil, entah oleh siapa, karena saya memang tidak mau mengambilnya sebagai konsekuensi undur diri yang telah saya sampaikan, jadi tidak mau makan gaji buta.

    Demikian juga dengan pembagian beras. Sampai pada suatu saat ada Pendaftaran Ulang Pegawai Negeri. Saya tidak mendaftar ulang dan meskipun didesak oleh rekan-rekan, saya tetap berhenti. Untuk menjadi lepas bebas sebagai pegawai negeri ini saya peringati dengan melakukan pesta kecil makan sate kambing bersama beberapa orang teman. Waktu itu saya berumur tiga puluh tiga tahun dan sampai hari ini, umur enam puluh sembilan tahun saya tidak merasakan penyesalan apapun biar sedikit. Saya bersyukur sekali, karena kalau saya tetap berkedudukan dan berstatus sebagai Pegawai Negeri, mungkin saya akan bisa menjabat jabatan tinggi yang lumayan, tetapi – ini bukan prejudice – mungkin juga saya tidak bisa tidur senyenyak sekarang.

    Alhamdulillah. Pada hari tua saya ketika mecapai umur lima puluh enam usaha saya menaik tajam menjadi amat baik. Pekerjaan cukup berat dan memakan pikiran yang lumayan ruwet, karena banyak hal harus ditanggulangi dengan piawai. Menghadapi pejabat, partner asing dalam permodalan dan teknologi usaha, menggerogoti mental dan physic saya. Meskipun gaji saya mendekati sekian ribu Dollar AS sebulan, saya merasa letih, fatigue yang berkepanjangan. Yang bekerja didalam lingkungan usaha saya ada karyawan pokok sebanyak lima puluhan orang dan karyawan lapangan yang jumlahnya bisa mencapai pada suatu saat lima ratusan orang. Pada umur lima puluh delapan mendekati lima puluh sembilan, saya mengambil keputusan sendiri, tanpa dibantu oleh siapapun, berhenti sama sekali dari pekerjaan ini nanti, kalau saya mencapai umur enam puluh tahun. Yang melihat berkibarya karir saya, mendengar keputusan ini selain kaget, mereka menduga macam-macam, dan dugaan orang siapa tahu ?? Yang benar adalah keputusan untuk berhenti itu murni dari diri saya sendiri. Mengapa?

    Karena faktor kemungkinan saya bisa menderita penyakit-penyakit yang tidak dikehendaki pada hari tua. Berhenti pada umur enampuluh tahun. Berhenti bekerja, berarti memasuki dunia lain. Saya lebih jadi lebih mengetahui soal rumah tangga, soal anak-anak menjadi dewasa dan bekerja mencari nafkah, menikah dan membentuk keluarga. Meskipun saya berusaha tidak terlibat sebanyak mungkin tetapi dalam hal ini, saya tidak boleh semena-mena menuruti kemauan saya sendiri dalam berkeluarga yang jumlahnya makin besar. Ya, keluarga saya menjadi besar. Menjadi besar karena kedatangan menantu, kedatangan keluarganya menantu yakni besan dan besan. Rasanya berbondong-bondong, susah mengingat satu per satunya.
    Saya bertambah umur dan saya menjadi pelupa pada beberapa hal.
    Hubungan kekeluargaan yang meluas membutuhkan memori lebih baik, tetapi kemampuannya berkurang agak deras juga. Pada umumnya kesehatan saya amat baik dan demikian juga daya ingat global, akan tetapi mengenai seluk-beluk hubungan famili, susah saya mengingatnya. Sering lupa dan bertanya kepada istri saya sampai satu kali, dua kali dan tiga kali. Bisa juga masih akan tanya lagi nanti. Saya mulai rajin menurunkan berat badan (ini sikap untuk STOP jadi gemuk) dan secara berangsur-angsur berat badan saya bisa turun dalam dua tahun sebanyak duabelas kilogram.

    Olah raga jalan kaki dan mengurangi konsumsi makan nasi. Sekitar umur saya mencapai enam puluh empat tahun saya mengambil keputusan besar lain. Saya ingin beremigrasi kenegara lain: Kanada.
    Saya ingin STOP menjadi penduduk di wilayah Republik Indonesia. Banyak orang menyoalkan masalahnya dari segala macam sudut pandang. Saya menjawabnya dengan setengah bergurau. Kadang-kadang saya jawab saya ingin hidup dilingkungan taat hukum, dan kadang-kadang saya jawab saya ingin menyeberang jalan sesuai dengan tempat yang disediakan. Jawaban apa saja karena saya tahu masih ada kendala yang orang lain tidak merasakan, yaitu: kemungkinan saya tidak mendapatkan visa Kanada untuk bertempat tinggal, yaitu ditolak oleh pihak Immigrasi.

    Proses ini telah diberitahukan kepada saya oleh Kantor Visa di Canadian High Commission di Singapura, yang melakukan prosesnya, akan memakan waktu selama tiga tahun lamanya. Kurang lebih enambulan sebelum visa diterbitkan saya dan istri diberitahu agar memeriksakan kesehatan lebih teliti. Berdebar-debar dan gelisah juga, meskipun saya berlaku tenang, setenang-tenangnya! Kami berdua dinyatakan sehat prima. Akhirnya kami memperoleh visa enam bulan yang dicap diatas paspor, sejak akhir Januari 2006 untuk mendapatkan status sebagai Landed Immigrant.

    Akhirnya kami berhasil mendarat di Pearson Airport Toronto pada tanggal 11 Juli 2006. Masih ada satu keputusan besar yang orang lain tidak tahu, tetapi sungguh menggelisahkan hati saya. Saya harus menghentikan / STOP kebiasaan menghisap cerutu yang sudah saya lakukan selama lima belas tahunan. Sekitar enam sampai tujuh batang sehari. Masalahnya di Ontario sudah dibuat rencana undang-undang Free Smoke Ontario Act.
    Saya telah berhasil menghentikannya/ STOP menghisap cerutu, pada tanggal 1 Juni 2006, sebelum berangkat ke Toronto. Ternyata Free Smoke Ontario ini berlaku pada awal Juni 2006 hanya beda beberapa hari setelah saya berhenti mencerutu. Kisah ini sudah saya tuliskan dengan judul CIGAR / CERUTU. Begitulah saya resmi menjadi pengangguran dalam tanda kutip; memulai kehidupan sebagai orang tua yang harus amat sadar terhadap kesehatan dan relaksasi, baik badan maupun mental.

    Saya menulis, dan belajar dengan mengikuti kelas Creative Writing, Memoir dan sekarang Stock Market serta tidak pernah berhenti untuk mengamati sekeliling. Terus menulis, hampir setiap hari. Menjalin hubungan melalui intenet dengan teman-teman sejagad, di Tanah Air, di Amerika, Eropa dan Kanada. Ternyata saya menyukai cara hidup saya ini. Dan inilah keputusan saya yang ternyata mendapat hambatan juga. Latar belakangnya adalah: Sebenarnya sudah lama saya mempraktekkannya, sejak saya mempunyai menantu pertama kali. Bahkan kalau mau jujur, sejak anak saya mendapatkan pasangannya untuk menjadi calon jodohnya.
    Apa sih yang saya praktekkan? Keputusan saya adalah tidak mencampuri keputusan mereka untuk:

    1. Keputusan mereka mengambil jurusan ilmu yang dituntutnya di perguruan Tinggi

    2. Keputusan mereka memilih jodoh

    3. Keputusan mereka untuk kemana melamar pekerjaan

    4. Keputusan mereka dalam mengurus anak (cucu kami) yang saya anggap urusan domestik rumah tangga anak kami masing-masing

    Keputusan nomor satu sampai dengan tiga hampir tidak ada masalah, karena istri saya berpendapat sama. Tetapi keputusan saya untuk nomor terakhir tidak selalu mendapat dukungan dari istri saya. Sejak bulan pertama berada di Toronto, istri saya amat merasa kehilangan, karena semua cucu berada di Jakarta.

    Kerinduannya kepada mereka serasa tidak tertahankan. Sedangkan kita sudah pernah memutuskan untuk memelihara status kita sebagai immigran di Kanada dengan baik. Itu berati harus menjaga jumlah tahun kita tinggal di Kanada dalam lima tahun, sehingga pada waktu memperpanjang (nanti di kemudian hari) masa berlakunya (lima tahun) Permanent Resident Card, tidak meragukan pihak Immigrasi Kanada mengenai perpanjangan status immigrasinya.

    Sementara istri saya ingin pulang menengok cucu, saya ingin tetap tinggal paling tidak selama dua tahun, tanpa pulang. Hampir setiap masalah yang berkaitan dengan hal ini muncul, terjadilah kegelisahan dihati kami berdua.

    Hari Sabtu tanggal 14 April siang, secara tidak sengaja saya harus bertemu dengan seorang kenalan yang sudah berumur sekitar tujuhpuluh empat tahunan. Dalam percakapan itu dia mengungkapkan: "Wah tadi pagi saya dapat email dari anak saya dan saya dimarahi !!" katanya. Dia menceritakan bahwa anaknya mengatakan agar dia berhenti menjadi orang tua (parent) dan jangan mengganggu lebih lanjut dan lebih jauh. Saya terkejut mendengar dia mengatakannya, menirukan kata-kata anaknya, seperti berikut: "Stop being a parent and leave me alone" Didalam kalimat ini ada kata STOP.

    Saya tahu anak-anak saya tidak akan menggunakan kata-kata itu kepada saya maupun istri saya, kalau saja kami berbuat yang sama. Meskipun demikian saya kira saya tidak akan mudah untuk menerima dengan besar hati, kalau sampai menerima perlakuan dan kata-kata seperti yang dialami kenalan saya itu.

    Memang STOP dimana perlu, terbukti bukan hal yang amat mudah. Baik untuk dikatakan maupun ditindakkan.

    STOP. STOP . STOP.

    Gratis Sepanjang Masa

    Pada suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur, yang sedang menyiapkan makan malam, dan ia menyerahkan selembar kertas yang selesai ditulisinya. Setelah ibunya mengeringkan tangannya dengan celemek, ia membacanya dan inilah tulisan si anak:
    = Untuk memotong rumput minggu ini Rp. 7 500,00
    = Untuk membersihkan kamar minggu ini Rp. 5 000,00
    = Untuk pergi ke toko menggantikan nama Rp. 10 000,00
    = Untuk menjaga adik waktu mama belanja Rp. 15 000,00
    = Untuk membuang sampah setiap hari Rp. 5 000,00
    = Untuk rapor yang bagus Rp. 25 000,00
    = Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 12 500,00
    ------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- -------
    Jumlah utang Rp. 80.000,00
    Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu itu. Kemudian ia mengambil bolpen, membalikkan kertasnya, dan menulis:

    * Untuk sembilan bulan ketika mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut mama, Gratis.
    * Untuk semua malam ketika mama menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, Gratis.
    * Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, Gratis.
    * Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis.
    * Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, Gratis,

    Anakku. Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati mama adalah GRATIS.
    Setelah selesai membaca apa yang ditulis ibunya, ia menatap wajah ibunya dan berkata: 'Ma, aku sayang sekali pada Mama'.
    Dan kemudian ia mengambil bolpen dan menulis dengan huruf besar-besar: "LUNAS".
    * Note :
    Dear friends.....telpon mama mu sekarang dan bilang sama mama betapa kalian sangat menyayanginya

    Wednesday, April 25, 2007
    KUMIS NASRUDIN

    Tersebutlah seorang pria bernama Nasrudin. Ia bersahabat karib dengan raja. Suatu hari dengan tergopoh-gopoh Nasrudin berlari ke istana menjumpai sahabatnya. Sesampainya di sana, dengan napas tersengal-sengal ia melapor, “Celaka Baginda ... celaka... celaka...”

    “Ada apa Nasrudin, pagi-pagi kok sudah panik? Kenapa wajahmu pias begitu, seolah dunia mau kiamat?”

    “Yah, memang dunia mau kiamat, Baginda. Tuhan sedang murka kepada dunia, Tuhan akan membinasakan kita semua!”

    “Lho, kok berkesimpulan begitu?” tanya raja.

    “Baginda, begitu bangun dari tidur, aku merasa dunia sangat bau. Di mana-mana tercium bau busuk. Di kamar, bau. Kudekati istriku, bau juga. Di kamar tamu, sama saja, semua bau. Aku keluar rumah, ternyata sekelilingku juga bau. Pohon-pohon bau, rumput bau, pagar bau, tetangga bau, semua membusuk. Celaka baginda, Tuhan mulai menghukum dunia, semua akan kiamat!”

    “Hmm … tenang Nasrudin, tenang. Tarik nafasmu baik-baik. Minum dulu,” raja menghibur seraya mengangsurkan segelas air.

    Sesudah Nasrudin agak tenang, raja berkata lagi, “Sekarang, pergilah ke kamar mandi dan bersihkan dirimu. Dan yang terpenting, bilas kumismu yang lebat itu!”

    Nasrudin pun menuju kamar mandi. Seluruh kepala dan wajahnya dia bilas dengan sabun wangi. Dan aneh bin ajaib, tak ada lagi bau busuk. Dia bingung, semuanya normal kembali. Bahkan, yang tercium sekarang cuma semerbak wangi.

    Nasrudin kembali menghadap raja, “Baginda, ini tak masuk akal, ke mana bau busuk tadi?”

    Raja tertawa terpingkal-pingkal. “Ha ha ha … Nasrudin ... Nasrudin ...., sebenarnya tidak ada yang bau. Bau busuk yang kamu cium sejak subuh tadi sebenarnya berasal dari kumismu. Coba ceritakan, semalam kamu tidur di mana, tidur dengan siapa, sehingga kumismu bau begitu?”

    Terperanjat, perlahan-lahan Nasrudin mulai ingat kejadian semalam. Ketika hampir nyenyak, entah bagaimana asal mulanya, anak bungsunya yang berumur sekitar 3 tahun memegang kotorannya sendiri, lalu memoles-moleskannya ke kumis sang ayah. Itulah biang bau yang membuat Nasrudin sangat panik.

    Demikianlah Nasrudin kembali ke rumahnya dan yakin bahwa dunia tidak sebusuk yang dia bayangkan.

    * * *

    Dear friends, kita sering melihat dunia ini kotor dan jorok, mencium negeri ini busuk dan tengik, atau merasa bangsa ini kumuh dan kacau. Mungkin itu benar, tapi mungkin juga tidak. Bisa jadi perasaan, penglihatan, dan penciuman semacam itu cuma disebabkan ‘kumis’ kita cemar.

    Karena itu hendaklah kita rutin membersihkan kumis sendiri. Itu berarti kita harus membebaskan diri, hati, dan pikiran kita dari prasangka-prasangka negatif, konsep-konsep yang belum tentu benar, teori-teori yang belum terbukti, atau kabar-kabar kabur sebelum kita menilai dan menghakimi sesama, orang lain, dan dunia ini.

    Posted by DJODI ISMANTO at 25.4.07 0 comments

    SAHABAT KETIGA

    "Dalam hidup kita harus saling memegang amanah, berlaku benar dan tidak mengelak tanggung jawab."

    Dua orang sahabat bak pinang dibelah dua, tak terpisahkan! Mereka berkawan sejak kecil dan saling menaruh percaya. Seorang adalah pedagang, dan seorang lain bendahara kerajaan. Namun, pergolakan politik membuat kerajaan pecah. Disintegrasi membuat kedua sahabat itu terpisah di dua negeri yang berbeda. Setelah dua tahun lewat, si pedagang ingin mengunjungi sahabatnya. Lalu ia pergi ke negeri seberang, tempat sahabatnya menetap.

    Ketika si pedagang tengah berjalan-jalan di tengah kota, raja segera diberi tahu, “Raja ada seorang mata-mata lalu-lalang di negeri kita!” Tampak sigap, sang raja memerintahkan menangkap si pedagang. “Hai, kamu mata-mata, apa yang kamu cari di negeriku?” raja mulai mengintrogasi si pedagang. “Hamba hanya pedagang yang ingin mengunjungi seorang sahabat di negeri ini,” jelas si pedagang. Alasan itu diacuhkan dan kecurigaan sang raja jauh lebih berkuasa.

    Dalam persidangan yang serba kilat, hukuman mati dijatuhkan! Lalu di pedagang sujud menyembah sang raja, “Perkenankan hamba kembali ke negeri hamba terlebih dahulu. Hamba harus menyerahkan semua investasi hamba kepada anak dan istri, jika tidak, mereka akan terlantar dan hidup dalam kesengsaraan. Setelah itu hamba akan kembali untuk menjalani hukuman mati!” “Gila! Apa aku ini raja bodoh? Mana ada tawanan dilepaskan, dan mau kembali untuk mencari mati?” sahut sang raja. “Ya mulia, hamba punya seorang sahabat di negeri ini, dia belahan jiwa saya. Dia pasti mau menjadi jaminan bagi hamba!” usul si pedagang.

    Lalu menghadaplah si bendahara kerajaan kepada raja! “Benarkah terpidana ini karibmu?” tanya raja. “Benar, paduka. Dan hamba bersedia menjadi jaminan baginya. Bagi hamba ini sebuah amanah. Bahagia rasanya melihat sahabat hamba pergi menempuh risiko untuk mencari hamba, dan kini hamba rela menawarkan hidup ini untuknya!” si bendahara mencoba meyakinkan sang raja. “Ingat! Jika dia tidak kembali dalam waktu tiga puluh hari, kepalamu yang aku pancung!” tegas sang raja! Sahabat itu mengangguk setuju. Saat akhir batas waktu yang disepakati, raja menanti si pedagang hingga sore hari.

    Si pedagang tak kunjung datang. Segera setelah matahari terbenam raja memerintahkan tawanan segera dipancung! Sementara leher si bendahara sudah di bawah eksekusi pancungan, tiba-tiba seseorang berteriak, “Raja, raja, hamba datang! Jangan pancung sahabat hamba!” Si pedagang menarik tubuh sahabatnya, dan merebahkan dirinya di bawah kapak pancungan! “Sekarang aku telah siap untuk menjalani hukumanku!” katanya seraya menatap tajam sahabatnya, “terima kasih karena engkau mempercayaiku!”

    Si bendahara tak ingin bergeser dari pancungan! “Tidak! Aku sudah siap mati untukmu! Engkau telah mengamanahkan kepadaku, dan sesungguhnya jika engkau tak ke negeri ini mencariku, tak akan ada masalah ini, jadi...!” Perdebatan di bawah eksekusi pancungan itu berlangsung sengit, dan membuat raja amat terperangah.

    Ia belum pernah melihat persahabatan seperti ini. “Diam, diamlah! Kalian aku bebaskan! Kalian tidak perlu mati. Persahabatan kalian yang mendalam itu adalah permata yang mahal,” seru raja, “dan aku mohon kepada kalian, izinkan aku menjadi sahabat ketiga kalian...” Raja menjadi sahabat ketiga dan mereka belajar sebuah hikmat, bahwa dalam hidup kita harus saling memegang amanah, berlaku benar dan tidak mengelak tanggung jawab, termasuk dalam mengisi persahabatan.

    KUNCI KEGAGALAN

    960
    Kita semua tidak ingin gagal. Kita semua menghindari kegagalan. Tetapi rupanya kegagalan sangat akrab dalam kehidupan kita. Banyak target yang tak tercapai , banyak cita-cita yang tak terealisir, dan banyak harapan tinggallah kosong.

    Mengapa kita gagal dan tidak mencapai keberhasilan? Mengapa kita belum berhasil dan menemui kegagalan? Apakah kegagalan merupakan realitas wajib sehingga keberhasilan dapat kita apresiasikan? Pertanyaan-pertanyaan diatas sering menghantui kita dan memerlukan jawaban dari kita masing-masing.

    Kegagalan tidak terjadi dalam semalam. Keberhasilanpun tidak dicapai dalam sehari. Kedua tesis di atas sangat sederhana tetapi juga sangat benar.

    Saya teringat ucapan seorang dokter tetangga saya, ketika pulang mengantarkan tetangga kami yang kena serangan jantung ke rumah sakit gawat darurat. Dia berkata bahwa sebetulnya serangan jantung tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun penyakit jantung telah ditimbun mulai dari merokok terlalu banyak, minum kopi terlalu banyak, malas olahraga sehingga sedikit demi sedikit pembuluh darah semakin menyempit.

    Akhirnya sedemikian sempitnya sehingga kegagalan jantung terjadi. Benarlah bahwa kegagalan jantung tidak terjadi dalam semalam melainkan ditumpuk bertahun-tahun, sedikit demi sedikit.

    Keberhasilan pun berlangsung dengan modus yang sama, sedikit demi sedikit keberhasilan ditumpuk sedemikian rupa sehingga keberhasilan itu lama kelamaan besar. Secara teoritis jika seseorang mempelajari lima kata bahasa Inggeris perhari maka dalam setahun dia akan memiliki hampir dua ribu kosa kata dan dalam lima tahun pasti bisa menguasai sepuluh ribu kosa kata. Tetapi berapa banyakkah orang yang lulus perguruan tinggi mampu berbahasa Inggris dengan lancar? Tidak banyak. Mengapa? Karena mereka gagal menghafal lima bahasa Inggeris perhari.

    Masih banyak contoh dapat kita berikan tentang kebenaran tesis bahwa keberhasilan adalah kemampuan mengambil langkah-langkah kecil untuk mencapai hasil yang besar. Dan bahwa kegagalan adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil sampai ia menumpuk sedemikian besar dan tak terhindarkan lagi konsuekuensinya.

    Maka rahasia kegagalan adalah gagal mengucapkan selamat pagi, gagal mengucapkan terima kasih, gagal minta maaf, gagal mengurangi sepiring nasi dari diet harian, gagal memberi perhatian pada seorang staff, gagal mengusulkan kenaikan pangkat anak buah, gagal tersenyum, gagal bertekun setengah jam, gagal berolahraga setengah jam per hari, gagal sholat sepuluh menit per waktu, gagal membawa mobil ke bengkel untuk servis rutin, gagal menabung 5% dari penghasilan per bulan, gagal menutup mulut dari ucapan tak bermutu, dan ribuan kegagalan kecil lainnya.

    Orang bijak berkata berkata bahwa hal-hal kecil memang sepele, tetapi setia pada perkara-perkara kecil adalah hal yang besar.

    Dari Cendol ke Jip
    Jika cendolku ini habis terjual, akan kubeli seekor induk ayam. Lalu ayamnya kupelihara. Bertelor banyak sekali. Selanjutnya aku memiliki banyak anak ayam," demikian seorang tukang cendol berangan-angan sambil setengah mengantuk. Sementara cendolnya sejak pagi belum juga laku barang segelaspun. Dia bersandar pada batang pohon yang rindang sehingga terlindung dari sengatan matahari. Dia berharap semoga ada pembeli menghampiri. Anaknya yang belum terjamah wajib sekolah, ikut menemaninya berjualan. Di balik pohon itu si anak asyik bermain jangkrik.

    "Wah, kalau ayam-ayam ini kupelihara terus pastilah jadi babon semua. Kujual, lalu kubeli kambing betina sebagai gantinya," pikir tukang cendol melanjutkan angannya. Begitu asyiknya ia berkhayal, sampai setengah mengingau, sehingga memancing perhatian anaknya.

    "Kambing lalu besar. Beranak pinak. Lalu menjadi besar. Kujual semua. Lantas kubeli anak kerbau. Kupelihara baik-baik, jadi besar, wah … aku ini kaya. Punya banyak kerbau, he … he … he," tukang cendol benar-benar hanyut oleh sukacita menikmati khayalnya.

    "Nanti kerbaunya boleh saya naiki, ya pak? kata anaknya yang dari tadi menyaksikan bapaknya mengigau, melakonkan impiannya seolah-olah telah terjadi.

    Kaget oleh interupsi ini sang bapak menghardik, "Tidak boleh. Nantinya kerbaunya jadi cebol!"

    "Boleh dong pak! Masak sih kerbau jadi cebol?" rengek anaknya. Merasa terganggu, dijitaklah anaknya sampai menangis dan berlari menjauh.

    Tukang cendol tak perduli dan melanjutkan khayalnya, "Kerbau-kerbauku kujual semua lalu kubeli jip: rrrrr … kuinjak gasnya … lari … oh … asyik …!" sambil mempraktekkan menekan pedal gas jip barunya.

    Tapi malang, pedal jip dalam impian yang ditekan itu ternyata gentong cendol. Gentong berantakan. Cendol tumpah disertai berakhirnya mimpi di siang bolong. Dengan wajah lesu dipandangnya cendol yang berserakan di tanah. Ia tak tahu harus berbuat apa. Si anak yang sudah berhenti menangis dan berdiri agak jauh, terkejut mendengar bunyi gentong pecah. Ia tak mengerti mengapa bapaknya "ngamuk".

    Sayang memang, padahal impian itu sebetulnya feasible. Namun, terlepas dari kemalangan yang menimpanya, tukang cendol tersebut telah mampu membangun dalam pikirannya suatu cara menjadi kaya. Perkara apakah jalan pikiran itu dapat direalisasikan, itu memang hal lain.

    Tak kurang Johann Wolfgang Van Goethe pernah berkata, "Thinking is easy, acting is difficult, and to put one's thought into action is the most difficult thing in the world".

    Hal yang tersulit ini, tak enaknya, harus mampu dilakukan oleh manajer. Manajer harus bisa "to get (planned) things done". Atau sebaliknya: ukuran kemanajeran seseorang ialah apakah ia mampu membuat ide menjadi kenyataan: dari cendol menjadi jip!

    Semoga Anda para manajer / staff , diberiNya kekuatan dan kebijaksanaan melakukan hal yang tersulit ini.

    Posted by DJODI ISMANTO at 25.4.07 0 comments

    PENGANTIN BARU SUDAH BERTENGKAR

    2581
    Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu seperempat terbuka. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.

    Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Wah, rupanya di rumah ini baru saja ada pesta besar, demikian pikir mereka.Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja. Kado-kado berikut TV dan kipas angin yang ada di ruang tamu langsung mereka gotong. Dari ruang makan, kulkas dan peralatan masak yang masih baru-baru habis mereka gasak.

    Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sosok sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.

    Kisah ini dimulai pagi tadi: sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung, suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergembira merayakan sukacita besar ini.

    Malam pun tiba. Tetamu sudah pulang. Tinggallah kedua pengantin. Karena berpesta seharian, mereka kelelahan, memasuki kamar, lalu naik ke ranjang.

    Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia, “Sayang, pintu depan belum dikunci. Turun dong sebentar dan tutup pintunya.”

    Tetapi istrinya menjawab, “Kamu ini gimana sih, aku kan capek, kamu aja yang turun.”

    “Kamu ini istri apaan sih? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani membantah. Emangnya kamu siapa, hah? Hayo, tutup pintunya,” balas si suami dengan suara tinggi.

    Si istri tak mau kalah dan dengan kasar ia menyembur, “Sialan kamu, baru berapa jam jadi suamiku, sudah kayak raja memerintah seenak perut, membentak-bentak lagi. Emangnya aku budakmu, apa?”

    Mereka pun bertengkar panjang sambil mempertahankan argumentasi masing-masing, siapa yang seharusnya menutup pintu.

    Tak tahan, akhirnya si suami berkata, “Sudah, sudah, aku capek. Begini aja: kita saling diam, dan siapa yang duluan ngomong, dia harus menutup pintu.”

    Mereka berdua pun menutup mulut rapat-rapat. Mereka pura-pura tidur, namun sebenarnya keduanya tidak bisa tidur karena saling mengintip, saling menunggu, siapakah yang bakal kalah dalam pertarungan ego ini.

    Ketika perampok itu sudah pergi agak jauh, si istri tidak tahan lagi lalu menyemburkan makian penuh amarah, “Lelaki guooobloook! Kamu gimana siiih? Sudah tahu rumah dirampok, masih aja diam kayak bangkeee!”

    Tetapi si suami menjawab tenang dengan perasaan puas, “Haaa, aku menang! Sekarang, kamu turun! Tutup pintunya!”

    * * *

    Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini. Namun satu aspek saja yang ingin saya sampaikan: maulah sedikit repot, turun tangan mengerjakan tugas-tugas yang patut dikerjakan, dan janganlah saling melempar tanggungjawab.

    Ketika pengantin malang tersebut berjanji sehidup-semati, pasti tidak ada kontrak yang berisi job description yang rinci: siapa harus menutup jendela, mengunci pintu, mengambil air, melipat selimut, memasak nasi, dan berbagai tugas rumahtangga lainnya.

    Tetapi karena keduanya kebetulan pemalas dan suka melempar tanggungjawab, dalam kelelahan mereka, masing-masing mengharapkan pasangannyalah yang seharusnya mengerjakan ini dan itu. Tak terhindarkan, kejadian tragis di atas pun terjadi. Bukan cuma itu, seluruh kebahagiaan mereka sebagai pengantin baru lenyap begitu saja.

    Di kantor, banyak sekali hal yang tidak dirumuskan dalam job description kita. Namun bila ada pekerjaan yang mendadak muncul—padahal kita tahu jika tidak segera dikerjakan akan menimbulkan kerugian atau bahaya bagi perusahaan—maka wajiblah kita mengerjakannya tanpa harus berharap apa imbalannya, berapa honornya, atau bagaimana uang lemburnya. Kita mengerjakannya hanya karena rasa tanggungjawab, rasa peduli. Sebagai warga organisasi, kita turut menjadi pemilik, sedikitnya, harus ada rasa memiliki, rasa yang muncul karena kita diserahi amanah menjaga organisasi. Inilah arti Etos Kerja: Amanah mengharuskan kita bertanggungjawab.

    TIKUS DIKEJAR KUCING

    Dulu, saat marak-maraknya demo mahasiswa, ada anekdot begini: mahasiswa takut pada dosen, dosen takut pada rektor, rektor takut pada menteri, menteri takut pada presiden, dan presiden takut pada mahasiswa.

    Anekdot ketakutan dalam siklus tertutup ini saya duga merupakan modifikasi dari anekdot lain yang lebih dahulu populer sebagai berikut: ada tikus terbirit-birit dikejar kucing, si kucing terbirit-birit dikejar anjing, si anjing terbirit-birit dikejar orang Batak, si orang Batak terbirit-birit dikejar seorang perempuan (isterinya), dan si perempuan terbirit-birit dikejar tikus.

    Dalam anekdot antarsuku di Indonesia, memang orang Batak termasuk paling sering muncul sebagai korban, antara lain saya kira karena tipologi orang Batak itu sendiri yang lumayan kontroversial di mata orang non-Batak seperti kasar, keras, agresif, berlogat khas, dsb. Maka anekdot yang menyerang orang Batak dapat difahami sebagai sebuah upaya elegen dari fihak non-Batak untuk menyampaikan sebuah feedback. Di fihak lain, anekdot begini bagi saya sebenarnya merupakan sebuah tanda kedewasaan kultural dimana masyarakat sudah mampu mentertawakan (kelemahan) dirinya, sukunya dan bangsanya.

    Tetapi di samping tujuan ini, anekdot seperti di atas sebenarnya juga menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki sisi lemah dalam dirinya relatif terhadap sesuatu yang lain. Dan ketika sang manusia berhadapan dengan kondisi tersebut umumnya dia tidak bisa berkutik. Dalam suasana yang tidak kondusif itu manusia umumnya cuma bisa menggerutu dan mengumpat diam-diam. Jadi selain menciptakan humor dan tawa, kelemahan juga menciptakan ketakutan dan sungut-sungut.

    Sudah tentu bahwa kelemahan tidak cukup diselesaikan dengan humor dan tawa apalagi sungut-sungut dan hujat. Malah menurut saya keduanya sebenarnya hanya berfungsi sebagai teknik perumusan masalah secara gamblang, tajam dan elegan. Dengan kata lain, kelemahan dan atau kondisi negatif yang dipresentasikan sebagai masalah serta dipaket sebagai humor seharusnya mengundang pikiran kreatif untuk menyelesaikannya pada tingkat esensial.

    Tikus-Tikus Korporat
    Pada tingkat korporat, dari pengalaman dan observasi saya, terdapat banyak sekali "tikus" (kondisi negatif) yang membuat "perempuan" (karyawan) terjebak dalam sungut-sungut, gerutu dan berbagai hujatan besar maupun kecil. Untuk para eksekutif dan khususnya para pejabat di Divisi SDM, hal-hal ini seyogianya mengundang mereka untuk menyelesaikannya. Soalnya, jika masalah ini dibiarkan atau didiamkan maka sinisme, apatisme, dan demotivasi akan menguat di antara para karyawan.

    Di tengah jargon korporat untuk membangun quality excellence, world class organization, global competitiveness, hi tech hi touch, dan sebagainya yang ramai didengungkan dewasa ini, maka "tikus-tikus" dimaksud menjadi virus ganas yang mematikan roh SDM unggul yang diharapkan menjadi basis bagi terciptanya kondisi-kondisi ideal tadi.

    Tetapi sebelum mencari solusinya lebih dahulu kita berkenalan dengan "tikus-tikus" dimaksud. Dan dalam kesempatan ini saya hanya menampilkan "tikus-tikus" besarnya saja:

    1. Atasan Pilih Kasih. . Pilih kasih berarti menjadikan seseorang anak emas tanpa rasionalitas. Tapi sebenarnya, orang yang tidak terpilih menjadi anak emas pada saat yang sama dijadikan anak loyang. Maka kelompok loyang ini, jika tidak memberontak, akan tampil sebagai manusia tanpa greget untuk berbuat hal-hal yang menuju excellence. Bagi mereka bekerja hanyalah demi bertahan. Hidup adalah kerakap di batu.

    2. Bila Salah Dikritik Bila Benar Tak Ada Pujian. . Ini adalah bentuk lain ketidakadilan. Orang yang mengalaminya merasa terluka perasaannya dan sedih hatinya.

    3. Hak-Hak Dicabut Tanpa Alasan. Hak-hak karyawan jika ditiadakan tanpa alasan yang kuat terasa sangat menyakitkan. Jika dipaksakan akan menimbulkan perlawanan. Dan jika tidak sanggup dilawan, akan dibalas dengan hati tawar dan pahit. Padahal di fihak lain, orang sebenarnya bersedia menderita bersama asal mereka faham dalam rangka apa mereka menderita. Jadi persoalannya bukan pada penderitaan itu sendiri, tetapi pada why should I suffer?

    4. Informasi Disembunyikan (Tidak Transparan). Kenyataan seperti ini berarti ada fihak yang tidak dipercayai. Dan jika orang merasa tidak dipercayai, timbulah dugaan logis bahwa ada kejahatan yang sedang berlangsung diam-diam. Juga perasaan bahwa dirinya disepelekan. Perasaan seperti ini membuat orang kehilangan semangat dan antusiasme.

    5. Keahlian Tidak Digunakan. Secara umum orang merasa senang jika dirinya berguna. Jadi jika orang merasa keahliannya tidak dimanfaatkan oleh organisasi, dia merasa dirinya kurang dihargai, dianggap tidak berguna. Hasilnya, demotivasi.

    6. Kemampuan Tidak Dikembangkan. Ibarat mesin, orang merasa dirinya dipakai terus sampai soak tanpa servis atau tune-up. Karyawan merasa dirinya dieksploitasi tanpa apresiasi dan pengembangan. Mereka merasa "habis manis sepah bakal dibuang". Maka biasanya orang begini sangat pelit pada perusahaan. Pokoknya bekerja dari jam 8 hingga 5 sore, habis perkara. Sumbangan pikiran dan lain-lain, maaf, tidak bersedia digratisin.

    7. Ketidakjelasan. Tiadanya visi dan misi organisasi yang genuine dan powerful, membuat organisasi tidak punya arah yang jelas. Ketidakjelasan ini membuat hilangnya sense of excitement dan sense of purpose. Akibat lainnya, orang bekerja seadanya, secukupnya, atau alakadarnya saja.

    8. Kiri Kanan Atas Bawah Munafik Semua. Munafik adalah untrue to oneself. Padahal organisasi adalah "kita sebagai kesatuan". Jadi jika ada kemunafikan sebenarnya kita sedang saling membohongi. Dan kita tahu bahwa kita saling membohongi. Maka tidak akan tercipta teamwork apalagi sinergi. Dalam iklim kemunafikan, jika tidak terpengaruh dan larut, orang akan melakukan dekomitmen terhadap organisasinya.

    9. Masa Depan Karir Tidak Jelas. Banyak karyawan merasa bahwa masa depan mereka tidak jelas. Perusahaan mau kemanapun juga tidak jelas. Jadi no hope for the future. Maka mereka kehilangan roh transformasi seperti kata Teilhard de Chardin: The greatest force for the advancement of human species is a common hope held together. Jadi tanpa harapan yang kuat tidak akan ada excellence.

    10. Pekerjaan yang Monoton. Banyak karyawan merasa pekerjaannya monoton dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Malah ada orang merasa sudah terkotakkan. Dalam kondisi demikian orang hanya akan bekerja sebagai upaya bertahan saja sekadar demi gaji bulanan dan status non pengangguran. No variety, no hope, no future. Sudah pasti no motivation for excellence.

    11. Penyakit KKN. Praktik-praktik KKN yang telah menjadi rahasia umum dalam organisasi membuat warga organisasi tidak termotivasi untuk bekerja melampaui mediokritas, terutama jika mereka tidak termasuk dalam grup yang diuntungkan oleh KKN tersebut. Bukan cuma itu, KKN sebenarnya adalah antitesis dari upaya excellence apapun.

    12. Penyakit Sikut Menyikut. Jika dalam organisasi yang berlaku adalah nilai-nilai rimba, maka orang yang tidak berbakat atau tidak bersedia menjadi "ular dan serigala" segera akan keluar. Jika bertahan maka ia akan terpinggirkan atau menjadi pecundang. Jelas cita-cita menjadi world class company pun cuma sebuah slogan kosong.

    13. Peraturan yang Irasional. Peraturan selalu dibuat oleh para pimpinan. Namun seringkali peraturan (yang diberlakukan secara umum) dibuat sebagai reaksi atas sebuah kasus khusus. Akibatnya peraturan ini terasa irasional dalam situasi yang berbeda dengan kasus pemicunya. Lanjutannya, orang jadi marah, kesal, dan malas.

    14. Perubahan Tanpa Tujuan yang Jelas. Adagium "tak ada yang konstan kecuali perubahan itu sendiri" disalahmengerti menjadi "perubahan demi perubahan". Padahal di tengah perubahan orang butuh kepastian arah, kepastian nilai-nilai, dan kepastian makna. Tanpa itu maka segala sesuatu menjadi chaos, absurd, dan meaningless.

    15. Pimpinan Tidak Jujur. . Bawahan yang tahu bahwa pimpinannya tidak jujur (entah dalam soal keuangan atau yang lainnya) sebenarnya menghilangkan trust level dalam tata hubungan mereka. Padahal di mana tidak ada rasa saling percaya, tidak mungkin ada komitmen. Dan tanpa komitmen besar tidak ada prestasi besar bisa dicapai.

    16. Rapat-Rapat Tidak Ada Tindak Lanjutnya. Dalam rapat-rapat para eksekutif suka cerita besar, ngomong angin surga, mau bikin ini mau bikin itu. Habis rapat things as usual. Lama-lama orang jadi sinis. Datang ke rapat pun malas. Ngapain? Buang waktu! Apalagi rapatnya tanpa honor dan konsumsi. Males ah!

    17. Saya Harus Disiplin Tapi Atasan Tidak. Secara moral atasan adalah teladan. Artinya hanya jika orang sudah melakukan apa yang diperintahkannya maka ia qualified memerintah. Atasan yang meminta bawahan berdisiplin tanpa ia sendiri berdisiplin (di mata anakbuahnya!!!) akan menjadi bahan tertawaan. Secara moral dia tidak berhak meminta apapun yang tidak dia lakukan lebih dahulu.

    18. Sedikit-Sedikit Kena Marah. Orang yang dimarahi tanpa alasan yang masuk akal, apalagi marah cuma sebagai kegemaran atasan, merusak harga diri dan citra diri bawahan. Ketersinggungan yang diakibatkannya dapat berubah menjadi dendam, kebencian, dan keinginan untuk merusak. Jadi boro-boro excellence.

    19. Sistem Tidak Adil. Ketidakadilan dalam segala bentuk, entah sistem penggajian atau pemanfaatan fasiltas, pasti mengundang repons negatif. Jika ketidakadilan tidak bisa dilawan secara frontal, maka orang melawannya diam-diam dalam berbagai bentuk seperti mangkir dengan alasan dibuat-buat, kinerja asal jadi, perlawanan simbolik, dan lain-lain.

    20. Usul Tidak Diperhatikan. . . Usul-usul yang tidak diperhatikan menimbulkan kekecewaan. Lama-lama orang merasa tidak ada gunanya mengajukan usul. Padahal jika no participation, pasti no sense of ownership, demikian pula no commitment.

    Semoga di rumah kerja Anda, tidak terdapat banyak tikus.

    SIASAT KELELAWAR

    1931

    "Integritas merupakan kekayaan yang bisa dipakai untuk mengatasi kesulitan hidup ini."

    Perang meletus di planet ini! Bukan perang Baratayuda! Bukan pula perang Teluk! Perang itu terjadi antara bangsa burung melawan bangsa binatang buas. Saat pertempuran fajar hari itu, burung-burung nyaris kalah. Lalu kelelawar melihat gelagat bahwa mereka akan kalah total. Ia menjauh dan bersembunyi di balik pohon, dan berdiam diri hingga pertempuran itu berakhir.

    Lalu binatang-binatang buas meninggalkan medan pertempuran, dan kelelawar ikut bergabung bersama mereka! Setelah beberapa saat para binatang buas itu saling bertanya, “Lho, bukankah kelelawar itu termasuk burung yang bertempur melawan kita?”

    Percakapan itu didengar kelelawar, ia pun berkata, “Oh, tidak. Aku termasuk bangsa kalian. Aku bukan bangsa burung. Apa kalian pernah melihat burung bergigi ganda? Kalian bisa periksa mulut burung-burung itu, pasti tidak ada yang bergigi ganda. Kalau kalian bisa menemukan seekor burung saja yang bergigi ganda, maka aku boleh kalian tuduh sebagai burung. Tapi, kalau tidak, itu artinya aku adalah sebangsa dengan kalian, binatang buas!”

    Binatang-binatang buas terdiam. Dibiarkanlah kelelawar hidup di perkampungan mereka. Perang sempat jeda, sampai akhirnya tiba-tiba bangsa burung menyerbu perkampungan binatang buas. Binatang-binatang buas itu kalang kabut. Pertempuran itu berlangsung tak lama. Kelelawar hanya menyaksikan pertempuran itu dari balik ranting-ranting pohon. Berakhirlah perang itu dengan kemenangan bangsa burung! Dan, kelelawar ikut pulang ke perkampungan bangsa burung. Saat para burung melihatnya, mereka menegur kelelawar, “Hai, kamu itu musuh kami. Kami melihat engkau bersama binatang buas itu dan ikut melawan kami!”

    “Tidak, kalian salah lihat!” kelelawar mengelak. “Aku ini bangsa kalian. Apa kalian buta dengan mengatakan aku sebagai binatang buas? Apakah kalian pernah melihat seekor binatang buas memiliki sayap? Temukan seekor yang bersayap, baru kalian bisa tuduh aku si binatang buas!” gertak kelelawar. Burung-burung tak lagi berkicau, mereka diam dan membiarkan kelelawar membuat sarangnya berdampingan dengan mereka.

    Tak ada perang yang tak berakhir! Pepatah itu ternyata berlaku untuk kedua bangsa binatang itu. Mereka berdamai dan sepakat mendirikan Persatuan Bangsa Binatang. Dalam sidang perdana PBB itu, mereka gunakan untuk membahas kelelawar. Setelah sekian banyak prajurit memberikan kesaksian, maka pimpinan sidang PBB berkesimpulan: “Jadi, kelelawar itu selalu berpindah-pindah pihak selama peperangan berlangsung? Siasat kelelawar itu benar-benar menunjukkan bahwa dia itu cacat moral, tercela sebagai binatang. Kelelawar tidak memiliki integritas!”

    Sidang PBB pun menjatuhkan vonis kepada kelelawar, “Hai, kelelawar, kami akan kenakan sanksi embargo kepadamu! Mulai sekarang kamu hanya boleh terbang pada malam hari. Kamu tidak akan pernah mempunyai teman, baik mereka yang terbang maupun yang berjalan!”

    Kelelawar pun tertunduk lesu meratapi nasibnya. Ia tidak pernah menyadari bahwa integritas itu merupakan kekayaan yang bisa dipakai untuk mengatasi kesulitan hidup ini.

    QOUTES , 25 April 2007

    ETHOS QUOTE [25 April 2007] - Setiap orang bisa mengarungi laut yang tenang, tetapi hanya orang yang menaklukkan badai besar yang akhirnya mendapatkan pujian tertinggi.

    10 Bidang Di Mana Orang Memiliki Perbedaan

    1 Ekstrovert lawan Introvert: Yang ekstrovert senang kerumunan orang banyak sementara yang introvert lebih suka melewatkan waktunya sendirian atau dengan seorang teman dekat. Yang ekstrovert bersemangat karena adanya orang-orang sementara yang introvert bisa jadi terkuras enerjinya karena adanya orang-orang.

    2 Pelaku atau Pengamat: Para pelaku berani mengambil risiko; kalau melihat peluang mereka ingin segera memanfaatkannya sebelum terlambat. Para pengamat lebih hati-hati. Mereka suka memeriksa segalanya terlebih dulu sebelum mengambil keputusan.

    3 Yang memberikan garis besar atau Yang memberikan rincian: Yang memberikan garis besar memiliki fokus yang umum dan melihat gambaran besarnya. Mereka berpikir menurut arah serta keinginan menjadikan segalanya terlaksana. Yang memberikan rincian memperhatikan hal-hal yang sekecil-kecilnya. Keprihatinan mereka adalah bagaimana caranya menjadikan segalanya terlaksana.

    4 Tukang belanja atau Penghemat : Kalau tukang belanja memiliki uang lebih, mereka ingin membelanjakannya - untuk diri sendiri, untuk orang lain, untuk maksud-maksud yang layak, untuk apapun. Kalau penghemat memiliki uang lebih, mereka ingin menabungnya untuk jaga-jaga. Mereka tidak suka membelanjakannya kecuali sangat penting.

    5 Perencana atau yang fleksibel : Perencana suka struktur di mana segalanya terorganisasikan dan terkemas dengan rapih. Mereka suka jadwal dan batas waktu. Yang fleksibel menyesuaikan diri dengan jalannya kehidupan dan menangani segalanya seadanya. Mereka cenderung spontan dan santai. Ketidak-rapihan tidak m

  • Sukses Itu Meninggalkan Petunjuk

    Ya, sukses itu meninggalkan petunjuk, kata Anthony Robbins. Ada pola-pola tertentu, cara-cara tertentu, sistem tertentu yang kalau diikuti akan menghasilkan output yang kurang lebih sama dengan orang lain yang melakukannya. Masuk akal kan?

    Buku klasik berjudul The Science of Getting Rich karya Wallace D. Wattles menawarkan cara-cara menjadi kaya dengan pendekatan ilmiah dan matematis. Intinya, kita tinggal mengikuti saja cara-cara itu dan hasilnya akan kurang lebih sama. Sayangnya, di sekolah kita tidak diajari ilmu-ilmu ini.

    Bahkan diharamkan untuk mencontek kesuksesan orang lain. Padahal, di dunia bisnis, mana ada sih orang yang bisa sukses tanpa mencontek (baca: terinspirasi) dari orang lain?

    Anda ingin membentuk tubuh jadi kekar? Carilah Ade Rai. Anda ingin jadi juara Indonesian Idol? Ikuti Elfa Secioria.
    Anda ingin jago memasak? Kenapa tidak berguru kepada Rudi Choirudin?
    Anda ingin sukses? Kenapa tidak berguru kepada orang yang sudah sukses?
    Ingin belajar properti, ada pakarnya. Ingin belajar bisnis, banyak ahlinya. Jadi, tinggal ikutin aja pola-pola yang telah mereka rintis dan terbukti sukses itu. Simple kan?

    Secara umum, ada tiga cara mencari petunjuk untuk sukses itu, kata Canfield:

    1. Carilah seorang guru, pelatih, pembimbing, manual, buku, atau program audio; atau sumber dari internet untuk membantu anda mencapai salah satu tujuan utama anda.

    2. Carilah seseorang yang sudah melakukan apa yang ingin anda lakukan, dan tanyai orang itu apakah anda bisa mewawancaranya selama setengah jam tentang cara terbaik melakukan rencana anda.

    3. Minta izin mengikuti seseorang selama satu hari dan melihat cara mereka bekerja. Atau menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan, asisten, atau pekerja magang untuk seseorang yang menurut anda bisa mengajari anda.

    Sebenarnya yang saya tulis ini sudah "basi" sih. Sudah banyak diulang-ulang. Tapi juga diulang lagi di buku The Success Principles-nya Jack Canfield yang menjadi salah satu buku favoritnya Joe Vitale. Pengulangan adalah induk cara belajar, kata Ghazali (kalau tidak salah).

    Maka, tak heran kalau di masyarakat sekitar kita ada Pak Haji yang kaya dari berjualan ikan bakar, maka akan ditiru dan diikuti oleh sanak familinya yang lain. Seorang anak belajar kepada ayahnya, kemenakan belajar kepada pamannya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Rupanya hal seperti ini adalah "science" atau "ilmiah" menurut Wallace, puluhan tahun lalu. Dan itu juga diamini oleh Anthony Robbins dan Jack Canfield.

    Bergaul dengan Orang Sukses dan Positif

    Bergaul dengan penjual parfum, kita akan jadi wangi. Bergaul dengan penjual ikan, kita akan kena bau amis. Bergaul dengan perampok, paling tidak kita juga disangka sama dengan perampok itu. Bergaul dengan orang yang shaleh akan membuat kita jadi orang yang shaleh juga. Hal itu semua berlaku di mana saja.

    Anak kucing bergaul dengan anak macam, pasti dia akan berpikir dan bertindak seperti macan. Anak burung elang bergaul dengan anak ayam, pasti akan mengira dirinya adalah ayam, bahkan dia tidak tahu bahwa dia itu bisa terbang.

    Ini kejadian di sebuah sekolah.
    Ada 2 orang murid yang tertukar kelasnya. Yang satu adalah murid pintar dan berbakat, yang satu adalah murid bodoh alias tertinggal.

    Jadi, yang pintar ini masuk ke kelas anak-anak nakal dan tertinggal. Sedangkan yang bodoh masuk ke kelas anak-anak pintar.
    Kejadian ini baru ketahuan setelah pembagian raport.
    Hasilnya? Si anak pintar jadi turun prestasinya, atau jadi bodoh. Si bodoh malah jadi naik drastis prestasinya karena bergaul dengan anak-anak pintar.

    Dalam konteks bisnis, bagaimana kalau kita bergaul dengan orang sukses? Pasti kita juga tidak jauh levelnya dari mereka.
    Saya sendiri telah merasakan hal itu. Sejak mulai rajin dengan dunia maya , saya berusaha masuk ke dalam milis lingkaran orang-orang sukses itu. Saya ikut jadi anggota Trainers Club , Manager Indonesia dll .
    Dari sana saya bergaul dengan " orang - orang cerdas " dan pebisnis-pebisnis senior lainnya. Manfaatnya? Selain dapat ilmu dari seminar-seminarnya, saya pun dapat teman orang-orang sukses.

    Salah satu rekan senior di milis sering berkata, nasib kita 5 tahun dari sekarang ditentukan oleh 2 hal:
    1. Apa yang anda masukkan ke dalam otak anda,
    2. Siapa yang kenal anda, maksudnya dengan siapa anda bergaul.
    Itu benar. Saya setuju.

    Kalau mau jadi macan, bergaullah dengan macan. Kalau mau jadi tikus, bergaullah dengan tikus.

    Seorang motivator menyarankan agar kita menuliskan 10 orang yang paling akrab dengan kita. Hasilnya: kehidupan kita, keuangan kita, bisnis kita pasti tidak jauh dengan kondisi ke-10 orang dekat kita itu.
    Ini jangan diartikan ekstrim lho ya. Setelah tahu ini kita jadi nggak mau bergaul dengan masyarakat atau pilih-pilih teman. Kita tetap bergaul dengan siapa saja.

    Cuma, kalau pergaulan membawa efek negatif, sebaiknya diri kita dibentengi. Beruntunglah, saat ini saya dan teman-teman di Komunitas milis tersebut tergabung orang-orang yang positif, saling mendukung, saling berbagi. Ya, kalau kita saat ini tidak berada dalam lingkungan yang kita inginkan, ciptakan sendiri lingkungan itu!

    Menjadi Positive Thinker

    Sesuai istilahnya, positive thinker adalah orang yang berpikir positif. Berpikir positif adalah pilihan terbaik bagi setiap orang dalam setiap situasi. Berpikir positif itu husnu dzon. Berpikir positif adalah berpihak pada apapun yang sifatnya positif dan lebih baik.

    Berpikir positif selalu menghasilkan output yang positif. Sukses dan berbahagia adalah hal yang positif. Maka jika Anda mau sukses dan bahagia, berpikirlah positif.

    Berani dan Mandiri
    Anda adalah positive thinker jika Anda lebih memilih menikmati hidup ketimbang mengeluhkan hidup. Jika Anda mau dan berani menghadapi kenyataan hidup. Anda bukanlah positive thinker jika Anda hanya pandai menyembunyikan emosi.

    Anda adalah positive thinker jika Anda menghadapinya, dan Anda pandai menanganinya. Jika Anda mau menghadapi emosi negatif, merasakan, dan belajar darinya. Jika Anda mau bertanggung jawab atasnya, dan tidak menyalahkan apa dan siapa pun di luar diri Anda. Anda adalah positive thinker jika Anda berani dan mandiri.

    Memahami Emosi
    Anda adalah positive thinker jika Anda menghadapi emosi negatif dengan kemauan untuk belajar. Jika Anda memahami, bahwa emosi adalah sinyal yang menjadi salah satu panduan dalam menentukan perilaku. Anda adalah positive thinker jika Anda bisa melihat dan merasakan bahwa emosi adalah pesan.
    Jika Anda merasa nyaman, Anda tahu bahwa Anda telah mengerjakan hal yang benar, dan Anda meneruskan atau mengulanginya. Jika Anda merasa tidak nyaman, Anda tahu ada sesuatu yang salah. Anda tahu bahwa Anda harus berhenti, melakukan analisis terhadap perilaku diri, belajar dari kesalahan, merubah strategi, dan kemudian melanjutkan hidup Anda. Anda adalah positive thinker jika Anda mau belajar memahami emosi Anda.

    Action Oriented
    Anda adalah positive thinker jika Anda berorientasi pada tindakan. Jika Anda melihat kekurangan, Anda bertindak untuk mengisinya. Jika Anda menghadapi hambatan, Anda bertindak untuk menyingkirkannya. Jika Anda merasakan ancaman, Anda bertindak untuk mengantisipasinya.
    Jika Anda melihat peluang, Anda bertindak untuk mengambilnya. Jika Anda merasa berkelebihan, Anda bertindak untuk mempertahankan dan berbagi dengan orang lain.

    Anda adalah positive thinker jika tidak terpaku dan berhenti hanya pada retorika "Saya bisa!" "Saya bisa!" "Saya bisa!" Anda adalah positive thinker jika Anda melanjutkannya dengan berkata: "Sikat bleh...!"

    Bersyukur dan Bersabar
    Anda adalah positive thinker jika Anda membiasakan diri untuk yang bersyukur di kala senang dan bersabar di kala susah.

    Jebakan Negative Thinking
    Positive thinking adalah sesuatu yang jelas lebih baik. Ia lebih identik dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Mengapakah masih banyak orang yang terjebak pada negative thinking ? Kebiasaan berpikir negatif yang dilakukan dan terjadi bertahun-tahun, bisa menjadi jalan hidup. Saat berpikir negatif telah menjadi jalan hidup, maka itulah jalan hidup yang normal bagi negative thinker .

    Dengan jalan hidup yang dianggap normal itu, mereka merasa bahwa apa yang perlu diubah adalah dunia, bukan diri mereka sendiri. Bukankah jauh lebih mudah mengubah diri sendiri dari pada dunia dan seisinya? Memahami kenyataan itu dengan lebih baik, akan menaikkan kecerdasan emosi Anda, kecerdasan spiritual Anda, dan sekaligus kecerdasan intelektual Anda. Itu artinya, Anda akan menaikkan kecerdasan individual Anda, kecerdasan sosial Anda, dan bahkan kecerdasan finansial Anda.

    Bukankah itu semua yang akan membuat Anda sukses dan berbahagia? Oleh sebab itu, waspadailah jebakan negative thinking yang akan membuat hidup Anda menjadi sengsara dan lebih sulit dari semestinya. Kebahagiaan dan sukses Anda ada di depan mata, dan untuk mendapatkannya Anda tidak perlu merubah dunia. Ubahlah diri Anda. Jika Anda tidak ingin memilih jalan hidup sebagai negative thinker, tips dari Chuck Gallozzi berikut ini bisa Anda pelajari dan pahami.

    Kesalahan atau Kegagalan
    Berhentilah untuk terus mengatakan:

    "Ya sudahlah, Saya memang begini."
    "Saya memang loser."
    "Gua emang salah mulu!"
    "Saya ternyata bodoh."
    "Gagal maning gagal maning..."
    (Itu sebabnya si Ucil selalu berhasil)

    Ketahuilah bahwa Anda bukanlah kegagalan itu sendiri, ketahuilah bahwa Anda bukan kebodohan itu sendiri. Anda tidak serta merta menjadi gagal atau bodoh hanya karena rencana yang meleset. Anda hanya mengalami "temporary defeat" alias kekalahan sementara. Semua kegagalan dan kesalahan adalah bagian dari training kehidupan Anda.
    Salah dan gagal adalah syarat mutlak untuk mencapai sukses dan bahagia Anda.

    Amarah
    Lepaskan amarah Anda. Ingat, bukan lampiaskan. Amarah akan menyakiti hati orang lain. Lebih dari itu, amarah akan menyakiti hati Anda sendiri. Lepaskanlah amarah Anda dan obati luka hati dengan sikap memaafkan.

    Semangat
    Untuk apapun yang Anda merasa "harus", "mesti", atau "wajib" melakukannya, ubahlah frasa di kepala Anda menjadi lebih positif. Ubahlah "Saya harus" menjadi "Saya mau..., sebab.... Jadi..." "Saya mestinya menurunkan berat badan"

    gantilah kalimat itu menjadi "Saya mau menurunkan berat badan,
    sebab Saya akan merasa lebih baik, terlihat lebih baik, panjang umur, dan lebih PD. Jadi, Saya bergabung ke fitness club dan memperbaiki pola makan."

    Bisa Atau Tidak Bisa
    Berhentilah berpikir "Saya tidak bisa" sebab itu cuma jalan buntu. Dengan kalimat itu Anda tidak akan kemana-mana.
    Katakanlah "Saya akan..., jika..."

    "Saya tidak bisa mengangkat barbel seberat itu" gantilah kalimat itu menjadi
    "Saya akan bisa mengangkatnya dalam dua minggu, jika Saya menambah beban Saya setengah kilo setiap hari."

    Kendali Emosi

    Satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas emosi adalah diri Anda sendiri. Orang lain tidak akan menciptakan emosi apa pun pada diri Anda kecuali Anda membiarkannya.
    Orang lain tidak dapat membuat Anda kecewa, frustrasi, atau bersedih hati, kecuali Anda membolehkannya. Jika itu terjadi, maka itu terjadi karena Anda membiarkannya. Terjadi atau tidak terjadi, adalah pilihan Anda sendiri.

    Jika Anda bertemu dengan orang yang membuat mood Anda rusak, berhentilah untuk bereaksi secara spontan sehingga Anda marah atau kecewa. Berdiam dirilah sebentar, pikirkanlah apa yang membuat orang itu merasa tidak nyaman sehingga ia merasa perlu memprovokasi Anda. Ketahuilah, bahwa orang yang demikian sebenarnya sedang memerlukan restorasi, pembaharuan, revitalisasi, recharge, atau bahkan nasehat. Anda bisa berperan dan menyumbangkan sesuatu baginya. Itulah yang membuat Anda merasa berguna.

    Sensitifitas
    Jangan terlalu sensi, jadilah kuat. Berhentilah menginterpretasikan pandangan dan bicara orang sebagai serangan. Ingatlah bahwa mereka hanya memandang dan berbicara. Itu saja. Orang yang kasar dan keras kepada Anda sekalipun, belum tentu tidak menyukai Anda. Bisa jadi, mereka justru sayang dan cinta kepada Anda. Apa yang sering terjadi adalah seperti contoh berikut ini.

    Saat Anda merasakan boss Anda bersikap buruk kepada Anda, bukanlah kejadian itu yang membuat Anda merasa buruk. Kejadian itu hanya memicu pengalaman masa lalu Anda, misalnya saat Anda kecil, ketika Anda melakukan sesuatu yang kemudian membuat ayah Anda marah. Itulah yang membuat Anda merasa buruk.

    Ayah Anda, jelas sayang dan cinta kepada Anda. Oleh sebab itu, hiduplah di masa sekarang dan bukan masa lalu. Anda bukan anak-anak, melainkan manusia yang telah dewasa. Pahamilah bahwa orang itu boss Anda, dan bukan ayah Anda.

    Berpikirlah positif !

    Real Success

    "Don't aim for success if you want it;
    just do what you love and believe in,
    and it will come naturally."
    -David Frost-
    *~*~*~*~*~*
    Success Is Waiting For You

    Nature is at work around you.
    Character and destiny are her handiwork.
    She gives you love and hate, jealousy and reverence.
    You have the power to choose which impulses you will follow.
    Your character is formed by your circumstances,
    but your own desires can do much to shape those circumstances.
    What's really ennobling in the doctrine of free will is the conviction
    that you have the power over the formation of your own character.
    You can at any time decide to alter the course of your life.
    No one can ever take that away from you.
    You're the master or your joys and sorrows.
    The greatest power you possess is the power to choose.
    You're the captain of your soul.

    Mencari Uang atau Mencari Prestasi?

    Sering kali kalau saya meng-interview seseorang karyawan baru khusus untuk perusahaan kami, senantiasa terlontar sebuah pertanyaan sangat menentukan sikap. Saya menanyakan, apa alasan ybs mau bekerja diperusahaan /departemen kami.

    Jawaban sangat bervariasi dan sebagian besar menjawab dengan klise seperti "untuk menambah pengalaman", "menambah ilmu" dsb. Mereka biasanya setelah diberikan kesempatan untuk memperjelas alasan yang tepat, akhirnya ujung-ujungnya mengatakan "mencari uang".

    Nah, disini saya selalu terkenang akan masa lalu dimana setelah lulus S1, saya tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan S2 karena memang kebutuhan akan uang tidak tercukupi bila harus memaksakan diri "mencari ilmu". Tetapi saya berhasil "menghibur diri" dengan menggunakan alasan logika, bahwa dimana tempat saya bekerja dan berkarir adalah S2 saya dan begitu seterusnya karena keinginan saya untuk mau terus belajar entah sampai kapan...
    Kembali dengan interview, mereka biasanya mencoba merenungkan ide saya sbb: Bagaimana bila Anda merefleksikan sikap "mencari uang" itu kedepan. Mereka saya ijinkan memperkirakan apa yang dijawab seorang maling yang diinterogasi oleh polisi. Ya mungkin dengan cara yang lebih keras supaya sang tawanan tsb menjawab "mengapa mencuri".

    Tentu saja mereka dan Anda juga bisa menjawabnya dengan mudah bukan? Mereka "butuh/mencari uang" untuk hidup... Saya selalu mencoba mengingatkan, bahwa tentu saja ucapan "mencari uang" tidak salah, tetapi akan menjadi bumerang bila mereka ucapkan dengan penuh motivasi yang serius atau menjadi keinginan! Otak kita sangat pintar, sehingga bila ada instruksi/motivasi yang masuk dengan sadar dan tidak sadar otak kita akan bekerja dengan keras mengejar target tersebut, misalnya "mencari uang".

    Maka amat sangat mungkin tahap-tahap yang terjadi bisa saja sbb: mulai menghitung-hitung untung-rugi antara gaji dan jam kerja, meng-korupsi waktu dan akhirnya materi. Hal ini biasanya akan menimbulkan stress yang tidak sehat. Otak kita akhirnya me"rekomendasi"kan atau "tidak bisa lagi membedakan" mana uang pribadi dan uang perusahaan. Dan biasanya Boss/Owner Perusahaan pastilah bukanlah orang bodoh, dia justeru akan main lebih sadis dengan perhitungan untung-rugi dengan karyawan. Bisa ditebak juga bukan bila hal ini terjadi siapa yang bakal lebih "pintar" yang bakal mendapatkan keuntungan? Bila pun didapat, bukankah itu dari hasil yang tidak FAIR?

    Dan bila sang karyawan dan pimpinan jadi "adu ulet" maka bisa dibayangkan sirkuit lingkaran setan yang dibentuk. Biasanya, sang karyawan baru akan tercenung, dan disinilah saya membagikan tips agar sang karyawan bisa lebih berdaya guna: Saya menceritakan kasus saya ketika ingin belajar lebih lanjut tapi nggak punya uang seperti diatas, lalu bertekad belajar dimanapun saya mendapat kesempatan. Dan biasanya saya ajak sang karyawan mau belajar atau tidak dengan tips ini.

    Di tempat kerja atau "kampus" baru ini sang karyawan adalah "siswa" dan saya menjadi pembimbing/guru yang bertanggung jawab atas karir/study ybs. Karena toh, dimana-mana ya memang seorang pemimpin harus mengajar dan membimbing bukan? Bila ybs berprestasi, akan disediakan Promosi dan kemungkinan "naik kelas".

    Bagi para Pemimpin, poin ini sering dilepas, dia mengajar tetapi tidak mengikat sang karyawan untuk tetap semangat belajar selama masih bersama-sama. Menggunakan logika, bahwa karena ybs belajar maka mendapatkan istilah "uang jajan" sebagai pengganti istilah "gaji". Dari poin ini saja otak kita rasanya langsung lebih lega karena tidak lagi berhitung-hitungan dengan input-output kerja. Bahkan di "kampus" baru ini ybs tidak perlu membayar uang kuliah tetapi justeru menerima seluruh perangkat "belajar"nya dia seperti: seragam, komputer, ruangan dsb. Selalu saya tanyakan, apakah uang jajan saat sekolah/kuliah lebih besar atau tidak dengan "uang jajan" yang dia terima di "kampus" ini.

    Untuk yang ini jawaban mereka 100% setuju bahwa "uang jajan" mereka sudah lebih baik. Istilah "belajar" dan "kampus" baru buat seorang yang serius akan berdampak dahsyat seperti: kita akan menemukan bahwa otak kita bila sedang belajar akan menciptakan prestasi-prestasi yang mustahil akan diberikan oleh orang yang bermotif mencari duit. Terbukti bukan, saat dulu kita sekolah/kuliah, walaupun berantem atau dimarahin Guru, demi ilmu kita tetap masuk dengan semangat untuk lulus bukan? Bahkan untuk tim kami disinilah kami membuat prestasi saat dulu kuliah menjadi juara LKIP tingkat Nasional, padahal modal kami cuma satu BELAJAR.

    Karyawan-karyawan di departemen kami perusahaan terdahulu mencapai rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan, yaitu melakukan penjualan lebih dari 10 kali target! Sebagian model seperti ini juga kami praktekkan di tempat dimana kami ber-organisasi, bahkan juga saat kami memberikan konseling dan program TRAIN the TRAINER.

    Bahwa semua anggota tim bisa lebih sukses dari pada saya sendiri dan karena tanpa pamrih, saya hanya bisa terus menyampaikan model "BELAJAR" seperti ini dimana pun dan pasti SUKSES. Salah seorang "office boy" kami telah menjadi National Sales Manager dalam waktu 10 tahun.

    Sangat banyak alasan yang diberikan orang ketika mereka sudah capek-capek lulus kemudian dengan mudahnya mengganti motivasi yang benar dengan motivasi/keinginan mencari uang. Coba renungkan, kalau Tuhan demikian besar dan dahsyat menurut ukuran orang-orang beriman, apakah layak motivasi utama seseorang bekerja adalah hanya "mencari uang"?

    Bukankah seharusnya bisa lebih baik dari makhluk lainnya yang memang dipersiapkan hanya untuk "mencari makan". Saya banyak bertanya kepada para orang tua dan pembina rohani berbagai kalangan, ternyata ini adalah salah satu dosa turunan Feodalisme. Bayangkan setelah 350 tahun dijajah, inilah paradigma yang keluar dari para generasi tua kepada yang muda: "cepat belajar dan lulus supaya bisa cari uang"... Mungkin, sekedar membandingkan, kalau sungguh2 para generasi tua maunya begitu, sebaiknya jangan sekolahkan mereka, karena tidak mungkin balik modal!

    Coba bayangkan, uang pangkal SD saja sudah 5-10 juta. Kuliah di UI saja butuh Rp. 150 juta. Sedangkan lulusan Sarjana sudah jamak bersedia dengan gaji di bawah UMR. Sebaiknya, mulai sekarang investkan uang pangkal/sekolah mereka dengan sesuatu buat mereka yang nanti langsung bisa jualan kalau sudah besar, seperti misalnya (maaf) warung. OK, menurut saya, sudah waktunya OTAK kita diberikan tugas yang lebih mulia yaitu "BELAJAR". Karena saat seseorang belajar, prestasi pasti mengikuti.

    Dan saat belajar dan bekerja, maka setiap orang pasti menerima UPAH bukan? Jadi, ajak generasi sekarang memutuskan rantai/kuk "mencari uang" karena itu buat makhluk yang kesulitan memahami apa arti belajar. Tips Ini bagi yang sedang bekerja.

    Nah, TIPS bagi yang sedang mencari kerja, coba renungkan baik-baik apa jawaban yang harus disiapkan bila di-interview, yaitu APA KEBUTUHAN ANDA YANG PASTI MENGUNTUNGKAN DAN TIDAK MERUGIKAN PERUSAHAAN?. Jangan lagi bersilat kata karena bila kita tidak siap mental, sang interview dengan mudah me"nekan" Anda sehingga Anda merasa sangat "murah" dimata sang interview. Bila ini yang terjadi, maka dalam proses transaksi, sulit untuk dikatakan kondisi tersebut "win-win".

    Bila Anda masih kesulitan untuk membersihkan "suara-suara" yang meminta Anda untuk segera "mencari uang", perbanyaklah doa dan baca kitab suci kemudian bila sempat diskusikan dengan kami untuk dibantu mengenal Talenta-talenta yang Tuhan berikan sebagai saran pembelajaran dan pe-lipat-gandaan prestasi Anda di dunia ini.

    Akhir kata, para rohaniwan selalu berkata, bahwa belajar itu adalah perintah dari Kitab-kitab Suci. Dan bekerja adalah IBADAH. Jadi renungkanlah, benarkah kita boleh "mencari uang" di dalam Ibadah Suci kita? Bukankah UPAH itu pasti diberikan ,bukan dicari, bagi yang BEKERJA (baca: BERIBADAH)?

    MALING YANG TELEDOR

    Suatu waktu hiduplah seorang inspektur polisi yang terkenal dengan pengamatan dan analisanya yang tajam. Suatu siang pada musim panas yang terik, inspektur itu berjalan dengan santai ke sebuah tempat ibadah.

    Secara kebetulan, ia melihat tiga orang sedang tertidur lelap di salah satu sisi belakang bangunan tempat ibadah tersebut. Di dekat mereka terdapat semangka yang telah diiris-iris menjadi beberapa bagian tapi tidak terlihat tanda bahwa sudah dimakan.

    Bagi orang biasa dan penjaga tempat ibadah, tidak ada yang aneh dari kondisi ketiga orang yang sedang tertidur tersebut sehingga mereka dibiarkan saja beristirahat di situ. Akan tetapi tidak bagi sang inspektur polisi. Ia segera memerintahkan bawahannya untuk menangkap ketiga laki-laki itu dengan tuduhan telah melakukan kejahatan dan membawa mereka ke kantornya. Ketiganya terbangun dengan terkejut karena langsung dituduh sudah melakukan kejahatan. Akan tetapi sesudah dilakukan interogasi, akhirnya ketiga orang tersebut mengakui kesalahan dan kejahatan yang sudah mereka lakukan.

    Ketika ditanya bagaimana dia bisa menghubungkan detil kejadian tersebut dengan kesimpulan yang mengarah kepada penangkapan ketiga penjahat itu, sang inspektur menjelaskan : “Pada umumnya, orang yang patuh pada hukum mulai bekerja di pagi hari dan tidur di senja atau malam hari. Ketika melihat tiga orang lelaki bertubuh sehat tidur sedemikian lelap di siang bolong seketika timbul kecurigaanku. Akan tetapi ini belum bisa membuktikan secara penuh bahwa ketiganya sudah melakukan perbuatan tidak baik. Apalagi ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang memang dilakukan di malam hari sehingga orang yang menjalaninya perlu beristirahat di siang hari walaupun seharusnya mereka tidur di rumah masing-masing dan bukan di tempat umum seperti belakang tempat ibadah ini.” “Yang memperkuat dugaanku adalah, kebanyakan orang yang sudah memotong semangka akan segera memakannya. Ternyata ketiga orang itu tidak melakukan hal ini.

    Mereka sengaja memotong semangka itu untuk menarik dan memerangkap lalat sehingga dapat mencegah binatang-binatang tersebut mengganggu tidur mereka. Cara yang dengan percuma membuang-buang semangka seperti itu mungkin saja dapat terjadi di rumah orang kaya, tetapi tidak di tempat umum.” “Baju mereka yang biasa-biasa saja bahkan terkesan miskin menunjukkan bahwa mereka bukan berasal dari golongan orang kaya.

    Pertanyaan yang langsung muncul dalam pikiranku adalah mengapa mereka dapat bersikap begitu boros ? Pastilah mereka sudah mendapatkan lebih banyak uang dibanding nilai uang dari semangka yang terbuang.” “Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut aku sampai pada kesimpulan bahwa mereka pasti tadi malam baru melakukan tindakan kejahatan. Sesudah menanyai penjelasan dan alibi mereka secara terpisah satu per satu, kemudian mengkonfrontir ucapan yang satu dengan yang lain, aku berhasil membuktikan bahwa mereka memang telah melakukan kejahatan”.

    Lebih seringlah untuk terjun ke bawah atau langsung ke lapangan apapun peran yang kita jalani saat ini dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan mengamati langsung melalui panca indera kita, ditunjang oleh pemikiran yang logis maka banyak hal penting yang dapat kita tangkap untuk kemajuan diri kita maupun orang lain. Cara ini juga bisa menghindarkan kita dari hal-hal yang tidak baik, karena bisa diantisipasi lebih awal.

    Presiden Gus Dur dan Presiden Clinton.

    Suatu ketika pada waktu Gusdur menjabat sebagai Presiden RI, beliau diundang oleh Presiden AS Bill Clinton ke White House. Di tengah-tengah pembicaraan muncullah seekor anjing peliharaan Bill Clinton. Bill yang dikenal sebagai penyayang binatang itu langsung memperkenalkan anjingnya kepada Gusdur.

    Bill : Gusdur, lihatlah saya punya anjing yang sangat pintar, dia bisa
    menuruti apa yang saya perintahkan.
    Gusdur : Masa iya? Saya ingin tau.
    Bill : Coba anda perhatikan. Sit Down! (anjing itu langsung duduk)
    Bill : Stand up! (anjing itu langsung berdiri) Bill : Walk around!
    (anjing itu langsung berjalan keliling-keliling)

    Bill : Lihat! Hebat bukan?

    Gusdur : Gitu aja kok repot. Saya yang baru ketemu saja bisa lebih baik
    dari itu.
    Bill keheranan mendengar jawaban Gusdur.
    Bill : Boleh Anda buktikan ucapan Anda?

    Gusdur : Silahkan.

    Bill : Coba Anda buat dia menangis

    Gusdur berbisik kepada anjing : Ssstt... ssttt.... Anjing itu langsung
    menangis sedih.
    Bill terheran-heran.
    Bill : Sekarang coba buat dia tertawa

    Gusdur berbisik kepada anjing : Ssstt... ssttt.... Anjing itu langsung
    tertawa terbahak-bahak.
    Bill kembali terheran-heran. Ia memikirkan cara supaya Gusdur gagal
    memerintah anjingnya.
    Bill : Nah... sekarang coba bikin dia supaya stress berat...
    Gusdur berpikir sejenak. Lalu dia berbisik kepada anjing tersebut
    Ssstt... ssttt..., sang anjing pun langsung loncat ke sana kemari
    sambil teriak histeris, naik ke atas meja, ke atas lemari sampai
    akhirnya dia melompat ke luar jendela dan jatuh ke tanah.
    Bill Clinton kembali terheran-heran dan ia akhirnya mengakui
    kehebatan Gusdur sambil bertepuk tangan.
    Bill : Boleh saya tau apa yang Anda bisikkan sehingga anjing saya
    menangis begitu sedih?

    Gusdur : Saya bilang, kasihan Indonesia, rakyatnya banyak yang miskin,
    jangankan untuk beli BBM, untuk makan sehari-hari saja mereka sangat
    kesulitan. Kamu beruntung dipelihara oleh Bill Clinton, bisa makan
    kapan saja kamu mau.

    Bill : Oh... pantesan. Anda memang hebat. Lalu apa yang Anda bisikkan
    sehingga anjing saya tertawa terbahak-bahak?

    Gusdur : Saya bilang, orang Indonesia banyak yang pintar-pintarsehat-sehat, mereka semua lebih pantas jadi presiden ketimbang
    saya. Tapi ternyata kok malah saya yang buta begini yang dipilih
    menjadi presiden.
    Bill : Hahahaha... Jangankan anjing, saya juga ketawa. Anda memang
    jenius. Nah, lalu apa yang Anda bisikkan kepada anjing saya sehingga ia
    stress berat seperti itu?

    Gusdur : Saya bilang, wahai anjing, saya ingin ajak kamu tinggal di
    Indonesia.
    Bill : ?????????

    KENAPA BERBEDA

    Perbedaan laki-laki dan perempuan, ternyata sudah terjadi sejak saat-saat awal penciptaan manusia di dalam rahim. Penyebab utamanya adalah terbentuknya hormon yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dikendalikan oleh hormon androgen. Sedangkan perempuan dipengaruhi oleh hormon estrogen.

    Hormon-hormon inilah yang bertanggungjawab terhadap terbentuknya fisik lelaki dan perempuan. Lelaki lebih berotot, sedangkan perempuan lebih lemah lembut. Lelaki berkumis dan bercambang, sedangkan perempuan tidak. Lelaki memiliki alat genital kelaki-lakian, sementara perempuan dengan genital kewanitaannya. Dan seterusnya.

    Tapi, dari manakah munculnya hormon-hormon itu? Dan kenapa bisa berbeda antara hormon lelaki dan hormon perempuan? Ternyata, ini disebabkan oleh perintah dari dalam genetika cikal bakal bayi.
    Rangkaian genetika adalah seperangkat ‘perintah’ yang terdapat di dalam inti sel-sel manusia. Pada setiap inti selnya, manusia menyimpan sekitar 5 miliar perintah. Seperti program komputer saja layaknya.

    Pada saat pembentukan janin di dalam rahim, sperma sang ayah dengan ovum sang ibu menyumbangkan separo sifat-sifat mereka. Lantas, bergabung menjadi sebuah sel baru yang disebut sebagai Stem sel. Cikal bakal bayi.

    Di dalam sel tunggal itulah perintah penciptaan mulai berjalan. Ada perintah untuk membentuk kepala, membentuk tangan, kaki, dan berbagai organ-organ tubuh manusia, secara sempurna. Maka sel tunggal itu pun membelah menjadi bertriliun-triliun sel hanya dalam waktu sekitar 9 bulan. Dan kemudian membentuk struktur dan fungsi yang sangat canggih.

    Proses pembedaan antara lelaki dan perempuan dimulai hari ke-13 setelah sperma dan sel telur bergabung menjadi Stem sel. Dan baru berhenti sekitar 10 hari sesudah kelahiran bayi.

    Apakah yang terjadi saat itu? Ternyata ada jenis gen dalam sperma lelaki yang menyebabkan si bayi terbentuk menjadi bayi laki-laki atau bayi perempuan. Namanya Gen SRY alias Sexual Determining Region. Gen ini menghasilkan substansi yang disebut TDF, dan menyebabkan tumbuhnya alat kelamin lelaki atau alat kelamin perempuan.

    Adalah sangat menarik, jenis kelamin bayi yang akan lahir itu ternyata ditentukan oleh sang ayah lewat kromosom Y yang terdapat pada spermanya. Sedangkan sel telur ibu bersifat pasif dalam hal ini. Kromosom ayah memiliki kode XY. Sedangkan kromosom ibu berkode XX.

    Jika kromosom Y dari ayah bertemu dengan kromosom X dari ibu, maka janin tersebut akan berkembang menjadi bayi lelaki. Jika kromosom X dari ayah yang bertemu dengan X dari ibu, maka janin berkembang menjadi bayi perempuan. Ini persis seperti yang diceritakan oleh Al-Qur’an, bahwa penentu jenis kelamin lelaki dan perempuan adalah sperma ayah, bukan sel telur ibu.

    QS. An Najm (53): 45-46
    dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan, dari sperma yang dipancarkan.

    Ini sungguh luar biasa. Sejak belasan abad yang lalu Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa penentu jenis kelamin pada seorang bayi ternyata adalah sperma yang dipancarkan oleh sang ayah. Dan kini hal tersebut telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa antara laki-laki dan perempuan memang memiliki fungsi yang berbeda tapi saling melengkapi. Tidak bisa disamakan. Jika anda ingin memiliki bayi dengan jenis kelamin tertentu, maka yang harus direkayasa adalah sperma sang ayah.

    Nah, sejak penentuan jenis kelamin itu terjadi, maka janin bakal menghasilkan hormon yang berbeda. Pada janin laki-laki, ia akan menghasilkan hormon androgen alias hormon lelaki. Sedangkan pada wanita akan menghasilkan hormon estrogen.

    Sejak sekitar hari ke 13 itu janin laki-laki menghasilkan hormon-hormon lelaki yaitu testosteron dan MIS (Mullerian duct Inhibiting Substance). Kedua jenis hormon ini akan menyebabkan otak si janin bertumbuh menjadi otak laki-laki.

    Testosteron berfungsi untuk membentuk alat kelamin lelaki dengan segala perlengkapannya, serta menekan terbentuknya kelenjar susu. Sedangkan MIS bertugas untuk mencegah terbentuknya alat kelamin wanita, termasuk rahim dan saluran telur. Dengan demikian, secara berangsur-angsur janin itu akan mengarah kepada bentuk lelaki dengan segala kekhasannya.

    Sebaliknya, janin akan menjadi perempuan jika hormon yang bekerja adalah hormon-hormon estrogen. Secara bertahap si janin akan membentuk semua kelengkapan organ tubuh wanita.

    Perkembangan tersebut - baik pada lelaki maupun wanita - terjadi selama pembentukan bayi di dalam rahim, sampai usia sekitar 10 hari setelah kelahiran. Jika, dalam kurun 10 hari itu terjadi pengaruh-pengaruh pada sistem organ seks mereka, atau fungsi otaknya, maka boleh jadi hal itu akan mengganggu perilaku seksualnya di kemudian hari.

    Sebagai contoh, jika hewan percobaan yang berkelamin jantan dikebiri sesaat setelah kelahirannya, maka di waktu-waktu selanjutnya hewan tersebut akan bertingkah laku sebagai betina. Demikian pula penyuntikan hormon estrogen pada si jantan, juga menyebabkannya bertingkah laku sebagai betina.

    Pada manusia pun terjadi demikian. Jika ada seorang wanita disuntik dengan hormon laki-laki, maka ia akan menunjukkan sifat-sifat yang cenderung laki-laki dan lebih agresif dibanding sebelumnya. Demikian pula sebaliknya, jika seorang lelaki disuntik dengan hormon-hormon kewanitaan, maka ia akan menunjukkan gejala-gejala fisik dan bersikap sebagai perempuan.

    Karena itu jangan heran, pada seorang waria, mereka mengandalkan suntikan hormon itu untuk membentuk fisik mereka agar menjadi lebih wanita. Sekaligus akan berpengaruh pada beberapa sifatnya. Namun, tentu saja, tidak bisa sempurna. Karena sudah ‘telanjur jadi’…

    Monday, April 30, 2007
    Warung Pecal LELE

    Siapa yang tidak pernah melihat warung tenda di Jakarta ini, hampir disetiap pelosok kita selalu melihat keberadaan mereka, saya dan ke dua anak saya sangat menyukai petualangan makan di warung - warung tenda, yang bertebaran di seluruh wilayah Jakarta ini jika sedang pulang kampung dari Medan. Namun dari sekian banyak tempat yang pernah saya datangi, , ada sebuah warung tenda langganan kami yang menjual pecel lele yang sangat mengesakan bagi saya, bukan hanya rasanya yang wueenak, tapi juga penjual nya yang sekaligus juga pemilik warung itu.

    Sepasang suami istri yang berasal dari Madura, mencoba mengadu nasib ke Jakarta dengan berbekal uang seadanya. Sang isri yang selalu setia mendampingi suaminya berjualan pecel lele selama kurang lebih 10 tahun ini telah membuat warung tenda nya selalu penuh dengan pengunjung, bahkan pembeli harus rela antri mendapatkan tempat duduk. Hebatnya si ibu pemilik itu hampir hafal seluruh nama pengunjung yang datang, dia selalu menyambut dan menyapa setiap pembeli yang datang dengan sapaan nak , didepan nama pembeli pembeli nya dan dia selalu berkeliling ke pengunjung yang sedang makan, untuk menanyakan, mau tambah nak?Ada yang kurang nak? ungkapan ungkapan nya itu benar benar bagai sapaan seorang ibu.

    Bahkan pegawai pegawainya selalu siap memenuhi kebutuhan para pembeli, sebelum mereka meminta nya, begitu melihat isi gelas kita berkurang , dengan sigap mereka langsung mengisikan nya kembali, tanpa kita harus meminta

    Apa yang berbeda dari warung tenda itu ?

    Bisa anda terka, Ibu penjual pecel lele itu sangat mengutamakan PELAYANAN . Walaupun dia tidak pernah mengenal ilmu apalagi mengikuti training training mengenai pelayanan prima, tapi ibu tersebut mampu menerapkan prinsip prinsip dalam memberikan Service Excellence kepada pengunjungnya.

    Dia selalu menyapa dengan baik dengan menyebutkan nama pelanggannya , dia begitu mengenal pelanggan pelanggannya dengan baik, mengetahui kebiasaan kebiasaan pelanggannya, dan memberikan yang dibutuhkan pelanggannya tanpa harus diminta, bahkan setiap kita selesai makan dia tidak pernah lupa meminta umpan balik dari para pengunjungnya

    Apa yang bisa kita petik dari kisah pemilik warung tenda itu ?

    Pelayanan membuahkan Kesuksesan

    Ibu pemilik warung ini rupanya sangat mengutamakan pelayanan dalam menjalankan usahanya, Kan pembeli itu raja, jadi saya harus melayani mereka dengan baik, walaupun saya cape atau lagi kesal, begitu katanya, saat saya mempunyai kesempatan untuk ngobrol dengan dia disela sela kesibukannya melayani pengunjung yang datang.

    Yang membuat saya tercengang , berkat modal seadanya yang hanya sebesar Rp 150.000,- ketekunan, kegigihan, dan sangat mengutamakan pelayanan, kini dia memiliki asset yang tidak sedikit, bahkan bisa dikategorikan kedalam perusahaan golongan menengah. Mereka sekarang mampu memiliki 3 buah rumah mewah di Jakarta, 1 buah ruko yang nilainya lebih dari 1 M serta 2 buah di Lamongan desa darimana mereka berasal.

    Benar benar suatu hasil yang patut diacungkan jempol, sebuah usaha informal, namun mampu menerapkan prinsip prinsip kepuasan pelanggan , dengan memberikan pelayanan dengan hati pemilik warung itu mampu mendulang sukses.

    Cobalah kita amati disekeliling kita, begitu banyak bidang bisnis yang belum mampu mengutamakan kepuasan pelanggan, yang tidak menganggap bahwa pelanggan adalah asset bagi mereka, yang masih kurang menyadari bahwa tanpa pelanggan apapun jenis usaha yang dijalankan akan mati dengan sendirinya.

    Power of NO

    Waktu kecil mungkin Anda pernah menemani Ibu Anda ke pasar tradisional. Ingatkah Anda bagaimana Ibu-ibu kita jaman dulu menawar harga? Saya tahu, kalau Ibu-ibu jaman sekarang lebih sering berbelanja ke supermarket, yang harga nya tidak bisa ditawar.

    Garis besarnya pasti sama: Pertama, tawar setengah harga atau bahkan kurang, kemudian penjual akan mengatakan "TIDAK", dan menawarkan harga sedikit di bawah harga awal, kemudian Ibu kita juga akan mengatakan "TIDAK" dan pura-pura pergi meninggalkan kios, dan lima langkah kemudian sang penjual akan memanggil dengan meneriakkan harga terakhir (biasanya sedikit di atas harga yg ditawar Ibu), baru Ibu kita berbalik untuk mengatakan "YA", mungkin karena hari mulai siang.

    Kalau masih pagi, tawar2 an tadi bisa berlangsung lebih alot, berpindah dari kios ke kios. Anda mungkin berpikir bernegosiasi harga cara Ibu kita tadi kuno. Jangan salah, justru ditengah-tengah ratusan teori negosiasi modern, ternyata negosiasi a la Ibu-ibu di pasar tradisional tadi adalah yang paling efektif. Setidaknya demikian kata Jim Camp dalam buku nya "Start with NO".

    Jim Camp menyarankan agar kita tidak terlena pada jargon "win/win" yang sering dikemukakan perusahaan besar sewaktu bernegosiasi dengan perusahaan yang lebih kecil. Kenyataannya, kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dari pendekatan "win/win" tadi hanya bertujuan menguntungkan perusahaan besar. Disinilah perusahaan kecil harus waspada menghadapi permainan para "pemangsa" dari perusahaan yang lebih besar. Dan itu dapat dicapai dengan memulai dengan kata TIDAK. Seperti Ibu kita di pasar dulu.

    Camp mengidentifikasikan dua kelemahan yang umumnya kita miliki sewaktu melakukan negosiasi:

    Pertama: Anda terlalu membutuhkan. Ya, sadarkah Anda bahwa ketika melakukan negosiasi, seringkali kita kita datang dengan "mu-peng", muka-pengen. Saya juga sering begitu. Bahkan sewaktu berangkat sudah kepikiran: "udah deh, mau ditawar berapa aja gw iya – in". Bagaimana tidak, kontrak sudah terbayang-bayang, asik … rekening bakal nambah, bisa nutup operational cost sekian bulan, bisa beli ini-itu, wah … pokoknya harus saya yang dapet. Belum lagi ketakutan kalau ada kompetitor yang masuk. Kita tidak siap menerima kenyataan kalau kesepakatan akan batal.

    Maka tidak jarang, ketika kita menyampaikan penawaran harga, dan calon klien kita setelah membacanya terlihat berkerut dan terbatuk2. Langsung saja kita berkata: "Mmm .. ngomong2 harga nya bisa di nego kok Pak …". Mungkin kliennya sampai heran sendiri, lho wong belum ditawar kok sudah mau nurunin harga? Menurut Jim Camp, dalam kondisi demikian Anda sudah menganggap kontrak yg ingin Anda dapatkan menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekedar keinginan. Dan kalau sudah butuh, Anda siap berkorban apa saja. Mulai dari margin yang sangat tipis, hingga resources yg lebih banyak. Tidak jarang, setelah dihitung-hitung Anda bahkan sebenarnya rugi. Anda tentu tidak mau bernegosiasi untuk rugi. Jadi buang jauh2 "mu-peng" Anda. Gampangnya ingat saja Ibu Anda yg "pura-pura" tidak butuh dan meninggalkan kios waktu menawar.

    Kedua: Anda terlalu "sempurna". Tahun 70-80 an, TVRI pernah memutar film detektif Mr. Columbo. Wah, mungkin Anda belum lahir, atau sudah tidak ingat. Jangan dibayangkan ini adalah detektif ganteng dan jagoan seperti tipikal film Hollywood. Mr. Columbo ini tidak gagah atau ganteng, justru dekil, naik mobil butut, memelas, dan sering lupa mengajukan pertanyaan kunci. Pokoknya "katro" habis. Namun berhadapan dengan orang dalam posisi "di bawah" seperti ini, orang merasa nyaman berbicara. Dan Mr. Columbo sangat gampang mendapat informasi. Dalam bisnis kita sering berusaha memberikan kesan hebat, sehingga berusaha tampil "hebat". Padahal orang cenderung merasa baik, justru ketika melihat orang lain kurang baik. Ini yang saya lupakan ketika mengawali bisnis saya.

    Dulu, jika melakukan presentasi, saya dan tim saya selalu berjas-berdasi, mirip the Beatles mau manggung. Dan hasilnya nol besar. Kini kami tampil apa adanya, tanpa jas, tanpa dasi, tak jarang saya hanya memakai kemeja lengan pendek. Tentu tetap rapih dan wangi, karena sudah bawaan. Ternyata kami malah bisa membuat banyak deal. Mungkin, para pelanggan yang saya temui dulu tidak nyaman berbicara dengan "the Beatles.

    Dengan memperbaiki dua kelemahan tadi, kini Anda siap menerapkan teknik negosiasi yang diawali dengan kata TIDAK. Kedengarannya memang kontroversial, namun sebenarnya logis. Bagi Jim Camp, negosiasi merupakan kesepakatan antara dua pihak, dimana masing-masing pihak memiliki hak veto - hak untuk berkata TIDAK.

    Jadi justru kita harus berawal dari kata TIDAK, sebelum kemudian menggali hal-hal yang bisa disepakati. Memulai dengan TIDAK artinya kita berorientasi kepada keputusan. Yang justru akan membuat negosiator lawan Anda langsung berpikir pada pokok persoalan, bukan yang lain. Karena dorongan emosi dan kebutuhan, seringkali kita akan langsung berkata "YA" di depan. Sambil membayangkan keuntungan, komisi, atau BMW baru yang akan Anda beli. Dalam keadaan demikian, negosiator ulung di depan Anda akan langsung menyodorkan berbagai "JIKA … "yang akan segera membelenggu Anda. Memulai dengan TIDAK bukan untuk mengorbankan siapapun, termasuk lawan Anda, namun justru untuk mendapatkan keputusan yang logis.

    Tentu bukan berarti setelah Anda berkata TIDAK, lantas berhenti. Semua negosiasi tentu ujungnya adalah kesepakatan kedua belah pihak. Langkah-langkah selengkapnya menurut Jim Camp cukup panjang, seperti: menetapkan tujuan; bagaimana menggali dan menggunakan "pain" lawan,; bernegosiasi dengan bujet waktu, tenaga, uang dan emosi; hanya bernegosiasi dengan orang yang berwenang; hingga bahaya melakukan presentasi (waduh, saya baru tahu!). Namun, saya ingin memberikan catatan pada beberapa poin yang menurut saya sangat menarik:

    Ajukan Pertanyaan. Awal berbisnis dulu, (eh, sejujurnya bahkan mungkin sampai sekarang), saya sering mengira bahwa dalam negosiasi, kita harus dalam posisi dominan. Dan itu artinya mendominasi pembicaraan. Ternyata pengalaman mengajarkan sebaliknya. Justru dengan sedikit bicara dan banyak bertanya, maka Anda dalam posisi mengendalikan. Banyak teknik yang diajarkan Camp. Diantaranya adalah "mengasuh". Dimana kita mengajukan pertanyaan dengan sikap yang membuat lawan merasa nyaman, didengarkan dan dihormati. Anda harus menjadi Mr. Columbo yang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.Informasi tadi yang akan sangat penting untuk mendukung langkah2 Anda selanjutnya.

    Netralkan Pikiran. Ini menurut saya yang paling sulit buat pemula. Dorongan untuk segera "closing the deal", bisa mengacaukan pikiran kita. Tiga pantangan agar memperoleh pikiran yang tenang dalam bernegosiasi adalah: Jangan ber-ekspektasi (berharap), Jangan ber-asumsi, Jangan bicara:

    Terlalu berharap, baik harapan positif ataupun negatif, dapat berbahaya. Negosiator ulung pandai mengumbar harapan yang menjebak. Salah satu umpan yang klise adalah: "saya minta harga untuk pembelian dalam jumlah banyak". Dan ketika Anda setuju,sekaligus membuka kartu berapa harga ter-rendah Anda, mereka akan mengorder dalam jumlah kecil, dengan alasan bahwa pembelian akan dilakukan parsial. Dan ingat, kapanpun mereka dapat membatalkan kesepakatan. Saya pernah mengalami hal semacam ini, dan ternyata menurut Jim Camp, di Amerika juga sering terjadi hal yang sama. Ber-asumsi juga jelas berbahaya, karena asumsi adalah sekedar asumsi, lebih baik Anda lakukan verifikasi untuk memperoleh realitas yang sebenarnya. Sebaiknya kerjakan riset Anda.

    Bagaimana dengan "jangan berbicara". Maksudnya adalah, Anda sebaiknya sesedikit mungkin berbicara, apalagi kalau Anda tidak tahu mau berbicara apa, lebih baik tidak berbicara. Saya jadi teringat salah satu bagian dari novel Godfather karya Mario Puzo. Sewaktu Don Corleone berunding dengan Virgil Sollozzo. Don didampingi putra tertuanya Sonny, dengan satu perintah tegas: jangan berbicara. Don yang sudah kenyang asam garam perundingan tahu, bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Sonny dapat berbahaya. Dan betul saja, ketika Don secara tegas mengatakan TIDAK, atas usulan Sollozzo, dan Sollozo tengah mencerna ucapan Don, Sonny tidak tahan untuk mengucapkan komentar. Sebuah komentar tak perlu yang mengungkapkan fakta bagi Sollozzo, bahwa ada kemungkinan perbedaan pandangan antara Don dan anaknya. Bahwa keluarga Corleone mungkin tidak se-solid kelihatannya. Dan di kemudian hari, Sollozzo pun berani bertindak. Don Corleone ditembak.

    Demikianlah kekuatan kata TIDAK, menurut Jim Camp. Cukup menarik untuk diaplikasikan. Yang jelas kata TIDAK, menyebabkan orang berpikir tentang poin apa yang menyebabkan dia ditolak. Saya ingin menutup catatan ini dengan sebuah cerita yang sangat relevan:

    Ada seorang anggota US Marine (AL) yang bertugas untuk merekrut lulusan2 terbaik dari salah satu sekolah di Amerika. Anggota US Marine tadi mendapat giliran terakhir untuk melakukan presentasi, setelah anggota US Air Force (AU) dan US Army (AD). Ternyata dua presentasi sebelumnya telah menghabiskan sebagian besar waktu yg tersedia. Akhirnya sang perwira AL, yang tinggal memiliki waktu tidak lebih dari 5 menit tadi hanya mengatakan: "Maaf, Saya TIDAK melihat banyak kandidat yang bisa saya rekrut disini. Saya perhatikan paling banyak hanya 5 orang yang pantas menjadi anggota US Marine. Jika Anda merasa salah seorang diantaranya, hubungi saya setelah ini." Dan, sebagian besar siswa pun akhirnya melamar menjadi anggota US Marine!

    Saturday, April 28, 2007
    Doa Siapakah Yang Lebih Terkabul

    Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat. Hanya dua orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke sebuah pulau kecil yang gersang.

    Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa kepada Tuhan. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri-sendiri berseberangan di sisi-sisi pulau tersebut.

    Doa pertama yang mereka panjatkan. Mereka memohon agar diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke satu melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

    Seminggu kemudian, lelaki yang ke satu merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki ke satu itu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.

    Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

    Akhirnya, lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima pemberian Tuhan karena doa-doanya tak terkabulkan. Begitu kapal siap berangkat, lelaki ke satu ini mendengar suara dari langit menggema, "Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?"

    "Berkahku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan," jawab lelaki ke satu ini. "Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka, ia tak pantas mendapatkan apa-apa."

    "Kau salah!" suara itu membentak membahana. "Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa."

    "Katakan padaku," tanya lelaki ke satu itu. "Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus merasa berhutang atas semua ini padanya?" "Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!"

    Kesombongan macam apakah yang membuat kita menganggap bahwa hanya harapan dan doa-doa kita yang terkabulkan? Betapa banyak orang yang tidak mengorbankan sesuatu demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain.

    (diadaptasi dari "Whose Prayer Was More Powerful?", unknown, coffeeintherain. com)

    JEMBATAN MAAF

    Alkisah ada dua orang kakak-beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu-membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerja-sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalah-pahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

    Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf Tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan", kata pria itu dengan ramah. "Barangkali Tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

    "Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku,. ..... ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya. "

    Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan merasa senang."

    Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku.

    Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

    "Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku", kata sang adik pada kakaknya.

    Dua bersaudara itupun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.

    "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

    "Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini", kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."

    Mengubah Pola Pikir

    Sekelompok wisatawan tertahan di suatu tempat asing di luar kota. Mereka hanya menemukan bahan makanan yang kedaluwarsa. Karena lapar, mereka terpaksa
    menyantapnya, meskipun sebelumnya dicobakan dulu kepada seekor anjing yang ternyata menikmatinya dan tak terlihat efek sampingnya.

    Keesokan harinya, ketika mendengar anjing itu mati, semua orang menjadi cemas. Banyak yang mulai muntah dan mengeluh badannya panas atau terserang
    diare. Seorang dokter dipanggil untuk merawat para penderita keracunan makanan. Kemudian sang dokter mulai mencari sebab-musabab kematian si anjing
    yang dijadikan hewan percobaan tersebut. Ketika dilacak, eh ternyata anjing itu sudah mati karena terlindas mobil.

    Apa yang menarik dari cerita di atas?

    Ternyata kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri. We see the world as we are, not as it is. Akar segala sesuatu
    adalah cara kita melihat. Cara kita melihat mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan mempengaruhi apa yang kita dapatkan.
    Ini disebut sebagai model See-Do-Get.

    Perubahan yang mendasar baru akan terjadi ketika ada perubahan cara melihat.

    Ada cerita menarik mengenai sepasang suami-istri yang telah bercerai. Suatu hari, Astri, nama wanita ini, datang ke kantor Roy, mantan suaminya.
    Saat itu Roy sedang melayani seorang pelanggan. Melihat Astri menunggu dengan gelisah, pimpinan kantor menghampirinya dan mengajaknya
    berbincang-bincang. Si Bos berkata, "Saya begitu senang, suami Anda bekerja untuk saya. Dia seorang yang sangat berarti dalam perusahaan kami,
    begitu penuh perhatian dan baik budinya."

    Astri terperangah mendengar pujian si bos, tapi ia tak berkomentar apa-apa. Roy ternyata mendengar komentar si bos. Setelah Astri pergi, ia menjelaskan
    kepada bosnya,
    "Kami tak hidup bersama lagi sejak 6 bulan lalu, dan sekarang dia hanya datang menemui saya bila ia membutuhkan tambahan uang untuk putra kami."
    Beberapa minggu kemudian telepon berbunyi untuk Roy. Ia mengangkatnya dan berkata, "Baiklah Ma, kita akan melihat rumah itu bersama setelah jam
    kerja." Setelah itu ia menghampiri bosnya dan berkata, "Astri dan saya telah memutuskan memulai lagi perkawinan kami. Dia mulai melihat saya secara
    berbeda, tak lama setelah Bapak berbicara padanya tempo hari."

    Bayangkan, perubahan drastis terjadi semata-mata karena perubahan dalam cara melihat. Awalnya, Astri mungkin melihat suaminya sebagai seorang yang
    menyebalkan, tapi ternyata di mata orang lain Roy sungguh menyenangkan. Astrilah yang mengajak rujuk, dan mereka kembali menikmati rumah tangga
    yang jauh lebih indah dari sebelumnya.

    Segala sesuatu yang kita lakukan berakar dari cara kita melihat masalah. Karena itu, bila ingin mengubah kehidupan kita, kita perlu melakukan revolusi cara berpikir.
    Stephen Covey pernah mengatakan: "Kalau Anda menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda, tapi bila Anda menginginkan
    perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda."

    Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda.

    Ini contoh sederhana.
    Seorang anak bernama Alisa yang berusia empat tahun selalu menolak kalau diberi minyak ikan. Padahal, itu diperlukan untuk meningkatkan perkembangan otak dan daya tahan tubuhnya. Betapapun dibujuk, ia tetap menolak. Dengan maksud baik, kadang-kadang ia dipaksa
    menelan minyak ikan. Ia menangis dan meronta-ronta.
    Usaha tersebut memang berhasil memaksanya, tapi ini bukan win-win solution. Si orangtua menang, ia kalah.
    Ini pendekatan yang dimulai dengan Do.
    Maka ditemukanlah cara lain yaitu dengan mengubah paradigma Alisa.
    Si orangtua tahu Alisa sangat suka sirup, karena itu minyak ikan tersebut diaduk dengan air dalam gelas. Ternyata, ia sangat gembira dan menikmati "sirup"
    minyak ikan itu. Bahkan, sekarang ia tak mau mandi sebelum minum "sirup" tersebut.

    Contoh sederhana ini menggambarkan proses perubahan yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Perubahan ini bersifat sukarela dan datang dari Alisa
    sendiri. Jadi, tidak ada keterpaksaan.
    Inilah perubahan yang diawali dengan See. Perubahan yang dimulai dengan Do, bersifat sebaliknya, yaitu outside-in. Perubahan seperti ini sering
    disertai penolakan. Jangankan dengan bawahan, dengan anak kecil seperti Alisa saja, hal ini sudah bermasalah.

    Pendekatan hukum bersifat outside-in dan dimulai dengan Do. Orang tidak korupsi karena takut akan hukumannya, bukan karena kesadaran. Pada dasarnya
    orang tersebut belum berubah, karena itu ia masih mencari celah-celah yang dapat dimanfaatkannya.

    Pendekatan SDM berusaha mengubah cara berpikir orang.
    Akar Korupsi sebenarnya adalah pada cara orang melihat. Selama jabatan dilihat sebagai
    kesempatan menumpuk kekayaan, bukannya sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, selama itu pula korupsi tak akan pernah hilang.
    Inilah pendekatan inside-out. Memang jauh lebih sulit, tetapi efek yang dihasilkannya jauh lebih mendasar. Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri.

    Karena itu, untuk mengubah kehidupan, yang perlu Anda lakukan cuma satu: "Ubahlah cara Anda melihat masalah".
    Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang sendiri sebagai tantangan
    dan rahmat yang terselubung. Orang-orang ini sangat berjasa bagi Anda karena dapat membuat Anda lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif dan lebih sabar.

    John Gray, pengarang buku Men Are from Mars and Women Are from Venus, melihat masalah dan kesulitan dengan cara yang berbeda. Ujarnya,
    "Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh."
    Regards, From nice city of Medan

    Posted by DJODI ISMANTO at 28.4.07 0 comments

    Friday, April 27, 2007
    CHARLO MAMORA, SANG ARSITEK TRANSFORMASI ASTRA

    GELOMBANG perubahan bergejolak yang melanda Indonesia sejak 1997 sudah menelan 4 rezim berturut-turut: Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati. Di tingkat korporat, gelombang yang sama menggulung pula ratusan perusahaan, bank, dan grup konglomerat. Tokoh-tokoh bisnis zaman itu -– dulu wajah-wacana mereka mendominasi media massa -– kini lenyap bagaikan sekam terempas puting beliung ke rawa kumuh.

    Sungguh, suatu pagelaran change management yang gagal total. Sebuah tragedi nasional yang mesti jadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang bertelinga. Di antara sedikit grup usaha besar yang selamat, meskipun sempat babak belur, ialah PT Astra International yang didirikan William Soeryadjaya tahun 1957.
    Meskipun Om Willem tidak lagi di Astra saat krisis itu, tetapi generasi penerusnya, Teddy Rachmat dan Rini Soewandi, berhasil mendayung biduk Astra berselancar mengarungi badai. Kegagalan dapat dijelaskan. Begitu pula keberhasilan.
    Yang terakhir ini dikisahkan Charlotte Buttler dalam Dare To Do: The Story of William Soeryadjaya and PT Astra International (2002).
    Buttler menutup bukunya dengan kalimat begini, “The group that William had created looked indestructible. It had not just survived, but looked set to flourish once more.”

    Sebelum krisis, Astra dikenal sebagai grup paling kredibel di Indonesia, dan pasca krisis, predikat itu direbutnya kembali. Teddy Rachmat, CEO Astra 1984-2002 – diinterupsi sebentar oleh Rini Soewandi tahun 1998 – dikenal luas sebagai pemimpin terpuji yang menakhodai kapal Astra. Namun ada seorang tokoh yang nyaris tak pernah disebut media massa Indonesia di balik kelenturan Astra berselancar itu.

    Dialah sang arsitek transformasi Astra: Charlo Mamora.

    *** SIAPAKAH Charlo Mamora? Teddy Rachmat menjulukinya “Arsitek Astra”.
    Rachmat -– delapan belas tahun didampingi Mamora hingga pensiun -– lebih tajam mengkristalkan peranan pria kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, itu sebagai The Architect of Astra Human Capital Management and Management System Practices.

    “Dia ini mitra saya mengubah desain Astra menjadi kenyataan,” tegas Rachmat lebih lanjut. Di banyak halaman Dare To Do, Buttler menjelaskan lebih detail peranan instrumental dan strategis yang dimainkan Mamora bersama raksasa-raksasa Astra lainya seperti Budi Setiadharma, Michael Ruslim, Rudyanto Hardjanto, Benny Subianto, Hagianto Kumala, dan lain-lain. Sebagai eksekutif ex-IBM, Mamora begabung dengan Astra di akhir dekade 70-an.

    Tipikal eksekutif muda masa itu yang merasa karirnya sudah mentok di perusahaan multinasional, Mamora ikut merasa terpanggil membesarkan perusahaan lokal yang haus sumbangan profesionalisme dari putra-putri Indonesia yang beruntung mengecap kultur itu. Di barisan ini, satu dekade kemudian, Rini Soewandi, bankir ex-Citibank, juga ikut bergabung. Pasca Astra kelak, Rini bahkan melejit menjadi Menperindag dalam Kabinet Megawati. Pada permulaan dekade 80-an, Astra bertekad menjadi perusahaan profesional. Ketika Rachmat kemudian menjadi CEO, ia segera menerapkan Total Quality Management secara besar-besaran.

    Bersama Mamora sistem manajemen Jepang ini mereka adaptasi menjadi Astra Total Quality Management. Program ini pun menuai sukses. Inilah permulaan era pertumbuhan cepat Astra menjadi grup usaha besar dan profesional. Fase pertumbuhan cepat ini mengalami berbagai desakan sentrifugal yang bersifat memecah. Untuk mencegahnya, dibutuhkan kekuatan penahan yaitu budaya perusahaan (corporate culture). Pada tahun 1984, Mamora -– sarjana ilmu pasti dari Sanata Dharma, Yogyakarta, yang saat itu menjabat Kepala Divisi Pengembangan SDM merangkap Kepala Divisi Pengembangan Manajemen -– diserahi tugas memimpin pengembangan dan implementasi corporate culture Astra. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Catur Dharma Astra yaitu

    (1) Respek pada individu dan kerjasama;
    (2) Berjuang meraih keunggulan;
    (3) Pelayanan terbaik bagi pelanggan; dan
    (4) Menjadi aset bagi bangsa.

    Sejak itu pula tugas Mamora bersifat sangat strategis: Mentransformasikan Astra menjadi perusahaan unggul. Misinya saat itu dikalimatkan sebagai “To bring Astra to excellence”. Dalam kurun 1983-1987, Mamora menangani berbagai inisiatif strategis. Dalam rangka transformasi itu sejumlah sistem dan konsep dikembangkannya menjadi praktik standar di seluruh grup Astra. Bahasa manajemen Astra disatukannya. Rule of the game anggota Astra dirumuskannya. Ia juga membangun infrastruktur informasi untuk membantu para eksekutif Astra mencapai excellence.

    Di bawah kepemimpinan Mamora, tiga fungsi strategis dalam setiap transformasi: Pengembangan SDM, Pengembangan Manajemen, dan Sistem Informasi Manajemen dikendalikannya secara simultan. “Efek sampingnya, ada yang menuduh saya membangun kerajaan sendiri”, kenang Mamora tersenyum. Syukur, program yang dievaluasi oleh INSEAD Prancis ini dinyatakan sebagai sukses.

    Tahun 1988, Mamora mencanangkan Man Management Astra sebagai fase kedua menuju excellence. Melalui pelatihan yang masif, program ini membentuk gaya manajemen Astra yang dicirikan oleh kepedulian yang seimbang pada pengembangan SDM dan kinerja bisnis. Dalam empat tahun pertama sebanyak 1.500 manajer Astra sudah mengikuti program ini.

    Serentak dengan itu Mamora juga terlibat dalam pengembangan Astra VSCL (Vision, Strategy, Culture, and Leadership). “Saya yakin jika kami mempunyai VSCL yang benar maka excellence akan mengikuti Astra”, tegasnya. Fase berikutnya, Mamora menata kantor pusat Astra. Peran kantor pusat dirumuskannya sebagai fasilitator bagi anak-anak perusahaan. Untuk itu program pengembangan eksekutif diselenggarakan sekaligus mengelompokkan para eksekutif itu dalam kategori A, B, dan C.

    Para manajer kelas A mendapat coaching yang sistematik dari sang CEO: Teddy Rachmat sendiri. Selanjutnya sistem manajemen informasi juga dibangun sehingga kantor pusat dapat memperoleh informasi terkonsolidasi khususnya keuangan dan SDM. Sistem ini juga memungkinkan seluruh manajer Astra dapat berkomunikasi satu sama lain di seluruh Indonesia. Mamora yang banyak dibantu konsultan asing ini melanjutkan transformasi Astra menuju fase selanjutnya: Perusahaan kelas dunia! Memasuki paruh kedua dekade 90-an, Astra bertekad menjadi global player. “Untuk itu kompetensi SDM kelas dunia harus dibangun. SDM Astra harus berbasis pengetahuan. Kita harus bergerak ke arah human capital management.

    Era buruh murah sudah usai. Untuk itu kita harus didukung dengan manajemen informasi yang andal serta penguasaan teknologi yang kuat. Selain itu jaringan global harus dibentuk sehingga sumber daya global dapat kita akses. Dan kita harus beraliansi dengan pemain-pemain global lainnya”, tegas Mamora selanjutnya. Dengan fondasi rapi berjenjang seperti di atas, tampaknya cuma langit yang menjadi batas pertumbuhan Astra saat itu. Namun krisis total 1997 membuat Astra bagai menunggangi roller coster bersama ribuan perusahaan lainnya.

    Tetapi Astra toh akhirnya selamat sentosa seperti digambarkan Buttler di akhir bukunya. Intinya, apa yang dibangun Mamora bersama kawan-kawannya tidaklah sia-sia. Fundasi yang bagus tetaplah modal terpenting mengarungi cobaan yang bagaimana pun beratnya. Kualitas fondasi itu merupakan faktor menentukan untuk dapat dengan cepat bangun mengko

  • Brand pribadi Anda

    Tejo menyusuri jalan Mahakam, yang dipandangannya merupakan sebuah boulevard, tempat ia dan teman-temannya melakukan ritual "nongkrong" di akhir pekan. Sambil ia terus berfikir kalau dia punya usaha nanti, dia harus membangun lingkungannya agar punya nama, agar produk yang ia jual juga ikut terangkat.
    Tejo sedikit berteori :

    "Buktinya..gultik...(gule-tikungan, bukan gule-tikus) itu, sebenarnya biasa-biasa saja, tapi namanya jadi terangkat oleh lingkungan anak dan lingkungan sini.Jadilah dia punya nama"

    Di depan SMU 6, dia bertemu dengan teman-teman barunya, yang menghabiskan separuh-senjanya dengan kongkow dan cuci mata melihat orang yang berlalu lalang. Tentunya ingin istirahat dari tekanan-perasaan yang mendera setelah 1 minggu bekerja dengan target yang dianggap terlalu memaksa.Pelayanan ditingkatkan, belanja biaya dikurangi dan tenaga kerja dibuat multi-skills.

    Sesungguhnya Tejo ingin cepat-cepat pulang ke kontrakannya yang mirip-kandang burung dara itu. Namun demi menghormati teman-temannya, dan berbasa-basi Tejo ikut bergabung di situ sebentar.
    Tak lama berselang Tejo pamit :
    "Ayo.....coi, semua. Gue cabut dulu...."
    (Hiks..hiks..Tejo tertawa sendiri, betapa dia memaksakan mengunakan bahasa gaul itu...
    Nggak ada pantes-pantesnya...)

    Rauf, temannya yang room-attendant itu menimpali :
    "Mau kemana sih Jo, buru-buru amat"
    "Pacar loe kagak gablek, ngapain lagi di rumah..."

    Tejo nyengir kuda, menanggapi ocehan teman-temannya. Dia langsung ke terminal bis. Hari ini, meski duitnya pas-pasan, Tejo sengaja memilih bis AC untuk mengantarkannya pulang.

    "Sekali-sekali lah naik bis AC....."
    "Naik metro-mini gak manusiawi...kalau naik....dituntun-tuntun....coba kalau turun...kaki baru sebelah jatuh ke tanah, bis sudah melaju kencang mengejar setoran"
    "Katanya Pak GM kondektur metro-mini itu tidak melakukan personalized-service...."

    Didalam bus AC, tejo memilih bangku 3, paling pinggir dekat jendela :
    "Biar nggak usah bayar arisan ke tukang-ngamen...and saya bisa bebas-melamun"

    Kepalanya disandarkan santai di jok yang sudah sobek disana-sini itu. Matanya dipejamkan.
    Kembali ia mengingat-ingat pesan dari Sang Konsultan yang konon berasal dari Raden Panji itu. Apa....pekerjaan adalah alasan logis bagi keberhasilan....?
    Nggak salah sih.....semua orang mau berhasil harus bekerja keras...

    Tiba-tiba dari HPnya ada sinyal SMS masuk .Dengan malas Tejo mebaca pesan singkat itu : "Hai..Mas Teddy agik ngape....lah pulang begawe ape lom..?" (Hai, Mas Teddy lagi ngapain, sudah pulang kerja atau belum..?)

    SMS dari Ivanka, adik kelasnya dulu waktu di SMU. Sekarang menjadi kekasihnya. Ivanka sekarang masih di Yogya, ambil jurusan Kedokteran Umum. Sedangkan Tejo sejak awal ingin cepat selesai kuliah, dia ambil diploma jurusan manjemen perhotelan.
    Namun di dalam penampilan Ivanka sangat perhatian sekali. Sampai-sampai panggilan Tejo itu Ivanka menolaknya.
    "Iya.....dirumah aku dipanggil oleh Bapak dan Ibu dengan Baskoro, kalau adikku memanggil Baskom."

    Ivanka mengeluhkan temannya yang memanggil Tejo dengan singkat "Jo", seolah disamakan dengan Bejo atau Paijo, "itu khan...nama-nama lama....konotasinya lain..".?

    Tejo menjelaskan kepada Ivanka:" nama Tejobaskoro itu pemberian orangtuaku. Meski aku lahir di tanah Melayu, aku sangat menghormatinya"
    Tejo artinya cahaya (awan) yang merah kekuning-kuningan kelihatan di kaki langit sebelah barat, ketika matahari terbenam.
    Baskoro artinya matahari.
    Berarti aku harus bersikap seperti matahari, namun sinarnya harus selembut dan seindah lembayung kemerahan diseling arakan mega.

    Ivanka tetap berkeras : Bagus seh...kalau dipanggil lengkap Te-ja-bas-ka-ra...Tapi kalau cuma "Jho.."
    "Nggak deh...aku panggil kamu Teddy, kalau panggilan singkatnya "Ted"....."

    "Sebetulnya aku tidak masalah dipanggil Teddy atau opo sak-karepmu..."
    "Cuma alasannya harus tepat........"
    "Bukankah kau calon dokter, coba deh berfikir yang generik saja........"
    "Sebenarnya terbalik yang harus banyak berfikir tentang brand adalah aku, yang sekolah di perhotelan........"

    Ivanka tak kalah keras dalam menggoalkan alasannya :
    Itu sebabnya Ted, sebelum terlanjur ke depan kau sia-siakan kesempatan.
    Coba susun masa depanmu sedini dan sedetail mungkin.

    Tejo tak habis fikir, apa hubungannya masa depan dengan panggilan.......
    "Saya sekolah, saya belajar, saya bergaul dan sedikit-sedikit belajar usaha......so what gitu lho......apa hubungannya dengan nick-name-ku...?

    Ivanka mengerling nakal dan berdiri sambil berkacak-pinggang. Lubang hidungnya dimekarkan. Terus berjalan kekanan dua langkah, balik kekiri tiga langkah.
    Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk keningnya, seolah mengingat-ingat sesuatu dengan keras.

    "Oh, ya.....aku ingat catatan Papaku tentang Brand "
    Pengarangnya saya tidak tahu, pokoknya itu hasil teman Papa seminar di Jakarta beberapa waktu silam."
    "Begini......

    "Brand pribadi Anda adalah sebuah pengenalan yang menimbulkan reaksi emosional pada orang lain tentang kualitas dan nilai pribadi Anda. Pengenalan itu adalah kualitas yang terbayang dalam pikiran orang lain saat mereka mengingat atau mendengar nama Anda.
    Sehingga bila Anda merancang brand pribadi Anda, Anda harus membangun pada pribadi Anda, nilai-nilai yang akan dirasakan oleh orang lain saat mendengar nama Anda."

    Tejo mengernyitkan keningnya : "Bukakah pesan itu ditekankan pada kualitas dan nilai pribadinya....."

    Ivanka merajuk dan menjelaskan lagi :
    "Mas Teddy apa salahnya sih.... membangun pribadi yang berkualitas dan bernilai sekalian dari luarnya seperti logo perusahaan, nama perusahaan, nah....nick-name juga harus dibangun sejak dini..."

    Akhirnya Teddy menyerah : "Yo...wis sak-karepmu...."
    Ivanka terus berceloteh : "Anda adalah produk Anda. Jangan biarkan orang lain mendefinisikan brand pribadi Anda. definisikan diri Anda sendiri. "

    Criiiiing......kos-ongkos..., suara pak kondektur membuyarkan lamunannya tentang Ivanka, seorang wanita yang sulit ditaklukkan olehnya.
    Tejo mengulurkan uang sepuluh ribuan dan menerima kembalian yang langsung dimasukkan kesaku celana jeansnya.
    Diteruskannya membalas SMS dari Ivanka tadi :

    "Lah....pulang. Suat-ne agik di jalen.....Vanka ape-bai kegiatan-ne malem minggu-ni "
    (Sudah pulang. Saat ini sedang di perjalanan...Vanka malam minggu kegiatannya apa saja)

    salam

  • Mwnghadapi orang yang "unik" dikantor

    Jika Anda menghadapi situasi seperti itu, cobalah renungkan dan pahami apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sekali Anda telah menyadari apa yang sedang terjadi, membiarkan diri berlama-lama berada dalam situasi sulit bukanlah pilihan yang tepat. Jangan sampai situasinya menjadi semakin tidak rasional sehingga membuat Anda marah dan sakit hati. Susan mengingatkan, alangkah jauh lebih baik menghadapi orang yang sulit selagi kita masih bisa bersikap objektif dan mengendalikan emosi.

    Lebih penting lagi, membiarkan diri terlibat dalam konflik berkepanjangan di tempat kerja, bukan hanya akan membuat Anda disalahkan karena dinilai "tidak becus menghadapi situasi layaknya seorang profesional dewasa". Lebih dari itu, salah-salah Anda bahkan bisa dicap sebagai "orang sulit" juga. Sekalinya Anda dicap begitu, maka sulit untuk menghapusnya dan berdampak buruk terhadap perkembangan karir Anda ke depan.

    Jadi, ketimbang situasinya menjadi terbalik, lebih baik Anda hadapi orang yang sulit di lingkungan kerja Anda sejak dini. Susan memberikan cara yang produktif untuk menghadapi mereka:

    1. Mulailah dengan bertanya pada diri sendiri. Yakinkah Anda bahwa masalahnya adalah orang lain, dan bukan Anda sendiri saja yang overacting?

    2. Diskusikan apa yang sedang Anda alami dengan teman atau kolega yang terpecaya.

    3. Dekati orang yang Anda anggap sumber masalah tersebut untuk diajak bicara dari hari ke hati.

    4. Tindak lanjuti pembicaran empat mata itu: apakah ada perubahan sikap? Apakah lebih baik? Atau, lebih buruk? Perlukah dilakukan pembicaraan lanjutan?

    5. Hadapkan orang yang sulit itu ke publik. Misalnya, sindir dia dengan humor yang halus sampai yang agak kasar.

    Jika kelima cara di atas tidak berhasil dengan baik, lakukan langkah berikut:

    1. Libatkan pihak lain. Termasuk, bicarakan dengan atasan. Catatlah bahwa masalahnya bukan lagi sebatas antarpribadi melainkan sudah menyangkut produktivitas kerja Anda yang terganggu. Blak-blalan saja pada bos, betapa sulitnya menghadapi orang tersebut.

    2. Kerja sama dengan karyawan lain yang punya masalah yang sama dengan orang tersebut. Tapi, hati-hati dengan pendekatan ini. Ingat selalu bahwa Anda ingin menyelesaikan masalah, dan bukannya sedang menggalang sekutu untuk menjatuhkan orang lain

    3. Jika pendekatan tersebut gagal membuahkan hasil yang menggembirakan, cobalah batasi akses orang yang sulit tersebut terhadap diri Anda.

    4. Pindah ke divisi lain. Tentu saja ini tergantung besar-kecilnya perusahaan tempat kerja Anda, tapi yang jelas Anda tak bisa lagi bekerja dengan orang yang sulit itu. Jadi, pindah bagian adalah pilihan mutlak.

    5. Bila hal itu tidak mungkin, cabut saja dari perusahaan tempat Anda bekerja. Sebab, Anda bukan orang yang sulit.

  • Key Performance Indicators (KPI)

    From F. John Reh

    How an organization defines and measures progress toward its goals
    Key Performance Indicators, also known as KPI or Key Success Indicators (KSI), help an organization define and measure progress toward organizational goals.

    Once an organization has analyzed its mission, identified all its stakeholders, and defined its goals, it needs a way to measure progress toward those goals. Key Performance Indicators are those measurements.

    What Are Key Performance Indicators (KPI)
    Key Performance Indicators are quantifiable measurements, agreed to beforehand, that reflect the critical success factors of an organization. They will differ depending on the organization. A business may have as one of its Key Performance Indicators the percentage of its income that comes from return customers. A school may focus its Key Performance Indicators on graduation rates of its students. A Customer Service Department may have as one of its Key Performance Indicators, in line with overall company KPIs, percentage of customer calls answered in the first minute. A Key Performance Indicators for a social service organization might be number of clients assisted during the year.

    Whatever Key Performance Indicators are selected, they must reflect the organization' s goals, they must be key to its success,and they must be quantifiable (measurable) . Key Performance Indicators usually are long-term considerations. The definition of what they are and how they are measured do not change often. The goals for a particular Key Performance Indicator may change as the organizations goals change, or as it get closer to achieving a goal.

    Key Performance Indicators Reflect The Organizational Goals
    An organization that has as one of its goals "to be the most profitable company in our industry" will have Key Performance Indicators that measure profit and related fiscal measures. "Pre-tax Profit" and "Shareholder Equity" will be among them. However, "Percent of Profit Contributed to Community Causes" probably will not be one of its Key Performance Indicators. On the other hand, a school is not concerned with making a profit, so its Key Performance Indicators will be different. KPIs like "Graduation Rate" and "Success In Finding Employment After Graduation", though different, accurately reflect the schools mission and goals.

    Key Performance Indicators Must Be Quantifiable
    If a Key Performance Indicator is going to be of any value, there must be a way to accurately define and measure it. "Generate More Repeat Customers" is useless as a KPI without some way to distinguish between new and repeat customers. "Be The Most Popular Company" won't work as a KPI because there is no way to measure the company's popularity or compare it to others.

    It is also important to define the Key Performance Indicators and stay with the same definition from year to year. For a KPI of "Increase Sales", you need to address considerations like whether to measure by units sold or by dollar value of sales. Will returns be deducted from sales in the month of the sale or the month of the return? Will sales be recorded for the KPI at list price or at the actual sales price?

    You also need to set targets for each Key Performance Indicator. A company goal to be the employer of choice might include a KPI of "Turnover Rate". After the Key Performance Indicator has been defined as "the number of voluntary resignations and terminations for performance, divided by the total number of employees at the beginning of the period" and a way to measure it has been set up by collecting the information in an HRIS, the target has to be established. "Reduce turnover by five percent per year" is a clear target that everyone will understand and be able to take specific action to accomplish.

    Key Performance Indicators Must be Key To Organizational SuccessMany things are measurable. That does not make them key to the organization' s success. In selecting Key Performance Indicators, it is critical to limit them to those factors that are essential to the organization reaching its goals. It is also important to keep the number of Key Performance Indicators small just to keep everyone's attention focused on achieving the same KPIs.

    That is not to say, for instance, that a company will have only three or four total KPIs in the company. Rather there will be three or four Key Performance Indicators for the company and all the units within it will have three, four, or five KPIs that support the overall company goals and can be "rolled up" into them.

    If a company Key Performance Indicator is "Increased Customer Satisfaction" , that KPI will be focused differently in different departments.

    read more ... http://hrfiles.blogspot.com

  • Tanpa DUIT

    Hanya kita hidup dalam dunia nyata, di mana semuanya diukur & diselesaikan dengan DUIT.
    Tanpa DUIT, saat ini kita tidak bisa apa-apa.
    Tanpa DUIT, bagaimana kita menolong yang butuh (miskin)?
    Tanpa DUIT (Anggaran), bagaimana pemerintah membantu miskin dan menyelenggarakan negara, sehingga pemerintah juga harus memungut PAJAK.
    Tanpa DUIT bagaimana MASYARAKAT membayar PAJAK?
    Tanpa DUIT, bagaimana roda perekonomian bisa jalan.
    Masalah yang dihadapi jika dihadapkan pada masalah MORALITAS & ETIKA, maka muncullah KESERAKHAN, KETIMPANGAN, DLL.
    Bagaimana mengurangi PENGANGGURAN? KEMISKINAN?
    Tanpa DUIT, semuanya tak bisa diselesaikan.
    Masyarakat sudah terlanjur dididik menjadi konsumen ysangat konsumntif.
    Lihat saja, acara-acara Hari Besar Keagamaan dijadikan ajang promosi besar-besaran di setiap stasiun TV dan Media lainnya.
    Kecuali semua punya komitmen, hidup sederhana, hidup seadanya, untuk memikirkan DUNIA MASA DEPAN pun, harus ada DUIT.
    Memang menjadi PARADOKS, di satu sisi, kita harus taat pada AGAMA, MORALITAS & ETIKA, di sisi lain dalam hidup sehari-hari kita dihadapkan pada perjuangan untuk mempertahankan hidup.
    Yang ideal memang harus seimbang.
    Mungkin harus mulai dari diri kita sendiri.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.