7 Langkah Kesabaran
Sebuah rumah gubuk kecil berdiri anggun di tanah pegunungan yang indah dan hijau. Di gubuk yang terpencil itu, tinggallah seorang kakek tua yang sangat terkenal karena kebijakasanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasehat si kakek tua itu. Suatu hari, datanglah seorang pria yang telah tiga hari lamanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di hadapan si kakek tua, pria itu memohon nasehat tentang bagaimana cara mengendalikan emosi yang tidak terkendali.
Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek tua nan bijak itu pun berkata, ”Anak muda, setiap kali engkau tersinggung atau terpancing untuk marah-marah, ingatlah Tujuh langkah kesabaran. Untuk itu, lakukanlah sebagai berikut melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju tujuh langkah, dan lakukan hal tersebut tujuh kali kali berturut-turut. Lakukan dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah engkau ambil keputusan bertindak."
Merasa mendapatkan nasihat bijak, pria itu pulang kembali ke desanya. Ia yakin sekali masalah emosi yang dideritanya pasti bisa terpecahkan. Tiga hari perjalanan kembali harus dia tempuh. Hari telah larut ketika ia sampai di rumah. Dengan pakaian yang lusuh, badan letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar istrinya. Di kepalanya, ia hendak meminta istrinya supaya menyediakan makan malam dan air hangat untuk mandi. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.
Demi melihat pemandangan menjijikkan itu, langsung amarahnya meluap tak tertahankan lagi. ”Kurang ajar! Baru ditinggal sebentar saja sudah berani menyeleweng...!” Tanpa berpikir panjang, pria itu mencabut belati dan hendak menghabisi keduanya. Tetapi, seketika itu juga dirinya teringat dengan nasehat si kakek tua yang bijak. Sambil tetap mengangkat tangan menghunus belati, pria itu mulai menjalankan nasihat si kakek. Ia melangkah sambil menghitung, mundur tujuh langkah, maju tujuh langkah. Kembali lagi dilakukan hingga hitungan ke tujuh kalinya, sampai akhirnya suara hitungan dan hentakan kakinya membangunkan sang istri.
Ketika istrinya menyingkap selimut, kagetlah pria itu karena mendapati orang yang tidur di samping istrinya ternyata adalah ibunya sendiri. Detik itu juga rasa syukur terucap dari mulutnya yang bergetar. Ia telah berhasil mencegah satu tindakan emosional dan bodoh. Seandainya saja kesabarannya tidak muncul di saat-saat yang genting tadi, mungkin orang-orang yang paling dicintainya itu telah mati di tangannya sendiri, dan hidupnya akan dirundung penyesalan sepanjang hayat.
Dear friends. Kesabaran adalah mutiara kehidupan yang pantas dan harus kita miliki! Saat kita berjuang tetapi belum berhasil, kita membutuhkan kesabaran. Kesabaran dalam perjuangan bisa pula diartikan sebagai suatu keuletan, ketekunan, atau mental tahan banting. Ketika menghadapi orang lain yang sedang emosi, kita pun butuh kesabaran. Saat kita sendiri sedang marah, kita pun perlu rem atau kesabaran. Kesabaran dalam konteks tersebut berarti suatu kematangan mental untuk mampu menahan diri dan mengendalikan sikap-sikap kita supaya tidak terjerumus pada tindakan-tindakan irasional yang merugikan.
Kesabaran merupakan ilmu hidup yang harus kita miliki jika kita ingin meraih sukses sejati. Tanpa kesabaran, kita akan mudah terjebak dalam komunikasi negatif dan sulit menjalin hubungan sosial yang konstruktif. Tanpa kesabaran kita cenderung mudah melakukan tindakan-tindakan tak terkendali yang mengundang penyesalan di kemudian hari. Sebaliknya, melatih kesabaran berarti memperkecil kemungkinan penyesalan. Jadi, saat emosi menguasai kita, ingatlah ren 7 pu , tujuh langkah kesabaran.
PERAN DISIPLIN DALAM KEPEMIMPINAN
Dalam sejarah ahli strategi perang Sun Tzu diceritakan sebuah episode di mana sang jenderal perang ini ingin membuktikan keefektifan sebuah kepemimpinan dikaitkan dengan kedisiplinan dan ketegasan. Dalam kisah tersebut digambarkan Sun Tzu bermaksud melatih kedisplinan sekitar 180 wanita istana. Sun Tzu mengajarkan rasa disiplin dengan melatih mereka cara baris berbaris. Namun perintah Sun Tzu diabaikan oleh seluruh wanita yang dilatihnya. Ini akibat ulah dua gundik Raja Ho Lu yang dijadikan pemimpin barisan yang tidak mau melaksanakan perintahnya. Demi menegakkan wibawa dan kepemimpinannya, Sun Tzu mengambil langkah yang sangat tegas. Ia memerintahkan supaya dua gundik istana itu dihukum penggal kepala di hadapan wanita-wanita yang mengabaikan perintahnya.
Raja Ho Lu pun terkesima dengan ketegasan Sun Tzu yang berani memerintahkan untuk memenggal kepala dua gundik kesayangannya. Sun Tzu menjalankan ketegasan itu demi tegaknya wibawa dan efektifitas kepemimpinan seorang Panglima Perang. Ia buktikan, disiplin harus diteggakkan sekalipun harus bertentangan dengan kehendak Raja.
Dalam dialog dengan Raja junjungannya tersebut, Sun Tzu menegaskan, "Maju tanpa mengharapkan pahala, mundur tanpa takut dihukum." Inilah gambaran totalitas seorang Panglima Perang dalam melaksanakan tugas junjungannya. Dia sangat tegas dan sangat berani. Dia menunjukkan profesionalisme yang tinggi serta wibawa sebuah jabatan di mata pelaksana perintah. Perintah seorang Panglima perang adalah hukum yang harus dilaksanakan dengan disiplin yang keras.
Dalam pemikiran Sun Tzu, kepemimpinan harus mencakup lima sifat, yaitu kearifan, ketulusan, kebapakan, keberanian, dan ketegasan. Kearifan berarti kemampuan mengenali perubahan keadaan dan bertindak tepat.
Ketulusan berarti kemampuan untuk bisa dipercaya sepenuhnya oleh bawahan. Kebapakan berarti memiliki kemampuan human relationship. Keberanian berarti memiliki kepastian dan keteguhan dalam mengambil keputusan atau bertindak. Dan ketegasan berarti kemampuan menegakkan kedisiplinan yang mendatangkan rasa hormat.
Apa yang ditunjukkan oleh kisah Sun Tzu itu adalah sebuah kualitas kepemimpinan yang efektif, di mana sifat keberanian dan ketegasan dalam menegakkan hukum serta kedispilinan menjadi fondasi utamanya.
Hukum tidak akan jalan tanpa kedisiplinan. Jika hukum tidak jalan, maka wewenang dan kekuasaan juga macet. Kekuasaan yang macet membuat siapa pun yang berkuasa tidak memiliki wibawa, tidak bisa menjalankan fungsinya, dan akhirnya ditinggalkan oleh pengikutnya. Inilah kehancuran sebuah kepemimpinan.
Masalah penegakan hukum dan kedisiplinan ini sangat vital peranannya. Tidak saja di militer, tetapi juga di seluruh bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedisiplinan adalah jantung kehidupan sebuah bangsa. Bangsa yang tidak memiliki kedisiplinan akan hancur. Sebab tanpa kedisiplinan, hukum tidak bisa ditegakkan. Bagaimana masalah kedisiplinan ini mempengaruhi runtuh atau tegaknya sebuah bangsa, kita akan bahas pada kesempatan berikutnya.
Friday, April 20, 2007
LUMPUR LAPINDO , Kapankah Berakhir ?
Sudah sepuluh bulan lebih sejak 29 Mei 2006, lumpur panas menggenangi sebagian wilayah Sidoarjo. Dengan kisaran semburan lumpur panas 5.000 m3/hari, prediksi sampai kapan semburan akan berakhir masih kabur. Masyarakat sekitar maupun korban, tetap diliputi perasaan harap-harap cemas akan masa depan mereka. Sementara itu, proses penanganan bencana, makin hari kian tidak prospektif. Hingga saat ini pemerintah (Timnas) bersama PT. Lapindo sudah sampai pada alternatif terakhir penanggulangan banjir lumpur tersebut.
Jika sudah seperti itu, kepada siapa lagi publik menyandarkan keluhannya? Kondisi tersebut jelas menambah beban masyarakat sekitar dan korban. Pasalnya rakyat sebenarnya sudah bosan dengan segala kesemerawutan yang dilakukan pihak yang bersangkutan. Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa mewarnai proses penyumbatan sumber kebocoran tersebut. Belakangan ini lagi-lagi kita temui aksi massa (penduduk Perum TAS) yang menuntut pihak-pihak terkait untuk menuruti kemauan mereka yang terus hidup dalam kecemasan tertimbun lumpur. Bahkan aksi mereka menjurus pada tindakan yang nyaris anarkis, seperti pendudukan kantor Pemkab/DPRD atau pemblokiran jalan, dan ungkapan kekesalan lainnya. Artinya rakyat telah mencapai titik kulminasinya. Pelbagai peristiwa yang datang beruntun seperti membuat masyarakat kita “sakit”. Tatanan norma pun terancam chaos. Akibatnya situasi yang anomik seolah tinggal menunggu waktu. Pada tingkat minimal, jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, bisa menggiring pada terciptanya konflik horizontal.
Berangkat dari pemaparan diatas, muncul satu pertanyaan. Apa yang sebaiknya dilakukan? Dan elemen-elemen masyarakat yang mana yang seharusnya berpartisipasi dalam proses “penyembuhan” tersebut? Lalu bagaimana?
Ralf Dahrendorf (1958), memperkenalkan satu model penangkal konflik yang ia sebut dengan Imperatively Coordinated Association (ICA). Model dari sudut pandang Dahrendorf ini menyatakan bahwa pelembagaan di dalam masyarakat melibatkan kontribusi dari organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. Organisasi-organisasi ini dibentuk oleh hubungan-hubungan kekuasaan antara beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada di dalam masyarakat. Dimana kekuasaan itu menunjukkan adanya faktor paksaan oleh suatu kelompok atas kelompok lain yang menjadikan hubungan kekuasaan di dalam ICA itu mempunyai legitimasi (Bustami R, Harry Y: 2004). Dengan demikian, ketertiban sosial bisa dijaga dan dipelihara oleh proses-proses yang menciptakan hubungan otoritas di dalam berbagai tipe kekuasaan dari ICA yang hidup dalam seluruh batang tubuh sistem sosial itu.
Konsep ini berusaha mencegah konflik dengan cara pelembagaan terhadap organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. Tidak peduli apakah organisasi atau kelompok-kelompok itu kecil atau besar, asalkan organisasi tersebut merupakan representasi dari hubungan kekuasaan antara beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada di dalam masyarakat, yang mampu memerankan kekuasaan tersebut secara leluasa dalam proses interaksi sosial sehari-hari. Berarti, penanganan potensi konflik akan melibatkan peran kelompok-kelompok yang dianggap punya otoritas dan mendapat legitimasi untuk menjalankan kekuasaannya di dalam masyarakat. Dalam konteks kali ini, pihak-pihak yang berkompeten adalah pemerintah (baik pusat maupun daerah) sebagai pemegang otoritas formal dan para pemuka adat (tokoh masyarakat) sebagai representasi otoritas kultural, serta PT. Lapindo sebagai kunci utama bencana ini. Dari situlah mereka harus mampu melembaga secara harmonis di dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks ini, pemerintah diharapkan bisa bertindak cepat dengan cara mengeluarkan keputusan-keputusan yang tepat dan akurat selama proses penanggulangan bencana, serta melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya tidak kontradiktif dengan keadaan di lapangan. Di lain pihak, para tokoh masyarakat juga diharuskan tetap mampu mengontrol keadaan umatnya agar tidak berulah destruktif. Sementara PT. Lapindo memegang peranan sebagai penyedia kebutuhan logistik para pengungsi dan penanggungjawab pemberian kompensasi ganti rugi material yang tidak bisa ditawar lagi.
Dengan kata lain, keberhasilan pengendalian konflik model ini sangat tergantung dari kinerja masing-masing pemegang otoritas dan peraih legitimasi -sebagai kalangan yang berwenang terlibat dalam proses penanganan bencana- di masyarakat tersebut. Memang tidak ada yang menjamin jika model pencegahan konflik seperti ini bisa diterapkan sepenuhnya dalam situasi seperti saat ini, mengingat kondisi masyarakat sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap pihak-pihak yang akan terlibat dalam ICA tersebut. Namun paling tidak langkah ini merupakan bentuk tindakan mitigasi (preventif pencegahan) terjadinya bencana baru, atau sebentuk alternatif solusi pencegahan yang harus segera dilakukan agar peristiwa bencana sosial (kekacauan/konflik) tidak meluas dan bertambah parah.
CS Itu Pekerjaan Mulia
CS pertama Auto 2000 bersama "sang jendral" Sandi Prajitno
Sekilas chatting dengan Aa . . . . .
Aa_online : Assalamualaikum …
Djodi Ismanto : Waalaikumsalaam …
Djodi Ismanto : Aa .. lama gak online nih, … kemana aja ?
Aa_online : Ah … Aa mah disini aja, Kang Djodi kumaha damang?
Djodi Ismanto : Baik A, kumaha bulan madu?
Aa_online : Ah, eta deuy, eta deuy … hehehe …
Djodi Ismanto : Sori A, habis kaget nih Aa nikah lagi
Aa_online : Aduh kenapa atuh musti kaget segala. Kan berpoligami teh diijinkan Allah.
Djodi Ismanto : Diijinkan lho A, bukan diwajibkan
Aa_online : Betul. Hukumnya sunnah.
Djodi Ismanto : Kenapa sih Aa, nikah lagi?
Aa_online : Aduuh ini lagi pertanyaanya … Kumaha nya ngajawabnya?
Djodi Ismanto : Apa ada yg kurang dari Teteh?
Aa_online : Wah, insya Allah bukan karena itu, Teteh itu wanita yang sangat luar biasa.
Djodi Ismanto : Ya sok udah lah A , Saya cuma mau nanya tentang Pelayanan ( Customer Service ) dilihat dari sudut Islam ?
Aa_online : Begini ya , Nabi Muhammad itu orang yang benar - benar menganut . . aduh lupa naon eta . . . Customer Satisfaction , beliau benar - benar tulus dalam melayani mulai dari istri - istri beliau , umat beliau dan lain - lain.
Mulai dari urusan rumah tangga , beliau tidak pernah atuh merepotkan istrinya , semua yang bisa dikerjakan beliau pasti kerjakan , istilahnya ya menurut Aa , Nabi kita itu ringan tangan.Beliau selalu memudahkan urusan , meringankan masalah . . bukan begitu ilmu CS Kang Djodi ?
Djodi Ismanto : Jadi A , CS itu berarti tugas mulia dong karena dengan membantu , memudahkan serta membuat orang lain senang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad.
Aa_online : Nuhun , betul sekali itu , jadi ngga usah setengah - setengah dalam ber CS ya , karena dalam Islam pun itu masuk tugas yang mulia.
Djodi Ismanto : Jadi sunnah kalo kita ber CS , begitu ya A.
Aa_online : Insya Allah segala yang kita ikuti tentang Sunnah Rasul itu akan berkah , betul tidak ?
Djodi Ismanto : Termasuk yang polygami eta A .
Aa_online : Hus , eta mah lain masalahnya , Kumaha yeuh Kang Djodi eta deuy - eta deuy nu di bahas.
Djodi Ismanto : Ngomong – ngomong ini Aa Gym sekarang ada di Darut Tauhid – Bandung khan ?.
Aa_online : Ah , kumaha atuh , ini teh . . . .Aa Noer , . . . ini Noerhedi , kawan kamu dulu , saya kan dulu CS cordinator Auto 2000 Soekarno Hatta – Bandung . . . . .
Djodi Ismanto : Euleuh – euleuh kumaha yeuh , saya kira dari tadi mah Aa Gym yang dari Bandung . . . . . .Ya udah ya Aa Noer , hatur nuhun atuh atas penjelasannya tentang ilmu CS nya . , Wassalammualaimum wr.wb.
Aa_online : Walaikum salam wr.wb , sami - sami atuh , salam sama keluarga ya.
RAHASIA DOA YANG TERKABUL
Doa, adalah suatu kata yang sudah sangat kita kenal, bahkan mungkin kita sudah mengetahuinya sejak kita berada di dalam kandungan ibu.
Doa juga selalu menjadi pegangan setiap orang di kehidupan ini, dan memang seharusnya demikian adanya. Kita tidak mungkin melupakan doa di dalam hidup kita.
Tetapi, ada sebagian dari kita ini, yang merasa bahwa doa yang dia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kok tidak pernah dikabulkan. Padahal mereka ini selalu berdoa di setiap langkah kehidupannya.
Pasti di setiap doa kita, selalu meminta kepada Tuhan...rejeki yang melimpah, agar kita bisa hidup enak dan bahagia. Dan, ternyata itu tidak pernah terjadi. Mengapa?
Masih banyak orang yang merasa, bahwa betapa sulitnya mereka mencari rejeki untuk kehidupannya sendiri. Sangat banyak diantara kita, yang kebingungan mencari cara untuk memperoleh rejeki. Bekerja dengan sangat keras, semata-mata untuk mendapatkan uang dalam jumlah banyak, tetapi tetap saja hanya memperoleh sangat sedikit, atau bahkan tidak mendapatkannya sama sekali.
Yaa, mereka inilah yang seringkali merasa "dianaktirikan" oleh Tuhan, karena kok doa mereka tidak pernah dikabulkan Tuhan.
Dalam hal ini, saya sekedar ingin mengingatkan kepada kita semua, termasuk juga diri saya sendiri; bahwa sebenarnya Tuhan selalu mengabulkan doa setiap manusia, dengan melalui 3 (tiga) cara, yaitu:
1. Doa yang secara langsung dikabulkan:
Ini bisa langsung dinikmati oleh orang yang berdoa, diberikan Tuhan sesuai dengan apa yang didoakan tersebut. Ini biasanya doanya para ulama/kyai, wali Tuhan, nabi, dan rasul.
2. Doa yang dikabulkan dengan cara digantikan:
Keinginan doa tersebut, diganti oleh Tuhan dengan suatu hal yang pasti lebih baik. Misalnya, orang berdoa untuk memperoleh uang banyak, dan doanya diganti oleh Tuhan dengan menyelamatkannya dari marabahaya yang mengancam jiwanya.
3. Doa yang dikabulkan dengan cara digantungkan:
Inilah sebenarnya doa yang dikabulkan untuk sebagian besar umat manusia, termasuk kita semua yang merasa sebagai manusia biasa. Doa yang digantungkan, artinya adalah, bahwa doa yang kita panjatkan kepada Tuhan tersebut "sudah dikabulkan oleh Tuhan", tetapi dalam kondisi "masih menggantung di atas", yang harus kita raih jika kita ingin segera mendapatkan hasil dari doa kita.
Istilah "digantungkan" ini, memberikan pemahaman bagi setiap orang, bahwa diperlukan suatu upaya semaksimal mungkin dari diri kita masing-masing; untuk meraih "yang digantungkan tersebut". Jika kita tetap berusaha dengan gigih, fokus, pantang menyerah dan selalu bersemangat positif, maka niscaya akhirnya doa kita pasti bisa kita dapatkan. Setinggi apapun Tuhan menggantungkan "doa yang telah dikabulkan-Nya", pasti kita dapat meraihnya, jika kita punya kemauan dan keuletan dalam berusaha meraihnya.
Pemahaman tentang terkabulnya setiap doa kita, seperti uraian saya di atas adalah sangat penting. Jika Anda sudah memahami, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa selalu mengabulkan doa yang kita panjatkan ke Dia, maka kita tidak akan mudah menyalahkan Tuhan. Sebaiknya kita "introspeksi diri", sejauh mana kita sudah berusaha meraih doa-doa kita sendiri tersebut.
RANTAI GAJAH
Mengapa seseorang diciptakan memiliki dua buah mata dan keduanya menghadap ke depan? Dalam sebuah milis, pertanyaan itu dijawab bahwa karena Tuhan tidak ingin kita terlalu sering melihat ke belakang. Karena seringkali masa lalu terus menghantui, sehingga apapun yang ingin kita lakukan akan selalu teringat tentang kegagalan masa lalu dan membuat kita tidak berani melanjutkan tindakan. Padahal mungkin tindakan yang akan dilaksanakan tersebut dapat memperbaiki kehidupan, meningkatkan karir, membahagiakan keluarga atau diri sendiri.
Memang orang bilang bahwa pengalaman harus dijadikan guru yang sangat baik dan kita harus belajar dari pengalaman. Tetapi buat saya justru pengalaman termasuk guru yang buruk, karena dia membuat kita jatuh dulu, berdarah-darah dulu, baru mengajarkan sesuatu kepada kita.
Yang lebih parah adalah ketika pengalaman buruk kita menjadi rantai gajah. Seekor gajah seringkali dirantai di salah satu kaki belakangnya ketika mulai remaja. Karena saat itu gajah masih sulit diatur tetapi sudah mulai memiliki tenaga yang cukup besar. Rantai tersebut biasanya juga dikaitkan pada sebuah tiang besar sehingga gajah hanya akan bisa bergerak sebatas radius rantai antara kaki belakangnya dengan tiang besar.
Bila akan dilakukan latihan terhadap gajah, maka rantai dilepas. Setelah selesai rantai akan dipasang kembali. Begitu terus sehingga gajah menjadi dewasa dan lebih mudah dikendalikan dengan perintah suara dari pelatih atau pawangnya, baru rantai itu dilepas.
Apa yang terjadi dengan sang gajah? Dalam waktu yang cukup lama, gajah itu hanya bergerak sejauh jarak rantai kakinya selama ini. Dia sudah menjadi sangat terbiasa untuk hanya bergerak sebatas yang selama ini dia lakukan. Tidak berani melangkah lebih jauh dari batas rantainya selama ini.
Begitulah yang terjadi bila masa lalu masih terus mengikat Anda untuk tidak berani melangkah terlalu jauh, bila Anda tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Anda akan seperti gajah yang dirantai kakinya sejak kecil.
Anda mungkin pernah berbuat salah. Kesalahan itu bahkan mungkin sangat besar. Anda mungkin sangat menyesali kesalahan yang pernah Anda lakukan. Bahkan mungkin ada orang yang menjadi korban dari kesalahan Anda.
Pertanyaan yang perlu Anda ajukan pada diri sendiri; Apakah Anda sudah minta maaf pada korban kesalahan Anda? Apakah Anda sangat yakin bahwa kesalahan tersebut tidak akan terulangi lagi?
Sangat susah untuk menjawab ya bagi dua pertanyaan itu. Susah untuk menyatakan bahwa kita telah minta maaf pada korban kesalahan. Karena jauh lebih mudah mengakui dalam hati bahwa kita telah berbuat salah dibanding mengakui secara terang-terangan bahwa kita telah bersalah, apalagi bila harus minta maaf kepada orang yang menjadi korban kesalahan kita.
Yakin tidak mengulangi? Pernah Anda coba tips untuk menuliskan semacam diary, setiap kesalahan yang kita lakukan untuk ke dua kali, ke tiga kalinya dan seterusnya? Maksud saya ketika sebuah kesalahan Anda lakukan, kemudian Anda ingat bahwa kesalahan sejenis pernah Anda lakukan sebelumnya, maka saat kesalahan itu Anda ulangi maka Anda tuliskan di diary Anda. Ketika kesalahan itu Anda ulangi lagi kemudian, Anda tetap tulis lagi di diary Anda.
Dengan demikian diary khusus ini hanya berisi catatan kesalahan yang pernah Anda ulangi saja. Kemudian coba hitung ada berapa kesalahan yang pernah Anda lakukan hingga tiga kali atau lebih? Lalu Anda cari solusi agar menahan Anda untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.
Misal, Anda sering telat datang ke rapat di tempat kerja Anda. Setiap kali telat, catatlah di diary hingga ke tempat rapat dan berapa lama Anda telat, serta penyebab keterlambatan Anda. Catatan yang menunjukkan penyebab keterlambatan Anda, akan membuat Anda mampu menahan diri untuk tidak mengulangi keterlambatan hadir. Bila tetap saja Anda tidak mampu, paling tidak Anda punya informasi jelas bahwa Anda tidak mungkin bisa hadir tepat, karena itu mengapa tidak minta rapatnya yang diundur.
Baik, sekarang Anda sudah mendapatkan gambaran bagaimana menghalangi diri sendiri dari mengulangi kesalahan yang sama. Sehingga Anda sudah cukup yakin untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Anda juga sudah dengan ringan hati mengakui kesalahan yang Anda lakukan dan berhasil meminta maaf pada korban kesalahan Anda tersebut. Lalu mengapa Anda masih menjadi gajah?
Tetapi orang yang menjadi korban kesalahan saya tidak bersedia memaafkan kesalahan saya, tidak mau menerima saya kembali menjadi sahabatnya, rekan bisnisnya, suaminya, atau apa saja hubungan Anda selama ini dengan dia? Lalu?
Kok lalu?
Ya, memang apa masalah Anda bila dia tidak bersedia menjalin hubungan kembali dengan Anda seperti dulu? Tidak ada masalah kan? Selain diri Anda, dia toh bukan satu-satunya orang yang hidup di dunia ini. Ada 6 milyar orang yang hidup di dunia ini. Ada lebih dari 250 juta orang yang hidup di Indonesia. Berapa orang yang hidup di provinsi tempat Anda tinggal? Berapa orang yang hidup di kota tempat Anda tinggal? Pasti ada lebih dari 100 ribu orang. Lalu mengapa Anda merepotkan hubungan dengan dia? Anda sudah yakin bahwa Anda tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, Anda juga sudah minta maaf atas kesalahan Anda. Jadi apakah seorang itu lebih berarti dari 100 ribu orang lebih yang ada di kota tempat Anda tinggal? Bahkan dia lebih berarti dari Pak atau Bu Walikota? Yang benar aja.
Tidak perlu pula Anda melakukan hal yang dapat membuat dia rugi, bangkrut, hancur karir atau kehidupannya. Semakin Anda berusaha menghancurkan dia, semakin Anda menunjukkan bahwa Anda bukan orang yang punya harga diri - bukan orang yang punya kebanggaan. Biarkan saja dia hidup dengan caranya sendiri. Sementara Anda hanya perlu meneruskan hidup Anda, bergaul dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain, berbisnis dengan orang lain.
Jadi setelah Anda tahu bahwa hidup Anda begitu berharga, mengapa Anda harus terbebani dengan masa lalu. Dengan orang-orang dari masa lalu. Anda jelas-jelas bukan seekor gajah yang hanya mau melangkah sebatas rantai yang membelenggu Anda, bahkan ketika rantai gajah sudah dilepas. Anda bukan gajah, atau Anda memang ingin menjadi gajah?
Thursday, April 19, 2007
K O P I
Tahukah Anda?
Anda suka minum kopi? Ternyata, awalnya kopi ditemukan tanpa sengaja oleh seorang Arab bernama Khalid. Waktu itu, kambing peliharaannya memakan sebuah biji sejenis berry dan tiba-tiba berubah jadi lebih lincah dan bersemangat. Melihat kejadian itu, Khalid mencoba merebus biji itu dan jadilah kopi pertama di dunia. Tapi, kopi sebenarnya lebih dikenal sejak beberapa sufi meminum kopi agar tetap bisa terjaga guna melaksanakan perayaan tertentu. Di akhir abad ke-15 kopi mulai menyebar dari Mekah ke Yaman hingga Venice Itali. Kemudian, akhirnya pada tahun 1652 dibawa ke Inggris oleh seorang Turki bernama Pasqua Rosee yang akhirnya membuka kedai kopi pertama di dunia di Lombard Street London.
CUSTOMER SATISFACTION
CS Gathering PT. Astra International , Toyota Sales Operation
Customer Satisfaction
" Memberikan pelayanan lebih dari hal yang diharapkan pelanggan merupakan
kunci sukses suatu interaksi atau bisnis."
Seperti biasanya pagi hari saat perjalanan menuju kantor dari daerah rumah di kawasan Johor - Medan , saya selalu mencari koran nasional yang juga terbit di Medan.
Biasanya saya beli dari pengecer di daerah lampu merah Simpang Titi Kuning ( Deli Tua ) kearah Tanjung Morawa Medan , bukannya ngga mau berlangganan ke agen koran yang note bene harganya lebih murah , namun pelayanan serta service yang diberikan si pengecer koran membuat saya tidak bisa berpaling hati darinya.
Seperti kebiasaannya yang sudah – sudah , ia selalu hapal nomor polisi , serta kebiasaan antri mobil saya di lajur 2 lampu merah.
"Selamat pagi Pak , ini korannya" sementara ia sigap melihat uang yang saya sodorkan , untuk segera memberi kembalian sesuai dengan jumlah yang harus diberikannya , tidak lupa dia kemudian berkeliling mobil saya dan segera menginformasikan kalau ada yang kurang beres , ban yang agak kempes atau lampu rem yang cuma menyala sebelah.
Sangat hebat untuk seorang pengecer koran di lampu merah.
Namun pagi hari ini sangat luar biasa sekali , setelah memberikan kembalian pembayaran dari saya , dia langsung lari kepinggir jalan , kemudian dia kembali lagi membawa karung kecil.
“ Pak , ini untuk Bapak dan keluarga dirumah , rambutan di kebun saya di Binjai sedang panen “, katanya sambil tersenyum. Agak terperanjat saya mendengarnya , lalu dia berkata lagi “ Semua pelanggan saya juga kebagian kok “ katanya sambil menunjuk tumpukan karung buah rambutan yang ia tumpuk dipinggir jalan.
Belum lagi saya mengucapkan terimakasih karena masih terbengong - bengong , dia sudah menyambut pelanggan lain dan melakukan lagi hal yang sama seperti diatas.
Dari penjual koran eceran di lampu merah kota Medan , saya mendapatkan ilmu luar biasa tentang Customer Satisfaction dan Marketing , yang mungkin secara teori otak kita sudah dapat banyak pelatihan , training , seminar serta gathering tentang CS , sementara hati kita belum juga bergerak melaksanakannya.
Itulah sebabnya untuk berlangganan koran saya belum berpaling ke lain hati.
Regards,
DJODI ISMANTO
Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian
From nice city of Medan
8 ETOS PENDONGKRAK GAIRAH KERJA
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai
pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa
mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
“5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan
ngeyel.
Punya masalah dengan semangat kerja? Jangan gundah
gulana, Anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang
punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada
solusinya!
Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya
melorot. “Itu lumrah,” kata Jansen Sinamo, ahli
pengembangan sumber daya manusia dari Institut Darma
Mahardika, Jakarta. Meski lumrah, “impotensi” kerja
harus diobati.
Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen,
dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu
motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja.
Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja
dalam konsep yang ia sebut sebagai “Delapan Etos Kerja
Profesional”. Sejak 1999, ia aktif mengkampanyekan
gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.
Etos pertama: kerja adalah Rahmat.
Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai
kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat
dari ALLAH. Anugerah itu kita terima tanpa syarat,
seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya
sepeser pun.
Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja
adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda
kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman
dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan
wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah
yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita
merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.
Etos kedua: kerja adalah Amanah.
Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri,
atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga
mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri
menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima
amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja
sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya
korupsi dalam berbagai bentuknya.
Etos ketiga: kerja adalah Panggilan.
Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua
adalah darma. Seperti darma Yudistira untuk membela
kaum Pandawa. Seorang perawat memanggul darma untuk
membantu orang sakit. Seorang guru memikul darma untuk
menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis
menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang
kebenaran kepada masyarakat. Jika pekerjaan atau
profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap
pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu
kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita
kurang baik mutunya.
Etos keempat: kerja adalah Aktualisasi.
Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli
hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang
membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara
terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat
kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh
lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa
pekenjaan.
Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari
kebutuhan psikososial manusia. Dengan bekerja,
misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa
pede ketika berjumpa koleganya. “Perkenalkan, nama
saya Miftah, dari Bank Kemilau.” Keren ‘kan?
Etos kelima: kerja itu Ibadah.
Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua
pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini
pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara
ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti
ini:
Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu
berbulan-bulan untuk mengukir sebuah puncak tiang yang
tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat dilihat
langsung oleh orang yang berdiri di samping tiang.
Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah
membuat ukiran indah di tempat yang tak terlihat? Ia
menjawab, “Manusia memang tak bisa menikmatmnya. Tapi
ALLAH bisa melihatnya.” Motivasi kerjanya telah
berubah menjadi motivasi transendental.
Etos keenam: kerja adalah Seni.
Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun,
semua adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita
bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi.
Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang
fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia
keberhasilannya meraih penghargaan sains paling
begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati
pekerjaannya.
“Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja
berbulan-bulan di laboratorium yang sepi,” katanya.
Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah seni. Bahkan
ilmuwan seserius Einstein pun menyebut rumus-rumus
fisika yang njelimet itu dengan kata sifat beautiful.
Etos ketujuh: kerja adalah Kehormatan.
Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah
kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik,
maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang
kepada kita.
Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta
Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja
(menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang
serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah
kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum. Semua
novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.
Etos kedelapan: kerja adalah Pelayanan.
Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan
penjaga mercu suar, semuanya bisa dimaknai sebagai
pengabdian kepada sesama.
Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang
lelaki tua sebatang kara karena ditinggal mati oleh
istri dan anaknya. Bagi kebanyakan orang, kehidupan
seperti yang ia alami mungkin hanya berarti menunggu
kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah
Cavennen, sebuah daerah yang sepi. Sambil
menggembalakan domba, ia memunguti biji oak, lalu
menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang
membayarnya. Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal
dalam usia 89 tahun, ia telah meninggalkan sebuah
warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km!
Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus
menjadi subur. Semua itu dinikmati oleh orang yang
sama sekali tidak ia kenal.
Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai
pada Mak Eroh yang membelah bukit untuk mengalirkan
air ke sawah-sawah di desanya di Tasikmalaya, Jawa
Barat. Juga pada diri almarhum Munir, aktivis Kontras
yang giat membela kepentingan orang-orang yang
teraniaya.
“Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan
dilengkapi keinginan untuk berbuat baik,” kata Jansen.
Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut dengan istilah
rahmatan lii alamin (rahmat bagi sesama).
Pilih cinta atau kecewa
* Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas
itu bersumber pada kecerdasan emosional spiritual. Ia
menjamin, semua konsep etos itu bisa diterapkan di
semua pekerjaan.
“Asalkan pekerjaan yang halal,” katanya. “Umumnya,
orang bekerja itu ‘kan hanya untuk nyari gaji. Padahal
pekerjaan itu punya banyak sisi,” katanya.
Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga
mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 -
40 tahun untuk bekerja. Setelah itu pensiun, lalu
manula, dan pulang ke haribaan ALLAH. “Manusia itu
makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk apa
menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu ‘kan waktu
yang sangat lama,” tambahnya.
Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias
pada pekerjaan. Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai
dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan
terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan
aturan kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan.
Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena
belum mendalaminya dengan benar. “Kita harus belajar
mencintai yang kita punyai dengan segala
kekurangannya,” kata sarjana Fisika ITB yang lebih
suka dengan dunia pelatihan sumber daya manusia ini.
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai
pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa
mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
“5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan
ngeyel. Jansen mengutip filsuf Jerman, Johann Wolfgang
von Goethe, “It’s not doing the thing we like, but
liking the thing we have to do that makes life happy.”
“Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan
banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak
punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya
saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu
duri,” ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos
ini.
Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai
macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak
menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih
banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa
untuk menjadi lebih berdaya tahan.
Bukan gila kerja
* Dalam urusan etos kerja, bangsa Indonesia sejak dulu
dikenal memiliki etos kerja yang kurang baik.
Di jaman kolonial, orang-orang Belanda sampai menyebut
kita dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas.
Ini berbeda dengan, misalnya, etos Samurai yang
dimiliki bangsa Jepang. Mereka terkenal sebagai bangsa
pekerja keras dan ulet.
Namun, Jansen menegaskan, pekerja keras sama sekali
berbeda dengan workaholic. Pekerja keras bisa
membatasi diri, dan tahu kapan saatnya menyediakan
waktu untuk urusan di luar kerja. Sementara seorang
workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen, kondisi
kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua
pihak. Bukan hanya bawahan, tapi juga atasan.
Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja
keras, sementara ia sendiri secara tidak sengaja
melakukan sesuatu yang melunturkan semangat kerja
bawahan. Jansen memberi contoh, atasan yang mengritik
melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi tak pernah
memujinya jika ia menunjukkan prestasi.
Secara manusiawi hal itu akan menyebabkan bawahan
kehilangan semangat bekerja. Buat apa bekerja keras,
toh hasil kerjanya tak akan dihargai. Ingat, pada
dasarnya manusia menyukai reward.
Konosuke Matsushita, pendiri perusahaan Matsushita
Electric Industrial (MET) punya teladan yang bagus.
Pada zaman resesi dunia tahun 1929-an, pertumbuhan
ekonomi Jepang anjiok tajam. Banyak perusahaan mem-PHK
karyawan. MEI pun terpaksa memangkas produksi hingga
separuhnya. Namun, Matsushita menjamin tak ada satu
karyawan pun yang bakal terkena PHK.
Sebagai gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja
keras. Karyawan-karyawan bagian produksi dilatih untuk
menjual. Hasilnya benar-benar ruarrr biasa. Mereka
bisa berubah menjadi tenaga marketing andal, yang
membuat Matsushita menjadi salah satu perusahaan
terkuat di Jepang.
Posted by DJODI ISMANTO at 19.4.07 0 comments
Wednesday, April 18, 2007
Ada Proses Didalamnya . . . . . .
Dear friends…
Ketika kita tercipta oleh Tuhan, pastilah itu karena kesengajaan bukan karena sebuah kesalahan atau khilaf. Karena proses penciptaan yang dilakukan Tuhan tidak mengenal “Defect”. Setelah kita dicptakan, kita akan diambil kembali juga oleh Tuhan. Kalau dalam kontek religius, kita sering mendengar “Sesungguhnya kita diciptakan oleh Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan”. Bahkan kita sangat meyakini kalau ini adalah kebenaran, bukan karya sastra seorang manusia namun hakiki kebenaran dari Yang Maha Benar.
Secara sekilas, kata-kata itu sangat ringan. Yah, kita sadar sekali bahwa kita diciptakan Tuhan, suatu saat akan kembali kepada Tuhan. Mungkin ada segolongan minoritas manusia yang tidak mempercayai. Tapi dalam bahasan ini, kita anggap bahwa semua dari kita percaya akan hal tersebut.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, untuk apa kalau kita hanya sekedar diciptakan dan lalu ditarik kembali?
Wow, dibalik kalimat tersebut ada hal yang cukup sulit memberikan jawaban dengan definisi yang detail. Sangat general. Sangat luas. Sangat banyak. Sebagian orang mungkin hanya terdiam, karena baru mulai ada titik kesadaran atas pertanyaan itu. Ketika sebuah komputer Pentium 3 dirakit, digunakan untuk memberikan nilai tambah bagi pekerjaan manusia, lalu akan terkubur dengan munculnya Pentium 4. Tapi untuk sebagian orang komputer Pentium 3 tersebut bisa digunakan untuk membuat kerusakan dalam pekerjaan manusia. Memberikan nilai tambah misalnya untuk memudahkan pekerjaan sehari-hari, berkomunikasi, belajar, dll. Membuat kerusakan misalnya pembuatan virus, penyebaran pornografi, kejahatan hacker, dll. Apakah ini komputernya salah? Tentu saja bukan. Tapi usernya yang mestinya dimintai pertanggungjawaban.
Dalam Al Qur’an Surat Asy Syams surat 91 : 8,9,10 sbb : 8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Manusia akan beruntung sementara jika menggunakan hardware (fisik jasmani) yang dikelola oleh software yang berusaha dalam proses kebaikan. Dalam bahasa Tuhan ”yang mensucikan”, dan sebaliknya. Jiwa dalam hidup manusia adalah hati dalam kontek non fisik.
Sehingga proses yang ada didalam kalimat ”Kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan” adalah proses membersihkan jiwa kita, jika kita memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Proses tersebut benar-benar merupakan sesuatu yang dapat kita lakukan dengan sesadar-sadarnya, bukan karena kebetulan. Karena yang ditentukan oleh Tuhan adalah bahwa kita diciptakan dan akan ditarik kembali, maka proses tersebut menjadi tanggung jawab kita manusia.
Sebagaimana komputer Pentium 3 tersebut diatas, bukan komputernya yang bertanggungjawab, namun usernya. Pada seorang manusia bukan tangan, kaki, badan, jantung, hati, otot secara fisik yang bertanggung jawab, namun lebih pada skala jiwanya. Karena gerakan dari fisik tersebut, kesengajaan yang didrive oleh jiwa.Untuk menjadi seorang yang beruntung maka proses yang baik, yang harus kita lakukan. Karena tidak akan terjadi pengulangan proses, maka kita berusaha agar proses tersebut tidak terjadi ”Defect”. Semoga inspirasi ini membawa manfaat untuk kita semua.
MENCARI TEMPAT YANG CERAH
Kesenangan seorang anak pada seekor serangga semacam belalang mungkin bukan hanya dialami di negara kita yang tropis seperti yang dulu kita alami saat kecil dan banyak memiliki jenis yang sangat banyak. Senang menangkap, memasukkan kedalam toples, plastik atau sengaja didiamkan dalam kamar. Hal ini ternyata sangatlah menarik ketika kita amati.
Ketika binatang tersebut dilepaskan, selalu saja mengarah pada tempat yang lebih terang baik berupa lobang, sinar lampu, jendela atau pintu sekalipun. Ini mungkin kita akan menganggap hanya saja sebagai naluri seekor binatang, Tidak lebih! Namun jika kita kaji lebih jauh atau lebih dalam lagi, itu sebagian pesan isyarat dari alam yang seharusnya kita teladani. Belalang melakukan usaha / proses menuju tempat terang, dengan harapan dapat bebas kembali.
Proses menuju terang tersebut dapat kita lakukan dengan penuh kesadaran. Kita drive diri kita, pemikiran kita, harapan-harapan kita menuju tempat lebih "terang" seperti halnya serangga tangkapan anak kita. Ada proses perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Tanpa henti. Tiada kata menyerah, untuk berbenah.
Kita lihat belalang, saat dia tertangkap, kita bawa kedalam rumah. Coba kita lepaskan! Dia akan terbang, melompat. Dia menuju jendela atau pintu. Bahkan bisa saja tersesat atau tertipu menuju lampu. Berulang usaha tersebut, dilakukan. Tanpa kenal menyerah. Kekuatan dikerahkan dengan sebenarnya. Bahkan sangat maksimal. Belalang tersebut punya target keluar dari rumah dengan melewati titik terang yang dia lihat. Apakah usaha ini selalu berhasil. Tidak! Banyak yang gagal, namun tak patah semangat dia melakukan. Lihat, saat dia terbang dan menabrak kaca. Pastilah dia kesakitan, namun dia tidak begitu saja menyerah. Tanpa disertai rasa kuatir gagal. Yach...dia sudah melakukan suatu tugas "ihtiar" dengan sekuat kemampuannya.
Ini benar-benar sesuatu yang kadang mengalahkan kita "seorang manusia". Kalau kita cermati, usaha kita dalam mencapai tujuan tidak jauh berbeda dengan belalang tadi. Namun dalam hal ketakutan dan kekuatiran, kita sama-sama yakin kalau kita manusia jauh terbebani. Ketika menghantam sedikit saja dalam masalah, kadang manusia sudah menjadi putus harap patah semangat. Mestinya dengan kita ihtiar sekuat-kuatnya, kita sertai dengan doa, kita harus serahkan hasilnya kepada Tuhan, karena tugas kita selaku manusia bukan menentukan hasil akhir tetapi berusaha sekuat tenaga mencapai hasil akhir sesuai harapan.
Ketika belalang tidak berhasil keluar dari rumah, dia mungkin akan mati didalam rumah. Bisa jadi menjadi mainan dan bulan-bulanan anak kita. Atau diterkam oleh kucing kesayangan kita. Ketika belalang berhasil keluar dari rumah, maka dia harus usaha lebih kuat lagi mempertahankan hidupnya. Dan tentu dengan tantangan yang lebih besar lagi. Apakah ketika belalang gagal keluar rumah dia hanya bisa pasrah atas keadaannya? Tidak dia masih punya usaha yang kuat. Saat didekati oleh anak kita akan ditangkap, dia berusaha loncat, terbang lagi, menghindar. Sama halnya ketika akan diterkam kucing kesayanagan kita.
Kalau dia selamat dan masih bertahan hingga pagi, mungkin masih bisa keluar dari rumah tersebut, saat anak-anak kita masih tertidur pulas. Saat pintu atau jendela kita buka pertama kali. Atau bahkan atas bantuan seseorang mengeluarkan dari dalam rumah. Sehingga kecerahan dia dapatkan.
Hari ini kita belajar dari seekor serangga yang tak kenal lelah, tak kenal menyerah.... dan kita telah diajari bahwa kita harus selalu mencoba dan mencoba tiada henti. Kita harus bisa meniru, bahwa tugas kita bukan penentu hasil akhir. Tapi berusaha sekuat tenaga dan berdoa. Hasil akhir kita serahkan kepada Tuhan.
Regards,
From nice city of Medan
PELARI GAWANG
Saat di kelas 2 SMA Negeri 22 Jakarta , saya paling suka olahraga atletik yaitu "Lari Gawang". Maklum waktu itu terobsesi ingin jadi Captain Pilot pesawat tempur , jadi harus punya fisik yang prima . Nah , seorang pelari akan berlari dengan secepat-cepatnya, dan ketika ada tempat tertentu yang dipasang "Gawang" atau rintangan dia akan melompat dan lalu melanjutkan berlari. Sampai pada suatu tempat yang ada gawang, akan melompat lagi.
Lari gawang tentu ada aturan main dalam melakukannya. Sama dengan lomba lari yang lain baik sprint, marathon, estafet dll, siapa paling awal sampai pada garis finish atau yang menggunakan waktu terpendek maka dia sebagai pemenang. Apakah selalu seperti itu? Tentu saja tidak. Selain satu hal tersebut sebagai syarat menjadi juara juga tidak melakukan sebuah pelanggaran apapun yang bisa menyebabkan gugur dalam lomba.
Seorang pelari gawang yang baik, tentu akan melewati seluruh rintangan tanpa terkecuali. Semua gawang dalam lintasan larinya akan dilewati dengan dilompati. Lalu berusaha terdepan untuk sampai Finish sehingga waktu yang digunakan paling sedikit.
Bagaimana kalau sang pelari tersebut tidak melompati gawang? Meskipun sampai finish lebih dulu dari yang lain. Apakah pelari tersebut tetap menjadi juara?
Tentu saja tidak, dia akan di dis kualifikasi. Mengapa? karena tidak mengerjakan sesuatu dengan benar. Keluar dari hukum yang semestinya. Namun fenomena inilah yang paling sering kita dapati. Banyak sekali orang ingin maju, ingin berhasil, ingin sukses tetapi dia tidak bersedia melewati ujian ujian. Semua diambil cara termudahnya. Tidak berani menerima tantangan lebih jika harus berkorban dalam kesulitan.
Banyak orang yang bisa "sampai finish" lebih dulu. Namun jalan yang diambil dengan cara tidak benar. Banyak demi pangkat, jabatan, uang, posisi dengan mudahnya korbankan orang lain, gesek dan gosok kanan kiri. Hal ini menjadi fenomena umum dalam lingkungan kita. Di masyarakat, kantor, organisasi, sawah, hampir semua pelosok tanah air ini dipenuhi dengan fenomena tersebut.
Akankah kita menjadi Pelari Gawang yang tidak bersedia melompati gawang? Mari, Mari, kita berkomitmen bersama dan mulai merangkul temen lain, saudara lain, orang lain, untuk tidak menjadi pelari gawang yang pecundang. Selamat dan sukses selalu...
Regards,
From nice city of Medan
SUCCESS STORY
HEE AH LEE
Don’t judge the book by it’s cover, jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Mungkin ini ungkapan yang tepat saat melihat sosok Hee Ah Lee. Betapa tidak, fisiknya jauh dari ukuran normal. Tangannya hanya punya empat jari berbentuk capit, sedangkan kakinya pun pendek sebatas ukuran lutut. Orang pasti akan kasihan melihat sosok wanita kelahiran Korea 22 tahun lalu ini.
Tapi, rasa kasihan ini akan segera berubah menjadi kekaguman jika melihat Hee Ah Lee memainkan piano. Bayangkan, nada-nada sulit musik klasik karya komponis kenamaan seperti Chopin, Beethoven, Mozart, bisa dimainkannya dengan sangat apik. Padahal, tidak ada not balok dari musik klasik itu yang khusus dibuat untuk dimainkan dengan hanya empat jari. Hee sendirilah, yang mengubah empat jarinya sehingga mampu menari di atas tuts-tuts piano dengan lincah, layaknya sepuluh jari orang normal. ”Dari awal belajar piano memang saya diperlakukan sebagai orang normal,”sebut Hee.
Terlahir dari seorang ibu bernama Woo Kap Sun, Hee sebenarnya sangat beruntung. Sebab, Woo yang tahu akan melahirkan bayi cacat dari awal menolak mentah-mentah anjuran beberapa orang dekatnya untuk menitipkan anaknya ke panti asuhan setelah lahir. Woo juga yang merawat, mendidik, dan mengajari Hee seperti orang normal lain. Woo bahkan menyebut anaknya itu sebagai anugerah Tuhan meski terlahir kurang sempurna. Ibunya itu juga yang kemudian dengan kesabaran ekstra mengajari Hee bermain piano sejak usia enam tahun.
Saat mulai main piano, Hee bahkan tidak bisa memegang pensil. Butuh waktu dan kerja keras, serta dilandasi keuletan yang luar biasa untuk melatih jari-jari Hee. Belum lagi untuk mengenalkan not balok pada Hee yang punya keterbelakangan mental. Awalnya, untuk menguasai sebuah lagu saja, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Itu pun bisa dilakukan hanya dengan latihan intensif minimal sepuluh jam dalam sehari. Sungguh, gabungan cinta kasih seorang ibu ditambah ketekunan Hee sebagai anak, merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengubah kekurangan dan keterbatasan menjadi kelebihan yang luar biasa. Hee menyebut, ibunyalah yang telah menggembleng dirinya agar tumbuh mandiri, percaya diri, dan bersemangat baja menghadapi hidup.
Dengan kemampuan yang diperoleh dari ketekunan dan keuletan berlatih itu, Hee kini telah berkeliling dunia. Ia menginspirasi orang dengan keyakinan bahwa tidak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita mau bekerja keras dan sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya. Meski begitu, sebagai manusia biasa ia pun mengaku pernah mengalami patah semangat. “Bayangkan Anda makan satu jenis makanan terus menerus sampai bosan. Tapi, aku memakannya terus. Aku berlatih terus menerus,” sebut Hee tentang bagaimana menaklukkan kebosanannya.
Kini, sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano telah diterimanya. Ia juga telah mempunyai album musik sendiri berjudul Hee-ah, Pianist with Four Finger. Dengan berbagai kelebihan yang diolah dari kekurangan itu lah, kini ia juga mempunyai kehendak lain yang mulia, “Aku akan berkeliling dunia, bermain piano dari sekolah ke sekolah untuk memberi motivasi kepada kaum muda bahwa mereka bisa melakukan apa pun kalau berusaha,” kata Hee.
Sungguh, sosok Hee Ah Lee adalah gambaran nyata keteladanan seseorang dengan ketekunan yang luar biasa. Hanya dengan keyakinan, keuletan, dan kerja keras disertai semangat pantang menyerah, seseorang dapat merubah nasibnya. Jika Hee yang kurang sempurna saja mampu, bagaimana dengan kita yang terlahir sempurna? Tinggal keyakinan dan tekad kuat disertai usaha sungguh-sungguh lah yang akan merubah kita.
lihat artikel lain di :http://djodiismanto.blogspot.com/
Regards,
From nice city of Medan
Tuesday, April 17, 2007
Kenangan Terindah 1
Kenangan di kampus , saya di barisan duduk nomor tiga dari kiri . . . .masih culun he he he
" bila yang tertulis untukku , adalah yang terbaik untuk mu "
" kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku "
" namun takkan mudah bagiku , melupakan jejak hidupku "
" yang t'lah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah "
BAM by SAMSON
Saling Tukar Ilmu , Cara Murah untuk Sukses Bersama
Ada tiga tukang sulap, yaitu tukang sulap A, B dan C. Masing-masing mereka punya satu trik sulap yang berbeda. Satu tukang sulap hanya punya satu trik. Kemudian mereka saling bertukar trik sulap. Jadi, setiap tukang sulap akhirnya punya tiga trik sulap. Masing-maling pesulap tentunya telah mengeluarkan biaya tertentu untuk mempelajari trik andalannya tersebut. Dengan saling bertukar ilmu, mereka jadi punya trik lebih banyak dan bisa menarik penonton lebih banyak tanpa keluar biaya besar.
Dalam dunia bisnis, kita tidak mungkin punya semua keahlian. Mungkin ada yang jago marketing saja, ada yang lihai produksi saja, ada yang ahli di teknologi saja, ada yang pakar di SDM dan seterusnya. Bagaimana caranya agar semua ilmu bisa dikuasai oleh masing-masing pebisnis? Kalau perusahaannya sudah besar, gampang, tinggal menggaji orang ahli atau cari konsultan yang mahal. Tapi, kalau masih perusahaan kecil, tentu hal ini jadi kendala terutama dari segi biaya dan waktu.
Untuk mengatasi kendala biaya dan waktu, masing-masing pengusaha dengan keahlian berbeda itu bisa saling tukar ilmu. Mereka kemudian membuat kelompok. Si A yang ahli marketing tapi lemah di produksi saling bertukar ilmu denan si B yang ahli produksi tapi lemah di marketing. Si C yang jago teknologi saling tukar ilmu dengan si D yang menguasai SDM. Demikian terbentuklah suatu kelompok yang saling mendukung dan saling membantu satu sama lain, untuk kemajuan bersama.
Cara seperti ini sudah banyak dikenal dengan Master Mind Group atau Kelompok Pemikir Utama. Mark Victor Hansen dan Robert Allen banyak menulis tentang ini dalam bukunya ‘One Minute Millionaire” dan “Kekuatan dari Fokus”. Anthony Robbins mempraktekkan dengan membentuk Master Mind Group yang beranggotakan pebisnis dengan pendapatan minimal 10 juta dollar per tahun. Pak Tung Desem Waringin pernah cerita kepada saya bahwa dia juga punya grup seperti ini yang bertemu sebulan sekali. Untuk pertemuan rutin ini, dia akan menolak tawaran seminar bila jadwalnya bentrok dengan pertemuan grup tersebut. Katanya, di antara anggota yang lain, saat itu Pak Tung adalah anggota yang paling miskin!
Ide saling tukar ilmu ini bisa diterapkan dengan cara lain seperti:
- Saling tukar koleksi buku, modul pelatihan, kaset/CD dll. Ini sudah saya lakukan dengan beberapa teman. Jadi, setiap akan bertemu, kami masing-masing membawa sesuatu untuk dipertukarkan, misalnya saya membawa buku “Multiple Streams of Income”-nya Robert Allen sedangkan kawan saya membawa CD “Wealth Dynamic”-nya Roger Hamilton.
- Saling tukar ilmu dari seminar atau pelatihan yang diikuti. Bisa juga dua orang kawan masing-masing ikut seminar yang berbeda, kemudian saling berbagi ilmu yang didapat. Kawan saya pernah patungan dengan beberapa temannya untuk memodali salah satu di antara mereka untuk berangkat pelatihannya Robert Kiyosaki di Hawaii. Anggota yang berangkat itu kemudian ditugasi untuk mengajari ilmu yang diperolehnya tersebut kepada anggota yang tidak berangkat.
- Membentuk Master Mind Group. Anggotanya antara 5 sampai 7 orang saja dengan syarat misalnya perusahaannya punya omset minimal 5 milyar setahun dan dari bidang usaha yang berbeda. Grup ini bertemu sebulan sekali dengan agenda menceritakan perkembangan dan masalah bisnis yang dihadapi. Masing-masing anggota bisa memberi saran atau ide mengenai permasalahan yang dihadapi anggota yang lain. Demikian seterusnya.
- Mengikuti Mailing List bisnis. Di sini setiap anggota bisa saling berbagi cerita dan informasi yang bermanfaat bagi yang lainnya. Melalui mailing list juga bisa ditemukan kontak-kontak bisnis yang sedang dicari, misalnya seorang pedagang akhirnya bertemu supplier produk yang dicarinya. Mailing list juga bisa dilanjutkan dengan acara pertemuan “off air” seperti yang dilakukan oleh Mailing list Kuadran Empat, Marketing Club dan sebagainya. Saya sendiri merasakan banyak manfaat dari mengikuti mailing list.
Masih banyak lagi yang bisa dilakukan dalam rangka saling bertukar ilmu untuk sukses bersama ini. Mungkin anda juga sudah menerapkannya. Sebagai penutup, saya punya cerita menarik. Beberapa bulan lalu saya berencana untuk ikut pelatihan Jay Abraham di negeri Jiran. Biayanya sekitar jutaan rupiah lah. Singkat cerita, saya berkenalan dengan seseorang di sebuah seminar. Saya ceritakan rencana saya tersebut. Dia menyarankan supaya saya membatalkan niat tersebut. Sebab, dia punya dua modul yang akan disampaikan dalam pelatihan tersebut. Dia akan berikan fotokopinya, saya tinggal ganti ongkosnya saja. Akhirnya, saya dapat modul tersebut dengan uang hanya seratus ribu saja!
Mari kita saling tukar ilmu untuk kesuksesaan bersama. Semoga bermanfaat
Tung DW , One of 20 Most Powerful People 2005 versi SWA
Pencapaian yang luar biasa telah diraih lagi oleh , Pak Tung Desem Waringin. Kali ini beliau dinobatkan sebagai salah satu dari 20 The Most Powerful People 2005 versi majalah SWA. Begitu saya melihat beritanya di majalah, langsung saya kirim SMS dan mengucapkan selamat dan turut berbahagia atas penghargaan tersebut.
Yang saya perhatikan dari Pak Tung adalah, dia selalu mencari peluang untuk melakukan Breakthrough dalam apa pun yang dilakukannya. Dia sendiri sering mengatakan bahwa dia adalah pelatih bisnis dan personal spesialis membantu kliennya melakukan "Breakthrough". Dia sendiri bukanlah seorang penjaja teori tanpa mempraktekkan sendiri teorinya.
Breakthrough yang saya lihat sendiri sejak saya kenal dia tahun 2002 lalu di antaranya:
- Tahun 2002, berhasil mendapat hak eksklusif Anthony Robbins di Indonesia
- Tahun 2002, berhasil membawa delegasi terbanyak ke seminar Anthony Robbins di Singapura, sekitar 400 orang dari Indonesia.
- Melakukan seminar atau berbicara di depan publik sampai dengan 60 kali per bulan
- Berhasil membawa Robert T Kiyosaki ke Indonesia dan melakukan seminar di JCC
- Berhasil meluncurkan buku pertamanya dan langsung meraih prestasi best seller dan masuk dalam catatan rekor MURI dengan penjualan di atas 10.000 eksemplar dalam sehari.
- Menurut majalah Marketing saat ini dia tinggal di rumah super mewah dengan deretan mobil mewah di garasinya di Serpong, Tangerang. Dulu, waktu masih meng-coach saya tahun 2003, mobilnya masih Isuzu Panther.
- Dia sendiri cerita bahwa incomenya selama 10 tahun dulu, sekarang dapat dia raih hanya dalam waktu 15 menit.
Walaupun sudah jarang, dalam setiap kesempatan bertemu dengan dia saya selalu tanya: "Pak Tung, breakthrough apa yang telah bapak raih dan breakthrough apa yang sedang direncanakan?". Dengan penuh semangat dia akan menceritakannya. Dan biasanya saya selalu tertularkan oleh semangat dan pencapaianya yang diraihnya.
Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan orang atau melalui milis, saya sering mendapatkan kritik atau komentar miring mengenai Pak Tung. Ada yang mengatakan dia sebagai penjaja mimpi sukses, ada yang berkomentar dia terlalu komersil, penjaja gaya hidup materialistis, ujung-ujungnya duit, dll. Saya pribadi menanggapinya sebagai suatu yang wajar. Lebih dari itu saya sendiri telah ikut menikmati kesuksesan yang dia tularkan kepada saya. Mungkin tidak sedikit juga yang merasakan pengalaman yang sama dengan saya. Bahkan, ketika saya di wawancara oleh majalah Bisnis Kita mengenai sosok Pak Tung, saya katakan Indonesia butuh banyak orang seperti dia. Kita perlu beribu-ribu orang seperti dia sebagai salah satu solusi keterpurukan bangsa kita.
Amerika sendiri telah berhasil mengantarkan masyarakatnya meraih American Dream, salah satunya adalah karena adanya ribuan orang seperti Pak Tung ini. Orang-orang yang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi orang lain dan lingkungannya. Kita butuh orang seperti itu. Kita butuh Aa Gym, Ary Ginanjar, Arifin Ilham, Gede Prama, Hermawan Kartajaya, Andrie Wongso, Johannes Lim, Jansen Sinamo, James Gwee, Valentino Dinsi, Mario Teguh, Rhenald Kasali, Handi Irawan, Kafi Kurnia, FX Hadi, RH Wiwoho, Ronald NAC, RB Sentanu, Andrias Harefa, Reza Syarief, Aribowo Prijosaksono, Roy Sembel, . Kita butuh lebih banyak lagi orang seperti mereka. Mungkin anda akan termasuk di antaranya.
"Hidup Jangan Tertidur!"
Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan ''tertidur.' ' Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan ''tertidur.' '
Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.
Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!
Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah ''rahmat terselubung' ' karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.
Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata,
" Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!''
Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas,
''Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.''
Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.
Hidup ini seringkali menipu dan me nina bobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.
Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin,
''Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalam an spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalam an manusiawi.''
Manusia bukanlah ''makhluk bumi'' melainkan ''makhluk langit.'' Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ''rumah'' untuk mencari ''rumah'' yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.
Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.
Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!
Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulka n kekayaan -- apalagi dengan menyalahgunakan jabatan -- kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.
Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:
Belajarlah MENDENGARKAN.
Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.
Yang Mana Lebih Konyol?
Seorang salesman mobil Mitsubishi dari SBM sedang berkeliling di sebuah desa si daerah Deli Serdang untuk menjual mobil saat bertemu dengan seorang petani yang sedang memberi makan sapinya. Ia memarkir mobilnya, lalu menghampiri si petani.
“Selamat pagi, Pak. Saya seorang penjual mobil” sapanya penuh percaya diri.
Si petani tersenyum sejenak, lalu mengembalikan perhatiannya ke sapinya.
“Kenapa tidak beli sebuah mobil saja, Pak?” tembak si salesman.
“Hmmh, terima kasih. Saya lebih memilih membeli seekor sapi saja” jawab si petani langsung.
Si salesman tersenyum, “Betul. Tapi khan kalau mau jalan-jalan, kelihatan konyol berkeliling desa naik sapi?”
Si petani balas tersenyum, “Betul. Tapi k
