Penelitian hubungan seks dunia Oleh Sastra Wijaya
Wartawan BBC Siaran Indonesia
Jangan kaget dulu saya tidak akan membicarakan teknik hubungan seksual
atau semacamnya, namun membicarakan persepsi yang mungkin salah, yang
kadang muncul.
Persepsinya adalah bahwa di kalangan masyarakat Inggris, kebiasaan
berganti pasangan, atau memiliki lebih dari satu pasangan seksual,
merupakan hal yang umum.
Tetapi sebuah hasil penelitian internasional dan juga data statistik di
Inggris mengatakan sebaliknya, bahwa kekhawatiran akan banyaknya
perselingkuhan tidak terbukti, karena kebanyakan warga di dunia ini
masih tetap menganut pola hidup dengan satu pasangan.
Ini penelitian yang serius karena dimuat di jurnal ilmu pengetahuan
terkemuka, The Lancet.
Riset ini dilakukan di seluruh dunia, yang berkesimpulan bahwa tidak ada
kecenderungan bagi adanya hubungan seksual lebih mudah, walaupun
berbagai laporan mengatakan adanya hubungan seks di bawah umur dan
kehamilan di kalangan remaja.
Penelitian yang dilakukan di 59 negara ini menemukan bahwa secara umum
kecenderungan untuk menikah pada usia lebih lanjut terus terjadi.
Dan di sebagian besar di bagian dunia, berhubungan tanpa melakukan
pernikahan resmi memang semakin menjadi pilihan.
Monogami di Inggris
Penelitian ini ternyata senada dengan penemuan yang diterbitkan Badan
Pusat Statistik Nasional Inggris bahwa sebagian masyarakat Inggris
menganut pola monogami (satu pasangan), meskipun ada peningkatan
penyebaran penyakit akibat hubungan seksual, dan tingkat kehamilan
remaja tertinggi di Eropa bagi remaja Inggris.
Dari hasil penelitian di Inggris saja, ditemukan bahwa 89% pria Inggris
di bawah usia 70 tahun, hanya memiliki seorang partner seksual saja
sepanjang tahun lalu.
Sementara angka bagi perempuan lebih tinggi lagi, yaitu 93% hanya
memiliki satu partner saja.
Jadi hanya 7% wanita yang berhubungan dengan lebih dari satu orang
secara seksual.
Penelitian ini juga ingin mencari jawaban kapan rata-rata wanita dan
pria di Inggris kehilangan keperawanan mereka.
Menurut Kaye Wellings dari Sekolah Kedokteran bagi Penyakit Tropis,
rata-rata orang di Inggris berusiah 16 tahun ketika mereka berhubungan
seksual untuk pertama kalinya.
Citra masyarakat Barat
Bagi anda yang tinggal di Indonesia mungkin ini bisa menghapus pandangan
selama ini bahwa di negara Barat, semua orang terlibat dalam kehidupan
pergaulan bebas.
Saya pernah ingat dengan sebuah cerita pendek yang ditulis ketika saya
masih remaja.
Dalam cerpen itu ditulis pengalaman seorang anak muda dari Manado, yang
melanjutkan pendidikan SMA-nya di Jakarta.
Dalam benaknya sebagai ibukota akan banyak pergaulan bebas. Apalagi
waktu itu film Akibat Pergaulan Bebas yang dibintangi Roy Marten, Robby
Sugara, Yenny Rachman, dan Yatti Oktavia sedang top-topnya di Indonesia.
Pemuda tadi merasa semua kelakuan anak muda di Jakarta seperti
digambarkan dalam film tersebut, suka pesta seks.
Dia kemudian merasa semua orang dengan mudah mau diajak berhubungan
seksual, kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja.
Dia baru sadar kemudian bahwa ternyata keadaan nyatanya tidaklah seperti
itu.
Penelitian yang saya sebutkan di atas tadi juga bagi sebagian orang
Inggris menunjukkan bahwa persepsi dan kenyataan sangat berbeda.
Mungkin ada di antara anda yang berpandangan bahwa orang di Barat selalu
berpikiran mengenai seks. Di mana semua wanitanya telanjang, atau
berpakaian serba minim terus-menerus.
Memang secara umum, kehidupan di sini lebih bebas dalam hal berpakaian,
dan juga dalam hal berhubungan dengan orang lain.
Sering kali ukuran moralitas umum tidak bisa diterapkan bagi semua
individu.
Tidak ada standar umum moralitas yang sama, karena individu mengikuti
pendapat mereka sendiri.
Tetapi sekali lagi penelitian di atas menunjukkan bahwa ikatan
perkawinan tradisional masih kuat dan merupakan ikatan yang diikuti
kebanyakan orang di Inggris.
Kebanyakan orang memilih untuk menikah, dan pasangan yang menikah adalah
mereka yang paling banyak melakukan hubungan seksual, demikianlah
kesimpulan laporan tersebut.
