Borderless. Tak ada batas maupun warna penghalang. Nilai-nilai etnik, bahasa, agama, dan budaya lebur. Permusuhan politik pun luluh oleh jabat tangan sportif seperti yang terjadi antara pemain Iran dengan Amerika Serikat di Piala Dunia 1994 dan sentimental persaudaraan Korea Utara dan Selatan di Piala Dunia 2002.
Itulah sepakbola. Sepatutnya sampah rasial pun sudah hilang hingga ke semilir baunya sekalipun seiring dengan globalisasi tanpa batas di sepakbola. Cerminan terlihat di pentas Liga Champion 2006/07.
Memasuki fase semifinal, meski trofi juara dipastikan bakal mendarat di Inggris atau Italia karena empat semifinalis hanya datang dari dua negara tersebut, masih ada 26 negara lain yang ikut meramaikan. Bukan hanya dari benua Eropa, tetapi 90 pemain yang terdaftar juga melibatkan negara-negara dari Amerika Latin, Afrika, bahkan juga Asia.
Fakta tersebut merupakan lonjakan besar jika dibandingkan semifinal lima tahun lalu yang hanya melibatkan para pemain dari 15 negara.
Dengan hadirnya tiga klub asal Inggris: Manchester United, Liverpool, dan Chelsea, serta satu wakil Italia, AC Milan, tidak heran jika pemain yang paling banyak muncul adalah dari dua negara tersebut dengan masing-masing menyumbang 21 dan 15 pemain.
Setelah dua negara tersebut, selanjutnya Prancis berada di urutan ketiga dengan tujuh pemain, diikuti Brasil dan Belanda (6), Portugal (4), serta Argentina dan Spanyol (3).
Kian lebarnya kawah Liga Champion pun terasa dengan adanya tiga negara baru yang sebelumnya tidak pernah merasakan gelar juara Liga Champion, yakni Cili untuk Liverpool (Mark Gonzalez), Pantai gading untuk Chelsea (Didier Drogba dan Salomon Kalou), dan Republik Korea bersama Manchester United (Park Ji-Sung). Untuk kasus Park, ia tentu berharap mencatat sejarah menjadi orang Asia pertama yang bisa merasakan gelar juara Liga Champion.
Multinasional di Klub
Multinasional bukan hanya terjadi di daftar pemain. Di bangku pelatih juga muncul sosok dari berbagai negara. Di luar Carlo Ancelotti, yang menangani AC Milan, klub dari negaranya sendiri, Italia, tiga klub Inggris dipimpin oleh para pelatih dari luar Inggris, yakni Skotlandia (Sir Alex Ferguson di Manchester United), Portugal (Jose Mourinho di Chelsea), dan Spanyol (Rafael Benitez untuk Liverpool).
Pemilik klub juga bukan lagi taipan lokal, tapi benar-benar sudah berasal dari cross-border country. Chelsea dimiliki Roman Abramovich, pengusaha investasi berusia 40 tahun asal Rusia yang pernah menguasai perusahaan minyak Sibneft.
Manchester United dikuasai Malcolm Glazer, pengusaha asal AS yang memiliki berbagai usaha di bidang suplai dan pengepakan makanan, broadcasting, kesehatan, properti, perbangkan, minyak dan gas alam, internet, keuangan, hingga pemilik klub american football, Tampa Bay Buccaneers.
Liverpool baru diambil alih oleh duet pengusaha asal AS, Tom Hicks dan George Gillet. Core business Hicks kental dengan dunia hiburan dan olahraga karena ia adalah pemilik Southwest Sports Group, perusahaan yang memiliki klub hoki Dallas Stars dan bisbol Texas Rangers serta Mesquite Championship Rodeo. Gillet adalah pemilik perusahaan yang bergerak di berbagai produk makanan, media elektronik dan cetak, klub hoki Montreal Canadies, promotor olahraga dan hiburan, dealer mobil, hingga resor ski.
AC Milan merupakan satu-satunya klub yang dimiliki oleh penguasa lokal, yakni Silvio Berlusconi, raja media Italia yang juga pernah menjabat sebagai perdana menteri.
Secara emosi, para triliuner tersebut akan terlibat pada pertarungan di semifinal. Misi yang ada di benak mereka pun pasti sama. Urusan mengeruk keuntungan sudah pasti karena itu adalah bagian akhir dari landasan bisnis mereka. Tapi, yang bakal menguras ketegangan mereka dalam hari-hari ini adalah misi memindahkan trofi juara yang musim lalu direbut Barcelona ke altar trofi juara di markas klub kekuasaannya.
Setelah kompetisi dilalui dengan total 222 pertandingan yang melibatkan 73 klub dari 49 negara sejak babak kualifikasi hingga perempatfinal, kini empat klub tersebut tinggal menjalani dua partai semifinal demi melangkah ke Athena, tempat final yang akan digelar pada 23 Mei.
Midweek ini first leg akan digelar. Manchester United menjamu AC Milan dan dalam duel Inggris, Chelsea terlebih dulu menjadi tuan rumah untuk Liverpool. Namun, bukan hanya para pemilik klub, semua stakeholder termasuk suporter global tentu berharap klub yang didukungnya unggul.
Senyuman kemenangan atau kekecewaan tanda kekalahan menjadi bagian akhir setelah menyimak pertandingan meski masih ada second leg pekan depan. Bagaimana dengan Anda? Tersenyum atau kecewa? Don’t miss it! (Yudhi Febiana)
Negara Asal Pemain*
21 - Inggris
15 - Italia
7 - Prancis
6 - Brasil, Belanda
4 - Portugal
3 - Argentina, Spanyol
2 - Rep. Ceska, Pantai Gading, Norwegia, Irlandia, Wales
1 - Australia, Kamerun, Cili, Kroasia, Denmark, Finlandia, Georgia, Jerman, Ghana, Rep. Korea, Nigeria, Polandia, Skotlandia, Serbia, Ukraina
*) Daftar hanya melibatkan pemain yang bisa tampil di Liga Champion musim ini.
Pemilik Klub Semifinalis
CHELSEA
Roman Abramovich
Asal: Rusia
Lahir: 24 Oktober 1966
Kekayaan: 21 miliar dolar (190 triliun rupiah)
Bidang Usaha
* Millhouse Capital (perusahaan investasi)
* Mantan penguasa saham Sibfnet (perusahaan minyak, tetapi sahamnya kemudian dilepas kepada raksasa energi Gazprom sebesar 13 miliar dolar)
* Mantan penguasa saham Rusal, perusahaan raksasa almunium. Sahamnya dijual kepada Oleg Derpaska sebesar 2 miliar dolar.
* Bersama partner bisnisnya, Eugene Shvidler menguasai saham perusahaan penerbangan Aeroflot.
AC MILAN
Silvio Berlusconi
Lahir: 29 September 1936
Asal: Italia
Kekayaan: 11 miliar dolar (100 triliun rupiah)
Bidang Usaha
* Mediaset (perusahaan televisi)
* Publitalia (agen periklanan terbesar di Italia)
* Arnoldo Mondadori (perusahaan percetakan terbesar di Italia yang menerbitkan Panorama, majalah paling populer di negara itu)
* Medusa Penta (distributor perfilman)
* Mediolanum (perbankan dan asuransi)
* Pendiri partai politik Forza Italia
LIVERPOOL
Tom Hicks
Lahir: 1946
Asal: Amerika Serikat
Kekayaan: 10 miliar dolar (90 triliun rupiah)
Bidang Usaha
* Hicks, Muse, Tate & Furst (perusahaan investasi)
* Texas Rangers (klub bisbol)
* Dallas Stars (klub hoki)
* Mesquite Championship Rodeo
* Gammaloy (perusahaan perminyakan)
* Perusahaan eletronik di Cina dengan 1.000 karyawan.
* Perusahaan televisi kabel
* Bahan-bahan bangunan di Timur Tengah
* Makanan hewan di Argentina
LIVERPOOL
George Gillet
Asal: Amerika Serikat
Lahir: 22 Oktober 1938
Kekayaan: 4 miliar dolar (26 triliun rupiah)
Bidang Usaha
* Gillet Communications (delapan stasiun televisi & 22 koran)
* Booth Creek Ski Holdings Inc. (resor ski di New Hampshire, California, Washington, dan Wyoming)
* Petaluma Poultry (produk-produk ayam organik dan natural)
* Snowball Foods (produk-produk makanan ayam & kalkun)
* B3R Country Meats & Coleman Natural Products (daging-daging segar)
* Gerhard’s Napa Valley Sausage (produk-produk sosis).
* Montreal Canadies (klub hoki)
* Bell Centre (stadion hoki)
* Gillett Entertainment Group (promotor olahraga dan hiburan)
* Silverthorne Motors, Inc. (dealer kendaraan dengan franchise untuk Subaru, Dodge, Chrysler, dan Jeep
* Northland Services Inc. (perusahaan transportasi laut)
* Great Northern Bark and Sierra Organics (perusahaan produk-produk taman dan landscape).
MAN. UNITED
Malcolm Glazer
Lahir: 1928
Asal: Amerika Serikat
Kekayaan: 2 miliar dolar (sekitar 18 triliun rupiah)
Bidang Usaha
* Zapata Corp (perusahaan perminyakan dan gas alam yang didirikan oleh George Herbet Walker Bush, mantan Presiden AS, ayah dari Presiden AS saat ini, George W. Bush)
* Tampa Bay Buccaneers (klub american football)
* Suplai dan pengepakan makanan
* Broadcasting
* Kesehatan
* Properti
* Perbankan
* Internet
Home Game Bukan Jaminan
Tampaknya anggapan home court advantage pada 2nd leg Liga Champion tak lagi bisa diterapkan para pelaku sepakbola. Khususnya bagi mereka yang tengah mengadu nasib di panggung sepakbola antarklub terwahid Eropa musim ini.
Mengapa demikian? Makin ke sini, kian tipis pula probabilitas tuan rumah pada 2nd leg bisa lolos ke babak berikut, bahkan saat mereka sudah mengantongi away goal dari bentrokan 1st leg.
Valencia dan Bayern Muenchen menjadi korban teranyar dari situasi ini. Saat mementaskan perempatfinal II LC di Mestalla dan Allianz-Arena, kedua tim justru dipaksa takluk kepada Chelsea dan AC Milan.
Padahal, mereka berdua sudah berada di pole position untuk merebut selembar tiket semifinal. Karena skor imbang 1-1 dan 2-2 di Stamford Bridge dan San Siro sepekan sebelumnya, hasil kacamata sudah cukup untuk memastikan kelolosan.
Olympique Lyon pun menderita sindroma seperti ini di babak 16 besar. Meski sukses mengimbangi AS Roma di Olimpico pada duel pertama, Juninho Pernembucano dkk. malah dihajar 2-0 saat menjamu Roma di Stade Gerland.
Inilah wajah sepakbola Benua Biru sekarang. Tak ada yang bisa memastikan outcome sebelum wasit meniupkan peluit tanda pertandingan bubar. Segala catatan statistik di atas kertas bisa mentah dalam sekejap!
Tren seperti ini sudah muncul sejak musim lalu. Ambil contoh Arsenal kontra Villarreal di semifinal, partai Juventus melawan Arsenal di perempatfinal, serta duel Liverpool versus Benfica di perdelapanfinal. Perbedaannya dengan musim lalu, Arsenal dan Benfica, yang menjadi pemenang laga, sudah lebih dulu memimpin tatkala bertandang ke markas lawan pada pertemuan kedua.
Faktor Pelatih
Artinya apa? Faktor dukungan publik lokal yang selama ini menjadi momok bagi tim tamu, juga pemain ke-12 bagi skuad tuan rumah, mulai menghilang dari hitungan keunggulan nonteknis.
So, yang mutlak memengaruhi kelolosan sebuah tim pada 2nd leg adalah aspek strategi pelatih dan mentalitas pemain. Dengan semakin tipisnya jurang kualitas di antara kontestan, ilmu sang guru serta mental juara para muridnya memegang peran sentral.
Untuk semifinal kali ini, karung ilmu yang dimiliki kuertet pelatih Manchester United, AC Milan, Liverpool, dan Chelsea tentu tak perlu diragukan. Sir Alex Ferguson, Carlo Ancelotti, Rafael Benitez, dan Jose Mourinho semua sudah merasakan gelar juara Liga Champion. Khusus Mourinho, ia tidak merebut juara bersama Chelsea, tapi dengan klub sebelumnya, FC Porto.
Artinya, faktor pelatih dalam mengadu ilmu dan strategi akan sangat dominan untuk menentukan kiprah klub selanjutnya. (Sapto Haryo Rajasa)
RCD Espanyol vs Werder Bremen
Olimpic de Montjuic Lluis Companys, Kamis (26/4)
------------------------------
Semerbak Harum Eropa
“Ayo, dua partai lagi.” Keberhasilan Espanyol melaju hingga semifinal Piala UEFA telah menimbulkan gairah besar di klub yang bermarkas di kota Barcelona itu. Misi mereka adalah menciptakan all-Spanish final di Glasgow, 16 Mei 2007.
Keinginan Espanyol harus dimulai dengan baik di Olimpic de Montjuic Lluis Companys, Kamis (26/4). Mereka menjamu satu-satunya semifinalis non-Spanyol, Werder Bremen. Klub asal Jerman itu berkompetisi di Piala UEFA setelah gagal di Liga Champion musim ini.
“Bagi klub seperti Espanyol, berlaga di semifinal Piala UEFA sangatlah penting,” ujar pelatih Ernesto Valverde seusai menyingkirkan Benfica di perempatfinal. “Ketika serangan kami kurang berfungsi, barisan pertahanan bekerja sangat baik.”
Kepada media massa Spanyol, sang pelatih berusaha meredam impian dini terciptanya duel sesama tim Spanyol. “Apa gunanya langsung bermimpi tampil di Glasgow bila kami belum bermain di semifinal?” katanya.
Ya, lawan Ivan de la Pena dkk. di semifinal Piala UEFA 2006/07 bukan tim sembarangan. Bremen memiliki pemain-pemain dengan karakter yang bisa menyulitkan tuan rumah. Valverde jelas memahami makna tersingkirnya Celta Vigo di babak 16 besar. Klub Spanyol itu menyerah home and away dari Bremen.
Ketika Espanyol membiarkan Diego cs. lebih dahulu menguasai permainan, sulit sekali irama tim asuhan Thomas Schaaf itu dirusak. Celta telah menunjukkannya pada Espanyol.
Namun, komentar pasukan Valverde mencerminkan keyakinan. “Kami bebas dari tekanan. Hal-hal aneh bisa terjadi dan membawa hasil baik bagi kami,” begitu kata gelandang Francisco Rufete pada Marca.
Kiper spesialis Piala UEFA, Gorka Iraizoz, juga menyuarakan sikap positif. “Kami tak perlu motivasi ekstra. Semua pemain sangat bersemangat tampil di Eropa.”
Aroma semerbak Eropa memang sudah lama tak dirasakan Los Periquitos, Si Burung Parkit dari kota Barcelona. Tahun 1988, Espanyol nyaris meraih trofi Eropa pertama.
Di final Piala UEFA, Los Periquitos harus menyelesaikan duel melawan Bayer Leverkusen melalui titik putih. Setelah Ernesto Valverde dkk. menang 3-0 di kandang, Espanyol kalah 0-3 di Jerman. Dalam duel adu penalti itu, Thomas N’Kono cs. kalah 2-3.
Panggung Eropa
Kini, Valverde ada di bangku pelatih. Mantan gelandang itu memimpin Espanyol mengejutkan Eropa saat mencapai semifinal dengan melewati rintangan klub besar seperti Ajax dan Benfica. Inilah kali pertama Espanyol melaju ke semifinal sebuah kejuaraan Eropa dalam 19 tahun terakhir.
Melihat kiprah Espanyol musim ini, posisi mereka yang terbilang aman untuk bertahan di Primera Division musim depan ikut berperan. Tampil tanpa beban berlebih jadi modal penting. Situasi bertolak belakang terjadi di tim tamu. Bremen masih berjuang berbagi perhatian memburu mahkota Bundesliga.
Namun, kubu Espanyol pun pantas mewaspadai gerak positif lawan. Seperti pengakuan Schaaf seusai menundukkan AZ Alkmaar 4-1 di Bremen, “Kami bisa bermain sangat baik saat dibutuhkan dengan konsentrasi tinggi seluruh pemain. Apalagi Miroslav Klose sudah mencetak gol lagi. Kalau Klose dalam kondisi terbaik, tak ada lagi permainan buruk Bremen.” (Weshley Hutagalung)
Plus-Minus
ESPANYOL
(+) Turun dengan kepercayaan diri tinggi, sebuah modal penting berlaga di Eropa.
(+) Produktivitas gol semakin baik di babak II.
(-) Sering merotasi pemain bisa jadi ganjalan memaksimalkan kemampuan.
(-) Tak terlalu baik mewaspadai perubahan strategi lawan di babak II.
BREMEN
(+) Dalam kondisi terbaik, kualitas permainan ada di papan atas Eropa.
(+) Klose kembali menemukan ketajamannya di kancah Eropa.
(-) Banyak pemain penting sakit dan baru pulih dari cedera.
(-) Kerepotan bila mendapat tekanan dari kedua sayap.
Perang Bekas Kawan
Chelsea mendepak Claudio Ranieri, meski pelatih asal Italia ini membawa The Blues mencapai semifinal Liga Champion 2003/04. Sebagai gantinya, pada 2 Juni 2004 Roman Abramovich memboyong Jose Mourinho ke Stamford Bridge.
Jose disebut memiliki kelebihan dalam hal taktik. Selain itu, pria kelahiran 26 Januari 1963 ini juga disebut sebagai salah satu motivator ulung dan sangat mengagungkan sains di antara jajaran pelatih Eropa.
Pelatih muda nan canggih alias cerewet yang pernah berguru pada Sir Bobby Robson itu telah membawa Porto menjadi kampiun musim tersebut. Bahkan kesuksesan Eropa sudah dirintisnya setahun sebelumnya, juga bersama Porto, kala menjuarai Piala UEFA 2003.
Tepat dua pekan setelah kedatangan Jose, hadir seorang pelatih asing lain ke Inggris. Rafael Benitez, pelatih bertangan dingin lain, digaet Liverpool setelah membawa Valencia menjadi juara La Liga 2003/04 plus titel Piala UEFA.
Keahlian dalam hal taktik juga disebut sebagai kelebihan Rafa. Pengalaman di tim junior Madrid dan dua klub semenjana Spanyol, Tenerife dan Extremadura, cukup untuk meyakinkan Valencia memakai kebisaan pelatih kelahiran 16 April 1960 itu. El Che dibawanya menjadi kampiun 2002, pertama setelah 31 tahun.
Tak dinyana, perseteruan dua bos baru itu langsung panas pada musim perdana mereka. Chelski-Mourinho dua kali membekap Liverpool-Benitez kala tampil di kandang maupun saat tandang, keduanya dengan gol Joe Cole.
The Blues akhirnya merasakan titel Premiership setelah puasa 50 tahun. Mourinho pun unggul ketimbang Benitez, yang belum berhasil membawa Reds melepas dahaga liga.
Mulai Menang
Namun, tidak salah bila puncak pertarungan terberat kedua tim di bawah bos barunya masing-masing tergelar pada semifinal Liga Champion 2004/05. Setelah partai kacamata di Stamford Bridge, Si Merah menyingkirkan Si Biru dengan hasil 1-0.
Rafa Benitez lalu menyamakan kesuksesan Eropa milik rivalnya itu. The Reds melangkah ke final di Istanbul dan berhasil memeluk trofi Liga Champion untuk kali kelima, pertama untuk The Spaniard Benitez.
Suhu rivalitas dua manajer ini memanas dalam dua musim berikutnya. Musim lalu, Liverpool lagi-lagi dua kali dibekap di Premiership. Namun, keduanya berbagi angka di Grup G Liga Champion. Reds akhirnya menang pada semifinal Piala FA dan berakhir dengan titel.
Rafa bahkan dua kali mengganjal Mourinho musim ini. Selain kemenangan 2-0 di Anfield, Benitez Boyz mengawali musim dengan kemenangan 2-1 pada ajang Community Shield.
Perang adalah gambaran wajar untuk situasi terkini Benitez dan Mourinho. Rafa mulai meladeni ucapan nyinyir Jose. Respons yang bahkan tak kalah pedas keluar menangkis ucapan Jose bahwa The Reds adalah favorit karena hanya mengejar peluang titel terakhir di Liga Champion.
“Kami adalah teman baik sampai tim saya mulai menang. Kemudian ia mulai berubah pikiran. Ia memiliki hubungan yang sangat bagus cuma dengan manajer tim-tim yang normalnya ia kalahkan,” ucap Rafa pada BBC. (Christian Gunawan)
Data Pertandingan
---------------------------
Siaran Langsung
RCTI
Kamis, 26 April;
Pukul 01.45 WIB
Rekor pertemuan di Liga Champion
Chelsea Menang: 0
Imbang: 3
Liverpool Menang: 1
SKUAD
CHELSEA (4-4-2) 1-Cech; 3-A. Cole, 6-Carvalho, 26-Terry, 19-Diarra; 4-Makelele, 8-Lampard, 10-J. Cole, 13-Ballack; 11-Drogba, 7-Shevchenko Cadangan: 23-Cudicini; 24-S. Wright-Phillips, 21-Kalou, 12-Mikel, 18-Bridge. Absen: Shevchenko*, Robben (cedera), Essien (skorsing). Pelatih: Jose Mourinho (Portugal).
LIVERPOOL (4-2-3-1): 25-Reina; 2-Arbeloa, 23-Carragher, 5-Agger, 3-Finnan; 14-Alonso, 22-Sissoko; 16-Pennant, 8-Gerrard, 6-Riise; 15-Crouch Cadangan: 1-Dudek; 18-Kuyt, 4-Hyypia, 20-Mascherano, 17-Bellamy. Absen: Aurelio, Garcia, Kewell (cedera). Pelatih: Rafael Benitez (Spanyol).
Plus-Minus
CHELSEA
(+) Lampard dan Ballack sering muncul mendadak di kotak penalti lawan.
(+) Kecepatan supersub Shaun Wright-Phillips sebagai andalan di situasi sulit.
(+) Kondisi Joe Cole telah benar-benar fit.
(+) Kembali menemukan formasi terbaik di semua lini setelah beberapa kali dihadapkan pada cedera pemain dan problem adaptasi pemain baru.
(-) Sheva tidak 100% fit sementara Salomon Kalou tampil inkonsisten.
(-) Banyak pemain yang tampil hati-hati karena sudah mengantungi kartu kuning.
(-) Petr Cech belakangan mudah dibobol tendangan menyilang dari arah sayap kiri.
(-) Ketergantungan pada Essien terlalu tinggi, performa Mikel dan Makelele sebagai pengganti sering kali naik-turun.
LIVERPOOL
(+) Datang dengan moral tinggi karena memiliki rekor pertandingan di Eropa yang lebih baik.
(+) Tidak terganggu cedera pemain belakangan ini, pilihan the winning team bisa dipertahankan.
(+) Adaptasi perlahan yang dilakukan Benitez untuk mengubah formasi baku 4-4-2 menjadi 4-5-1 membuat pemain fleksibel memahami perubahan taktik di tengah laga.
(-) Barisan gelandang terlalu tergantung pada Steven Gerrard dalam hal mencetak gol lewat permainan terbuka.
(-) Kombinasi permainan menusuk tidak sebagus variasi lewat kedua sayap, tapi bek sayap Chelsea kini sangat solid.
(-) Lemah membaca pergerakan tanpa bola bila menghadapi lawan dengan taktik umpan-umpan pendek.
(-) Memasang dua gelandang bertahan membuat Liverpool rawan terkena hukuman pelanggaran di daerah berbahaya.
Telaah Taktik Chelsea (4-4-2)
Mikel atau Makalele
Setiap kali kalah dari Liverpool di era Mourinho, lini belakang Chelsea pasti sedang bermasalah. Dalam semifinal kedua LC 2004/05, sektor bek sayap rapuh karena Wayne Bridge tengah cedera.
Sementara itu di semifinal Piala FA 2005/06 bek kanan Geremi Njitap yang meragukan membuat Mourinho memasang Paulo Ferreira sebagai gelandang pelindung di kanan. Kondisi serupa terulang di Community Shield 2006, ketika Ferreira dipasang di posisi yang tidak disukainya, sebagai bek kiri.
Di saat Chelsea kalah 0-2 di Anfield pada ajang Premiership musim ini The Blues turun tanpa John Terry dan Ricardo Carvalho lantaran mereka tengah cedera sehingga Michael Essien pun didaulat menjadi bek sentral bersama Ferreira.
Sekarang lini belakang skuad Roman Emperor kembali kokoh, terutama dengan sosok Lassana Diarra, yang mencuat di kanan. Mourinho tidak perlu ragu bahwa siapa pun yang bermain di sayap kiri Pool, kali ini bisa mereka redam.
Nah, perubahan yang sedikit mengganggu keseimbangan justru karena skorsing yang menimpa Essien di tengah. Seharusnya bila Chelsea yakin dengan back-four miliknya, John Obi Mikel yang dipilih sebagai pengisi posisi Essien.
Memasang Claude Makelele juga bisa dipertimbangkan bila The Reds diduga memasang lima gelandang. Pastinya, Mikel lebih agresif dibanding Makelele dalam menyerang. (toen)
Telaah Taktik Liverpool (4-2-3-1)
Maksimalkan Bola Mati
Gejala yang diperlihatkan The Reds belakangan ini adalah sebuah petunjuk bahwa Benitez benar-benar memprioritaskan semifinal Liga Champion di atas ajang Premiership. Dalam tiga laga terakhir di liga domestik, Rafa menurunkan formasi dengan satu penyerang dalam starting eleven-nya.
Langkah ini diambil sebagai pengorbanan yang layak demi mengakali kokohnya bek Chelsea di semifinal pertama pekan ini. Ya, diharapkan lini belakang tuan rumah terpancing naik andai Liverpool hanya menurunkan satu striker dan di saat itu tiga gelandang agresif Benitez Boyz bisa menyusup masuk.
Formulasi yang menjanjikan kemenangan ini dipelajari the Spaniard gaffer ketika Liverpool berhasil mengatasi Blues di Community Shield tahun lalu. Kala itu Peter Crouch diturunkan sendirian di depan meski Craig Bellamy juga fit.
Dalam kondisi berimbang, peluang Reds untuk mencuri gol akan lebih banyak datang dari sepak pojok dan tendangan bebas. Tandukan Crouch dan keunggulan duel udara yang dimiliki Xabi Alonso serta Javier Mascherano adalah modal dalam sepak pojok, sementara tendangan geledek Steven Gerrard dan John-Arne Riise dari free kick bakal sulit dihentikan.
Bila skenario mendadak berubah lantaran Liverpool kebobolan, Bellamy atau Dirk Kuyt (telah terbebas dari skorsing) bisa diturunkan menggeser satu pemain sayap. Formasi 4-2-3-1 memang tidak lazim untuk Liverpool, tapi menjanjikan kestabilan. (toen)