Search blog.co.uk

Posts archive for: 25 April, 2007
  • Kemajuan dan kekuatan sebuah ekonomi

    Kemajuan dan kekuatan sebuah ekonomi dibangun oleh aktifitas para wirausahawan dalam menyediakan produk dan pelayanan yang menguntungkan para pelanggannya dan menyejahterakan para wirausahawan tersebut.

    Pertumbuhan kemandirian keuangan seorang karyawan memiliki batas-batas yang jelas, namun tidak demikian halnya dengan pertumbuhan kesejahteraan dan kemandirian finansial bagi para pemilik usaha.

    Tidak ada eksekutif puncak yang income-nya tidak terbatas, seberapa elegant-pun pangkat dan jabatannya. Tetapi tidak ada satu orang pun yang bisa mengatakan bahwa seorang pemilik usaha kecil di pojok jalan itu, tidak memiliki potensi untuk menjadi pemain besar di industrinya nanti.

    Karena pilihan yang sudah tetap, atau karena tidak adanya pilihan, kita memutuskan atau terpaksa memutuskan untuk memulai bisnis kita sendiri. Memang tidak ada jaminan bahwa semua wirausahawan akan berhasil, seperti juga tidak adanya jaminan untuk keberhasilan karir sebagai karyawan; tetapi dengan pemikiran dan sikap yang baik, disertai tuntunan pendirian usaha baru yang komprehensif, kesempatan kita untuk berhasil menjadi lebih baik.

  • Blues Menang Tipis

    Valencia lebih kuat dari FC Porto dan Liverpool lebih kuat dibanding Valencia. Penilaian subjektif ini akan menggiring pada hipotesis bahwa Chelsea bisa kalah di London dari The Reds pekan ini.

    Saat menang di Stamford Bridge atas Porto (2-1) dan bermain imbang melawan Valencia (1-1) berturut-turut di perdelapanfinal dan perempatfinal, Chelsea dihadapkan pada dua kondisi berbeda. Melawan Porto, Sheva dan Drogba berhasil dimandulkan dengan taktik defensif, sedangkan kala menghadapi Valencia Essien absen.

    Namun, kedua laga di atas ditandai kesamaan berupa fenomena tertinggalnya Chelsea lebih dulu oleh gol lawan. Kondisi penuh tekanan ini malah disikapi positif pasukan Mourinho dengan berbalik menyerang dengan lebih dinamis untuk membalikkan keadaan.

    Well, berhubung kuatnya kecenderungan Liverpool datang dengan formasi awal yang hanya berisi satu striker, dua skenario tadi sulit terjadi untuk ketiga kalinya sekarang.

    BOLA menilai amat kecil peluang The Reds membuka skor lebih dulu dan gol Chelsea bisa lahir di saat kedua kubu kelelahan telah bermain ketat dalam durasi yang panjang. Meski hasil imbang juga masih mungkin terjadi, peluang bagi tuan rumah untuk menang tipis kali ini lebih besar.

    Mengutip ucapan Mourinho, dua duel imbang 0-0 kedua kubu musim lalu sulit terulang. Ya, tekanan untuk menang di fase knock out memang lebih besar ketimbang saat putaran grup 2005/06 itu. (toen)

    Prakiraan Peluang
    Bet Brain : 1(1,95)x(3,07)2(3,74)
    William Hill: 1(2,15)x(3,15)2(4,25)
    Soccerstats : 1(46%)x(30%)2(24%)
    BOLA: Chelsea menang: 45%; Imbang: 30%; Liverpool menang: 25%.

    Deja Vu Valverde

    Sukses menaklukkan Benfica 3-2 di kandang, Espanyol berhak atas tiket ke babak semifinal Piala UEFA untuk pertama kalinya dalam 19 tahun terakhir. Sebelumnya Espanyol beraksi di semifinal Piala UEFA pada 1988. Sayang, mereka gagal berlaga di final setelah tersingkir oleh Club Brugge dengan agregat 2-3.

    Sosok di balik kesuksesan Espanyol kala itu adalah Ernesto Valverde. Ya, arsitek tim yang saat ini kembali menangani Los Pariquitos.

    “Saya seperti mengalami deja vu,” ungkap Valverde seperti dilansir Sportinglife. “Namun, saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kali ini, langkah Espanyol tidak akan terhenti pada babak semifinal saja seperti yang terjadi pada tahun 1988,” lanjut entrenador kelahiran 9 Februari 1964 itu.

    Alumni 1988

    Well, Espanyol bukan satu-satunya alumnus Piala UEFA 1988. Sang rival, Werder Bremen, juga merupakan semifinalis Piala UEFA pada tahun yang sama. Seperti halnya Espanyol, klub Jerman ini tidak berhasil melaju ke partai final setelah tersingkir oleh Bayer Leverkusen.

    “Bremen memiliki kesamaan nasib dengan Espanyol. Sembilan belas tahun lalu kami sama-sama gagal melangkah ke final Piala UEFA,” ucap Direktur Olahraga Bremen, Klaus Allofs. “Kami akan menghadapi partai yang sengit karena saya yakin tidak ada satu pun dari kedua klub yang ingin mengalami nasib yang sama,” imbuhnya. (wta)

    Telaah Taktik Espanyol
    Tembok Pemantul

    (4-2-3-1) 1-Iraizoz; 12-Velasco, 4-Lacruz, 21-Jarque, D.Garcia; 6-Edu Costa, 16-Jonatas; Rufete, 9-De la Pena, 17-Moha; 7-Pandiani Cadangan: 25-Kameni, 8-Zabaleta, 10-Luis Garcia, 11-Riera, 14-Ito, 19-Torrejon, 22-Moises. Pelatih: Ernesto Valverde

    Secara kuantitas, daya serang Espanyol tidak bisa dibilang tinggi. Bila lawan lebih dahulu berhasil mengontrol irama dan memberi tekanan, Espanyol akan memainkan strategi bola-bola kejut yang piawai diterapkan Ivan de la Pena cs.

    Setiap serangan musuh yang gagal langsung dipantulkan kembali ketika formasi lawan belum siap untuk bertahan. Kecepatan mengambil keputusan para gelandang jadi kunci. Ketika pelanggaran terjadi untuk menghentikan serangan balik Espanyol, bola-bola mati kerap membuahkan hasil.

    Namun, menarik ditunggu penjaga formasi 4-2-3-1 yang dipercaya Valverde. Sang pelatih kerap merotasi pemainnya, ada yang khusus tampil di Eropa. Nah, memasuki masa-masa kritis kompetisi, masihkah sistem bagi-bagi jam terbang Los Periquitos berlaku melawan tim sekelas Bremen?

    Apakah Espanyol masih memainkan satu penyerang? Menduetkan Pandiani dan Luis Garcia akan meningkatkan ancaman, meski berisiko mengikis tembok di lini tengah. Tapi, mengandalkan serangan balik dan membiarkan Bremen mengontrol permainan, juga mengundang bahaya.

    Apa pilihan Valverde? (wesh)

    Telaah Taktik Bremen
    Berlapis di Tengah

    (4-1-2-1-2) 18-Wiese; 8-Fritz, 3-Pasanen, 4-Naldo, 15-Owomoyela; 7-Vranjes; 20-Jensen, 22-Frings; 10-Diego; 11-Klose, 23-Almeida Cadangan: 1-Reinke, 6-Bauman, 14-Hunt, 19-Polenz, 28-Schindler, 38-Bischoff. Pelatih: Thomas Schaaf

    Tanpa Borowski, Bremen merasa lebih aman menerapkan formasi 4-1-2-1-2, menggantikan strategi 4-1-3-2. Borowski adalah sosok penghubung di lini tengah yang kini berjuang menyembuhkan cedera lutut kiri yang kambuh. Ia terancam absen di Olimpic de Montjuic Lluis Companys.

    Di tengah, pelatih Thomas Schaaf kerap melakukan rotasi. Pemain sekaliber Frank Baumann bahkan sulit kembali ke formasi inti setelah sembuh dari cedera. Schaaf bisa saja mempercayakan trio Vranjes, Frings, dan Jensen untuk menopang kerja Diego bila sang kapten, Baumann, dipersiapkan untuk babak II. Bila strategi berjalan, materi gelandang Bremen menghadirkan serangan berlapis dari lini kedua.

    Di kandang Espanyol, Diego harus leluasa memikirkan bagaimana caranya membangun serangan, melayani Klose, Aaron Hunt, atau Almeida. Bila konsentrasi Diego malah condong memikirkan pertahanan, daya ledak Bremen di kotak pertahanan lawan akan mengecewakan.

    Apalagi, dua gol yang dicetak Klose ke gawang AZ Alkmar di babak perempatdinal (skor 4-1) memunculkan harapan akan lahirnya gol demi gol dari sang bomber. Ya, itulah gol perdana Klose di dua panggung Eropa, Liga Champion dan Piala UEFA. (wesh)

    Prediksi

    Kedua klub belum pernah bertemu di kompetisi Eropa. Tapi, Bremen bukan klub Jerman pertama yang dihadapi. Hanya dalam 8 pertemuan, Espanyol berbagai sama kemenangan dan kekalahan. Namun, Los Periquitos unggul produktivitas gol, 12 berbanding 8.

    Seberapa baik peluang Espanyol di duel kesembilan melawan wakil Jerman? Tipis. Ya, kemenangan dengan mencetak banyak gol seperti ketika menjamu Benfica (3-2) atau Maccabi Haifa (4-0) dan Liverno (2-0) selepas babak penyisihan grup sulit terulang. Kemenangan dengan selisih satu bola masih dimungkinkan meski hasil seri bukan tak mungkin terjadi.

    Bagaimana kiprah Espanyol bertemu klub-klub Jerman di ajang antarklub Eropa?

    * Espanyol kalah 1-2 dari TSV Eeintrach Braunschweig dan menang 2-0 di kandang saat berlaga di Piala UEFA 1976/77.

    * Di ajang yang sama, babak I musim 1987/88, Espanyol berhasil mengalahkan VfL Borussia Moenchengladbach 1-0 di kandang lawan. Kemenangan telah 4-1 didapat saat menjadi tuan rumah.

    * Seusai menyingkirkan Gladbach, Espanyol melaju ke final dan bertemu klub Jerman lain, Bayer Leverkusen. Skor 3-0 sama-sama didapat ketika kompetisi masih memakai sistem home and away. Duel titik penalti di Leverkusen memihak tuan rumah: Espanyol kalah 2-3.

    * Schalke menjadi klub Jerman terakhir yang dihadapi Espanyol. Di babak 32 besar Piala UEFA 2005/06, Espanyol kalah 1-2 di Jerman dan lebih telah terpukul di Olimpic de Montjuic dengan skor 0-3.

    Prakiraan Peluang
    Bet Brain
    Espanyol Menang: 2,60
    Imbang: 3,20
    Bremen Menang: 2,75

    Interwetten
    Espanyol Menang: 2,50
    Imbang: 3,10
    Bremen Menang: 2,75

    10Bet
    Espanyol Menang: 2,45
    Imbang: 3,11
    Bremen Menang: 2,71

    BOLA
    Espanyol Menang: 32%
    Imbang: 36%
    Bremen Menang: 32%

  • Blues Menang Tipis

    Valencia lebih kuat dari FC Porto dan Liverpool lebih kuat dibanding Valencia. Penilaian subjektif ini akan menggiring pada hipotesis bahwa Chelsea bisa kalah di London dari The Reds pekan ini.

    Saat menang di Stamford Bridge atas Porto (2-1) dan bermain imbang melawan Valencia (1-1) berturut-turut di perdelapanfinal dan perempatfinal, Chelsea dihadapkan pada dua kondisi berbeda. Melawan Porto, Sheva dan Drogba berhasil dimandulkan dengan taktik defensif, sedangkan kala menghadapi Valencia Essien absen.

    Namun, kedua laga di atas ditandai kesamaan berupa fenomena tertinggalnya Chelsea lebih dulu oleh gol lawan. Kondisi penuh tekanan ini malah disikapi positif pasukan Mourinho dengan berbalik menyerang dengan lebih dinamis untuk membalikkan keadaan.

    Well, berhubung kuatnya kecenderungan Liverpool datang dengan formasi awal yang hanya berisi satu striker, dua skenario tadi sulit terjadi untuk ketiga kalinya sekarang.

    BOLA menilai amat kecil peluang The Reds membuka skor lebih dulu dan gol Chelsea bisa lahir di saat kedua kubu kelelahan telah bermain ketat dalam durasi yang panjang. Meski hasil imbang juga masih mungkin terjadi, peluang bagi tuan rumah untuk menang tipis kali ini lebih besar.

    Mengutip ucapan Mourinho, dua duel imbang 0-0 kedua kubu musim lalu sulit terulang. Ya, tekanan untuk menang di fase knock out memang lebih besar ketimbang saat putaran grup 2005/06 itu. (toen)

    Prakiraan Peluang
    Bet Brain : 1(1,95)x(3,07)2(3,74)
    William Hill: 1(2,15)x(3,15)2(4,25)
    Soccerstats : 1(46%)x(30%)2(24%)
    BOLA: Chelsea menang: 45%; Imbang: 30%; Liverpool menang: 25%.

    Deja Vu Valverde

    Sukses menaklukkan Benfica 3-2 di kandang, Espanyol berhak atas tiket ke babak semifinal Piala UEFA untuk pertama kalinya dalam 19 tahun terakhir. Sebelumnya Espanyol beraksi di semifinal Piala UEFA pada 1988. Sayang, mereka gagal berlaga di final setelah tersingkir oleh Club Brugge dengan agregat 2-3.

    Sosok di balik kesuksesan Espanyol kala itu adalah Ernesto Valverde. Ya, arsitek tim yang saat ini kembali menangani Los Pariquitos.

    ?Saya seperti mengalami deja vu,? ungkap Valverde seperti dilansir Sportinglife. ?Namun, saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kali ini, langkah Espanyol tidak akan terhenti pada babak semifinal saja seperti yang terjadi pada tahun 1988,? lanjut entrenador kelahiran 9 Februari 1964 itu.

    Alumni 1988

    Well, Espanyol bukan satu-satunya alumnus Piala UEFA 1988. Sang rival, Werder Bremen, juga merupakan semifinalis Piala UEFA pada tahun yang sama. Seperti halnya Espanyol, klub Jerman ini tidak berhasil melaju ke partai final setelah tersingkir oleh Bayer Leverkusen.

    ?Bremen memiliki kesamaan nasib dengan Espanyol. Sembilan belas tahun lalu kami sama-sama gagal melangkah ke final Piala UEFA,? ucap Direktur Olahraga Bremen, Klaus Allofs. ?Kami akan menghadapi partai yang sengit karena saya yakin tidak ada satu pun dari kedua klub yang ingin mengalami nasib yang sama,? imbuhnya. (wta)

    Telaah Taktik Espanyol
    Tembok Pemantul

    (4-2-3-1) 1-Iraizoz; 12-Velasco, 4-Lacruz, 21-Jarque, D.Garcia; 6-Edu Costa, 16-Jonatas; Rufete, 9-De la Pena, 17-Moha; 7-Pandiani Cadangan: 25-Kameni, 8-Zabaleta, 10-Luis Garcia, 11-Riera, 14-Ito, 19-Torrejon, 22-Moises. Pelatih: Ernesto Valverde

    Secara kuantitas, daya serang Espanyol tidak bisa dibilang tinggi. Bila lawan lebih dahulu berhasil mengontrol irama dan memberi tekanan, Espanyol akan memainkan strategi bola-bola kejut yang piawai diterapkan Ivan de la Pena cs.

    Setiap serangan musuh yang gagal langsung dipantulkan kembali ketika formasi lawan belum siap untuk bertahan. Kecepatan mengambil keputusan para gelandang jadi kunci. Ketika pelanggaran terjadi untuk menghentikan serangan balik Espanyol, bola-bola mati kerap membuahkan hasil.

    Namun, menarik ditunggu penjaga formasi 4-2-3-1 yang dipercaya Valverde. Sang pelatih kerap merotasi pemainnya, ada yang khusus tampil di Eropa. Nah, memasuki masa-masa kritis kompetisi, masihkah sistem bagi-bagi jam terbang Los Periquitos berlaku melawan tim sekelas Bremen?

    Apakah Espanyol masih memainkan satu penyerang? Me

  • Sempurna

    Sempurna bukan berarti gak ada cacat. Kita sebagai manusia terlalu sibuk membuat patokan sempurna, terlalu sibuk membuat pagar-pagar standar, jadinya segala sesuatu yang nggak sesuai dengan patokan dan pagar-pagar tadi, kita anggap cacat dan di bawah standar. Justru adanya cacat lah yang membuat sesuatu itu begitu sempurna

  • "Importance of having Breakfast"

    Breakfast can help prevent strokes, heart attack and sudden death. Advice on not to skip breakfast!

    Healthy living
    For those who always skip breakfast, you should stop that habit now! You've heard many times that "Breakfast is the most important meal of the day." Now, recent research confirms that one of the worst practices you can develop may be avoiding breakfast.

    Why?

    Because the frequency of heart attack, sudden death, and stroke peaks between 6:00a.m. and noon , with the highest incidence being
    between 8: 00a.m. and 10:00a.m.What mechanism within the body could account for this significant jump in sudden death in the early
    morning hours?

    We may have an Answer.

    Platelet, tiny elements in the blood that keep us from bleeding to Death if we get a cut, can clump together inside our arteries due to
    cholesterol or laque buildup in the artery lining. It is in the morning hours that platelets become the most activated and tend to form these internal blood clots at the greatest frequency.

    However, eating even a very light breakfast prevents the morning platelet activation that is associated with heart attacks and strokes. Studies performed at Memorial University in St.Johns, Newfoundland found that eating a light, very low-fat breakfast was critical in modifying the morning platelet activation. Subjects in the study consumed either low-fat or fat-free yogurt, orange juice, fruit, and a source of protein coming from yogurt or fat-free milk. So if you skip breakfast, it's important that you change this practice immediately in light of this research. Develop a simple plan to eat cereal, such as oatmeal or Bran Flakes, along with six ounces of grape juice or orange juice, and perhaps a piece of fruit. This simple plan will keep your platelets from sticking together, keep blood clots from forming, and perhaps head off a potential Heart Attack or stroke. So never ever skip breakfast.

  • Globalisasi Satu Misi

    Borderless. Tak ada batas maupun warna penghalang. Nilai-nilai etnik, bahasa, agama, dan budaya lebur. Permusuhan politik pun luluh oleh jabat tangan sportif seperti yang terjadi antara pemain Iran dengan Amerika Serikat di Piala Dunia 1994 dan sentimental persaudaraan Korea Utara dan Selatan di Piala Dunia 2002.

    Itulah sepakbola. Sepatutnya sampah rasial pun sudah hilang hingga ke semilir baunya sekalipun seiring dengan globalisasi tanpa batas di sepakbola. Cerminan terlihat di pentas Liga Champion 2006/07.

    Memasuki fase semifinal, meski trofi juara dipastikan bakal mendarat di Inggris atau Italia karena empat semifinalis hanya datang dari dua negara tersebut, masih ada 26 negara lain yang ikut meramaikan. Bukan hanya dari benua Eropa, tetapi 90 pemain yang terdaftar juga melibatkan negara-negara dari Amerika Latin, Afrika, bahkan juga Asia.

    Fakta tersebut merupakan lonjakan besar jika dibandingkan semifinal lima tahun lalu yang hanya melibatkan para pemain dari 15 negara.

    Dengan hadirnya tiga klub asal Inggris: Manchester United, Liverpool, dan Chelsea, serta satu wakil Italia, AC Milan, tidak heran jika pemain yang paling banyak muncul adalah dari dua negara tersebut dengan masing-masing menyumbang 21 dan 15 pemain.

    Setelah dua negara tersebut, selanjutnya Prancis berada di urutan ketiga dengan tujuh pemain, diikuti Brasil dan Belanda (6), Portugal (4), serta Argentina dan Spanyol (3).

    Kian lebarnya kawah Liga Champion pun terasa dengan adanya tiga negara baru yang sebelumnya tidak pernah merasakan gelar juara Liga Champion, yakni Cili untuk Liverpool (Mark Gonzalez), Pantai gading untuk Chelsea (Didier Drogba dan Salomon Kalou), dan Republik Korea bersama Manchester United (Park Ji-Sung). Untuk kasus Park, ia tentu berharap mencatat sejarah menjadi orang Asia pertama yang bisa merasakan gelar juara Liga Champion.

    Multinasional di Klub

    Multinasional bukan hanya terjadi di daftar pemain. Di bangku pelatih juga muncul sosok dari berbagai negara. Di luar Carlo Ancelotti, yang menangani AC Milan, klub dari negaranya sendiri, Italia, tiga klub Inggris dipimpin oleh para pelatih dari luar Inggris, yakni Skotlandia (Sir Alex Ferguson di Manchester United), Portugal (Jose Mourinho di Chelsea), dan Spanyol (Rafael Benitez untuk Liverpool).

    Pemilik klub juga bukan lagi taipan lokal, tapi benar-benar sudah berasal dari cross-border country. Chelsea dimiliki Roman Abramovich, pengusaha investasi berusia 40 tahun asal Rusia yang pernah menguasai perusahaan minyak Sibneft.

    Manchester United dikuasai Malcolm Glazer, pengusaha asal AS yang memiliki berbagai usaha di bidang suplai dan pengepakan makanan, broadcasting, kesehatan, properti, perbangkan, minyak dan gas alam, internet, keuangan, hingga pemilik klub american football, Tampa Bay Buccaneers.

    Liverpool baru diambil alih oleh duet pengusaha asal AS, Tom Hicks dan George Gillet. Core business Hicks kental dengan dunia hiburan dan olahraga karena ia adalah pemilik Southwest Sports Group, perusahaan yang memiliki klub hoki Dallas Stars dan bisbol Texas Rangers serta Mesquite Championship Rodeo. Gillet adalah pemilik perusahaan yang bergerak di berbagai produk makanan, media elektronik dan cetak, klub hoki Montreal Canadies, promotor olahraga dan hiburan, dealer mobil, hingga resor ski.

    AC Milan merupakan satu-satunya klub yang dimiliki oleh penguasa lokal, yakni Silvio Berlusconi, raja media Italia yang juga pernah menjabat sebagai perdana menteri.

    Secara emosi, para triliuner tersebut akan terlibat pada pertarungan di semifinal. Misi yang ada di benak mereka pun pasti sama. Urusan mengeruk keuntungan sudah pasti karena itu adalah bagian akhir dari landasan bisnis mereka. Tapi, yang bakal menguras ketegangan mereka dalam hari-hari ini adalah misi memindahkan trofi juara yang musim lalu direbut Barcelona ke altar trofi juara di markas klub kekuasaannya.

    Setelah kompetisi dilalui dengan total 222 pertandingan yang melibatkan 73 klub dari 49 negara sejak babak kualifikasi hingga perempatfinal, kini empat klub tersebut tinggal menjalani dua partai semifinal demi melangkah ke Athena, tempat final yang akan digelar pada 23 Mei.

    Midweek ini first leg akan digelar. Manchester United menjamu AC Milan dan dalam duel Inggris, Chelsea terlebih dulu menjadi tuan rumah untuk Liverpool. Namun, bukan hanya para pemilik klub, semua stakeholder termasuk suporter global tentu berharap klub yang didukungnya unggul.

    Senyuman kemenangan atau kekecewaan tanda kekalahan menjadi bagian akhir setelah menyimak pertandingan meski masih ada second leg pekan depan. Bagaimana dengan Anda? Tersenyum atau kecewa? Don’t miss it! (Yudhi Febiana)

    Negara Asal Pemain*
    21 - Inggris
    15 - Italia
    7 - Prancis
    6 - Brasil, Belanda
    4 - Portugal
    3 - Argentina, Spanyol
    2 - Rep. Ceska, Pantai Gading, Norwegia, Irlandia, Wales
    1 - Australia, Kamerun, Cili, Kroasia, Denmark, Finlandia, Georgia, Jerman, Ghana, Rep. Korea, Nigeria, Polandia, Skotlandia, Serbia, Ukraina
    *) Daftar hanya melibatkan pemain yang bisa tampil di Liga Champion musim ini.

    Pemilik Klub Semifinalis

    CHELSEA
    Roman Abramovich
    Asal: Rusia
    Lahir: 24 Oktober 1966
    Kekayaan: 21 miliar dolar (190 triliun rupiah)
    Bidang Usaha

    * Millhouse Capital (perusahaan investasi)
    * Mantan penguasa saham Sibfnet (perusahaan minyak, tetapi sahamnya kemudian dilepas kepada raksasa energi Gazprom sebesar 13 miliar dolar)
    * Mantan penguasa saham Rusal, perusahaan raksasa almunium. Sahamnya dijual kepada Oleg Derpaska sebesar 2 miliar dolar.
    * Bersama partner bisnisnya, Eugene Shvidler menguasai saham perusahaan penerbangan Aeroflot.

    AC MILAN
    Silvio Berlusconi
    Lahir: 29 September 1936
    Asal: Italia
    Kekayaan: 11 miliar dolar (100 triliun rupiah)
    Bidang Usaha

    * Mediaset (perusahaan televisi)
    * Publitalia (agen periklanan terbesar di Italia)
    * Arnoldo Mondadori (perusahaan percetakan terbesar di Italia yang menerbitkan Panorama, majalah paling populer di negara itu)
    * Medusa Penta (distributor perfilman)
    * Mediolanum (perbankan dan asuransi)
    * Pendiri partai politik Forza Italia

    LIVERPOOL
    Tom Hicks
    Lahir: 1946
    Asal: Amerika Serikat
    Kekayaan: 10 miliar dolar (90 triliun rupiah)
    Bidang Usaha

    * Hicks, Muse, Tate & Furst (perusahaan investasi)
    * Texas Rangers (klub bisbol)
    * Dallas Stars (klub hoki)
    * Mesquite Championship Rodeo
    * Gammaloy (perusahaan perminyakan)
    * Perusahaan eletronik di Cina dengan 1.000 karyawan.
    * Perusahaan televisi kabel
    * Bahan-bahan bangunan di Timur Tengah
    * Makanan hewan di Argentina

    LIVERPOOL
    George Gillet
    Asal: Amerika Serikat
    Lahir: 22 Oktober 1938
    Kekayaan: 4 miliar dolar (26 triliun rupiah)
    Bidang Usaha

    * Gillet Communications (delapan stasiun televisi & 22 koran)
    * Booth Creek Ski Holdings Inc. (resor ski di New Hampshire, California, Washington, dan Wyoming)
    * Petaluma Poultry (produk-produk ayam organik dan natural)
    * Snowball Foods (produk-produk makanan ayam & kalkun)
    * B3R Country Meats & Coleman Natural Products (daging-daging segar)
    * Gerhard’s Napa Valley Sausage (produk-produk sosis).
    * Montreal Canadies (klub hoki)
    * Bell Centre (stadion hoki)
    * Gillett Entertainment Group (promotor olahraga dan hiburan)
    * Silverthorne Motors, Inc. (dealer kendaraan dengan franchise untuk Subaru, Dodge, Chrysler, dan Jeep
    * Northland Services Inc. (perusahaan transportasi laut)
    * Great Northern Bark and Sierra Organics (perusahaan produk-produk taman dan landscape).

    MAN. UNITED
    Malcolm Glazer
    Lahir: 1928
    Asal: Amerika Serikat
    Kekayaan: 2 miliar dolar (sekitar 18 triliun rupiah)
    Bidang Usaha

    * Zapata Corp (perusahaan perminyakan dan gas alam yang didirikan oleh George Herbet Walker Bush, mantan Presiden AS, ayah dari Presiden AS saat ini, George W. Bush)
    * Tampa Bay Buccaneers (klub american football)
    * Suplai dan pengepakan makanan
    * Broadcasting
    * Kesehatan
    * Properti
    * Perbankan
    * Internet

    Home Game Bukan Jaminan

    Tampaknya anggapan home court advantage pada 2nd leg Liga Champion tak lagi bisa diterapkan para pelaku sepakbola. Khususnya bagi mereka yang tengah mengadu nasib di panggung sepakbola antarklub terwahid Eropa musim ini.

    Mengapa demikian? Makin ke sini, kian tipis pula probabilitas tuan rumah pada 2nd leg bisa lolos ke babak berikut, bahkan saat mereka sudah mengantongi away goal dari bentrokan 1st leg.

    Valencia dan Bayern Muenchen menjadi korban teranyar dari situasi ini. Saat mementaskan perempatfinal II LC di Mestalla dan Allianz-Arena, kedua tim justru dipaksa takluk kepada Chelsea dan AC Milan.

    Padahal, mereka berdua sudah berada di pole position untuk merebut selembar tiket semifinal. Karena skor imbang 1-1 dan 2-2 di Stamford Bridge dan San Siro sepekan sebelumnya, hasil kacamata sudah cukup untuk memastikan kelolosan.

    Olympique Lyon pun menderita sindroma seperti ini di babak 16 besar. Meski sukses mengimbangi AS Roma di Olimpico pada duel pertama, Juninho Pernembucano dkk. malah dihajar 2-0 saat menjamu Roma di Stade Gerland.

    Inilah wajah sepakbola Benua Biru sekarang. Tak ada yang bisa memastikan outcome sebelum wasit meniupkan peluit tanda pertandingan bubar. Segala catatan statistik di atas kertas bisa mentah dalam sekejap!

    Tren seperti ini sudah muncul sejak musim lalu. Ambil contoh Arsenal kontra Villarreal di semifinal, partai Juventus melawan Arsenal di perempatfinal, serta duel Liverpool versus Benfica di perdelapanfinal. Perbedaannya dengan musim lalu, Arsenal dan Benfica, yang menjadi pemenang laga, sudah lebih dulu memimpin tatkala bertandang ke markas lawan pada pertemuan kedua.

    Faktor Pelatih

    Artinya apa? Faktor dukungan publik lokal yang selama ini menjadi momok bagi tim tamu, juga pemain ke-12 bagi skuad tuan rumah, mulai menghilang dari hitungan keunggulan nonteknis.

    So, yang mutlak memengaruhi kelolosan sebuah tim pada 2nd leg adalah aspek strategi pelatih dan mentalitas pemain. Dengan semakin tipisnya jurang kualitas di antara kontestan, ilmu sang guru serta mental juara para muridnya memegang peran sentral.

    Untuk semifinal kali ini, karung ilmu yang dimiliki kuertet pelatih Manchester United, AC Milan, Liverpool, dan Chelsea tentu tak perlu diragukan. Sir Alex Ferguson, Carlo Ancelotti, Rafael Benitez, dan Jose Mourinho semua sudah merasakan gelar juara Liga Champion. Khusus Mourinho, ia tidak merebut juara bersama Chelsea, tapi dengan klub sebelumnya, FC Porto.

    Artinya, faktor pelatih dalam mengadu ilmu dan strategi akan sangat dominan untuk menentukan kiprah klub selanjutnya. (Sapto Haryo Rajasa)

    RCD Espanyol vs Werder Bremen
    Olimpic de Montjuic Lluis Companys, Kamis (26/4)
    ------------------------------
    Semerbak Harum Eropa

    “Ayo, dua partai lagi.” Keberhasilan Espanyol melaju hingga semifinal Piala UEFA telah menimbulkan gairah besar di klub yang bermarkas di kota Barcelona itu. Misi mereka adalah menciptakan all-Spanish final di Glasgow, 16 Mei 2007.

    Keinginan Espanyol harus dimulai dengan baik di Olimpic de Montjuic Lluis Companys, Kamis (26/4). Mereka menjamu satu-satunya semifinalis non-Spanyol, Werder Bremen. Klub asal Jerman itu berkompetisi di Piala UEFA setelah gagal di Liga Champion musim ini.

    “Bagi klub seperti Espanyol, berlaga di semifinal Piala UEFA sangatlah penting,” ujar pelatih Ernesto Valverde seusai menyingkirkan Benfica di perempatfinal. “Ketika serangan kami kurang berfungsi, barisan pertahanan bekerja sangat baik.”

    Kepada media massa Spanyol, sang pelatih berusaha meredam impian dini terciptanya duel sesama tim Spanyol. “Apa gunanya langsung bermimpi tampil di Glasgow bila kami belum bermain di semifinal?” katanya.

    Ya, lawan Ivan de la Pena dkk. di semifinal Piala UEFA 2006/07 bukan tim sembarangan. Bremen memiliki pemain-pemain dengan karakter yang bisa menyulitkan tuan rumah. Valverde jelas memahami makna tersingkirnya Celta Vigo di babak 16 besar. Klub Spanyol itu menyerah home and away dari Bremen.

    Ketika Espanyol membiarkan Diego cs. lebih dahulu menguasai permainan, sulit sekali irama tim asuhan Thomas Schaaf itu dirusak. Celta telah menunjukkannya pada Espanyol.

    Namun, komentar pasukan Valverde mencerminkan keyakinan. “Kami bebas dari tekanan. Hal-hal aneh bisa terjadi dan membawa hasil baik bagi kami,” begitu kata gelandang Francisco Rufete pada Marca.

    Kiper spesialis Piala UEFA, Gorka Iraizoz, juga menyuarakan sikap positif. “Kami tak perlu motivasi ekstra. Semua pemain sangat bersemangat tampil di Eropa.”

    Aroma semerbak Eropa memang sudah lama tak dirasakan Los Periquitos, Si Burung Parkit dari kota Barcelona. Tahun 1988, Espanyol nyaris meraih trofi Eropa pertama.

    Di final Piala UEFA, Los Periquitos harus menyelesaikan duel melawan Bayer Leverkusen melalui titik putih. Setelah Ernesto Valverde dkk. menang 3-0 di kandang, Espanyol kalah 0-3 di Jerman. Dalam duel adu penalti itu, Thomas N’Kono cs. kalah 2-3.

    Panggung Eropa

    Kini, Valverde ada di bangku pelatih. Mantan gelandang itu memimpin Espanyol mengejutkan Eropa saat mencapai semifinal dengan melewati rintangan klub besar seperti Ajax dan Benfica. Inilah kali pertama Espanyol melaju ke semifinal sebuah kejuaraan Eropa dalam 19 tahun terakhir.

    Melihat kiprah Espanyol musim ini, posisi mereka yang terbilang aman untuk bertahan di Primera Division musim depan ikut berperan. Tampil tanpa beban berlebih jadi modal penting. Situasi bertolak belakang terjadi di tim tamu. Bremen masih berjuang berbagi perhatian memburu mahkota Bundesliga.

    Namun, kubu Espanyol pun pantas mewaspadai gerak positif lawan. Seperti pengakuan Schaaf seusai menundukkan AZ Alkmaar 4-1 di Bremen, “Kami bisa bermain sangat baik saat dibutuhkan dengan konsentrasi tinggi seluruh pemain. Apalagi Miroslav Klose sudah mencetak gol lagi. Kalau Klose dalam kondisi terbaik, tak ada lagi permainan buruk Bremen.” (Weshley Hutagalung)

    Plus-Minus
    ESPANYOL
    (+) Turun dengan kepercayaan diri tinggi, sebuah modal penting berlaga di Eropa.
    (+) Produktivitas gol semakin baik di babak II.
    (-) Sering merotasi pemain bisa jadi ganjalan memaksimalkan kemampuan.
    (-) Tak terlalu baik mewaspadai perubahan strategi lawan di babak II.
    BREMEN
    (+) Dalam kondisi terbaik, kualitas permainan ada di papan atas Eropa.
    (+) Klose kembali menemukan ketajamannya di kancah Eropa.
    (-) Banyak pemain penting sakit dan baru pulih dari cedera.
    (-) Kerepotan bila mendapat tekanan dari kedua sayap.

    Perang Bekas Kawan

    Chelsea mendepak Claudio Ranieri, meski pelatih asal Italia ini membawa The Blues mencapai semifinal Liga Champion 2003/04. Sebagai gantinya, pada 2 Juni 2004 Roman Abramovich memboyong Jose Mourinho ke Stamford Bridge.

    Jose disebut memiliki kelebihan dalam hal taktik. Selain itu, pria kelahiran 26 Januari 1963 ini juga disebut sebagai salah satu motivator ulung dan sangat mengagungkan sains di antara jajaran pelatih Eropa.

    Pelatih muda nan canggih alias cerewet yang pernah berguru pada Sir Bobby Robson itu telah membawa Porto menjadi kampiun musim tersebut. Bahkan kesuksesan Eropa sudah dirintisnya setahun sebelumnya, juga bersama Porto, kala menjuarai Piala UEFA 2003.

    Tepat dua pekan setelah kedatangan Jose, hadir seorang pelatih asing lain ke Inggris. Rafael Benitez, pelatih bertangan dingin lain, digaet Liverpool setelah membawa Valencia menjadi juara La Liga 2003/04 plus titel Piala UEFA.

    Keahlian dalam hal taktik juga disebut sebagai kelebihan Rafa. Pengalaman di tim junior Madrid dan dua klub semenjana Spanyol, Tenerife dan Extremadura, cukup untuk meyakinkan Valencia memakai kebisaan pelatih kelahiran 16 April 1960 itu. El Che dibawanya menjadi kampiun 2002, pertama setelah 31 tahun.

    Tak dinyana, perseteruan dua bos baru itu langsung panas pada musim perdana mereka. Chelski-Mourinho dua kali membekap Liverpool-Benitez kala tampil di kandang maupun saat tandang, keduanya dengan gol Joe Cole.

    The Blues akhirnya merasakan titel Premiership setelah puasa 50 tahun. Mourinho pun unggul ketimbang Benitez, yang belum berhasil membawa Reds melepas dahaga liga.

    Mulai Menang

    Namun, tidak salah bila puncak pertarungan terberat kedua tim di bawah bos barunya masing-masing tergelar pada semifinal Liga Champion 2004/05. Setelah partai kacamata di Stamford Bridge, Si Merah menyingkirkan Si Biru dengan hasil 1-0.

    Rafa Benitez lalu menyamakan kesuksesan Eropa milik rivalnya itu. The Reds melangkah ke final di Istanbul dan berhasil memeluk trofi Liga Champion untuk kali kelima, pertama untuk The Spaniard Benitez.

    Suhu rivalitas dua manajer ini memanas dalam dua musim berikutnya. Musim lalu, Liverpool lagi-lagi dua kali dibekap di Premiership. Namun, keduanya berbagi angka di Grup G Liga Champion. Reds akhirnya menang pada semifinal Piala FA dan berakhir dengan titel.

    Rafa bahkan dua kali mengganjal Mourinho musim ini. Selain kemenangan 2-0 di Anfield, Benitez Boyz mengawali musim dengan kemenangan 2-1 pada ajang Community Shield.

    Perang adalah gambaran wajar untuk situasi terkini Benitez dan Mourinho. Rafa mulai meladeni ucapan nyinyir Jose. Respons yang bahkan tak kalah pedas keluar menangkis ucapan Jose bahwa The Reds adalah favorit karena hanya mengejar peluang titel terakhir di Liga Champion.

    “Kami adalah teman baik sampai tim saya mulai menang. Kemudian ia mulai berubah pikiran. Ia memiliki hubungan yang sangat bagus cuma dengan manajer tim-tim yang normalnya ia kalahkan,” ucap Rafa pada BBC. (Christian Gunawan)

    Data Pertandingan
    ---------------------------
    Siaran Langsung
    RCTI
    Kamis, 26 April;
    Pukul 01.45 WIB

    Rekor pertemuan di Liga Champion
    Chelsea Menang: 0
    Imbang: 3
    Liverpool Menang: 1

    SKUAD
    CHELSEA (4-4-2) 1-Cech; 3-A. Cole, 6-Carvalho, 26-Terry, 19-Diarra; 4-Makelele, 8-Lampard, 10-J. Cole, 13-Ballack; 11-Drogba, 7-Shevchenko Cadangan: 23-Cudicini; 24-S. Wright-Phillips, 21-Kalou, 12-Mikel, 18-Bridge. Absen: Shevchenko*, Robben (cedera), Essien (skorsing). Pelatih: Jose Mourinho (Portugal).
    LIVERPOOL (4-2-3-1): 25-Reina; 2-Arbeloa, 23-Carragher, 5-Agger, 3-Finnan; 14-Alonso, 22-Sissoko; 16-Pennant, 8-Gerrard, 6-Riise; 15-Crouch Cadangan: 1-Dudek; 18-Kuyt, 4-Hyypia, 20-Mascherano, 17-Bellamy. Absen: Aurelio, Garcia, Kewell (cedera). Pelatih: Rafael Benitez (Spanyol).

    Plus-Minus
    CHELSEA
    (+) Lampard dan Ballack sering muncul mendadak di kotak penalti lawan.
    (+) Kecepatan supersub Shaun Wright-Phillips sebagai andalan di situasi sulit.
    (+) Kondisi Joe Cole telah benar-benar fit.
    (+) Kembali menemukan formasi terbaik di semua lini setelah beberapa kali dihadapkan pada cedera pemain dan problem adaptasi pemain baru.
    (-) Sheva tidak 100% fit sementara Salomon Kalou tampil inkonsisten.
    (-) Banyak pemain yang tampil hati-hati karena sudah mengantungi kartu kuning.
    (-) Petr Cech belakangan mudah dibobol tendangan menyilang dari arah sayap kiri.
    (-) Ketergantungan pada Essien terlalu tinggi, performa Mikel dan Makelele sebagai pengganti sering kali naik-turun.
    LIVERPOOL
    (+) Datang dengan moral tinggi karena memiliki rekor pertandingan di Eropa yang lebih baik.
    (+) Tidak terganggu cedera pemain belakangan ini, pilihan the winning team bisa dipertahankan.
    (+) Adaptasi perlahan yang dilakukan Benitez untuk mengubah formasi baku 4-4-2 menjadi 4-5-1 membuat pemain fleksibel memahami perubahan taktik di tengah laga.
    (-) Barisan gelandang terlalu tergantung pada Steven Gerrard dalam hal mencetak gol lewat permainan terbuka.
    (-) Kombinasi permainan menusuk tidak sebagus variasi lewat kedua sayap, tapi bek sayap Chelsea kini sangat solid.
    (-) Lemah membaca pergerakan tanpa bola bila menghadapi lawan dengan taktik umpan-umpan pendek.
    (-) Memasang dua gelandang bertahan membuat Liverpool rawan terkena hukuman pelanggaran di daerah berbahaya.

    Telaah Taktik Chelsea (4-4-2)
    Mikel atau Makalele

    Setiap kali kalah dari Liverpool di era Mourinho, lini belakang Chelsea pasti sedang bermasalah. Dalam semifinal kedua LC 2004/05, sektor bek sayap rapuh karena Wayne Bridge tengah cedera.

    Sementara itu di semifinal Piala FA 2005/06 bek kanan Geremi Njitap yang meragukan membuat Mourinho memasang Paulo Ferreira sebagai gelandang pelindung di kanan. Kondisi serupa terulang di Community Shield 2006, ketika Ferreira dipasang di posisi yang tidak disukainya, sebagai bek kiri.

    Di saat Chelsea kalah 0-2 di Anfield pada ajang Premiership musim ini The Blues turun tanpa John Terry dan Ricardo Carvalho lantaran mereka tengah cedera sehingga Michael Essien pun didaulat menjadi bek sentral bersama Ferreira.

    Sekarang lini belakang skuad Roman Emperor kembali kokoh, terutama dengan sosok Lassana Diarra, yang mencuat di kanan. Mourinho tidak perlu ragu bahwa siapa pun yang bermain di sayap kiri Pool, kali ini bisa mereka redam.

    Nah, perubahan yang sedikit mengganggu keseimbangan justru karena skorsing yang menimpa Essien di tengah. Seharusnya bila Chelsea yakin dengan back-four miliknya, John Obi Mikel yang dipilih sebagai pengisi posisi Essien.

    Memasang Claude Makelele juga bisa dipertimbangkan bila The Reds diduga memasang lima gelandang. Pastinya, Mikel lebih agresif dibanding Makelele dalam menyerang. (toen)

    Telaah Taktik Liverpool (4-2-3-1)
    Maksimalkan Bola Mati

    Gejala yang diperlihatkan The Reds belakangan ini adalah sebuah petunjuk bahwa Benitez benar-benar memprioritaskan semifinal Liga Champion di atas ajang Premiership. Dalam tiga laga terakhir di liga domestik, Rafa menurunkan formasi dengan satu penyerang dalam starting eleven-nya.

    Langkah ini diambil sebagai pengorbanan yang layak demi mengakali kokohnya bek Chelsea di semifinal pertama pekan ini. Ya, diharapkan lini belakang tuan rumah terpancing naik andai Liverpool hanya menurunkan satu striker dan di saat itu tiga gelandang agresif Benitez Boyz bisa menyusup masuk.

    Formulasi yang menjanjikan kemenangan ini dipelajari the Spaniard gaffer ketika Liverpool berhasil mengatasi Blues di Community Shield tahun lalu. Kala itu Peter Crouch diturunkan sendirian di depan meski Craig Bellamy juga fit.

    Dalam kondisi berimbang, peluang Reds untuk mencuri gol akan lebih banyak datang dari sepak pojok dan tendangan bebas. Tandukan Crouch dan keunggulan duel udara yang dimiliki Xabi Alonso serta Javier Mascherano adalah modal dalam sepak pojok, sementara tendangan geledek Steven Gerrard dan John-Arne Riise dari free kick bakal sulit dihentikan.

    Bila skenario mendadak berubah lantaran Liverpool kebobolan, Bellamy atau Dirk Kuyt (telah terbebas dari skorsing) bisa diturunkan menggeser satu pemain sayap. Formasi 4-2-3-1 memang tidak lazim untuk Liverpool, tapi menjanjikan kestabilan. (toen)

  • Globalisasi Satu Misi

    Borderless. Tak ada batas maupun warna penghalang. Nilai-nilai etnik, bahasa, agama, dan budaya lebur. Permusuhan politik pun luluh oleh jabat tangan sportif seperti yang terjadi antara pemain Iran dengan Amerika Serikat di Piala Dunia 1994 dan sentimental persaudaraan Korea Utara dan Selatan di Piala Dunia 2002.

    Itulah sepakbola. Sepatutnya sampah rasial pun sudah hilang hingga ke semilir baunya sekalipun seiring dengan globalisasi tanpa batas di sepakbola. Cerminan terlihat di pentas Liga Champion 2006/07.

    Memasuki fase semifinal, meski trofi juara dipastikan bakal mendarat di Inggris atau Italia karena empat semifinalis hanya datang dari dua negara tersebut, masih ada 26 negara lain yang ikut meramaikan. Bukan hanya dari benua Eropa, tetapi 90 pemain yang terdaftar juga melibatkan negara-negara dari Amerika Latin, Afrika, bahkan juga Asia.

    Fakta tersebut merupakan lonjakan besar jika dibandingkan semifinal lima tahun lalu yang hanya melibatkan para pemain dari 15 negara.

    Dengan hadirnya tiga klub asal Inggris: Manchester United, Liverpool, dan Chelsea, serta satu wakil Italia, AC Milan, tidak heran jika pemain yang paling banyak muncul adalah dari dua negara tersebut dengan masing-masing menyumbang 21 dan 15 pemain.

    Setelah dua negara tersebut, selanjutnya Prancis berada di urutan ketiga dengan tujuh pemain, diikuti Brasil dan Belanda (6), Portugal (4), serta Argentina dan Spanyol (3).

    Kian lebarnya kawah Liga Champion pun terasa dengan adanya tiga negara baru yang sebelumnya tidak pernah merasakan gelar juara Liga Champion, yakni Cili untuk Liverpool (Mark Gonzalez), Pantai gading untuk Chelsea (Didier Drogba dan Salomon Kalou), dan Republik Korea bersama Manchester United (Park Ji-Sung). Untuk kasus Park, ia tentu berharap mencatat sejarah menjadi orang Asia pertama yang bisa merasakan gelar juara Liga Champion.

    Multinasional di Klub

    Multinasional bukan hanya terjadi di daftar pemain. Di bangku pelatih juga muncul sosok dari berbagai negara. Di luar Carlo Ancelotti, yang menangani AC Milan, klub dari negaranya sendiri, Italia, tiga klub Inggris dipimpin oleh para pelatih dari luar Inggris, yakni Skotlandia (Sir Alex Ferguson di Manchester United), Portugal (Jose Mourinho di Chelsea), dan Spanyol (Rafael Benitez untuk Liverpool).

    Pemilik klub juga bukan lagi taipan lokal, tapi benar-benar sudah berasal dari cross-border country. Chelsea dimiliki Roman Abramovich, pengusaha investasi berusia 40 tahun asal Rusia yang pernah menguasai perusahaan minyak Sibneft.

    Manchester United dikuasai Malcolm Glazer, pengusaha asal AS yang memiliki berbagai usaha di bidang suplai dan pengepakan makanan, broadcasting, kesehatan, properti, perbangkan, minyak dan gas alam, internet, keuangan, hingga pemilik klub american football, Tampa Bay Buccaneers.

    Liverpool baru diambil alih oleh duet pengusaha asal AS, Tom Hicks dan George Gillet. Core business Hicks kental dengan dunia hiburan dan olahraga karena ia adalah pemilik Southwest Sports Group, perusahaan yang memiliki klub hoki Dallas Stars dan bisbol Texas Rangers serta Mesquite Championship Rodeo. Gillet adalah pemilik perusahaan yang bergerak di berbagai produk makanan, media elektronik dan cetak, klub hoki Montreal Canadies, promotor olahraga dan hiburan, dealer mobil, hingga resor ski.

    AC Milan merupakan satu-satunya klub yang dimiliki oleh penguasa lokal, yakni Silvio Berlusconi, raja media Italia yang juga pernah menjabat%2

  • W. Irian Jaya renamed as West Papua

    The government has issued a regulation officially renaming West Irian Jaya province to West Papua province, a political decision that may not automatically settle the prolonged dispute over the new province's existence.

    The director general for public administration at the Home Ministry, Sojuangon Situmorang, said the regulation, issued on April 18, gave the Papua and West Papua provincial administrations one year to conduct a public awareness campaign on the new name.

    "While publicizing the new provincial name, anyone and any side can use both names until the new name is used permanently as of April 18, 2008. The new name, proposed by the residents of West Irian Jaya, is aimed at identifying the social entity and ethnic group of Papua," he told a media conference here Monday.

    He said that West Papua, previously part of Papua province, had been granted special autonomy in 2001 and was declared a new province in 2003.

    "The presence of West Irian Jaya was acknowledged by the Constitutional Court when the latter was reviewing Law No. 45/1999 on the province's establishment. Despite the prolonged argument, both provincial administrations have embarked on coordination meetings to speed up the development program in the two provinces," he said.

    Despite its establishment in 2003 and subsequent provincial legislature in 2004, West Papua has yet to be financed by special autonomy funds and to establish a Papuan People's Assembly like that in Papua province. West Papua has not received financial benefits from the copper and gold mining industry in Timika and gas mining in Merauke.

    "But all regencies and municipalities in West Papua have received special autonomy funds (under Papua province) since the special autonomy law was enacted in 2001," Sojuangon added.

    He asked the government to revise the special autonomy law and the subsequent Presidential Instruction in order to synchronize the two and provide a permanent solution to the row over the new province.

    Papua has received a total of Rp 12.53 trillion (US$1.37 billion) since special autonomy was implemented in the province in 2001, but a large part of the funds have reportedly been embezzled by local officials.

    Local administrations in Papua and West Papua have come under fire recently from residents who say that despite the implementation of special autonomy, the social welfare of the 2.4 million who live in the region is yet to improve.

    Affordable education and health care are hard to come by, while those who live in remote mountain areas remain isolated because of the limited and expensive transportation facilities. Aircraft are still the only form of transportation that can reach the remote parts of the two provinces, whose combined size is three and a half times that of Java.

    Special autonomy was introduced as a peaceful solution to Papua's poor human development index ranking, unresolved human rights abuses and demands for the resource rich region's secession from Indonesia.

  • Membendung Hasrat Klub Inggris

    Tidak ada satu pun klub Eropa, kecuali AC Milan, yang bisa menggagalkan langkah klub Premiership menuju Athena. Kekuatan untuk membeli pemain terbaik di muka bumi, langkah dan kecepatan ala Premiership, serta hasrat klub Inggris untuk kembali merajai Eropa semakin tak terbendung.

    Ketika Milan berhasil memetik kemenangan atas Bayern Muenchen di Allianz Arena, pesan pertama yang diterima oleh markas I Rossoneri berasal dari Francesco Totti. Striker AS Roma yang klubnya baru saja dipermalukan oleh Manchester United dengan skor telak 7-1 di Old Trafford.

    “Semoga berhasil,” tulis Totti. “Anda harus bisa mengalahkan Manchester United untuk mempertahankan nama besar persepakbolaan Italia sekaligus membalaskan dendam Roma,” lanjut bomber kelahiran 27 September 1976 tersebut.

    Totti bak mencencang air. Penampilannya di Old Trafford menunjukkan bahwa pasukan Roma tidak lagi menyandang predikat sebagai petualang hebat di dunia.

    Namun, Totti tidak menyadarinya. Daripada mengakui bahwa Manchester United adalah tim yang jauh lebih muda, lebih cepat, dan lebih berkualitas, kapten tim Roma ini lebih baik meminta tolong kepada Milan untuk membalaskan dendam klubnya.

    Saya yakin rasa sakit hati Roma akan selalu membekas meski Milan berhasil mempecundangi Manchester United. Bagaimanapun, kemenangan 7-1 yang dibukukan oleh Manchester United atas Roma akan tertulis dalam sejarah sepakbola dunia.

    Kenangan tentang Cristiano Ronaldo, Ryan Giggs, Wayne Rooney, dan Michael Carrick yang berhasil merobek-robek jantung pertahanan Roma tidak akan hilang begitu saja oleh peristiwa yang akan terjadi pada pertandingan-pertandingan selanjutnya.

    Faktor Jam Terbang

    Milan bukan Roma. I Rossoneri tidak akan mengalami nasib yang sama seperti kompatriot mereka sesama klub Italia tersebut. Pengalaman tampil di empat semifinal dalam lima tahun terakhir membuat klub yang satu ini jauh lebih tangguh untuk menghadapi segala rintangan.

    Karakter dan talenta yang dimiliki oleh Kaka, Paolo Maldini, Alessandro Nesta, dan Filippo Inzaghi jelas lebih kuat jika dibandingkan dengan para pemain Roma. Di benak saya, taktik yang diterapkan oleh Carlo Ancelotti tidak seperti surga di lapangan hijau. Tetapi, setidaknya mereka mampu menghadapi counter attack ala Manchester United, yang sangat fenomenal itu.

    Usia Milan sudah tidak muda lagi, tapi Maldini dkk. berhasil mencari waktu yang tepat untuk kembali menunjukkan kekuatan mereka musim ini. Padahal, pada awal musim, nama besar Milan tercoreng oleh skandal calciopoli. Kondisi ini membuat mereka tak bisa memenangkan gelar apa pun di tingkat domestik. Wajar jika prioritas Milan pun beralih ke Liga Champion.

    Tetapi ingat! Manchester United memiliki kualitas serta kelas yang berbeda dengan rival Milan di babak perempatfinal, Bayern Muenchen. Saya bisa meramalkan bahwa duel semifinal antara kedua kubu akan berlangsung jauh lebih seru.

    Kecepatan kedua sayap Manchester United melawan barisan pertahanan yang berpengalaman milik Milan tentu akan menjadi pertempuran yang sangat menegangkan.

    Daya tikam Kaka dan pergerakan Inzaghi, yang seperti siluman, akan selalu mengancam gawang Manchester United. Apalagi jika cedera masih saja menghantui para pemain belakang Red Devils.

    Tugas Berlipat Ganda

    Sementara itu, Manchester United masih memiliki tugas berlipat ganda. Mereka masih harus menghadapi dua laga penting melawan Chelsea. Berdasarkan skenario, kedua klub terkaya di Inggris ini bakal bertemu di partai penentuan juara Premiership di Stamford Bridge pada 9 Mei, disusul dengan final Piala FA di Wembley pada 19 Mei.

    Bukan tidak mungkin Manchester United dan Chelsea akan kembali bertempur untuk memperebutkan gelar juara Liga Champion pada 23 Mei. Saya pribadi akan bertaruh Manchester United bakal mengungguli Chelsea setidaknya di dua turnamen.

    Fantastis atau justru membosankan? Saya lebih memilih untuk menyaksikan adanya demokrasi di dunia sepakbola. Dengan kata lain, saya menginginkan kesetaraan kekuatan dan lebih banyak kejutan jika menyinggung klub mana yang bakal melaju ke final.

    Jadi kesimpulannya, siapa yang akan tampil di laga pamungkas? Manchester United atau Milan?

    Pikiran saya mengatakan bahwa Milan adalah tim yang berbahaya dan pantas untuk diwaspadai. Namun, hati saya berujar Manchester United akan menang.

    Bukan, alasannya bukan karena saya orang Inggris, melainkan karena semifinal Liga Champion kali ini bakal menampilkan tiga tim pragmatis yang ekstra berhati-hati plus satu pasukan gagah berani, yaitu Manchester United.

    Manajemen Penentu Prestasi

    Saya tidak bisa membantah opini yang terlontar dari mulut Luciano Spalletti. Pelatih Roma itu berkata, “Klub-klub Inggris diperkuat oleh pemain hebat dari seluruh penjuru dunia, seperti yang terjadi di Italia beberapa tahun lalu. Namun saat ini hanya segelintir klub Italia yang mampu bersaing dengan kekayaan klub Inggris.”

    Pernyataan pelatih PSV Eindhoven, Ronald Koeman, yang klubnya harus tunduk dari kehebatan Liverpool, lebih singkat lagi. “Klub-klub Inggris memiliki lebih banyak uang, pemain hebat, dan pelatih berkualitas.”

    Pendapat mereka benar. Tetapi ingat, prestasi ditentukan oleh proses sebuah klub dalam mengatur kekayaan dan pemain bertalenta yang mereka miliki.

    Uang yang didapat The Blues dari sang pengusaha Rusia tidak berbeda dengan dolar Amerika yang dimiliki oleh Red Devils. Tetapi, Jose Mourinho berhasil membangun semangat tim dan memberi perintah kepada para pemainnya untuk mendahulukan kemenangan sebelum hiburan.

    Dengan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Chelsea, dengan mudah saya bisa menyuruh Mourinho agar menerapkan permainan menyerang, menyerang dan menyerang. Namun, hal itu juga menjadi filosofi yang dianut oleh pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson.

    Langkah Fergie sangat tepat. Apa gunanya mengeluarkan uang seratus ribu pound per musim untuk membayar pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney jika ia hanya akan mengekang insting mencetak gol mereka?

    Mourinho juga melakukan hal yang sama di Chelsea. Dia menanamkan rasa takut akan kegagalan dalam benak para pemainnya. Rencana Mourinho adalah menampilkan permainan membosankan selama 90 menit dan menyerang ketika rival mereka mulai kelelahan.

    Keunggulan Fisik

    Strategi yang pas karena anak buahnya memiliki fisik yang prima dan talenta yang lebih baik jika dibandingkan dengan hampir sebagian besar lawan Chelsea. Mereka bisa memaksa kubu lawan untuk lari lebih jauh dengan umpan-umpan yang akurat.

    Sayangnya taktik ini tidak akan berhasil jika digunakan untuk mengalahkan Liverpool. Pada semifinal Liga Champion 2005, Liverpool harus menghadapi pertarungan sengit dengan Chelsea, baik di partai kandang maupun tandang.

    Namun, The Reds berhasil memenangkan pertarungan dengan selisih gol di menit-menit akhir. Seharusnya Chelsea bisa lebih baik tahun ini. Bukan begitu?

    Bayangkan, Chelsea telah menghabiskan 30 juta pound atau sekitar 545 miliar rupiah untuk membeli Andriy Shevchenko dari Milan. Mereka juga berhasil meminang Michael Ballack dengan iming-iming gaji yang tidak mungkin didapatkan dari klubnya terdahulu, Bayern Muenchen. Anda pasti berpikir Chelsea sudah jauh lebih kuat.

    Tidak juga. Para pemain baru tersebut masih sering kesulitan beradaptasi. Sheva tidak dapat berbuat banyak jika dibandingkan dengan masa-masa keemasannya di Milan. Mourinho benar jika berpendapat bahwa Liverpool saat ini lebih beruntung.

    Namun, tidak berarti Chelsea akan menyerah begitu saja atau pantas menyandang status sebagai tim paling lemah di babak semifinal. John Terry, Petr Cech, dan pasukan lainnya tidak mengenal kata menyerah. Artinya Liverpool harus terus berlari dan berlari hingga kelelahan melanda Chelsea.

    Home Game Bukan Jaminan

    Sejarah baru tercipta di ajang paling bergengsi antarklub Eropa musim ini. Untuk pertama kali sejak UEFA mengganti format pada musim 1997/98, tiga klub Liga Premier Inggris sukses menembus babak semifinal Liga Champion.

    Pencapaian ini merupakan bentuk pengulangan dari prestasi klub-klub La Liga Spanyol dan Serie A Italia, yang juga mewakilkan tiga personel di ajang serupa pada musim 2001/02 dan 2002/03.

    Jika mampu mengikuti tren pendahulunya, berarti Inggris akan mengirim salah satu klub mereka ke jajaran juara. Semua bergantung pada hasil partai puncak di Athena, Yunani, 23 Mei.

    Namun, apa pun outcome yang diperoleh Manchester United, Liverpool, dan Chelsea, yang jelas kondisi ini sudah cukup untuk memproklamasikan EPL sebagai liga terbaik di belahan Eropa sekarang.

    “Tak bisa disanggah lagi, Liga Champion Eropa memiliki satu penguasa: Inggris.” Begitu tulis Corriere dello Sport, harian Italia. Pengakuan seperti ini tergolong langka untuk ukuran Italia, yang merupakan pesaing Inggris di sektor gengsi.

    Artinya apa? Keabsahan dominasi negeri Ratu Elizabeth itu benar-benar sah lantaran bukan hanya diberitakan oleh media setempat, tapi karena juga ditegaskan oleh jurnalis-jurnalis di luar Inggris Raya.

    “Faktanya tiga klub Inggris berada di semifinal. Secara tak langsung, ini menegaskan bahwa liga kami adalah yang terbaik di Eropa. Enam tahun lalu mungkin liga Spanyol adalah yang terbaik,” kata Sir Alex Ferguson, pelatih United.

    Patut banggakah Inggris? Di satu sisi mungkin ya. Soalnya LC adalah barometer paling konkret untuk mencari tolok ukur perihal negara mana yang memiliki liga terbaik. Akan tetapi, di sisi lain kita akan menemukan sebuah ironi hebat.

    Hanya beberapa bulan setelah satu dari kapten mereka mengangkat trofi di Athena (itu pun jika AC Milan, sebagai satu-satunya semifinalis non-EPL, tak merusak rencana pesta Inggris), The Three Lions bisa gagal lolos ke Euro 2008!

    Bukankah berita ini akan menenggelamkan ingar-bingar sukses LC dalam waktu sekejap? Apalagi pers Inggris adalah jagonya dalam menghajar pencapaian timnas mereka, yang tak pernah lagi mengangkat trofi internasional sejak Piala Dunia 1966. Ya, 41 tahun silam!

    Hitungan Timnas

    Dengan disusunnya peak performance Steven Gerrard dan Jamie Carragher, dan Peter Crouch (Liverpool), Frank Lampard, Joe Cole, dan John Terry di (Chelsea), serta Wayne Rooney, Rio Ferdinand, Michael Carrick, dan Gary Neville (United) pada ajang LC, mungkin tenaga dan kualitas mereka akan menukik saat dibutuhkan Steve McClaren di St George’s Cross.

    Bulan Juni nanti, Euro Austria-Swiss 2008 akan melanjutkan babak kualifikasi. Hingga matchday 6, England berada di posisi keempat grup E dari total tujuh kontestan. Jika ingin lolos, berarti Terry dkk. kudu mengambil seluruh partai sisa.

    Jika gagal lolos, mungkin McClaren telah menyiapkan alasan dan menyalahkan faktor kelelahan pada masing-masing klub. Okelah, anggap saja nama-nama di atas tadi tidak mengalami gangguan fisik. Ini pun tetap belum menjamin sepenuhnya kelolosan Inggris.

    Masalahnya, situasi timnas sangatlah kompleks. Butuh lebih dari sekadar kualitas individu untuk merengguk sebuah kesuksesan. Gerrard dan Lampard yang fit belum tentu bakal tampil setrengginas layaknya jika mereka membela panji The Reds atau The Blues.

    Rooney, yang begitu superior di hadapan AS Roma ketika membela bendera Red Devils, juga belum pasti akan rajin masuk score-sheet jika sudah berseragam Three Lions. Lihat saja hasil tatkala Inggris ditahan Israel tanpa gol bulan lalu.

    Rooney terlihat bak seorang pemula, padahal lawan yang menjaganya di Tel Aviv, Tal Ben Haim, baru saja menjadi bulan-bulanan sang bomber dalam kemenangan 4-1 United atas Bolton Wanderers, tiga pekan sebelumnya.

    Kondisi Inggris tak jauh berbeda dengan Spanyol. Kebetulan musim ini La Liga juga mengirim tiga wakil ke babak empat besar Piala UEFA. Pastinya tanpa disengaja pula, tapi El Matador juga sedang berjuang setengah mati untuk lolos ke Piala Eropa.

    Apa yang ingin saya tekankan di sini adalah dominasi di level klub menjadi semu jika ujung-ujungnya timnas negara yang bersangkutan bakal gatot alias gagal total. Sehebat apa pun liga, muara yang menjadi hitungan adalah catatan timnas.

    Masih ada enam partai hingga bulan November bagi Inggris dan Spanyol untuk menyiapkan skuad terbaik. Di sanalah judgment day mereka terpapar. Tapi, untuk sementara waktu, biarlah mereka menikmati kesuksesan sesaat ini.

  • The Four Emotions That Can Lead To Life Change

    Emotions are the most powerful forces inside us. Under the power of emotions, human beings can perform the most heroic (as well as barbaric) acts. To a great degree, civilization itself can be defined as the intelligent channeling of human emotion. Emotions are fuel and the mind is the pilot, which together propel the ship of civilized progress.

    Which emotions cause people to act? There are four basic ones. Each, or a combination of several, can trigger the most incredible activity. The day that you allow these emotions to fuel your desire is the day you'll turn your life around.

    1) DISGUST

    One does not usually equate the word "disgust" with positive action. And yet properly channeled, disgust can change a person's life. The person who feels disgusted has reached a point of no return. He or she is ready to throw down the gauntlet at life and say, "I've had it!" That's what I said after many humiliating experiences at age 25. I said, "I don't want to live like this anymore. I've had it with being broke. I've had it with being embarrassed, and I've had it with lying."

    Yes, productive feelings of disgust come when a person says, "Enough is enough."

    The "guy" has finally had it with mediocrity. He's had it with those awful sick feelings of fear, pain and humiliation. He then decides he is not going to live like this anymore. Look out! This could be the day that turns a life around. Call it what you will, the "I've had it" day, the "never again" day, the "enough is enough" day. Whatever you call it, it's powerful! There is nothing so life-changing as gut-wrenching disgust!

    2) DECISION

    Most of us need to be pushed to the wall to make decisions. And once we reach this point, we have to deal with the conflicting emotions that come with making them. We have reached a fork in the road. Now this fork can be a two- prong, three-prong, or even a four-prong fork. No wonder that decision-making can create knots in stomachs, keep us awake in the middle of the night, or make us break out in a cold sweat.

    Making life-changing decisions can be likened to internal civil war. Conflicting armies of emotions, each with its own arsenal of reasons, battle each other for supremacy of our minds. And our resulting decisions, whether bold or timid, well thought out or impulsive, can either set the course of action or blind it. I don't have much advice to give you about decision-making except this:

    Whatever you do, don't camp at the fork in the road. Decide. It's far better to make a wrong decision than to not make one at all. Each of us must confront our emotional turmoil and sort out our feelings.

    3) DESIRE

    How does one gain desire? I don't think I can answer this directly because there are many ways. But I do know two things about desire:

    a. It comes from the inside not the outside.
    b. It can be triggered by outside forces.

    Almost anything can trigger desire. It's a matter of timing as much as preparation. It might be a song that tugs at the heart. It might be a memorable sermon. It might be a movie, a conversation with a friend, a confrontation with the enemy, or a bitter experience. Even a book or an article such as this one can trigger the inner mechanism that will make some people say, "I want it now!"

    Therefore, while searching for your "hot button" of pure, raw desire, welcome into your life each positive experience. Don't erect a wall to protect you from experiencing life. The same wall that keeps out your disappointment also keeps out the sunlight of enriching experiences. So let life touch you. The next touch could be the one that turns your life around.

    4) RESOLVE

    Resolve says, "I will." These two words are among the most potent in the English language. I WILL. Benjamin Disraeli, the great British statesman, once said, "Nothing can resist a human will that will stake even its existence on the extent of its purpose." In other words, when someone resolves to "do or die," nothing can stop him.

    The mountain climber says, "I will climb the mountain. They've told me it's too high, it's too far, it's too steep, it's too rocky, it's too difficult. But it's my mountain. I will climb it. You'll soon see me waving from the top or you'll never see me, because unless I reach the peak, I'm not coming back." Who can argue with such resolve?

    When confronted with such iron-will determination, I can see Time, Fate and Circumstance calling a hasty conference and deciding, "We might as well let him have his dream. He's said he's going to get there or die trying."

    The best definition for "resolve" I've ever heard came from a schoolgirl in Foster City, California. I was lecturing about success to a group of bright kids at a junior high school. I asked, "Who can tell me what "resolve" means?" Several hands went up, and I did get some pretty good definitions. But the last was the best. A shy girl from the back of the room got up and said with quiet intensity, "I think resolve means promising yourself you will never give up." That's it! That's the best definition I've ever heard: PROMISE YOURSELF YOU'LL NEVER GIVE UP.

    Think about it! How long should a baby try to learn how to walk? How long would you give the average baby before you say, "That's it, you've had your chance"? You say that's crazy? Of course it is. Any mother would say, "My baby is going to keep trying until he learns how to walk!" No wonder everyone walks.

    There is a vital lesson in this. Ask yourself, "How long am I going to work to make my dreams come true?" I suggest you answer, "As long as it takes." That's what these four emotions are all about.

  • Chelsea Football Club

    Getar Aroma Ketakutan

    Sebagian penggemar menyebut setiap laga sepakbola adalah lembaran baru bagi kedua tim, terlepas dari sejarah pertemuan mereka sebelumnya. Tapi, ada juga yang percaya memori para pemain yang terlibat jelas memengaruhi kesiapan mental kedua tim yang berhadapan secara kolektif.

    Nah, bicara soal memori kolektif di pertemuan Chelsea dan Liverpool di Stamford Bridge pada Rabu (25/4), tanyakanlah itu pada sosok jenius pelatih The Blues, Jose Mourinho.

    Pria yang menguasai bahasa Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis, dan sedikit bahasa Belanda itu dianggap media London sedikit takut menghadapi The Reds.

    Fakta memang menunjukkan bahwa sejak penggemar gulat WWF tersebut memegang Chelsea di awal Juni 2004, The West Londoners tidak pernah mengalahkan Liverpool di pentas Liga Champion. Tapi, bukan itu yang banyak disebut membuat Mourinho gemetar setelah memastikan lolos ke semifinal Liga Champion ini.

    Isu tentang pemecatan sang pelatih ayah dua anak itu di akhir musim merebak setelah Chelsea dipastikan melawan Liverpool di putaran empat besar tanpa kehadiran Michael Essien, yang terkena skorsing akumulasi kartu kuning.

    Mourinho pun akhirnya menyatakan tidak yakin tetap menangani skuad Roman Emperor musim depan dengan perkembangan terakhir di atas.

    Dampak Perceraian Roman

    Hal ini sungguh berlawanan dengan keyakinannya yang sempat diperlihatkan ketika Roman Abramovich kembali muncul di stadion menonton Chelsea bermain setelah kedua tokoh sentral sempat bersitegang soal pembelian pemain. Saat itu Mourinho pun dengan yakin mengumumkan jadwal persiapan pramusim 2007/08 The Blues melawat ke AS.

    Eh, rupanya sang pelatih terlalu cepat mengambil asumsi positif, padahal selama ini alasan Roman absen dari stadion sebenarnya adalah karena badai yang menerpa rumah tangga miliarder asal Rusia tersebut belum surut.

    Setelah cinta segitiga antaran Roman, Irina, dan Daria Zhukova berujung dengan sebuah perceraian, tuntutan agar Chelsea berjaya menyabet trofi Liga Champion pun kembali muncul. Pasalnya, untuk target itulah sebenarnya Andriy Shevchenko dan Michael Ballack didatangkan dengan paket kontrak berharga selangit di awal musim.

    Ballack telah memperlihatkan kualitasnya sebagai man for every crisis ketika mencetak gol penentu ke gawang FC Porto di perdelapanfinal. Belakangan kapten Nationalmannschaft itu pun jadi pahlawan kemenangan Chelsea di semifinal Piala FA.

    Tapi, harus diingat pula bahwa Ballack terkena kartu merah ketika membawa Chelsea menang 1-0 atas Liverpool di Premiership September lalu. Terlihat ada harga mahal yang harus dikeluarkan Chelsea untuk mengalahkan Benitez Boyz. Sanggupkah Mourinho membayarnya demi mempertahankan posisi di klub hingga 2010? (Darojatun)

    Lima Lembar PR Pemain Chelsea

    Untuk bersiap menjamu Liverpool pada Rabu (25/4) ini sejak Ahad lalu para pemain Chelsea telah diberi pekerjaan rumah oleh Jose Mourinho. Mereka harus membaca lima lembar tulisan analisis kekuatan dan kelemahan lawan dari segi taktik karya Andre Vilas Boas tentang The Reds.

    Kurang Dikenal
    Jangankan Anda pembaca, penggemar Chelsea di London pun pasti jarang mendengar Andre Vilas Boas. Publik Stamford Bridge lebih sering mendengar Jose dibantu para asistennya seperti Steve Clarke, Baltemar Brito, dan Rui Faria.

    Menggantikan McGiven
    So, siapa sebenarnya Andre Vilas Boas? Ia adalah tangan kanan Mourinho untuk mengamati lawan di pentas Liga Champion dan kompetisi domestik. Untuk posisi head opposition scout (HOS) itu sebenarnya The Blues memiliki sosok yang lebih senior, Mick McGiven.
    Namun, belakangan McGiven lebih banyak dipercaya bertugas di tim cadangan sebagai pengamat para pemain bagus di pihak lawan yang berpotensi untuk direkrut.

    Pengamatan di Kandang Lawan
    Tugas Andre sebagai HOS adalah menganalisis kekuatan lawan Chelsea dan melaporkannya pada Mourinho dalam bentuk laporan tertulis yang disertai grafik pergerakan lawan di lapangan dalam beberapa partai terakhir. Pengamatan bisa dilakukan dengan menonton video rekaman pertandingan, tapi untuk calon lawan di LC biasanya Andre diterbangkan langsung ke kandang lawan pada matchday ybs.

    Pemain pun Tertidur
    Andre mulai berkolaborasi dengan Mourinho di FC Porto. “Ia bekas seorang pencandu gim statistik sepakbola, Championship Manager. Kami bertemu pertama kali saat saya masih mengajar SMA di Lisbon. Ia amat mencintai pekerjaannya sehingga terkadang tidak tidur sama sekali untuk membuat sebuah laporan,” sebut Mourinho soal sosok Vilas pada Champions.
    Memberi PR berupa bacaan teknis bagi pemain menurut Mourinho lebih efektif dan efisien ketimbang harus mengamati video pertandingan lawan. “Saya pernah meminta mereka menonton rekaman satu babak pertandingan calon lawan kami, dalam 20 menit ternyata hampir separuh tim jatuh tertidur karena bosan,” papar bos Chelsea itu.

    Preferensi Milan di Athena

    Belum lagi melakoni semifinal, Andriy Shevchenko sudah mulai bermimpi tentang Athena. Kubu yang lebih diinginkan striker asal Ukraina ini sebagai lawan adalah klubnya hingga musim lalu, Milan, ketimbang Man. United.

    Mantan penyerang Dynamo Kyiv ini mungkin saja bosan dengan balapan dengan satu tim saja. The Blues memang sedang terlibat kejar-kejaran dengan Man. United untuk multigelar di dua ajang lokal Inggris plus Liga Champion ini.

    “Musim ini kami bertarung melawan Man. United di segala sisi. Namun, di Athena, saya lebih suka bertemu Milan,” ucap Sheva seperti dikutip Sky Sports. Toh, Shevagol tidak ingin sesumbar. “Bagaimanapun, saya tidak suka membicarakan pertandingan yang bahkan belum ada dalam program,” ujarnya.

    Chelsea memang mesti memupus perlawanan Liverpool pada semifinal lebih dulu. Sehubungan dengan Milan pula muncul dugaan Sheva bakal habis-habisan melawan Liverpool. The Reds adalah tim yang secara mengejutkan mampu mengejar tiga gol dan akhirnya menang via adu tos-tosan dalam final 2005 di Istanbul.

    Ketika itu, Sheva menjadi andalan I Rossoneri. Kegagalannya mengeksekusi penalti menjadi pemasti gelar kelima Liverpool. Klubnya kini, Chelski, juga memiliki rasa penasaran ketika dibekuk via gol Luis Garcia. Namun, sangkaan motivasi pembalasan ini disingkirkan Shevchenko.

    “Tidak akan ada balas dendam. Mengapa kita berbicara soal masa lalu? Saya akan menghadapi Liverpool tanpa berpikir apa yang terjadi pada final penuh nasib buruk itu,” tutur striker 30 tahun yang mengaku The Reds adalah lawan kuat, terutama di Liga Champion. (chrs)

    Chelsea Pada Semifinal
    Momok Terbaik

    Menekuk Valencia, Chelsea mengulang langkah terbaik mereka pada Liga Champion untuk kali ketiga dalam empat tahun terakhir. Ya, dua kali tim berlogo singa ini berpengalaman menembus semifinal. Namun, kedua-duanya tidak berlanjut ke partai puncak.

    Kiprah pada babak empat besar pertama kali dirasakan The Blues pada 2003/04. Tim asuhan Claudio Ranieri ketika itu mesti menghadapi Monaco, yang tengah menggila usai menyingkirkan Madrid. Satu gol yang dibikin Hernan Crespo tidak bisa menyaingi tiga gol trisula ASM, yakni Dado Prso, Fernando Morientes, dan Shabani Nonda.

    Saat menjadi tuan rumah, Chelsea membuka peluang ketika memimpin dua gol via Jesper Gronkjaer dan Frank Lampard hingga menit ke-44. Namun, Hugo Ibarra sudah bisa memperkecil ketertinggalan saat injury time sebelum jeda. Fernando Morientes menjadikan skor 2-2, jauh dari cukup bagi The Blues.

    Semifinal kedua dicapai The Blues pada 2004/05. Jose Mourinho sudah menggeser Ranieri di kursi pelatih. Lawan yang dihadapi adalah Liverpool, yang juga baru berganti manajer. Skor kacamata di Stamford Bridge saat menggelar pertemuan pertama menjadi tanda bahaya awal.

    Meski kalah pada dua pertemuan Premiership, ketangguhan Chelsea mulai dihentikan di Anfield. Gol tunggal kontroversial Luis Garcia--terus diperdebatkan apakah sudah atau belum melewati garis gawang--melumpuhkan impian Si Biru.

    Kubu Liverpool sendiri bisa berkilah bila gol tidak disahkan mereka pantas mendapat penalti atas pelanggaran Petr Cech terhadap Milan Baros sesaat sebelum gol. Bagaimanapun, Chelsea belum pernah menjejakkan kakinya di final. (chrs)

  • Gempa Bumi

    Suatu hari terjadi gempa bumi yang mengguncang keseluruhan kuil Zen. Beberapa bagiannya runtuh! Banyak biksu ketakutan.

    Saat gempa reda, sang guru berkata, “Sekarang kalian mempunyai kesempatan melihat bagaimana seorang Zen berperilaku dalam situasi krisis. Kalian mungkin perhatikan bahwa saya tidak panik sama sekali. Saya masih awas pada apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Saya pimpin kalian semua ke dapur, bagian terkuat dari kuil ini. Dan ini sebuah keputusan yang tepat karena kita semua selamat tanpa luka-luka. Tetapi, di samping kontrol diri saya yang baik, saya juga merasa sedikit tegang – yangmana kalian bisa lihat dari kenyataan bahwa saya minum satu gelas besar air putih, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan di situasi biasa”

    Salah satu biksu tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa.

    “Apa yang kamu tertawai?” tanya sang guru.

    “Itu isinya bukan air, guru” jawabnya. “Itu tadinya satu gelas besar kecap yang disiapkan untuk memasak”

    Moral kisah:

    Kita semua pernah berbuat kesalahan dan pernah melakukan hal-hal yang tidak kita banggakan. Tidak perlu dianggap sebuah bukti rendah diri kalau kita mau mengakuinya, termasuk di hadapan orang-orang yang mengagumi kita. Dan tidak perlu juga merendahkan orang lain.

  • Semifinal Dramatis

    Amuk Red Devils di Torino

    Sejak UEFA mengganti format kompetisi Liga Champion pada musim 1993/94, empat tim yang lolos ke semifinal merupakan refleksi dari kekuatan terbaik Benua Eropa.

    Tanpa mengurangi rasa hormat pada kuartet musim 2003/04, yang akhirnya dijuarai Porto, tapi kontestan kala itu bisa dibilang kurang representatif. Ini mengacu pada sejarah keempatnya yang mayoritas belum pernah menjadi juara.

    Sisa dari 13 musim yang sudah berlalu (1994-2006) sebanyak 10 musim pelakon semifinal dihuni tiga berpredikat mantan juara. Hanya pada musim 1995/96, 2000/01, dan 2005/06, komposisi empat besar dihuni dua eks kampiun.

    Artinya, jika kejuaraan sudah memasuki semifinal, maka laga-laga mencekam dijamin kian tersaji. Mau bukti? Tengok saja keberhasilan Bayer Leverkusen saat menyingkirkan Manchester United di musim 2001/02.

    Dua gol Michael Ballack dan Oliver Nueville di Old Trafford harus dibayar mahal Red Devils karena ketika ganti bertamu ke Bay Arena pasukan Sir Alex Ferguson ditahan 1-1. United pun kudu merelakan partai sengit itu diambil Leverkusen.

    Partai lain yang tak kalah seru adalah ketika Internazionale bertindak sebagai tuan rumah pada derby sekota melawan AC Milan. Setelah seri tanpa gol di 1st leg, La Baneamata kembali bermain imbang, tapi dengan skor 1-1.

    Lantaran tajuk partai kandang, maka I Nerazzurri harus menelan pil pahit dan gagal lolos. Selain diisi berbagai atraksi sepanjang 90 menit, duel Milano ini tambah ramai lantaran sempat terjadi pelemparan flair (semacam petasan) oleh pendukung Inter ke tubuh Dida, kiper Milan.

    Dua partai semifinal menarik juga dipentaskan Liverpool-Chelsea (2004/05) dan Villarreal-Arsenal (2005/06). Pada partai Reds-Blues, gol semata wayang Luis Garcia di Anfield masih diperdebatkan hingga detik ini. Alasan Blues, bola sepakan Garcia belum sepenuhnya melewati garis gawang.

    Di partai Gunners-Yellow Sumbarines, jantung publik dipacu tatkala Juan Riquelme bersiap mengambil penalti saat injury-time. Andaikan masuk, maka Villarreal akan memaksakan perpanjangan waktu karena 1st leg di Highbury berujung 1-0 untuk Arsenal. Tendangan Romi akhirnya digagalkan Jens Lehmann.

    Namun, jika harus memilih satu dari sekian banyak semifinal sengit, maka pemenangnya adalah duel Man. United kontra Juventus musim 98/99. Setelah menahan seri United 1-1 di Old Trafford, Juve sepertinya akan lolos tatkala dua gol Filippo Inzaghi menggetarkan jala Peter Schmeichel dalam 20 menit awal.

    Akan tetapi, Setan Merah mengamuk dengan menceploskan tiga gol berturut-turut, yang dimulai dengan sundulan kapten Roy Keane, yang sukses mengangkat kembali moral rekan-rekannya. Setelah itu, giliran Paul Scholes dan Dwight Yorke menjebol jala Juve sekaligus memastikan United lolos ke final. (shr)

  • Freeport strike

    The local workers of giant gold and copper miner PT Freeport Indonesia in Timika, Papua, a subsidiary of U.S.-based Freeport McMoran, taught the nation, including their fellow Papuans and the country's businesspeople and laborers, a precious lesson last week.

    Even Vice President Jusuf Kalla, who had just expressed his displeasure over the trend of labor demonstrations, probably had to swallow his words because the workers in Papua proved that peaceful actions can achieve much.

    The lesson is even more interesting because it came out of Timika, a city with a history of violent demonstrations.

    Thousands of Freeport workers won nearly everything they were asking for on Saturday morning, after a four-day peaceful walkout. The strike, the biggest since the company started to operate in the early 1970s, certainly cost the state a huge amount, in terms of lost potential revenue.

    In the end, Freeport agreed to raise the workers' monthly basic salary from Rp 1.6 million (US$174) to Rp 3.1 million, Rp 500,000 less than they were demanding. The company also agreed to reestablish its Papuan Affairs Department and replace several executives who the workers saw as reluctant to deal with Papuan employees.

    It is rare in Indonesia for a major company to respond so generously and promptly to the demands of workers. For this, the world's largest gold producer and second largest copper producer deserves commendation.

    We believe Freeport's decision was not just caused by fears of falling production. Perhaps the company was more willing to listen and negotiate because for the first time, employees staged a strike that was peaceful.

    There is a perception nationally, and even internationally, that Freeport prefers the use of power in handling unrest and protest. At the same time there is the perception that Indonesian workers, including those at Freeport, tend to resort to violence in seeking more money or better working conditions.

    Freeport workers finally realized they are an important part of the company, and that they must grow together. They certainly do not want to follow the orders of outside parties who are more concerned with their own interests than the well-being of the workers.

    And Freeport seems to have finally understood that in the end, the prosperity and security of its workers is key to its own growth and sustainability. In the past, the military and police were often used to clamp down on protests against the company. The use of force may be effective and cheap in the short run, but it costs Freeport dearly in the long run.

    Freeport is a magnet not just for Papuans but also the country's political elite who want to mine profits from the company.

    Last year alone Freeport paid US$1.6 billion in taxes to the government, a 33 percent rise from 2005. Freeport produced 435 million pounds of copper in the fourth quarter of last year and 514,000 ounces of gold, the company announced in January.

    It employs about 9,000 workers, including 3,000 Papuans. Although the number of Papuan employees has steadily increased, Papuans complain very few of them ever rise to management positions.

    Human rights abuses, the unequal distribution of wealth and the disrespect shown by the central government toward Papuans are among the major complaints in the province.

    That the region is to any extent rebellious is because Papuans feel they are treated like second-class citizens, kept in poverty despite the abundance of natural resources in their home province.

    Freeport employees have shown that a peaceful and civilized approach can be very effective, while the company sent the message that it is ready to change for the better. The workers' demands were not just about financial welfare, but a guarantee for a sustainable future.

    Both sides deserve praise for teaching the rest of the country such a golden lesso

  • Semangkok Bakmi

    Pada malam itu, Anna bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Anna segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang, sementara perutnya sudah keroncongan.

    Saat menyusuri sebuah jalan, gadis muda itu melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

    Pemilik kedai melihat Anna berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” “Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu

    “Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

    Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Anna segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai. “Tidak apa-apa, aku hanya terharu,” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

    “Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi, tetapi,… ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai

    Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Anna, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

    Anna, terhenyak mendengar nasehatnya. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”

    Anna, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.
    Ketika bertemu dengan Anna, kalimat pertama yang keluar dari mulut ibunya adalah “Anna kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”

    Pada saat itu Anna tidak dapat menahan air matanya dan ia menangis di hadapan ibunya. Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita

  • Sejak Runtuhnya Sadam Hussein Terror ke Israel Turun Menyolok !!!

    Israel sekarang menikmati keamanan yang jauh lebih baik setelah Sadam
    Hussein ambruk dan lebih stabil lagi setelah Hezbollah di Libanon
    dihancurkan.

    Sumber terorist sedang dalam pemusnahaannya di Irak, semoga tahun
    depan semua bisa diselesaikan sesuai dengan jadwal waktu yang telah
    ditetapkan.

    Memang, akibat jatuhnya Sadam oleh pasukan Amerika, terjadi
    pertempuran mati2an oleh para terorist yang berusaha mempertahankan
    jalur pengiriman bantuan kepada terorist Hammas di Gaza. Namun jalur
    tsb sudah tertutup, dan sekarang perang utama ditujukan mempertahankan
    dan membuka jalur bertahan hidup agar supplai para terorist dari Iran
    tidak tertutup. Namun makin hari jelas jalur makin sempit, jumlah
    bantuan makin sedikit.

    Amerika menggunakan cara menutup bukan cara memerangi, dengan cara
    menutup maka musuh akan menyerang dan serangannya inilah yang menjadi
    serangan balik tentara Amerika yang akhirnya bisa menumpas semua
    terorist dan supplainya.

    Dengan hasil2 yang telah dicapai ini, Israel makin kuat tekadnya untuk
    memusnahkan sisa2 kekuatan terorist agar tidak bisa tumbuh lagi.
    Prinsipnya sangat sederhana, tutup semua jalur supplai, dan membuat
    listing nama2 para terorist dan sidik jarinya untuk disebarkan
    keseluruh dunia sehingga bisa dilumpuhkan dimanapun mereka berada.

    Sumber2 dana para terorist juga datang dari Inggris dan Amerika, oleh
    karena itulah baik di Inggris maupun di Amerika terus menerus
    dilakukan penyidikan dari semua kegiatan financial perusahaan2 dari
    Timur Tengah yang berusaha di benua Eropah dan Asia.

    Jangan dilupakan, SBY adalah hanya salah satu saja dari sekian banyak
    bintang penumpasan terorisme didunia ini. Amerika memberikan nilai
    tinggi kepada SBY yang tentunya memberi harapan baik kepada perbaikan
    ekonomi dan politik dalam negeri RI ini sendiri. Sejak naiknya SBY,
    semua kegiatan terorist berhasil dilumpuhkan, beberapa terorist top
    dunia berhasil ditembak mati oleh polisi. Prestasi SBY bukanlah
    main2, dia tak banyak bicara, tapi tindakannya luar biasa tegasnya,
    tidak kenal ampun, dan yang paling hebat dari segalanya adalah, semua
    aktivist fundamentalist sangat takut dan ngeri menghadapi presiden
    yang bekas komandan pasukan komando ini.

  • Sejak Runtuhnya Sadam Hussein Terror ke Israel Turun Menyolok !!!

    Israel sekarang menikmati keamanan yang jauh lebih baik setelah Sadam
    Hussein ambruk dan lebih stabil lagi setelah Hezbollah di Libanon
    dihancurkan.

    Sumber terorist sedang dalam pemusnahaannya di Irak, semoga tahun
    depan semua bisa diselesaikan sesuai dengan jadwal waktu yang telah
    ditetapkan.

    Memang, akibat jatuhnya Sadam oleh pasukan Amerika, terjadi
    pertempuran mati2an oleh para terorist yang berusaha mempertahankan
    jalur pengiriman bantuan kepada terorist Hammas di Gaza. Namun jalur
    tsb sudah tertutup, dan sekarang perang utama ditujukan mempertahankan
    dan membuka jalur bertahan hidup agar supplai para terorist dari Iran
    tidak tertutup. Namun makin hari jelas jalur makin sempit, jumlah
    bantuan makin sedikit.

    Amerika menggunakan cara menutup bukan cara memerangi, dengan cara
    menutup maka musuh akan menyerang dan serangannya inilah yang menjadi
    serangan balik tentara Amerika yang akhirnya bisa menumpas semua
    terorist dan supplainya.

    Dengan hasil2 yang telah dicapai ini, Israel makin kuat tekadnya untuk
    memusnahkan sisa2 kekuatan terorist agar tidak bisa tumbuh lagi.
    Prinsipnya sangat sederhana, tutup semua jalur supplai, dan membuat
    listing nama2 para terorist dan sidik jarinya untuk disebarkan
    keseluruh dunia sehingga bisa dilumpuhkan dimanapun mereka berada.

    Sumber2 dana para terorist juga datang dari Inggris dan Amerika, oleh
    karena itulah baik di Inggris maupun di Amerika terus menerus
    dilakukan penyidikan dari semua kegiatan financial perusahaan2 dari
    Timur Tengah yang berusaha di benua Eropah dan Asia.

    Jangan dilupakan, SBY adalah hanya salah satu saja dari sekian banyak
    bintang penumpasan terorisme didunia ini. Amerika memberikan nilai
    tinggi kepada SBY yang tentunya memberi harapan baik kepada perbaikan
    ekonomi dan politik dalam negeri RI ini sendiri. Sejak naiknya SBY,
    semua kegiatan terorist berhasil dilumpuhkan, beberapa terorist top
    dunia berhasil ditembak mati oleh polisi. Prestasi SBY bukanlah
    main2, dia tak banyak bicara, tapi tindakannya luar biasa tegasnya,
    tidak kenal ampun, dan yang paling hebat dari segalanya adalah, semua
    aktivist fundamentalist sangat takut dan ngeri menghadapi presiden
    yang bekas komandan pasukan komando ini.

  • Rules For Being Human

    You will receive a body.
    You may like it or hate it,
    but it's yours to keep
    for the entire period.

    You will learn lessons.
    You are enrolled in a full-time,
    informal school called life.

    There are no mistakes, only lessons.
    Growth is a process of trial, error
    and experimentation.
    The "failed" experiments are as much
    a part of the process as the experiments
    that ultimately "work".

    Lessons are repeated until they are learned.
    A lesson will be presented to you in various forms
    until you have learned it.
    When you have learned it,
    you can go on to the next lesson.

    Learning lessons does not end.
    There is no part of life that doesn't
    contain it's lessons.
    If you're alive,
    there are still lessons to be learned.

    "There" is no better than "here".
    When your "there" has become "here",
    you will simply obtain another "there"
    that will again look better than "here".

    Other people are merely mirrors of you.
    You can not love or hate something
    about another person unless it reflects to you
    something you love or hate about yourself.

    What you make of your life is up to you.
    You have all the tools and resources you need.
    What you do with them is up to you.
    The choice is yours.

  • Saya Ingin Anda Sukses, Saya Harus Membuat Anda Sukses

    Saya sedang melongok-longok blog Saya sendiri. Anak-anak sudah tidur sehingga "dunia" sudah cukup tenang buat Saya untuk lebih berkonsentrasi. Istri Saya datang mengantar minuman. Diletakkannya cangkir, kemudian menarik kursi dan duduk di samping Saya. Satu menit kemudian ia bertanya tentang flag atau sub header di blog Saya yang bunyinya, "Saya Ingin Anda Sukses. Saya Harus Membuat Anda Sukses."

    "Bagaimana jika orang bertanya, apakah Mas Sopa sudah sukses? Sehingga dengan begitu sudah mengantongi lisensi untuk mensukseskan orang lain? Apa jawab Mas?"

    Saya menoleh dan tersenyum. "Aku akan bilang bahwa aku belumlah sukses. Kesuksesanku akan sangat tergantung pada kesuksesan orang lain. Jika orang lain menjadi sukses, maka aku juga akan sukses."

    Istri Saya mengernyitkan dahinya. Saya pun memutar badan. Saatnya berdiskusi.

    Tahukah Anda, bahwa sukses Anda sangat tergantung pada sesuatu di luar diri Anda? Nah lho! Pak Sopa ini gimana toh, kemarin bilang bahwa sukses adanya di dalam diri sendiri. Jennie S. Bev bahkan bilang bahwa Sayalah sukses itu. Kok sekarang jadi lain lagi?

    Tidak. Tidak lain. Ini hanyalah soal cara pandang. Mari kita telusuri, dan ingatlah bahwa ini erat hubungannya dengan konsep mastermind dan mind power.

    Sukses Anda tergantung pada suksesnya "sesuatu" di luar Anda. Sesuatu itu bisa orang lain, atau memang "sesuatu" saja di luar sana. Sesuatu di luar Anda itu bisa benda hidup atau benda mati. Intinya, sesuatu itu adanya pasti di luar "Anda".

    Jika Anda pegawai atau karyawan, bagaimanakah Anda mencapai sukses? Bagaimana caranya mendapatkan promosi? Apa yang perlu Anda lakukan agar karir Anda melejit sampai ke puncak? Apa yang perlu Anda capai agar Anda mencapai kesuksesan sebagai pegawai atau karyawan?

    Pertama, Anda perlu mensukseskan tugas dan pekerjaan Anda. Kedua, Anda perlu mensukseskan program organisasi atau perusahaan Anda. Ketiga, Anda perlu mensukseskan boss Anda. Keempat, Anda perlu mensukseskan organisasi atau perusahaan Anda. Setelah itu, barulah Anda bisa sukses.

    Jika Anda manager, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa sukses sebagai manager?

    Anda harus mensukseskan anak buah Anda.

    Jika Anda guru, dosen, trainer, coach, mentor, atau motivator, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa sukses sebagai profesional di bidang-bidang itu?

    Anda harus mensukseskan murid, siswa, dan trainee Anda. Saat mereka keluar dari ruangan kelas, merekalah yang harus merasa sukses, bukan Anda. Setelah itu, barulah Anda bisa disebut sebagai pembina dan pendidik yang sukses.

    Jika Anda pengusaha yang memproduksi sepatu, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa disebut sebagai pengusaha sukses?

    Anda perlu mensukseskan sepatu Anda, agar menjadi sepatu pilihan. Sepatu yang diminati, digemari, dicari, dan dibeli. Jika itu berhasil dicapai, maka barulah Anda disebut pengusaha sukses.

    Jika Anda penjual bakso? Ya Anda harus mensukseskan bakso Anda terlebih dahulu, barulah Anda bisa disebut sebagai pedagang bakso yang sukses.

    Jika Anda penulis? Anda harus menjadikan buku Anda sukses, misalnya dengan menjadi best seller. Barulah di belakangnya, Anda akan disebut penulis sukses.

    Jika Anda petani buah jeruk?

    Pertama Anda harus mensukseskan bibit jeruk Anda untuk terus bertahan hidup dan selamat dari segala penyakit dan hama. Kedua, Anda harus mensukseskannya untuk berbuah. Ketiga, Anda harus mensukseskannya untuk bisa bertahan sampai masak di pohon supaya kualitasnya paling baik. Bahkan, Anda juga harus mensukseskan rasanya agar manis dan segar. Kemudian, Anda harus mensukseskan penjualannya. Sudah? Belum! Anda juga harus mensukseskannya agar setiap kunyahan konsumen bisa meninggalkan bekas sukses. Barulah Anda disebut sebagai petani sukses.

    Ya. Sukses Anda tergantung pada kesuksesan sesuatu yang lain di luar diri Anda sendiri.

    Anda akan bisa mengetahui apakah Anda akan sukses atau tidak, jika Anda bisa memprediksi sukses tidaknya sesuatu di luar Anda.

    Maka, waspadalah jika Anda merasa tidak betah di kantor karena nggak sreg dengan boss Anda. Itu tanda bahwa sukses Anda bukan di situ tempatnya. Anda, nggak bakalan sukses di kantor itu sepanjang "nggak sreg" itu masih ada.

    Waspadalah, jika Anda merasa bosan dengan profesi yang Anda geluti. Itu tanda bahwa Anda tidak akan sukses di dalam profesi itu.

    Waspadalah, jika Anda merasa tidak bisa menghadapi murid, siswa, atau trainee Anda dengan segala tingkah dan polahnya. Anda tidak akan sukses sebagai pembina dan pengajar.

    Waspadalah, jika Anda sering membenci bawahan Anda. Anda nggak bakal sukses sebagai pemimpin. Itu artinya, organisasi dan perusahaan Anda juga nggak bakal sukses di tangan Anda.

    Lantas bagaimana, ganti profesi? Pindah kantor? Ganti produk? Tukar tanaman? Tidak juga.

    Ketahuilah sebuah titik awal yang paling penting untuk Anda sukseskan, yaitu mindset Anda. Ketahuilah bahwa akal dan pikiran Anda juga berada di luar "Anda".

    Jika selama ini Anda berpikir bahwa "Anda" adalah akal Anda; berhentilah. Sebenarnya, akal Anda adalah tool alias alat kelengkapan "Anda". Andalah user dari akal Anda, bukan sebaliknya.

    Pahamilah bahwa akal Anda, sebenarnya juga berada di luar "Anda". Akal Anda adalah instrumen kemanusiaan Anda. Maka hal pertama yang perlu Anda lakukan, adalah "mensukseskan" akal dan pikiran Anda. Barulah dengan begitu, "Anda" lebih mudah menjadi sukses. Bagaimana mensukseskan akal dan pikiran Anda? Anda tahulah harus bagaimana.

    Jika Anda berhasil, Anda tidak perlu berganti profesi atau pindah ke kantor, bidang, atau pekerjaan yang lain. Dijamin, Anda pasti akan sukses di sana.

    Sekarang bisakah Anda meletakkan dengan tepat, di mana letaknya sukses berdasarkan contoh-contoh konsep berikut ini?

    "Kerjakan apa yang Anda inginkan"
    "Lakukan apa yang Anda senangi"
    "Komentar atau testimoni"
    "Iklan dan promosi"
    "Kerja keras"
    "Manusia dalah makhluk individu sekaligus sosial"
    "Anda harus bekerjasama"
    "Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat"
    "Pahlawan tanpa tanda jasa"

    Sukses Anda, hanya bisa tercipta jika Anda mensukseskan sesuatu di luar Anda.

    Ya. Saya ingin Anda sukses. Saya harus membuat Anda sukses. (Hanya dengan mencapai itu, Saya akan mencapai sukses Saya.)

    Istri Saya ngeloyor pergi. "Ya sudah. Kalo begitu aku bobo' duluan".

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.