Search blog.co.uk

Posts archive for: 24 April, 2007
  • BAGAIMANA SIKAP KITA TERHADAP MASALAH

    Jika di depan kita ada hanya ada sebentang sungai kecil untuk diseberangi,
    janganlah kita tunggu menjadi lautan. Jika di hadapan kita telah menumpuk
    masalah yang mesti dipecahkan, tak perlu lah berharap akan selesai dengan
    sendirinya.

    Jika kita tidak ingin mengambil kesempatan itu, masalah akan mencari orang
    yang tepat untuk menyelesaikannya - yaitu orang yang bersedia untuk tumbuh
    dan berkembang. Tentunya, di saat kita menghindar dari hadangan sebuah
    masalah, keberanian kita mengecil hingga tak lebih dari sejentik kekerdilan hati
    dalam diri. Kenyataannya memang seringkali kita lebih senang untuk lari
    menjauh dari masalah ketimbang membuka kedua belah tangan tuk
    menyelesaikan. Yang lebih menyedihkan bahkan kita mencari seekor kambing
    berwarna hitam untuk mengikat masalah kita ke leher sang kambing atau
    mencari banyak simpatisan tuk alihkan masalah.

    Tak dipungkiri, kita sedang menghadapi masalah yang luar biasa berat, seolah
    takkan sanggup pundak ini memikul beban. Tetapi, mari kita percaya, bahwa
    sebesar apa pun ujian, ia takkan lebih besar dari ketakutan kita. Melalui masalah
    kita tahu siapa emas siapa lumpur, kualitas adalah kualitas yang ditempa
    melalui masalah yang dilewati. Bukankah emas selalu bercampur lumpur sebelum
    diuji dengan sungguh-sungguh dan kita tak akan pernah belajar untuk menjadi
    lebih baik jika tidak pernah mengambil sikap terhadap masalah , bukan!!!(MY)

    Sineas India Garap Film Horor Indonesia
    Dikirim tanggal: 21 April 2007 11:04:17

    Indosinema, Apa jadinya jika sutradara berkebangsaan India membuat
    film horor Indonesia ? Tanyakan ini pada Kumar Pareek, "Walaupun saya
    India , tapi saya sudah lama bekerja di Indonesia . Jadi film yang saya
    garap pasti dengan cita rasa Indonesia ," ujar Kumar Pareek ditemui di
    lokasi syuting di kawasan Puncak Bogor, kemarin.

    Dikatakan Kumar, dirinya tidak akan ada pengaruh film-film India
    terhadap film horor Indonesia yang sekarang sedang digarapnya. "Di
    India memang hampir tidak ada film horor. Jika ada seribu film, maka
    hanya satu film horornya," terang Kumar Pareek.

    Lalu apa resep Kumar menggarap film horor? Menurutnya, film horor
    Indonesia umumnya tidak menyeramkan, hanya membuat terkejut belaka.
    "Film horor yang saya buat ini tidak sekadar membuat terkejut, tapi
    benar-benar membuat penonton ketakutan." kata pria yang pernah bekerja
    untuk Multivision, Soraya Intercine, dan MD Entertainment.

    Kumar tidak menggunakan film 35 m, karena filmnya didominasi warna
    gelap dan malam. Alasannya bukan hanya urusan minimalisir budget, tapi
    ada yang lebih penitng dari itu, yakni nilai artistik gambar yang
    dihasilkan, "Buat apa pake 35 m, kalo gambar-gambar film ini
    didominasi warna gelap dan malam hari," terangnya.

    Di film ini Kumar bekerja sama dengan Hilman Hariwijaya, novelis laris
    yang jadi produser dan merambah layar lebar. Film yang saat ini masih
    dalam tahap pengambilan gambar, dijadwalkan dirilis sekitar Juli
    2007.

  • EMOSI AMARAH

    Kita tahu rasa amarah adalah salah satu watak dasar manusia, maka sangat dimengerti apabila seseorang mengalami reaksi marah, kesal, sakit hati, beringas, benci, bermusuhan, tersinggung sampai tindak kekerasan dan kebrutalan. Karena setiap orang pasti memiliki emosi amarah, tidak pandang siapapun mereka, apakah dia seorang yang berpendidikan tinggi atau rendah, orang biasa atau dari kelas menengah, aparat keamanan atau orang sipil, bahkan seorang ulama atau pemimpin kebajikan sekalipun.

    Menjadi hal yang aneh bila ada seseorang yang mengatakan tidak punya rasa marah. Karena sesungguhnya rasa marah merupakan bentuk kekayaan bathin kita sebagai manusia. Merupakan hal yang wajar sejauh itu dapat dikelola dengan benar, tepat waktu dan tepat sasaran sehingga tidak merusak orang lain. Bagi mereka yang memiliki pribadi yang cerdas dan tenang, mereka bisa mengendalikan reaksinya agar tidak menjadikan kemarahan sebagai tindakan yang agresif, merusak dan menimbulkan kebenciaan.

    Manusia memiliki kebebasan hati untuk memilih setiap reaksi dari situasi dan keadaan yang datang kepadanya. Misalnya kita menghadapi orang yang melakukan tindakan yang dapat menaikkan emosi amarah kita, maka kita patut berpikir sejenak dari dalam hati, reaksi apa sebaiknya yang menjadi pilihan kita?

    · Apakah kita pantas merasa dendam?

    · Atau kita pantas melampiaskan kemarahan ?

    · Apakah kita merasa lebih baik memaafkan ?

    · Atau kita memilih untuk menumbuhkan rasa cinta?

    Mengapa kita perlu mengontrol reaksi emosi kita ?

    Karena menurut para ahli, kejadian dalam hidup ini sembilan puluh persen adalah reaksi yang bisa kita kontrol dari hati dan pikiran kita dan sisanya yang sepuluh persen adalah diluar dari kendali kita. Mengontrol reaksi kita, berarti dapat mengendalikan emosi kita, sehingga kita akan tetap berada dalam lingkaran menjadi orang baik dan bijaksana.

    Biarkan saya memberikan contoh. Heru sedang terburu-buru akan berangkat ke kantor karena ada prsentasi dengan dewan direksi pagi ini. Ketika sedang makan pagi, tiba-tiba tanpa sengaja anaknya yang masih TK menyenggol gela susu di meja dan mengenai baju dan celana Heru. Ia marah dan mengucapan kata-kata yang keras kepada anaknya. Anaknya menjadi ketakutan dan menangis dengan keras.

    Heru yang merasa buru-buru harus berangkat ke kantor sangat kesal dan menegur istrinya dengan ucapan keras pula. Istrinya yang merasa sudah sibuk dari pagi menyiapkan makan pagi dan keperluan anaknya sekolah, ikut tersinggung dengan ucapan Heru. Akibatnya suasana pagi hari itu berubah menjadi sebuah pertengkaran mulut. Anaknya semakin ketakutan dan menangis semakin keras dan tidak mau berangkat sekolah.

    Demikianlah, kejadian tumpahnya gelas susu mungkin tidak dapat kita kontrol. Tetapi reaksi yang akan kita lakukan sepenuhnya dibawah kendali kita. Kita dapat memilih apakah akan bereaksi emosional atau memilih mengendalikan reaksi emosi dengan bijaksana. Semua rekasi itulah yang akan mempengaruhi kejadian hidup kita selanjutnya. Karena setiap emosi sesuai dengan sifatnya membawa pada salah satu dorongan hati untuk bertindak, itulah pentingnya melawan dorongan hati yang dikendalikan emosi. Ini merupakan akar dari segala kendali emosional dalam diri kita.

    Bila kita dikendalikan oleh rasa marah, benci atau dendam, iri, dengki, maka kita bisa terlempar dari lingkaran orang baik masuk kedalam lingkaran orang yang tidak baik. Memasuki lingkaran orang tidak baik dapat merendahkan kualitas kehidupan kita bahkan menyulitkan hidup kita. Kesuksesan, kebahagiaan, ataupun rejeki menjadi semakin sulit mendekati kita, kalau kita berada dalam lingkaran orang tidak baik. Dunia akan penuh kekerasan, intrik, pengkhianatan, penipuan dan kegagalan bagi mereka yang hatinya dikuasai emosi kemarahan.

    Sebaliknya manusia yang dapat mengendalikan emosinya, mampu memilih reaksi terhadap setiap keadaaan yang datang sesuai dengan suara hatinya, akan berada dalam lingkaran pengaruh orang baik dan bijaksana. Mereka bnerada dalam lingkarang orang-orang yang memiliki kualitas diri tinggi.. Pada akhirnya kesuksesan, kebahagiaan, keberuntungan akan mengalir seperti dengan arah aliran angin. Mereka membuak pintu-pintu kran rejeki, keberuntungan dan kemudahan dalan hidup.

  • SBY Tak Takut Berantas Korupsi

    Kesan sebagai pemimpin yang penakut, ragu-ragu, dan tidak tegas sering ditudingkan beberapa pihak pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tudingan tersebut dibenarkan sekaligus dibantah oleh Presiden.

    Dia menepis anggapan dirinya takut dan ragu bertindak tegas terhadap koruptor penjarah uang negara. Yang ditakutkan, kata SBY, hanyalah mengambil keputusan yang melanggar konstitusi dan hanya menguntungkan kepentingan pihak tertentu.

    Ketika menghadiri silaturahmi ulama dan habib se-Jakarta di Masjid Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (22/4), Presiden mengaku kerap mendengar komentar bahwa dirinya penakut, ragu-ragu, dan tidak tegas dalam mengambil keputusan.

    ''Sesungguhnya tidak demikian. Kebijakan yang saya ambil dan akan saya lakukan adalah untuk kebaikan. Usulan dari semua pihak mendapat penilaian yang tepat dan tentunya keputusan (diambil) untuk kepentingan bangsa,'' tegas SBY yang mengenakan kemeja koko putih.

    Tak Kebal Hukum

    Presiden yang tiba bersama Ny Ani Yudhoyono itu langsung disambut dengan salawat yang didendangkan ribuan jemaah yang hadir di mesjid itu.

    Hingga 30 menit acara berlangsung, tidak terlihat sama sekali para pembantu persiden. Bahkan pejabat publik yang hadir hanya Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

    SBY mengakui, dirinya memang takut, tapi ketakutannya adalah kepada Allah, takut melanggar konstitusi, takut mengambil keputusan tidak adil. ''Bahkan saya tidak berani memberikan katebelece yang akan menimbulkan KKN.''

    Meskipun menjadi pemimpin negeri ini, dia tidak pernah menganggap seperti yang dianut negara-negara fasis dan tiran. Sebagai pemimpin, lanjutnya, dirinya adalah bagian dari negara.

    SBY menegaskan tidak ada koruptor yang bisa berlindung dari hukum. Sikap tidak takut dan tidak ragu yang menjadi komitmennya dalam memimpin negara adalah memberantas korupsi dengan menindak para koruptor.

    ''Saya juga tidak takut pada jajaran pemerintah, menteri, gubernur, pejabat TNI/Polri atau lembaga tinggi lainnya. Siapa pun koruptor itu, apakah ia berada di jajaran pemerintahan, jika dinyatakan bersalah secara hukum harus ditindak,'' tegasnya.

    Presiden mengungkapkan, salah satu bukti sikap pemerintah untuk memajukan rakyat agar tidak terkungkung dari utang yang kian besar adalah tidak dilanjutkannya kerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

    Keputusan lainnya adalah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dan kesehatan demi meningkatkan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan, serta untuk mengembangkan usaha kecil menengah.

    Mengambil Keputusan

    Tentang tuduhan dirinya lambat dan ragu mengambil keputusan, SBY mengatakan sebagai pemimpin langkah yang diambil dan ditempuhnya ada kalanya langsung dapat diputuskan. Namun ada juga yang diputuskan beberapa pekan atau beberapa waktu kemudian.

    ''Semua masalah dalam mengambil keputusan tentu harus dicarikan solusinya, sehingga benar-benar mencari jalan keluar yang lebih baik, dan tidak menimbulkan fitnah di mata semua pihak.''

    Presiden prihatin dengan kondisi bangsa yang saling tuding dan saling maki belakangan ini. Keadaan ini sangat mengganggu kepribadian bangsa Indonesia.

    ''Jangan habiskan waktu untuk merangkai fitnah dan makian. Bangsa ini harus mempunyai kepribadian yang tangguh, besar dan tidak cengeng serta tidak mudah menyerah,'' tuturnya.

    Dia mengimbau masyarakat mencari solusi dalam menyelesaikan masalah bangsa. Demikian pula elite politik hendaknya membantu rakyat bukan malah memprovokasinya.

    Sedangkan kepada para ulama, SBY meminta untuk membimbing masyarakat dan umat Islam khususnya agar mempunyai kepribadian, akhlak dan perilaku yang baik.

    ''Para ulama harus bisa mencegah kemerosotan kepribadian, kemerosotan di negeri ini,'' tegasnya.

  • PSIKOLOGI TRANSFORMATIF: SEBUAH PEMBACAAN ULANG ATAS PSIKOLOGI

    Penulis buku “Mite Harry Potter” (2005, Jalasutra) dan “Imagining Lara Croft” (2006, Jalasutra)

    Mengapa Psikologi perlu dibaca ulang? Psikologi seperti apa yang perlu dibaca ulang? Dan seperti apa pula pembacaan ulang terhadap psikologi? Barangkali itu semua adalah pertanyaan yang muncul di benak anda ketika membaca judul di tulisan ini. Memang tulisan ini ditujukan untuk membaca ulang psikologi, bukan hanya psikologi seperti yang diajarkan di perguruan tinggi, namun juga psikologi yang berlaku di realita kehidupan: psikologi saya, anda dan kita. Psikologi yang saya bicarakan di sini adalah psikologi yang kita gunakan untuk memahami realita kehidupan yang menampak di hadapan masing-masing dari kita. Psikologi, perlu disadari, bukan hanya digunakan oleh para ahli psikologi, tetapi juga oleh kita, masing-masing dari kita.

    Ketika kita bertemu orang, ketika kita berada di tengah suasana tertentu, semua itu adalah saat-saat di mana kita menggunakan psikologi. “Ilmu” yang kita pelajari dalam hidup kita dan kita gunakan untuk memahami orang lain atau memahami realita yang menampak di hadapan, itulah yang saya sebut di sini sebagai psikologi. Jadi, interpretasi terhadap orang lain (Liyan) atau konstruksi realita di atas suatu fenomena tertentu, pada dasarnya bukan saja milik orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan formal psikologi, tapi juga ada pada diri orang-orang yang tak pernah mengenyam pendidikan psikologi. Nah, di sinilah pentingnya membaca ulang atas semua yang bisa kita sebut sebagai psikologi.

    MANUSIA DAN PSIKOLOGI BAGI MANUSIA
    Saya bisa mengatakan bahwa psikologi, atau cara memahami orang (understanding human being) baik yang diajarkan dan digunakan oleh banyak psikolog maupun psikologi yang digunakan oleh orang awam, sebenarnya terjebak dalam suatu pola yang itu-itu saja. Memang “cara baru” seolah-olah terus bermunculan dan menjadi trend, namun di balik derasnya kemunculan berbagai hal baru yang satu sama lain mengklaim diri lebih baik, terdapat ketakmawasan bahwa dalam 2500 tahun terakhir tak ada kemajuan sama sekali dalam upaya memahami psike (jiwa) manusia, selain upaya mengategorikannya dalam sesuatu yang sama sekali lain dari apa yang coba dikategorikan. Jiwa, selalu meloloskan diri dari apapun jerat kategori yang coba diterapkan atasnya. Pendeknya, Jiwa selalu menjadi Yang-Lain (Other) dari apapun yang coba dipikirkan manusia atasnya.

    Lebih jauh, ada sesuatu yang lebih esensial, bahwa kita kerap terjebak dalam aturan-aturan tertentu, yang sebenarnya diadopsi begitu saja dari sesuatu yang bukan berasal dari kultur di mana kita hidup saat ini. Kita bukan memelajari lagi, tapi sudah terjebak di dalamnya. Terjebak dalam teks-teks, entah itu teori, aturan, termasuk titel. Lalu, kita merasa sudah benar ketika sudah berada di jalur yang sejatinya menjebak kita itu. Ini bukan hanya berlaku di psikologi, tapi juga dalam kehidupan di masyarakat yang lebih luas. Bahkan, keterjebakan seperti inilah yang kerapkali membuat orang kurang bisa menerima orang lain. Orang menjadi terlalu yakin dengan apa yang menjebaknya sehingga tak bisa menerima pluralitas. Banyak hal yang menjebak, mulai dari ilmu pengetahuan (contoh: demo-demo mengatasnamakan ilmu pengetahuan seperti ‘perlawanan buruh’, ‘feminisme’ dan lain-lain, fanatisme agama, fanatisme etnis, dan sebagainya). Ini semua pada dasarnya adalah sebuah psikologi di
    antara kita. Sebuah cara dari kita untuk memahami manusia lain, yang sayangnya kita paksakan untuk masuk dalam paradigma yang kita yakini paling benar.

    Saya pikir bahkan kita mungkin perlu meredefinisikan lagi makna dari psikologi, ketika kita mau menerapkan psikologi dalam permasalahan yang kontekstual. Kita perlu meredefinisi dengan memperhitungkan pemahaman yang merangkul pengalaman manusia itu sendiri, pengalaman masing-masing orang, masing-masing nama dari kita, pengalaman hidup yang kontekstual dengan masing-masing permasalahan dari kita. Termasuk memperhitungkan apa yang tak mampu disadari pemikiran manusia. Nah, ini poin pentingnya. Manusia tak bisa memahami realita kehidupan atau manusia lain di luar apa yang mampu dipikirkannya. Ini adalah keterbatasan manusia yang memang harus kita terima dan jalani. Tetapi, bukan berarti apa yang tak mampu dipikirkan atau di luar batas kemampuannya untuk memikirkan, lantas bisa begitu saja dianggap tidak ada atau dipinggirkan. Inilah yang selama ini kerap terjadi. Orang memahami sejauh apa yang mampu ia pikirkan. Sedangkan paradigma berpikir manusia itu sendiri, menggunakan
    sarana-sarana yang membantu memudahkannya memahami kehidupan, seperti ilmu pengetahuan, agama atau pemahaman budaya. Masalahnya, orang kerap tak menyadari bahwa apapun yang mereka gunakan untuk memudahkan memahami dunia itu, selalu sifatnya terbatas dan tak mungkin mencakup semuanya.

    Anda mungkin pernah melihat, entah itu psikolog ataupun orang non-psikolog, yang melakukan interpretasi terhadap orang lain, “memperkirakan” berdasarkan kriteria tertentu, misalnya etnis, agama, atribut, potongan rambut, cacat fisik atau hal-hal lain yang tampak dan terpikirkan, lalu menarik kesimpulan mengenai orang tersebut berdasarkan suatu konstruksi yang ada dalam benak penafsir. Ini adalah sebuah “praktek” psikologi. Sah-sah saja. Apa yang penting justru bukan benar atau salah interpretasi yang dibuat, namun kerendahan hati bahwa apapun interpretasi yang dibuat, itu adalah sebuah interpretasi terhadap Liyan, terhadap sesuatu yang lain dari apa yang ada di pikiranku. Kenapa? Karena sejatinya pikiranku tak akan pernah mampu menjangkau yang lain itu. Apa yang aku lakukan dengan pikiranku atas Liyan tersebut, adalah sebuah upaya pengkategorian berdasarkan konstruksi realita tertentu yang telah tertanam di benakku, jadi bukan Liyan itu sendiri. Sekali lagi saya ulangi:
    Semua itu hanyalah sebatas konstruksi sosial yang ada dalam pikiranku dan bukan Liyan itu sendiri.

    Selama ini, kita sebenarnya tidak begitu jelas ketika berbicara mengenai apa itu psikologi. Kita bicara simptom-simptom perilaku, kognisi, kesadaran-ketaksada ran, tetapi itu semua bukan psike (Jiwa) yang sesungguhnya. Psike itu sendiri, berada “di luar” semua pengalaman manusia akan perilakunya, kognisinya, kesadaran-ketaksada rannya. Lebih jauh lagi, esensi dari semua ini adalah proses meng-Ada manusia itu sendiri dengan semua hal itu. Perhatikan sekali lagi: “Proses meng-Ada”, jadi meng-Ada manusia itu selalu dalam proses. Ia tak pernah berhenti dalam finalitas definisi seperti halnya konstruksi-konstruk si realita yang ada dalam pikiran. Ia bukan pula definisi-definisi manusia dalam psikologi yang seolah berlaku sama bagi semua orang. Bukan, bukan itu semua. Psike adalah sesuatu yang meng-Ada bersama nama demi nama dari kita, yang selalu berproses, selalu bertransformasi. Inilah sebenarnya sentral dari segala permasalahan.

    PSIKOLOGI TRANSFORMATIF
    Psikologi Transformatif, adalah inner psikkologi yang mengajak manusia untuk mentransformasi. Ini karena hidup adalah transformasi, adalah perjalanan. Inilah kesejatian understanding human being. Kita tak bisa menghentikan pengetahuan tentang manusia dalam suatu definisi-definisi, melainkan berusaha mentransformasi manusia, sesuai perjalanan hidupnya masing-masing. Dan inti dari proses transformasi ini adalah meng-Ada-nya psike itu sendiri.

    Psikologi Transformatif bukan melulu terhenti pada penyembuhan, advis, terapi dan sejenisnya, tapi bagaimana menolong untuk bertransformasi. Bagaimana caranya? Psikologi Transformatif mengajak nama demi nama untuk hidup dalam kisahnya sendiri. Banyak orang sudah tak mampu mengisahkan, menarasikan dirinya. Orang sudah tertutup kesejatian dirinya ketika ia berada dalam kerumunan, entah itu kerumunan pendemo, kerumunan suporter, kerumunan penggemar selebriti, kerumunan penjarah, kerumunan pendukung partai dan berbagai kerumunan lainnya. Manusia seolah-olah merasa aman ketika sudah berada dalam kerumunan dan “menyelaraskan” diri dengan norma kerumunan itu. Maka tak heran ketika orang berada dalam kerumunan, keberaniannya untuk mempertahankan norma kerumunannya menjadi berlipat. Tak jarang mengganyang orang yang dianggap berbeda.

    Bagaimana proses pengganyangan ini terjadi? Dengan cara mereduksi orang-lain-yang- berbeda (Liyan) ke dalam apa yang aku pikirkan. Cara memahami Liyan dengan cara mereduksi (memotong) Liyan hanya sebatas apa yang mampu aku pikirkan ini, sejatinya telah begitu mengakar kuat dalam budaya di manapun.

    Pengkategorian, entah itu, sudah berupa teori yang diajarkan di perguruan tinggi maupun masih common-sense, tak bisa dipungkiri memang sedikitnya membantu manusia untuk berjalan di dunia yang sejatinya tak pasti ini. Namun, kerendah hatian untuk mengakui ketakpastian dunia juga tak boleh serta merta lenyap. Kerendah hatian itulah justru yang jauh lebih penting dibanding segala bentuk pengkategorian, karena dengan kerendah hatian itulah masing-masing dari kita bisa menerima pluralitas kehidupan. Pluralitas yang ada karena dunia ini adalah ruang yang penuh ketakpastian. Ruang yang selalu bertransformasi.

    Jika ada sebuah ruang yang diperlukan untuk sebuah pluralitas, maka ruang itu mestilah sebuah ruang yang memberi kesempatan bagi nama demi nama untuk bertransformasi berdasar keunikannya masing-masing. Kesempatan bagi nama demi nama itu untuk berkisah sesuai jalan hidupnya, sesuai apa yang dibekalkan semesta dalam dirinya. Dalam ruang inilah keberbedaan dan bahkan ketakcocokan bisa bertemu satu sama lain, saling tahu satu sama lain walau tak sejalan. Inilah ruang di mana masing-masing nama memiliki kesempatan untuk “membuat keputusan” dan bukan hanya sekedar “mengambil keputusan”.

    MANUSIA, SUBJEK BERPIKIR YANG BERLUBANG
    Dalam ruang ini, manusia, tetaplah sesuatu yang berpikir. Namun, ia memiliki kerendahhatian bahwa apapun yang ia pikirkan mengenai realitas, adalah bukan realitas itu sendiri. Realitas yang coba direngkuh dalam pemahaman sebatas apa yang mampu ia pikirkan, akan selalu meloloskan diri. Seakan ada lubang dalam diri manusia tempat keluarnya segala realitas yang coba dimasukkan ke dalam pemahaman diri. Kesadaran bahwa manusia adalah subjek yang “berlubang” ini adalah bentuk lain kesadaran bahwa manusia bukanlah subjek aku-berpikir yang utuh atau bisa mengutuhkan dunia dalam pikiran, melainkan subjek yang tak utuh atau tak sempurna. Ketaksempurnaan, itulah kesejatian manusia, Sang Aku yang berpikir.

    Seperti dijelaskan oleh seorang psikoanalisis lacanian bernama Slavoj Zizek, bawa sepanjang hidup, manusia memang selalu berusaha untuk memahami dunia dengan pikirannya, berusaha membuat dunia ini utuh dalam pikirannya, namun itu semua tak lebih dari upaya menambal lubang (baca: ketakutuhan, ketaksempurnaan, keretakan) dalam diri yang selalu gagal. Namun, sepanjang hidup pula manusia seakan ditakdirkan untuk terus menerus menambal lubang yang sia-sia saja dilakukan, karena apapun yang digunakan menutup lubang ini selalu tersedot keluar. Inilah tragedi manusia yang bisa diibaratkan Sisifus dalam mitologi Yunani, yang dikutuk untuk selalu mengangkat batu ke atas bukit hanya untuk melihat batu itu menggelinding kembali ke bawah.

    Lalu, dalam keberulangan yang sia-sia ini apa yang harus dilakukan? Satu-satunya kesempatan manusia adalah membuat hidup yang berada dalam keberulangan sia-sia ini menjadi indah layaknya karya seni. Di sinilah pentingnya masing-masing nama membangun kisah hidupnya sebagai suatu keindahan. Dalam keindahan karya seni, selalu ada kebaruan walau karya itu dilihat berulang-ulang. Keindahan karya seni juga mengatasi ruang dan waktu kehidupan. Sebuah karya seni mampu ‘hidup’ melampaui jamannya. Keindahan inilah yang akan muncul ketika masing-masing nama di dunia menyadari untuk apa mereka hidup. Ketika manusia melukai, mencelakakan, membunuh manusia lain, persoalannya bukan terletak pada batasan benar-salah yang mereka langgar, namun pada ketidaktahuan untuk apa mereka hidup. Ketidaktahuan bahwa masing-masing nama dari kita adalah sebuah kisah yang sejatinya adalah karya-karya seni yang mesti dibangun dalam sebuah keindahan.

    Bukan benar-salah (atau segala macam kategori-dikotomis lain seperti: Hitam-putih, laki-perempuan, baik-jahat, dll) yang penting dalam memahami kehidupan, namun justru pengenalan batasan-batasan kategoris itu dan melampauinya. Melampaui berbeda dengan melanggar. Melampaui di sini justru menyiratkan bahwa dalam kepatuhan atau cara pemahaman yang memang terbatas, manusia masih bisa rendah hati untuk menyadari bahwa selalu ada sesuatu Yang-Lain yang tak tercakup penjelasan berdasarkan kategori-kategori dikotomis yang dibuat manusia tersebut. Inilah pentingnya mendekonstruksi pemahaman berdasarkan kategori dikotomis yang dibuat manusia. Kerendahatian bahwa kategori itu tal lebih dari upaya mendekati realita, namun bukan realita itu sendiri. Dengan demikian, kita tak hanya rendah hati, namun juga memberi kesempatan bagi kita sendiri untuk selalu bertransformasi dan tak terkungkung dalam kategori yang kita yakini secara buta telah mampu menjelaskan dunia.

  • Sedekah

    Hidup memang menunjukkan keindahan hukumnya sendiri, dan salah satu hukum itu adalah "hukum kekekalan sedekah"

    The previlege of giving is yours for the taking"

    Sedkit menambahkan:
    Bukankah sapaan hangat terhadap orang kecil adalah sedekah?
    Bukankah tepukan persahabatan di pundak adalah sedekah?
    Bukankah salam sambutan terhadap orang baru adalah sedekah?
    Bukankah mentraktir office boy adalah sedekah?
    Bukankah ucapan terima kasih yang tulus adalah sedekah?
    Bukankah memberi tip tambahan pada supir bajaj adalah sedekah?
    Bukankah membuatkan kopi bagi Pak satpam adalah sedekah?
    Bukankah setangkai mawar tuk Pak Polisi adalah sedekah?

    Mari saling ber amal sedekah tuk memercikkan kebaikan-kebaikan kecil pada orang-orang yang selama ini hanya kita "lewati sambil lalu"

  • Gubuk yang Terbakar

    Satu-satunya orang yang selamat dari sebuah kapal yang karam, terapung dan terdampar di sebuah pulau tidak berpenghuni. Ia berdoa tanpa henti agar Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari ia menatapi horison mencari-cari tanda bantuan, tapi tidak ada tanda-tanda. Kelelahan, ia akhirnya berhasil membangun sebuah gubuk kecil dari sisa-sisa kayu yang hanyut, sebagai pelindung dirinya. Ia pun hidup sehari-hari dengan cara-cara primitif yang bisa diingatnya, termasuk menyalakan api dengan batu dan kayu. Suatu hari, setelah kembali dari mencari makanan, ia tiba kembali di gubuknya dan menemukan gubuknya habis terbakar, dan yang tersisa hanyalah asap yang mengepul dan membumbung tinggi. Yang terburuk pun sudah terjadi, pikirnya. Segalanya sudah hilang. Ia tersengat amarah dan kekecewaan. “Tuhan, bagaimana Tuhan bisa tega melakukan ini kepada saya?” serunya.

    Pagi berikutnya, ia terbangun oleh suara kapal, yang terlihat mendekati pulau. Ternyata kapal itu datang untuk menyelamatkannya. Masih terkejut bercampur riang, ia bertanya, “Bagaimana kalian bisa tahu saya ada di sini?” Para kelasi kapal, sambil membantunya naik menjawab, “Kami melihat tanda asap yang kamu buat!”

    Moral kisah

    Mudah sekali untuk hancur saat segala sesuatunya menjadi buruk. Janganlah kehilangan hati, karena Tuhan tetap bekerja walaupun di tengah penderitaan dan kesakitan kita. Ingatlah kali berikut gubuk Anda terbakar dan hancur, mungkin itu adalah tanda asap sebagai kemuliaan Tuhan.

  • Ketidak-stabilan

    Ketidak-stabilan tampil menyiksa kita agar kita mengupayakan perbaikan yang menjanjikan kedamaian.

    Perbaikan yang kita upayakan adalah keseimbangan dari Three Points Star - Segitiga Bintang kita.

    Ketidak-stabilan akan kita temui pada setiap tingkat kedewasaan, walau bagaimana pun kita mengupayakan keseimbangan.

    Ketidak-stabilan adalah tanda bagi yang telah mengupayakan keseimbangan bahwa dia sedang menghadapi tantangan untuk mencapai tingkat keseimbangan berikutnya.

    Ketidak-stabilan bagi yang telah mengupayakan keseimbangan adalah tanda bahwa dia sedang berada dalam gerakan maju dan naik. Ingatlah bahwa berlari adalah keadaan hampir jatuh.

    Dengan demikian, bila ketidak-stabilan itu masih setia menemani Anda - mengeluhlah sedikit, tetapi bersyukurlah banyak.

    Cara termudah untuk menghilangkan ketidak-stabilan pada mesin mobil, adalah menancap gas! Maka sibuklah. Perpendeklah jarak antara pencapaian-pencapaian Anda. Cepatlah selesai dalam satu urusan, untuk segera berpindah ke urusan yang berikutnya.

    Sampai kapan kita - Anda dan saya, boleh menjadi pribadi yang tidak stabil?

    Sampai kita tidak tertarik lagi untuk menghasilkan kebaikan bagi orang lain dan diri kita sendiri;
    dan waktu itu tidak akan pernah datang!

    Kita akan menjadi tidak-stabil selamanya.

    Kestabilan kita adalah ketidak-stabilan yang berkelanjutan dalam upaya memuliakan kehidupan.

  • JARINGAN HOMESCHOOLING

    Hari Sabtu, 21 April 2007, telah diluncurkan Jaringan Homeschooling (Homeschooling Network). Jaringan Homeschooling adalah media komunikasi dan interaksi antar keluarga, komunitas, dan pemerhati homeschooling. Jaringan Homechooling diluncurkan secara simbolik dengan peluncuran buletin Sekolah Rumah edisi perdana.
    Sesuai namanya –yaitu jaringan–, inisiatif ini berupa jaring-jaring terdistribusi. Tak ada atasan dan bawahan, pusat dan daerah, tak ada ketua dan anak buah. Jaringan homeschooling bersifat non-politis dan bukan merupakan payung yang membawahi para anggotanya. Yang ada dalam jaringan homeschooling adalah anggota jaringan, kontributor, dan moderator. Sebagai inisiator, kami akan menjadi salah satu moderator lalu lintas inisiatif dan ide diantara para anggota jaringan. Para anggota jaringan yang lain dapat menjadi moderator yang ikut serta menata aturan main dan mendorong inisiatif pelayanan antar-para anggota.
    Jaringan Homeschooling tak berdiri untuk menjadi saingan atau menggantikan lembaga-lembaga homeschooling yang sudah terbentuk. Jaringan homeschooling hadir dengan visi sebagai katalisator pelayanan antar-keluarga dan komunitas homeschooling serta dinamisator proses pembelajaran homeschooling di masyarakat.
    Dalam fungsinya sebagai katalisator proses pembelajaran homeschooling, Jaringan Homeschooling hadir dengan misi:

    edukasi dan penyebaran informasi mengenai homeschooling
    peningkatan kualitas penyelenggaraan homeschooling
    mendorong kegiatan lintas keluarga dan lintas komunitas homeschooling
    kapitalisasi pengetahuan mengenai teori dan praktek homeschooling di Indonesia
    Saat ini, Jaringan Homeschooling hadir melalui 3 (tiga) media informasi yang terintegrasi, yaitu:
    1. Situs Jaringan Homeschooling Indonesia (http://www.sekolahr umah.com)
    Situs Sekolah Rumah merupakan situs berisi berbagai aspek mengenai homeschooling di Indonesia. Kami mengundang Anda untuk memberikan kontribusi, baik berupa materi-materi tulisan untuk mengisi situs maupun kontribusi pendanaan untuk pemeliharaan dan pengembangan situs.

    2. Milis Sekolahrumah (http://www.yahoogro ups.com/group/ sekolahrumah)
    Milis Sekolah Rumah merupakan wahana diskusi berbagai hal mengenai homeschooling. Kami mengundang Anda untuk bergabung dan meramaikan milis bersama. Artikel yang ada di dalam milis dapat diangkat dan dimuat dalam buletin Sekolah Rumah.

    3. Buletin Sekolah Rumah
    Untuk meluaskan jangkauan dukungan kepada keluarga dan pemerhati homeschooling, Jaringan Homeschooling menerbitkan buletin yang diberi nama "Sekolah Rumah" berisi berbagai isu dan informasi mengenai homeschooling. Buletin diterbitkan setiap bulan sekali. Keluarga dan pemerhati homeschooling dapat membeli atau berlangganan buletin homeschooling. Dukungan berupa artikel, langganan, donasi, iklan, dan kerjasama sangat diharapkan. (Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini: http://www.sumardio no.com/index. php?option= com_content& task=view& id=869&Itemid= 74)

    Dengan iringan doa kepada Tuhan yang Maha Esa, inisiatif ini diluncurkan untuk masyarakat homeschooling di Indonesia serta dunia anak dan pendidikan pada umumnya. Semoga dapat menjadi benih untuk menggapai pendidikan yang lebih baik bagi masa depan anak-anak Indonesia. Amin.

  • LEADERSHIP

    LEADERSHIP IS NOT ABOUT POSITION OR FAME OR FORTUNE, LEADERSHIP IS A RELATIONSHIP. IT’S A RELATIONSHIP BETWEEN THOSE WHO ASPIRE TO LEAD – YOU – AND THOSE WHO CHOOSE TO FOLLOW – YOUR CONSTITUENTS.

  • Apa gunanya berlari kalau kita berada di jalan yang salah?

    Semua yang Pernah Saya Pelajari

    Saya Pelajari Seekor Anjing

    Penulis tidak diketahui

    1. Tidak pernah lewatkan kesempatan untuk jalan-jalan

    2. Nikmati udara segar dan angin di wajah untuk kesenangan murni

    3. Saat yang dicintai pulang, selalu berlari ke mereka dan sambut mereka

    4. Apabila untuk kepentingan kamu, selalu berlatih untuk ikuti aturan

    5. Kasih tahu kalau orang lain sudah melewati teritori kamu

    6. Nikmati tidur dan selalu mengeliat sebelum bangun

    7. Berlari, dan bermain setiap hari

    8. Makan dengan lahap dan antusias

    9. Setialah

    10. Tidak pernah berpura-pura

    11. Kalau yang kamu inginkan terkubur, galilah sampai kamu menemukannya

    12. Kalau seseorang lagi mengalami hari yang buruk, jangan berisik, duduklah dekat mereka, dan sentuh mereka dengan lembut

    13. Senanglah dalam kenikmatan jalan kaki yang panjang

    14. Carilah perhatian dan biarkan orang lain menyentuh kamu

    15. Hindari menggigit kalau gonggongan kecil sudah cukup

    16. Di hari panas, minum air putih yang banyak dan berbaring di bawah pohon rindang

    17. Saat gembira, menarilah dan goyangkan seluruh badan

    18. Tidak peduli seberapa sering kamu dikritik, tidak sampai merasa hancur, ambil hati, dan berlarut-larut. Berlarilah kembali ke mereka dan berteman kembali.

  • Percaya Diri vs Sombong

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menemukan orang yang sangat percaya diri serta orang-orang sombong. Orang yang percaya diri biasanya mudah bergaul dengan orang lain. Sedangkan orang sombong biasanya malas didekati oleh siapapun. Pasalnya banyak orang yang bingung sebenarnya posisinya ada dimana. Sombongkah atau percaya dirikah Anda?
    Berikut perbedaan antara orang sombong dan orang percaya diri: 1. Orang sombong menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain. Sedangkan orang percaya diri percaya bahwa dirinya memiliki keunikan dan talenta sebagaimana yang dianugerahkan berbeda kepada setiap orang.

    2. Orang sombong seolah selalu tahu apa yang paling baik untuk orang lain. Sedangkan orang yang percaya diri selalu terbuka tentang pendapatnya terhadap orang lain.

    3. Orang sombong biasanya tajam terhadap orang yang ia lihat sebagai saingan. Orang percaya diri sudah lahir dengan kemampuan untuk bersaing.

    4. Orang sombong sulit dan bahkan tidak pernah mengakui kesalahan mereka. Orang percaya diri tidak takut untuk mengaku bahwa ia melakukan kesalahan.

    5. Orang sombong biasanya suka jika orang lain melakukan kesalahan Sedang mereka yang percaya diri suka membantu orang menghadapi kesalahan yang mereka buat.

    6. Orang sombong biasanya sangat peduli dengan pendapat orang lain terhadap dirinya. Sedangkan orang percaya diri tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain terhadap dirinya.

    7. Orang sombong biasanya suka membanggakan dirinya, sedangkan mereka yang percaya diri cenderung diam.

    Lalu bagaimana cara menjadi percaya diri tanpa berubah menjadi sombong?

    Peduli akan penampilan
    Perbaiki penampilan Anda tanpa maksud bahwa orang lain akan kemudian memuji Anda karena itu. Lakukan itu karena Anda tahu bahwa Anda harus mengeluarkan sisi terbaik dari diri Anda.

    Berikan senyuman tulus
    Berusahalah untuk senyum kepada semua orang sebagai ungkapan hati Anda yang paling dalam, bukan senyum karena orang bisa terpesona terhadap senyuman Anda. Senyuman tulus adalah lambang percaya diri dan kode kepada orang lain bahwa Anda adalah orang baik yang bisa menjadi teman yang baik pula.

    Perhatikan orang lain
    Mulai sekarang, berikan waktu Anda untuk menanyakan kepada teman atau orang sekitar Anda apa kabar mereka dan libatkan diri pada mereka, serta lakukan itu dengan tulus pula. Tunjukkan bahwa Anda melihat mereka sebagai orang-orang yang Anda hargai, siapapun dan apapun posisi mereka.

    Jangan ketinggalan jaman
    Untuk jadi orang yang percaya diri, Anda perlu terus menginformasikan kepada diri Anda tentang apa yang terjadi di sekitar Anda. Caranya, ikuti berita di koran dan televisi. Ini membantu Anda percaya diri jika terlibat percakapan dengan siapa saja. Asal jangan jadi sok tahu!

    Luaskan pergaulan
    Jangan puas berada di lingkungan kecil milik Anda sekarang. Sebisa mungkin luaskan pergaulan. Jangan pilih-pilih teman dari segala kalangan. Melihat dunia dari segala perspektif bisa membantu Anda untuk menjadi percaya diri tanpa menjadi sombong. Karena Anda tahu bahwa di atas langit masih ada langit dan Andapun tahu bahwa di dunia ini masih banyak orang yang hidup dalam kesulitan.

    Mensyukuri keberadaan Anda
    Ini adalah kunci penting untuk menjadi orang yang percaya diri. Banyak orang yang tidak percaya diri karena melihat kelemahan dirinya. Dan banyak orang yang menjadi sombong karena merasa apa yang mereka punya lebih dari orang lain. Padahal inti bersyukur ialah menyadari bahwa semua itu berasal dari Tuhan semata. Tuhanpun bisa mengambilnya kapan saja Ia mau. Karena itu tidak ada yang perlu disombongkan tapi tidak ada pula yang tidak disyukuri.Dengan keunikan Anda, Anda bisa menjadi diri sendiri dan bisa berusaha memberi yang terbaik.

    Ubah pola pikir Anda
    Dengan semua pengetahuan itu, mulai ubah cara pAndang Anda terhadap dunia. Jika pola pikir Anda sudah terbentuk, itu akan tercermin kepada gerak-gerik Anda, kata-kata Anda, dan perilaku Anda.

  • Katanya Sahabat...

    Katanya sahabat, tapi baju kusam sedikit sudah dijauhi.

    Anda pasti sudah bisa menebak bahwa kata-kata itu bisa didengar dari sebuah iklan sabun cuci. Benar Anda tidak salah. Tetapi apa yang Anda dapat dari iklan itu? Bahwa sabun cuci itu bisa menjaga bahkan mengembalikan warna. Memang Anda benar, tetapi apakah ada lagi yang bisa kita dapatkan?

    Persahabatan. Pelajaran tentang persahabatan. Tidak ada sahabat yang menilai sahabatnya dari faktor-faktor luar. Don't judge a book by it's cover, tidak berguna bagi seorang sahabat, mestinya. Karena sahabat tidak pernah menilai sahabatnya dari kulit.
    Mengapa demikian? Seorang sahabat lahir dari interaksi berhari-hari bahkan dalam hitungan tahun. Semakin sering bertemu, maka semakin banyak Anda ketahui hal-hal yang berkaitan dengan sahabat Anda. Begitu pula dengan mereka. Maka, nyaris tidak ada lagi yang tidak mereka ketahui dari Anda.

    Ketika Anda mengetahui mereka dengan cukup banyak maka akan terjadi apa yang disebut orang Jepang sebagai suri awase. Ketika orang Jepang membeli selusin atau setengah lusin mangkok untuk makan, maka bagian bawah dari dua mangkok akan mereka gesekkan. Bila mangkok itu dibuat dengan cara yang tidak halus maka bagian bawah ini akan terasa kasar dan mungkin bahkan tajam. Maka ketika mangkok dipegang bagian bawahnya akan melukai tangan, dan ketika mangkok diletakkan di atas meja, akan menggores permukaan meja yang biasanya terbuat dari kayu dan akan terlihat jelek bila bergores-gores.

    Karena itu mereka selalu melakukan suri awase. Dengan tindakan itu, bagian bawah mangkok yang terasa kasar akan saling mengikis dan sama-sama menjadi lebih halus.

    Begitu pula dengan persahabatan. Kulino kata orang Jawa, sering, terbiasa bertemu, maka akan saling menghaluskan. Paling tidak saling mengenal dan akan menimbulkan toleransi. Kata suri awase lebih tepat karena pergesekan akan timbul, pasti, dalam pergaulan dengan sahabat. Tetapi pergesekan itu akan membuat masing-masing menjadi halus.

    Karena itu kita memang perlu berhati-hati dengan orang yang kita ajak bergaul. Ketika baju kita kusam, seringkali sahabat justru akan memberi tahu apa yang harus dilakukan. Ketika kita menghadapi masalah dengan suami atau istri, sahabat juga akan memberi tahu apa yang akan dilakukan, demi kebaikan kedua belah pihak. Sahabat selalu menghindari saran-saran yang hanya menguntungkan pihak Anda tetapi akan membuat pihak lain meradang. Sahabat seringkali mempunyai pertimbangan lebih luas karena dia memandang masalah Anda dari kejauhan.

    Seringkali kita terjebak dengan kepentingan yang sebenarnya justru tidak penting. Ada harga diri yang memang harus dipertahankan. Walaupun dengan demikian mungkin kita harus berjuang bahkan berperang untuk mempertahankan harga diri tersebut. Ketika Anda berperang itu berarti ada kerugian atau kerusakan yang akan Anda derita.

    Maka pertimbangan Anda bukan lagi harga diri yang harus dipertahankan. Tetapi seberapa parah kerusakan yang akan terjadi ketika harga diri tersebut dipertahankan. Pertimbangkan seberapa menderita Anda ketika kerusakan tersebut terjadi. Tidak menjadi penting lagi seberapa parah lawan bertikai Anda menderita, ketika Anda sendiri cukup menderita karena pertikaian tersebut.

    That's what friends are for. Ketika terjadi pertikaian dengan orang lain, maka sahabat yang baik akan memberikan Anda pertimbangan, seberapa parah kerugian yang akan Anda derita bila pertikaian tersebut diteruskan. Maka, tidak ada gunanya Anda mengaku sahabat bila Anda tidak melakukan hal tersebut. Tidak ada gunanya Anda mengaku sahabat bila justru Anda yang memicu pertengkaran.

    Katanya sahabat...

  • Situs Porno dan Kesehatan Mental

    Dari sekitar 1,8 juta warga Indonesia yang sudah mengenal dan mengakses internet, 50% diantaranya ternyata tidak bisa menahan diri untuk tidak membuka situs porno. Demikian yang diungkapkan oleh Richard Kartawijaya, Wakil Presiden Asosiasi Piranti Lunak dan Telematika Indonesia, dalam paparannya pada seminar dies natalis ke-46 Fisipol UGM di Gedung UC, Yogyakarta, Rabu 19/9/2001. Selain mengakses situs porno, menurut Richard, pada 2 - 3 bulan pertama internet lebih banyak digunakan untuk bermain games. Lalu bagaimanakah dampak perilaku tersebut pada kesehatan mental ?

    Penggunaan internet untuk mengakses situs-situs porno memang sangat sulit untuk dihindari, mengingat bahwa situs-situs semacam itu tersedia sangat banyak dalam dunia maya tersebut. Menurut hasil penelitian Alvin Cooper (1998) dari San Jose Marital and Sexual Centre, yang tertuang dalam bukunya Sexuality and the Internet: Surfing into the new millennium, seks (baca: situs porno) merupakan topik nomor satu yang dicari para pengguna internet di Amerika.

    Kenyataan yang ada di Indonesia saat ini tampaknya tidak jauh berbeda. Hal itu terlihat dari masuknya situs-situs porno di search engine sebagai Top 10 Website yang paling banyak dikunjungi. Dengan melihat jumlah pengakses situs-situs porno di internet yang cenderung meningkat dari hari ke hari, maka perlu diwaspadai dampak penggunaan teknologi tersebut terhadap kesehatan mental dan hubungan interpersonal si user/netter.

    Para psikolog dan ahli ilmu-ilmu sosial lainnya telah lama menaruh perhatian pada dampak yang ditimbulkan oleh situs-situs porno atau sering disebut juga sebagai "CYBERSEX". Ada dua pandangan yang muncul sehubungan dengan hal tersebut.

    Pertama, pandangan yang menganggap situs porno mendorong terjadinya hal-hal yang bersifat patologis bagi user. Pandangan ini cenderung berfokus pada perilaku addictive dan compulsive.

    Kedua, pandangan yang menganggap bahwa situs porno hanya merupakan sarana untuk mengekplorasi dan mencari informasi mengenai masalah-masalah seksual. Dengan kata lain mengakses situs porno merupakan suatu ekspresi seksual.

    Patologis
    Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa situs porno mendorong terjadinya tindak kriminal dan perilaku seks menyimpang. Menurut penelitian, situs porno memungkinkan user/netter untuk melakukan berbagai komunikasi erotik melalui komputer mulai dari tingkatan yang bersifat godaan atau lelucon porno, pencarian dan tukar-menukar informasi mengenai pelayanan seksual sampai pada diskusi terbuka tentang perilaku seks menyimpang. Selain itu komunikasi melalui internet seringkali digunakan untuk mengeksploitasi pornography yang melibatkan anak-anak dan remaja serta alat yang dipakai untuk menyamarkan identitas seksual seseorang dengan tujuan tertentu.

    Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa situs porno mendorong terjadinya tindak kriminal dan perilaku seks menyimpang. Menurut penelitian, situs porno memungkinkan user/netter untuk melakukan berbagai komunikasi erotik melalui komputer mulai dari tingkatan yang bersifat godaan atau lelucon porno, pencarian dan tukar-menukar informasi mengenai pelayanan seksual sampai pada diskusi terbuka tentang perilaku seks menyimpang. Selain itu komunikasi melalui internet seringkali digunakan untuk mengeksploitasi pornography yang melibatkan anak-anak dan remaja serta alat yang dipakai untuk menyamarkan identitas seksual seseorang dengan tujuan tertentu.

    Penelitian pertama yang menyelidiki kecanduan mengakses situs porno dilakukan Bingham dan Piotrowski (1996). Hasil penelitian mereka yang tertuang dalam Psychological Report berjudul On-line sexual addiction: A contemporary enigma mengungkapkan 4 (empat) karakteristik yang terdapat pada individu pecandu situs porno (addicted to cybersex). Keempat karakteristik tersebut adalah:

    · Ketrampilan sosial yang tidak memadai
    · Bergelut dengan fantasi-fantasi yang bersifat seksual
    · Berkomunikasi dengan figur-figur ciptaan hasil imaginasinya sendiri
    · Tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak mengakses situs porno

    Sementara itu penelitian terhadap perilaku kompulsif dalam mengakses situs porno terungkap bahwa perilaku tersebut didorong oleh faktor-faktor seperti kesepian (loneliness), kurang percaya diri (lack of self-esteem), dan kurangnya pengendalian diri terhadap masalah seksual (lack of sexual self-control).

    Ekspresi Seksual

    Berbeda dengan pandangan yang menganggap bahwa situs porno mendorong terjadinya masalah yang bersifat patologis, beberapa penulis justru melihat situs porno sebagai tempat yang menyediakan berbagai informasi "supercepat" mengenai masalah-masalah seksual dan sekaligus menawarkan cara-cara yang baru dan tersembunyi (paling tidak user merasa tidak ada orang lain yang tahu) untuk memuaskan keingintahuan seseorang dalam melakukan explorasi seksual.

    Keberadaan situs porno dinilai dapat membantu pasangan yang mengalami masalah dalam hubungan seksual karena menyediakna berbagai informasi yang terkadang "enggan" untuk dibicarakan secara langsung oleh pasangan tersebut. Menurut Leiblum (1997) dalam Journal of Sex Education and Therapy berjudul Sex and the net: Clinical implications, situs porno merupakan sarana ekspresi seksual yang memiliki rentangan secara kontinum dari sekedar rasa ingin tahu sampai pada perilaku obsesif. Bagi individu yang memerlukan terapi seksual, media seksual on-line seringkali dianggap dapat mengakomodasi hal-hal yang berhubungan dengan isolasi sosial dan ketidakbahagiaan dalam hidup. Lieblum membedakan 3 (tiga) karakter klinis dari para pengakses situs porno. Ketiga profil tersebut adalah:

    · Loners, dimana seseorang (user) menganggap bahwa situs porno dapat menjadi alat untuk mengakomodasi masalah-masalah atau hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup.

    · Partners, dimana situs porno dianggap sebagai bagian dari pasangan hidup si user. Ketika user mengalami masalah dia dapat mencari solusi melalui situs porno

    · Paraphilics, dimana seseorang tergantung pada situs porno untuk memberikan stimulasi dan kepuasan seksual.

    Berdasarkan pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa jika seseorang hanya menganggap bahwa situs porno sebagai alat untuk mengakomodasikan masalah-masalah seksual saja maka ia tidak bisa digolongkan sebagai seseorang yang memiliki masalah kejiwaan. Pada tahapan berikut di mana pengguna menganggap situs porno sebagai partner yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya, sebenarnya individu sudah memasuki titik yang rawan untuk menuju ke tahapan berikutnya (Paraphilics), jika ia tidak mampu mengendalikan diri dan tidak segera menyelesaikan masalah yang ada dengan pasangannya.

    Sama halnya dengan beberapa perilaku adiksi yang lain (misalnya perjudian, alkoholik), maka jika individu sampai masuk ke tahapan ketiga maka dapat dipastikan bahwa ia memiliki masalah kejiwaan yang menyangkut perilaku adiksi.Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa pengguna internet memiliki berbagai tujuan dan alasan dalam mengakses situs porno. Apakah Anda akan menggunakan situs tersebut untuk tujuan-tujuan yang positif demi kebahagiaan hidup Anda dan pasangan Anda atau sebaliknya, semua terserah Anda. Berasumsi bahwa semua pengakses internet memiliki masalah-masalah patologis tentu sangat tidak adil. Namun demikian hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai situs porno merupakan "menu harian" dalam mengakses internet.

    Selain itu bagi Anda yang sudah memiliki pasangan hidup jika mengalami masalah-masalah seksual hendaklah membicarakannya dengan pasangan Anda terlebih dahulu.Mengingat bahwa di Indonesia sampai saat ini belum ada aturan atau tata cara yang mengatur penggunaan teknologi internet ini, maka kendali sepenuhnya ada ditangan Anda. Situs porno yang sudah demikian marak dalam dunia maya tersebut tidak mungkin lagi dapat diblokir atau dihindari seperti yang pernah dilakukan oleh Departemen Penerangan beberapa tahun yang lalu.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.