Search blog.co.uk

Posts archive for: 23 April, 2007
  • Karir

    Karir paling penting dalam hidup adalah hidup itu sendiri, jadi karirnya itu sendiri tidak menggunakan kekuatan tertingginya, menghalangi kecemerlangan pribadi melalui kebiasaan kebiasaan yang tidak efektif, segera kita selesaikan, sehingga kecermelangan karir perjalan yang cepat untuk naik kelas dapat segera dicapai

    Kita sudah sedemikian lama belajar, sudah lama berpengalaman, tetapi mengapa pelajaran yang demikian banyak kita dapatkan tidak bisa menghantarkan kita ke tempat yang kita impikan?
    Salah satunya adalah, kita salah dalam cara cara menerapkan yang sudah kita pelajari, sehingga kita membongkar kembali pelajaran justru memperpendek jarak antara keberhasilan yang kita inginkan. Banyak orang kuat, tetapi membatalkan kekuatannya sendiri dengan cara bicara yang tidak memuliakan orang lain. Banyak orang bekerja di tempat yang tidak menuntut kekuatannya/kemampuannya, sehingga ia merasa orang yang paling lemah. Banyak orang yang orang yang tidak menggunakan kekuatan terbesarnya dalam membangun hidup

    Pernyataan kemampuan pribadi
    "Apakah kita sekarang ini dibayar untuk kemampuan terbaik kita"? Jangan sampai anda sekarang di bayar untuk kelemahan anda?

    Saya pribadi merasa gundah dengan pertayaan ini, karena saat inipun saya masih mencari tempat yang seseuai dengan kemampuan terbaik saya.

    Ada satu hal yang menarik perhatian saya.
    Jika kita memberikan kebaikan kepada orang lain, yakinlah suatu saat kita akan menerima kabaikan dari orang lain.
    Jadi, mengingatkan saya akan nasehat nenek saya, SING SOPO NANDUR BAKAL NGUDUH, yang artinya kurang lebih begini, siapa yang mananam, dia juga yang akan menuai hasilnya. Siapa menanam kebaikan yakinlah dia akan mendapat balasan kebaikan juga.

  • Hidup sebagai suatu permainan tetangkasan

    Bayangkan hidup sebagai suatu permainan tetangkasan, dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola kehidupan yang dilempar keudara. Bola bola kehidupan tersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit dan kita harus menjaga agar ke 5 bola tersebut seimbang di udara

    Kita akan segera mengerti bahwa ternyata “Pekerjaan” hanyalah sebuag bola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali. Tetapi empat bola lainnya yaitu Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit terbuat dari bola kristal. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping.
    Dan ingatlah mereka tidak akan kembali seperti aslinya. Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya

    Bagaimana caranya?

    Jangan rusak nilai kita dengan membandingkan diri kita dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita menjadi special

    Jangan menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup. Dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti. Jangan biarkan hidup kita terpuruk dimasa lampau atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidupnya

    Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.

    Jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidak-sempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain

    Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar menjadi berani

    Jangan berusaha untuk mengunci cinta dalam hidupmu dengan berkata “tidak mungkin saya temukan”. Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya “sayap”. Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai

    Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat kita bawa kemanapun tanpa membebani. Dan akhirnya : MASA LALU adalah SEJARAH, MASA DEPAN merupakan MISTERI dan SAAI INI adalah KARUNIA.

    Free Your Heart From Hatred
    Free Your Mind From Worries
    Live Simply
    Give More

  • Are You The Person of The Year?

    Sebuah produk tidak akan pernah dikenal banyak orang bila tidak melalui pemasaran yang baikdan terpadu. Sebaik apapun kualitas produk tersebut, bila tidak ada usaha untuk memperkenalkannya kepada publik, maka produk tersebut tetaplah akan terkesan sebagai sebuah produk biasa.

    Sebut saja Coca-Cola yang menjadi merek termahal dan begitu melekat di benak konsumen, Body Shop yang memenangkan hati konsumen dengan produk-produknya yang against animal testing, dan banyak lagi perusahaan kelas dunia dengan serangkaian promosi dan upaya memasarkan produk dan institusinya agar mendapat tempat di hati konsumen dan masyarakat pada umunya.

    Bila Anda perhatikan apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusaha an tersebut, Anda tentu akan berkesimpulan bahwa kampanye yang semata-mata dalam bentuk beriklan untuk mendapatkan penjualan yang lebih tinggi saja tidak cukup. Mereka melakukan lebih dari sekedar promosi, mereka sadar bahwa mereka butuh lebih dari sekedar itu. Mereka tidak lagi hanya fokus pada angka, tapi juga pada nilai. Tidak hanya pada mendapatkan dari konsumen tapi apa yang dapat diberikan kembali kepada mereka. Beragam kegiatan Corporate Social Responsibility digelar dalam rangka giving back to the community. Sungguh sesuatu yang kita dambakan terjadi.

    Mari kita tinggalkan perusahaan-perusaha an tersebut untuk sementara waktu dan kita lihat apa yang dapat kita pelajari untuk kita bawa pulang sebagai individu. Bila perusahaan saja memberikan perhatian yang begitu besar untuk membangun mereknya. Bagaimana dengan diri kita sendiri?

    Majalah Time pada edisi khusus 2006 beberapa waktu yang lalu mengangkat tema The Person of the Year. Siapakah orang tersebut? The Person of the Year tersebut adalah Anda. Tema yang menarik dan kembali mengingatkan kepada Anda bahwasanya Anda memiliki potensi yang luar biasa dan memiliki peluang untuk menjadi yang terbaik. Namun demikian langkah selanjutnya adalah sepenuhnya keputusan Anda.

    Tahap awal Anda melakukan pemasaran terhadap produk paling berharga di dunia yaitu diri Anda sendiri adalah dengan membangun citra diri Anda. Tentukan sejak sekarang. Dengan apa yang Anda miliki saat ini, Anda ingin dunia mengenal Anda sebagai siapa. Di dunia pemasaran kita mengenalnya sebagai positioning . Bila Anda sudah pas dengan positioning Anda, biarlah orang lain mengetahuinya. Bersosialisasilah dengan dunia luar dan tetap menjadi diri Anda sendiri.. Pelajari bagaimana membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Bangun sikap yang positif dan kooperatif dengan orang lain.

    John C. Maxwell mengungkapkan "People don't care how much you know until they know how much you care." Pelajaran penting yang dapat kita serap adalah kenyataan bahwa kemampuan, pengetahuan dan apapun yang Anda miliki pada akhirnya tidak seberapa penting dibanding nilai-nilai yang Anda pancarkan untuk orang lain. Meskipun sebuah produk berkualitas dan mahal harganya, namun bila perusahaan tidak memperhatikan nilai tentunya produk tidak akan memenangkan hati konsumen. Senada dengan analogi tersebut, Anda boleh pintar, tapi bila Anda tidak menyenangkan, Anda akan ditinggalkan orang. Ungkapan berikut semoga menginspirasi Anda

    If they trust you, they are going to buy from you.

    If you are sincere, they are going to buy from you.

    Then they like you, you win them.

  • Hilangkan Kebiasaan Mengeluh

    Sikap mengeluh merupakan suatu bentuk ketidakpuasan seseorang terhadap suatu
    keadaan. Tapi apapun masalah yang anda hadapi di kantor, cobalah untuk tidak
    mengeluh. Menurut John R. Brinkerhoff dalam bukunya 'Dalil Bekerja di
    Kantor', kebiasaan mengeluh bisa membuat anda menjadi 'pencela' yang andal.

    Sedikit saja anda merasa tidak puas terhadap sesuatu, anda akan mengeluarkan
    kalimat celaan. Ini berdampak negatif terhadap perkembangan pribadi anda.
    Sikap dan perilaku negatif seperti ini akan membuat anda dijauhi. Keluhan
    juga bisa menurunkan kredibilitas dan membuat anda tampak sangat tidak
    profesional. Ingat, pada dasarnya tidak ada satu orang pun yang suka
    mendengarkan keluhan di kantor. Karena, di kantor tidak ada satu orangpun
    yang dibayar untuk mendengarkan keluhan. Jadi, jika anda pengeluh sejati di
    kantor, belajarlah untuk menghentikannya.

    Setiap menemui masalah, belajarlah untuk memahami masalah itu terlebih dulu.
    Kemudian cobalah pikirkan jalan keluarnya. Jika anda merasa 'mentok' barulah
    bicarakan pada orang yang bisa diajak bicara. Kalau perlu bicarakan pada bos
    anda. Tetapi ingat, jangan bernada mengeluh apalagi sampai melebih-lebihkan
    masalah. Bicarakan secara profesional dan netral. Yang lebih penting lagi
    jangan menyalahkan suatu kondisi yang membuat anda tidak puas. Dan jangan
    menyudutkan satu atau sekelompok orang yang anda anggap bersalah.

    Jangan sekalipun melihat suatu persoalan dengan filosofi 'rumput tetangga
    lebih hijau ketimbang rumput di halaman sendiri'. Karena meski anda tidak
    puas dengan kondisi di kantor, anda juga tidak boleh menutup mata pada sisi
    positif organisasi perusahaan anda. Berhentilah mengeluh. Percayalah wajah
    anda akan tampak lebih bersinar jika jauh dari keluhan. Selain itu anda yang
    jarang atau tidak pernah mengeluh akan menjadi sosok yang 'tahan banting'.
    Sukses pun akan semakin mudah anda raih.

  • Bilangan/Garis Fibonacci

    Seoarang ahli matematika dari Italia yang lahir pada abad ke-12, Leonardo Fibonacci menemukan suatu pola bilangan yang yang disebut Bilangan Fibonacci. Bilangan ini merupakan suatu rangkaian bilangan yang berurutan dari jumlah dua bilangan dibelakangnya.

    Bilangan-bilangan ini memiliki suatu hubungan berantai hingga mencapai proses angka ke-1618.

    Penerapan dari bilangan Fibonacci ini dalam Analisa Teknikal adalah untuk mengetahui perubahan trend harga didekat garis Fibonacci. Empat(4) buah garis Fibonacci yang dikenal adalah Fibonacci Arc, Fan, retracement, dan Time Zone.

    Lebih lanjut tentang Fibonacci : http://www.investopedia.com/search/results.aspx?q=fibonacci&submit=Go

    Penjelasan Garis Fibonacci : http://www.forex.com/forex_user_guide_4_8.html

  • UN : Antara Lulus dan Gagal

    UN sudah usai beberapa hari lalu (buat SMA) namun masih menyisakan kegundahan dan kegelisahan dari berbagai pihak terutama siswa dan siswi yang menjadi peserta Ujian Nasional (UN) tersebut. Kegundahan akan lulus atau gagal dan kegelisahan akan malu jika gagal karena harus mengulang setahun lagi dan berbagai kegelisahan lainnya yang terkadang menjadi suatu masalah yang musti memerlukan penyelesaian. Atau bahkan mampu membuat stress sebagaian dari kita, tidak hanya siswa-siswi, guru bahkan orang tua!
    Lulus atau gagal UN telah menjadi monster yang sangat menakutkan bagi kita, apalagi bagi siswa-siswi yang memang pasukan dalam perang dahsyat ini. Laksana perang besar, mereka (dalam hal ini siswa dan siswi) telah terlebih dahulu patah pedangnya sebelum sempat menghadapi lawan.
    Saya punya beberapa kawan (tepatnya saya panggil Adik) yang tahun ini bertarung untuk mendapatkan nilai 5,0 yang entah untuk apa kegunaannya itu. Seperti yang telah saya singgung di atas, pedangnya sudah patah dan terjatuh ke tanah sebelum sempat diangkat untuk menghunus ke perut musuh. Semangat untuk menghadapi UN sudah patah sebelum seruling UN didengungkan. Bagaimana mau mengikuti perang jika pedang telah patah? Bagaimana menghadapi UN jika semangat sudah tak ada dan keputusasaan menghadang. Bahkan, ada di antara siswa-siswi yanga memilih tidak mengikuti UN walau mereka telah terdaftar sebagai peserta.
    “Buat apa ikut UN kalau akhirnya tidak lulus juga!” begitu kata mereka.
    Nah, siapa yang mau bertanggung jawab kalau sudah begini keadaannya.
    Tiga tahun jadi tidak berarti sama sekali kalau itu yang terjadi. Sia-sia saja duduk di bangku sekolah kalau demikian adanya. Namun, kenyataan memang menjawab semua itu. Itulah yang terjadi saat ini. Ada sebagian dari adik-adik kita yang tidak mau lagi mengikuti UN.
    Apa benar UN itu layaknya monster yang sangat menakutkan seperti di film-film karton? Kalau memang iya. Kenapa kita tidak menyiapkan pahlawan utnuk membunuh monster tersebut?
    Saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan seorang siswa SMA yang begitu stress dan tertekan ketika mengikuti UN. Katanya kepada saya waktu itu, kalau bisa ia ingin terlahir di tahun 1985 ke bawahn biar tidak mengikuti UN seperti ini. Lucu memang. Tapi mana mungkin? Hal itu sangat mustahil terjadi dan tidak akan pernah terjadi sama sekali.
    Aneh memang. Tapi fakta berbicara demikian.
    UN. Begitu menakutkan. Mengatakan saja rasanya enggan apalagi untuk menghadapinya. Melihat pengawas yang garang-garang sudah seperti lintah kena bakung belum lagi melihat soal-soal matematika yang susahnya minta ampun. Akhinya, gemetar duluan sebelum sempat membaca dan menjawab soal.
    Ngeri sekali. Saya saja terkejut mendengar masalah ini. Ditambah lagi selain pengawas yang garang juga polisi-polisi yang berkeliaran di sekitar sekolah. Seperti mau menangkap mapia narkoba saja. Namun, lagi-lagi, Ini Indonesia, Bung! Beginilah yang system pendidikan kita saat ini yang banyak orang memperdebatkan bahkan meragukan keberadaannya.
    Nilai? Apakah 5,0 akan menjamin seorang siswa lulus ( = benar-benar lulus; murni lulus).
    Belum tentu. Nilai bukan patokan dalam menjamin pendidikan akan berhasil atau tidak. Ilmu pengetahuan itu sama sekali tidak berpatok pada nilai. Buat apa nilai 5,0 kalau di kepala masih belum ada apa-apa. Atau buat apa nilai 5,0 kalau Cuma untuk lulus UN sedangkan ketika bertarung di SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) tidak berarti sama sekali. UN lulus dengan nilai sempurna sedangkan SPMB gagal. Wah, ini yang lebih berat lagi (Antara UN dan SPMB, saya akan tulis terpisah).
    Satu sisi, UN memang berhasil. Tapi ketika kita melirik ke sisi lain. UN sangat gagal. Kenapa saya katakana demikian? Ada beberapa fakta yang terjadi di lapangan dan berkata lain mengenai keberadaan UN tersebut.
    Ada siswa yang pandai matematika, tapi ketika UN tidak lulus mata pelajaran matematika. Ada siswa yang pandai bahasa Inggris, namun malah mata pelajaran bahasa Inggris pula yang tidak lulus. Kalau sudah demikian adanya, benarkah nilai 5,0 dapat dijadikan patokan berhasil atau tidaknya pendidikan di Negara kita yang kacau balau begini?
    Semuanya kembali kepada kita. Tidak ada yang patut disalahkan dalam hal ini. Saya teringat dengan Ajip Rosidi, seorang penyair, pengarang, redaktur, dosen, peneliti dan penerbit. Penulis buku Dua Orang Dukun ini berkata begini “Saya bisa hidup tanpa Ijazah!”
    Dan benar! Ajip Rosidi membuktikannya. Nilai bukan apa-apa dibandingkan dengan kedudukan beliau setelah itu.
    Lalu, bagaimana dengan UN? Hanya hati kecil kita yang mampu berdebat. Selebihnya bukan wewenang kita dalam merubah sistem pendidikan yang terus berubah-ubah (nah, itu sudah perkara lain lagi).
    Diakhir tulisan, saya cuma ingin mengutarakan keberatan hati saya. Kita tidak patut menyalahkan siapa-siapa dan kita tetap harus berjuang. Lulus atau gagal UN bukan berarti kita TELAH gagal dan tidak berhasil, bukan?
    Yakinkan diri, kalau kita semua adalah orang-orang yang berhasil!

  • PENJAJAHAN ATAS PEREMPUAN INDONESIA MASIH TERJADI

    Pedangdut Kristina di larang bernyanyi oleh sang suami, ditandai dengan pembubaran manajemen yang selama ini menaungi Kristina. Manajemen tersebut di koordinir oleh kakak kandung Kristina. Inilah humor kehidupan terbaru.

    Lagi-lagi kalau mau jujur, sebetulnya itu urusan rumah tangga Kristina dengan sang suami. Namun karena media mengulas berita tersebut dan saya sebagai penikmat informasi menanggapi informasi tersebut sebagai wacana berpikir.

    Pelarangan bernyanyi bagi pedangdut Kristina setelah menikah adalah penjajahan terhadap perempuan Indonesia di abad modern. Apalagi sang suami menjabat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Jika pejabat yang seharusnya menjadi panutan masyarkat saja mempunyai pemikiran sempit dan memberi conton seperti itu, maka tak heran kalau penjajahan atas perempuan di Indonesia tidak pernah usai. Jadi tak usah ragu kalau anda mau mentertawakan prilaku anggota dewan., karena lakon mereka memang layak ditertawakan.

    Persoalannya bukan sekedar sang suami cukup mampu bahkan mungkin lebih dari mampu memenuhi kebutuhan materi Kristina. Tapi sang suami lupa, di balik sosok Kristina ada banyak manusia yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Jadi tak heran pula kalau jumlah masyarakat miskin bertambah.

    Kebetulan peristiwa tersebut terjadi di bulan April yang bagi bangsa Indonesia di peringati sebagai Hari Kartini, tepatnya 21 April. Selama ini ada salah kaprah cara mengenang atau memperingati jasa RA Kartini. Bertahun-tahun di tandai dengan beramai-ramai mengenakan busana daerah.

    Mungkin RA Kartini di alam fana menangis, melihat perjuangannya kembali dimentahkan. Model-model pelarangan suami atas profesi dan eksistensi istri di komunitas tertentu, menunjukan kepicikan para lelaki yang berpikir egois.

    Kartini memperjuangkan bukan sekedar emansipasi. Kartini berjuang sebagai manusia tertindas karena system dan budaya. Ini yang seharusnya terus di perangi dengan membangun system yang lebih baik. Sudah saatnya pemerintah sebagai pengelola Negara memfasilitasi. Bukan mengistimewakan perempuan . Adanya UU dapat melindungi perempuan.

    Selama ini, dunia kerja, dunia pemerintahan adalah dunia kaum lelaki. Di Indonesia, mayoritas penduduknya meyakini lelaki sebagai pemimpin. Di dukung keyakinan semacam itu dan budaya yang terus di hidupkan tanpa melihat kemampuan individu membuat tampilnya pemikir-pemikir dan pekerja-pekerja pempuan sebagai suatu ancaman. Entah ancaman apa.

    Sudah saatnya pola pikir masyarakat di ubah. Siapa yang bisa merungah? Ya masyarakat itu sendiri dengan difasilitasi oleh pemerintah sebagai pengelola negara. Pemikiran Kartini yang juga menjadi keinginan Kartini adalah melihat kaumnya yang notabene perempuan, mendapat hak yang setara dengan laki-laki dalam memanfaatkan kemampuan diri. Artinya Kartini sejak dulu sudah sadar dan tahu, kemampuan intelektual perempuan dan laki-laki tidak jauh berbeda. Jika perempuan di beri kesempatan yang sama, sebenarnya Indonesia bisa jauh lebih maju.

    Kasus yang terjadi pada diri Kristina adalah nasibnya sendiri. Ia menghadapi dilema yang tidak mudah. Karir dan keluarga ibarat dua sisi mata uang. Sulit untuk dipisahkan tapi kalau ada unsur kekuasaan di sana, saya tak terkejut jika mata uang itu bisa di belah.
    Namun kalau Kristina, perempuan yang punya pemikiran tersendiri dan harga diri yang tinggi, ia pasti mampu mendapatkan apa yang memang layak ia dapatkan.

    Artinya sebagai perempuan menikah, ia sadar akan kewajibannya mempertahankan keutuhan pernikahannya. Tujuan dan motivasi menikahi laki-laki yang kini menjadi suaminya akan kembali di evaluasi. Persoalannya sejauhmana kematangan Krisrina mengenai kesadaran hak dirinya sebagai manusia yang kebetulan berjenis kelamin perempuan mempunyi hak bersuara dan mempertahankan miliknya.

    Tapi sampai berapa lama, sang suami mampu memisahkan Kristina dari karir dan komunitasnya? Tinggal menunggu waktu. Saat ini bukan hanya orang-orang di manajemen Kristina yang tersakiti, tapi pastinya juga orang tua dan saudara-saudara kandungnya. Termasuk para penggemarnya.

    Terlalu sempit jika sang suami beranggapan Kristina bernyanyi untuk mengejar uang. Dulu di langkah awalnya, tujuan tersebut tak bisa di pungkiri, tapi ketika namanya sudah melambung, pelarangan Kristina bernyanyi untuk konsumsi masyarakat di bayar atau tidak di bayar, adalah pelanggaran yang sangat mendasar bukan hanya bagi Kristina tapi juga bagi para penggemar Kristina. Apa salah para penggemar Kristina sehingga mereka tidak boleh mendengar atau menyaksikan Kristina beraksi?

    Tindakan yang diambil suami Kristina adalah haknya sebagai suami yang beranggapan istrinya hanya pantas di lihat olehnya. Tapi sang suami lupa, seindah-indahnya sangkar emas bagi seekor burung, hutan belantara jauh lebih indah karena menawarkan kebebasan.

    Saya berharap rumah tangga Kristina menjadi rumah tangga yang di contoh banyak orang. Selain karena sosok Kristina yang memiliki banyak penggemar tapi juga karena sang suami adalah anggota DPR. Sehingga keduanya patut menjadi tauladan. Selain itu saya adalah perempuan yang menghormati komitmen dan institusi lembaga pernikahan. Apapun persoalan yang terjadi dalam rumah tangga tersebut baikknya diselesaikan tidak dengan perceraian.

    Namun saya tetap perempuan yang beranggapan harus ada kesetaraan dalam posisi suami dan istri. Saya tidak menyukai bahkan kalau bisa mengharamkan perceraian namun demikian saya lebih menyetujui perceraian jika ada penindasan atau penjajahan dalam lembaga pernikahan tersebut. Lembaga pernikahan bukanlah lembaga penjajahan atau penindasan, sebaliknya saling asah, asih dan asuh seharusnya menjadi visi dan misi mereka yang sepakat mengikatkan diri dalam pernikahan.

    Kembali pada relevansi peringatan hari kartini dengan kasus Kristina, saya cuma ingin mengingatkan, bahwasannya masih banyak model-model penjajahan perempuan di Indonesia. Selain situasi dan kondisi memungkinkan, para perempuan sendiri mulai terlena dengan kemampanan sehingga lupa perjuangan kaum perempuan belum selesai.

    Semua perempuan idealnya adalah calon ibu, tentu di harapkan melahirkan generasi perempuan yang lebih progresif dalam berpikir dan bersikap. Namun kalau banyak yang terlena dengan kemampanan, maka perjuangan Kartini menjadi mentah dan perjuangan perempuan akan kembali ketitik awal.

    Pemerintah sebagai institusi pengelola negara tidak boleh tinggal diam atau tutup mata. Ambur adulnya kondisi perekonomian sangat berdampak pada kemiskinan dan ujung-ujungnya para perempuan dan anak menjadi korban. Ini dapat di lihat dari meningkatnya tindak kekerasan yang korbannya perempuan dan anak.

    Dalam rangka meneruskan dan mewujudkan cita-cita Kartini, mari kita berpegang tangan dan berjuang untuk menjadi pasangan setara bagi kaum laki-laki untuk mengisi kehidupan. Dengan bahu membahu berjuang untuk kesejahteraan masyarakat luas bukan hanya untuk diri sendiri atau segolongan saja. Janganlah kita megingat perjuangan Kartini dengan pemahaman yang akhirnya cuma jadi humor kehidupan. Jujur saya tidak tahu apa relevansi peringatan jasa dan cita-cita RA Kartini dengan baju daerah.

  • PENJAJAHAN ATAS PEREMPUAN INDONESIA MASIH TERJADI

    Pedangdut Kristina di larang bernyanyi oleh sang suami, ditandai dengan pembubaran manajemen yang selama ini menaungi Kristina. Manajemen tersebut di koordinir oleh kakak kandung Kristina. Inilah humor kehidupan terbaru.

    Lagi-lagi kalau mau jujur, sebetulnya itu urusan rumah tangga Kristina dengan sang suami. Namun karena media mengulas berita tersebut dan saya sebagai penikmat informasi menanggapi informasi tersebut sebagai wacana berpikir.

    Pelarangan bernyanyi bagi pedangdut Kristina setelah menikah adalah penjajahan terhadap perempuan Indonesia di abad modern. Apalagi sang suami menjabat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Jika pejabat yang seharusnya menjadi panutan masyarkat saja mempunyai pemikiran sempit dan memberi conton seperti itu, maka tak heran kalau penjajahan atas perempuan di Indonesia tidak pernah usai. Jadi tak usah ragu kalau anda mau mentertawakan prilaku anggota dewan., karena lakon mereka memang layak ditertawakan.

    Persoalannya bukan sekedar sang suami cukup mampu bahkan mungkin lebih dari mampu memenuhi kebutuhan materi Kristina. Tapi sang suami lupa, di balik sosok Kristina ada banyak manusia yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Jadi tak heran pula kalau jumlah masyarakat miskin bertambah.

    Kebetulan peristiwa tersebut terjadi di bulan April yang bagi bangsa Indonesia di peringati sebagai Hari Kartini, tepatnya 21 April. Selama ini ada salah kaprah cara mengenang atau memperingati jasa RA Kartini. Bertahun-tahun di tandai dengan beramai-ramai mengenakan busana daerah.

    Mungkin RA Kartini di alam fana menangis, melihat perjuangannya kembali dimentahkan. Model-model pelarangan suami atas profesi dan eksistensi istri di komunitas tertentu, menunjukan kepicikan para lelaki yang berpikir egois.

    Kartini memperjuangkan bukan sekedar emansipasi. Kartini berjuang sebagai manusia tertindas karena system dan budaya. Ini yang seharusnya terus di perangi dengan membangun system yang lebih baik. Sudah saatnya pemerintah sebagai pengelola Negara memfasilitasi. Bukan mengistimewakan perempuan . Adanya UU dapat melindungi perempuan.

    Selama ini, dunia kerja, dunia pemerintahan adalah dunia kaum lelaki. Di Indonesia, mayoritas penduduknya meyakini lelaki sebagai pemimpin. Di dukung keyakinan semacam itu dan budaya yang terus di hidupkan tanpa melihat kemampuan individu membuat tampilnya pemikir-pemikir dan pekerja-pekerja pempuan sebagai suatu ancaman. Entah ancaman apa.

    Sudah saatnya pola pikir masyarakat di ubah. Siapa yang bisa merungah? Ya masyarakat itu sendiri dengan difasilitasi oleh pemerintah sebagai pengelola negara. Pemikiran Kartini yang juga menjadi keinginan Kartini adalah melihat kaumnya yang notabene perempuan, mendapat hak yang setara dengan laki-laki dalam memanfaatkan kemampuan diri. Artinya Kartini sejak dulu sudah sadar dan tahu, kemampuan intelektual perempuan dan laki-laki tidak jauh berbeda. Jika perempuan di beri kesempatan yang sama, sebenarnya Indonesia bisa jauh lebih maju.

    Kasus yang terjadi pada diri Kristina adalah nasibnya sendiri. Ia menghadapi dilema yang tidak mudah. Karir dan keluarga ibarat dua sisi mata uang. Sulit untuk dipisahkan tapi kalau ada unsur kekuasaan di sana, saya tak terkejut jika mata uang itu bisa di belah.
    Namun kalau Kristina, perempuan yang punya pemikiran tersendiri dan harga diri yang tinggi, ia pasti mampu mendapatkan apa yang memang layak ia dapatkan.

    Artinya sebagai perempuan menikah, ia sadar akan kewajibannya mempertahankan keutuhan pernikahannya. Tujuan dan motivasi menikahi laki-laki yang kini menjadi suaminya akan kembali di evaluasi. Persoalannya sejauhmana kematangan Krisrina mengenai kesadaran hak dirinya sebagai manusia yang kebetulan berjenis kelamin perempuan mempunyi hak bersuara dan mempertahankan miliknya.

    Tapi sampai berapa lama, sang suami mampu memisahkan Kristina dari karir dan komunitasnya? Tinggal menunggu waktu. Saat ini bukan hanya orang-orang di manajemen Kristina yang tersakiti, tapi pastinya juga orang tua dan saudara-saudara kandungnya. Termasuk para penggemarnya.

    Terlalu sempit jika sang suami beranggapan Kristina bernyanyi untuk mengejar uang. Dulu di langkah awalnya, tujuan tersebut tak bisa di pungkiri, tapi ketika namanya sudah melambung, pelarangan Kristina bernyanyi untuk konsumsi masyarakat di bayar atau tidak di bayar, adalah pelanggaran yang sangat mendasar bukan hanya bagi Kristina tapi juga bagi para penggemar Kristina. Apa salah para penggemar Kristina sehingga mereka tidak boleh mendengar atau menyaksikan Kristina beraksi?

    Tindakan yang diambil suami Kristina adalah haknya sebagai suami yang beranggapan istrinya hanya pantas di lihat olehnya. Tapi sang suami lupa, seindah-indahnya sangkar emas bagi seekor burung, hutan belantara jauh lebih indah karena menawarkan kebebasan.

    Saya berharap rumah tangga Kristina menjadi rumah tangga yang di contoh banyak orang. Selain karena sosok Kristina yang memiliki banyak penggemar tapi juga karena sang suami adalah anggota DPR. Sehingga keduanya patut menjadi tauladan. Selain itu saya adalah perempuan yang menghormati komitmen dan institusi lembaga pernikahan. Apapun persoalan yang terjadi dalam rumah tangga tersebut baikknya diselesaikan tidak dengan perceraian.

    Namun saya tetap perempuan yang beranggapan harus ada kesetara

  • Pesan dari Yohanes Surya

    Pesan dari Prof. Yohanes Surya PhD, selaku Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia:

    Tanggal 21-29 April 2007, Indonesia akan mengirim 16 siswa terbaiknya untuk mengikuti kejuaraan fisika di ajang Asian Physics Olympiad VIII (APhO) di Shanghai, China.

    Tahun 1993 Indonesia untuk pertamakalinya ikut olimpiade fisika internasional (IPhO) di Williamsburg, USA, dan berhasil menempati peringkat 16 dari 42 negara, serta meraih medali perunggu.

    Tahun 1995 Indonesia berhasil meraih perak pertama dalam IPhO XXVI di Canberra, Australia.

    Tahun 1999 Indonesia berhasil meraih emas pertama dalam IPhO XXX di Padova, Italia.

    Tahun 2000 untuk pertamakalinya diadakan olimpiade fisika Asia (APhO) di Indonesia. Setelah itu APhO menjadi arena yang sangat bergengsi, karena bobot soalnya lebih tinggi dari bobot soal IPhO dan sistem penilaiannya pun lebih ketat. Sehingga siapa yang meraih emas dalam APhO, dapat dipastikan ia akan meraih emas dalam IPhO.

    Dalam APhO satu team bisa terdiri dari 8 siswa (satu negara boleh mengirim lebih dari 1 team tetapi yang dinilai tetap hanya 1 team "resmi"), sedang dalam IPhO hanya boleh maksimal 1 team yang terdiri dari 5 siswa.

    Tahun 2002 untuk pertamakalinya Indonesia meraih 3 medali emas dalam IPhO XXXIII di Bali, Indonesia.

    Tahun 2003 untuk pertamakalinya Indonesia meraih 6 medali emas dalam APHO IV di Bangkok, Thailand, dan menempatkan Indonesia sebagai juara Asia (China absen karena takut kasus SAR).

    Tahun 2006 untuk pertamakalinya Indonesia meraih 4 medali emas dalam IPhO XXXVII di Singapore sekaligus menjadi juara pertama (the champion) dari 85 negara (384 peserta). Untuk pertamakalinya Indonesia mengalahkan China.

    Tahun 2007 ini tim Indonesia akan berjuang keras untuk mengalahkan naga dikandangnya dalam APhO VIII ini (China yang membuat soal, China jurinya). Kita sudah taklukkan naga di Singapore, alangkah indahnya kalau bisa mengalahkan naga di kandangnya sendiri.

    Anak-anak kita sudah mempersiapkan diri siang malam selama lebih kurang 8 bulan untuk mengalahkan China (mereka belajar dari jam 8 pagi hingga jam 1 tengah malam setiap harinya, hanya belajar fisika, teori dan eksperimen secara intensif dan mendalam).

    Peluang untuk mengalahkan China cukup besar. Saat ini kita mempunyai 3 siswa yang kemampuannya setara (atau bahkan lebih baik persiapannya) dari peraih absolute winner IPhO Singapore tahun lalu. Dan ada 4 siswa berikutnya yang tidak jauh berbeda kemampuannya dengan 3 siswa diatas.

    Mohon kiranya teman-teman sebangsa dapat mendoakan terus tim Indonesia, sehingga impian untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang mampu ini dapat terwujud. Semoga Tuhan terus memberkati bangsa kita ini.

    Salam,
    Prof. Yohanes Surya, PhD
    TOFI

  • Roda Kehidupan

    Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya.
    Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi
    berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang
    ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu
    jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana
    kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

    Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang
    pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu
    demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di
    cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

    Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali
    bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga
    kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan
    kerikil-kerikil pualam. Hei....semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang
    roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma
    berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa.
    Namun kini, semuanya tampak lebih indah.

    Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak
    lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum,
    melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput
    itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum
    dan melanjutkan pencariannya.

    Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa
    menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang
    cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang
    roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk,
    memberikan salam hormat.

    Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan
    serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling
    semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah.
    Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh.
    Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa
    pada sang Roda.

    Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda
    jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan
    setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi
    dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda.
    Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk
    melanjutkan perjalanan.

    Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang.
    Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan
    berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

    Teman, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang
    berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah,
    yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang
    sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan
    tergesa-gesa.

    Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita
    hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang
    selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak
    sekali hikmah yang perlu di tekuni.

    Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam,
    kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Teman, coba, susuri
    kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang
    pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.

    Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi
    dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan
    perlahan. Temukan keindahan itu!!

  • Apa arti kerja bagi Anda?

    Apa arti kerja bagi Anda?” tanya saya kepada sejumlah kawan.
    ”Aktivitas untuk memperoleh nafkah hidup,” jawab Didi yang pengusaha.
    ”Kegiatan yang melibatkan usaha mental atau fisik yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan atau hasil,” ujar Elly yang dosen perguruan tinggi.
    ”Tugas-tugas yang harus ditunaikan,” kata Wawan yang tentara.
    ”Mengembangkan potensi diri, memenuhi panggilan batin, mencari nafkah sekaligus memberi makna pada hidup melalui karya-karya kita,” urai Bagong yang pegawai.

    Cara pandang atau peta yang kita pergunakan untuk memberi makna pada pekerjaan, akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita dalam bekerja. Seorang yang memaknai pekerjaannya sebagai sesuatu yang penting, bernilai, bahkan mulia, misalnya, akan menunjukkan sikap kerja yang berbeda dengan mereka yang memaknai pekerjaannya sebagai hal yang tidak penting, tak bernilai, bahkan hina. Orang-orang yang memaknai pekerjaannya sebagai sesuatu yang pantas dibanggakan akan menunjukkan perilaku kerja yang berbeda dengan orang-orang yang merasa malu dengan pekerjaan mereka. Masalahnya bukan pada ”apa yang dikerjakan”, tetapi pada bagaimana mereka memaknai pekerjaan tersebut.

    Seperti seorang kawan bernama Anton yang memaknai pekerjaannya hanya sebagai "pekerjaan untuk nafkah hidup semata". Statusnya sebagai wiraniaga di perusahaan asuransi terkemuka negeri ini, sebenarnya cukup bisa dibanggakan. Namun, ia sedikit sekali menaruh minat atas apa yang dikerjakannya dan tak menyukai sifat pekerjaannya yang memberikan banyak tantangan. Hanya karena merasa wajib bekerja agar mendapatkan penghasilan, maka Anton bertahan di tempat kerjanya itu. Akibatnya, Anton sangat sensitif terhadap soal jumlah komisi yang diperolehnya. Jika komisinya berkurang sedikit saja dari biasanya, atau ia mendapatkan informasi ada komisi yang sedikit lebih tinggi di perusahaan asuransi lain, maka ia langsung ingin cepat-cepat pindah kerja. Kalau ada kesempatan kerja di luar industri asuransi pun, sepanjang hal itu memberikan penghasilan lebih besar, Anton akan segera merasa tertarik. Saat-saat yang paling menyenangkan bagi Anton adalah tanggal pembayaran komisi/gajian. Selebihnya adalah kewajiban yang harus dilakukan.

    Berbeda dengan Anton, kawan bernama Tommy memaknai pekerjaannya sebagai "karier". Ia ingin ada peningkatan karier dari waktu ke waktu. Artinya, ia tidak melihat uang atau gaji sebagai satu-satunya faktor penentu kepuasan kerjanya. Ia juga memperhitungkan soal-soal lain, terutama soal kekuasaan/jabatan, status sosial, dan gengsi. Walau gajinya sebagai kepala bidang operasional sebuah bank nasional yang sudah mapan hanya rata-rata industri saja, namun ia tetap bersemangat karena merasa ada prospek karier untuk menjadi kepala cabang di tahun-tahun mendatang. Lagi pula, ia sudah mulai mendapatkan fasilitas pinjaman untuk membeli mobil idamannya, sesuatu yang menaikkan gengsinya di lingkungan kerabat dan tempat pemukimannya. Bagi Tommy, ia akan mulai berpikir untuk mencari pekerjaan baru, bila kariernya sudah mentok tak kemana-mana.

    Lain lagi halnya dengan Titin yang bekerja sebagai penulis lepas. Ia memaknai pekerjaannya sebagai "panggilan batin". Ia mencintai pekerjaannya, dan antara pekerjaan dengan irama kehidupannya sehari-hari tak terlalu banyak bedanya. Sebagai ibu dari dua anak remaja yang sudah ditinggal mati oleh suaminya, Titin terkadang ikhlas tak mendapatkan imbalan material apapun dari karya tulisnya yang dipublikasikan pihak lain untuk tujuan sosial. Ia merasa memang itulah tugasnya. Ia merasa ada kemuliaan dari apa yang dikerjakannya. Dan ia juga sangat menikmati kebebasan waktu kerjanya yang menurutnya ”tak ternilai harganya”. Sebab, sebagai penulis lepas ia bisa mengatur sendiri waktu untuk mengurus anak-anak dan mencari nafkah. Ia juga tidak harus terikat pada lokasi kerja seperti kantor, karena bisa bekerja dimana saja berkat laptop sederhana miliknya. Karenanya, walau penghasilan Titin tak berlebihan, ia tak pernah berpikir untuk berganti pekerjaan.

    Baik Anton, Tommy, maupun Titin, adalah wajah dari orang-orang di sekitar kita. Orang-orang seperti Anton selalu mengutamakan gaji, komisi, uang. Status sosial, gengsi, jabatan, dan panggilan hidup urusan belakangan. Sepanjang pekerjaan mereka menghasilkan uang yang lebih banyak, mereka bersemangat dalam bekerja. Sementara orang-orang seperti Tommy masih bersedia bersabar dengan gaji yang pas-pasan, asalkan diberi jabatan formal, kekuasaan memimpin sejumlah bawahan, dan gengsi karena bekerja di perusahaan terkemuka. Dan bagi orang-orang seperti Titin, pekerjaan haruslah berkaitan dengan keyakinannya atas kontribusi hidupnya bagi keluarga, bangsa, masyarakat, atau dunia. Tak soal penghasilan pas-pasan, tanpa jabatan mentereng, tak punya kantor yang megah, dan sebagainya. Asal ada keyakinan bahwa karya-karyanya berguna bagi banyak orang, ikut mendorong proses-proses kebudayaan, membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah dan layak dihuni, cukuplah.

    Anton, Tommy, dan Titin amat boleh jadi merasakan kepuasan yang berbeda atas hasil-hasil pekerjaannya. Di antara mereka juga mungkin sulit untuk saling memahami pilihan satu dengan yang lain. Masalahnya bukan pada ”apa” yang mereka kerjakan, tetapi pada kemampuan memaknai pekerjaan itu sendiri. Artinya, bisa saja seorang buruh pabrik atau tukang angkut sampah memaknai pekerjaan sebagai amanah atau panggilan hidup yang harus ditunaikan. Ia bisa dengan ikhlas dan senang hati melakukan pekerjaannya. Dan sebaliknya, seorang eksekutif muda atau manajer senior di perusahaan terkemuka hanya menganggap pekerjaannya sebagai sarana memperoleh uang semata. Sehingga, ia sering merasa terbebani, tidak gembira dan kurang puas dengan pekerjaannya.

    Sejumlah psikolog ahli yang mendalami masalah kepuasan kerja dan kepuasan hidup menyimpulkan bahwa hanya orang-orang yang mampu memaknai pekerjaannya sebagai hal yang berkaitan dengan panggilan hidup atau amanah yang harus ditunaikanlah yang mengalami kepuasan kerja dan kepuasan hidup paling maksimal. Mereka umumnya memiliki minat yang tinggi terhadap apa yang mereka kerjakan, dan menikmati sifat-sifat dari pekerjaannya. Itu sebabnya ada kegembiraan dalam bekerja, dan motivasi mereka mengalir dari dalam batinnya. Mereka menjadi orang-orang yang tidak saja produktif dan kreatif, tetapi juga sekaligus loyal dengan tugas pekerjaannya.

    Bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita pilih saat ini? Adakah pekerjaan yang kita lakukan hari-hari ini sesuai dengan minat dan potensi terbaik kita? Disamping soal uang, apakah pekerjaan kita berkesesuaian dengan panggilan hidup atau amanah dari langit yang memang perlu ditunaikan? Mampukah kita melihat kemuliaan dari pekerjaan kita? Setiap kita tentu memiliki jawabannya masing-masing. Yang jelas, bila kita ingin meningkatkan kepuasan kerja dan kepuasan hidup, maka hal terpenting yang mungkin perlu kita periksa adalah bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

    Memberi makna pada pekerjaan, itulah hal yang tak bisa dilakukan oleh mesin-mesin canggih dewasa ini. Memberi makna pada pekerjaan juga tak mampu dilakukan oleh kambing, kucing, dan anjing. Sebab kemampuan memberi makna, adalah kemampuan khas yang dianugerahkan Sang Pencipta hanya kepada manusia ciptaan-Nya. Dan dengan bekal kemampuan memaknai ini pula manusia di mungkinkan untuk mengenal konsep kebahagiaan dalam hidupnya. Apakah kemampuan ini kita kembangkan dengan gegap gempita, atau terbengkalai begitu saja sehingga kita sering merasa terlunta kehilangan arah?

    Sumber dan diadaptasi dari artikel Andreas Harefa di pembelajar.com

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.