Sisi Indah Sepakbola
Pria bernama lengkap Michel Francois Platini itu dipuji sebagai salah satu pemain terbaik di era 1980-an. Julukannya Le Roi alias Sang Raja dan kini ia menjadi “raja” di sepakbola Eropa. Ya, Platini mengalahkan Lennard Johansson dalam pemilihan Presiden UEFA, 26 Januari 2007.
Michel Platini, ingin memberi kesempatan klub kecil tampil di Liga Champion.
Entah sekadar ingin mengais simpati dari negara-negara kelas dua di federasi Benua Biru, dalam kampanyenya Platini berniat mengubah format Liga Champion. Harapannya sepakbola kembali menjadi hiburan menarik bagi semua orang.
Mari simak buah pemikirannya yang dituangkan melalui situs UEFA dan beberapa sumber lain.
Apa tantangan terbesar UEFA di bawah kepemimpinan Anda?
Tantangan terbesar adalah membuat peraturan sepakbola dengan bantuan FIFA, berbagai federasi sepakbola, asosiasi masing-masing negara, dan keluarga besar sepakbola.
Kami harus mengatur sepakbola, permainan yang kita cintai, agar nantinya tidak sekadar menjadi sebuah produk, melainkan permainan yang indah untuk anak-anak kita, serta pertunjukan menakjubkan bagi semua orang untuk dinikmati.
Lalu, seperti apa gambaran Liga Champion nanti?
Inilah kejuaraan yang menggambarkan sepakbola terbaik Eropa. Karena itu, sangat penting menjadi klub terbaik di Eropa.
Liga Champion selalu memunculkan berita besar dan trofi ini selalu diraih klub-klub besar. Tapi, tetap ada klub lain yang ingin namanya tercatat dalam sejarah sebagai pemenang kompetisi ini.
Ingin saya katakan pemain terbaik dari Afrika, Amerika Latin, dan Asia selalu berharap bermain di Eropa sehingga akhirnya melemahkan level sepakbola di benua mereka sendiri. Sebaliknya kehadiran mereka meningkatkan permainan di Eropa dan menambah kualitas sepakbola di berbagai liga negara Eropa.
Benarkah ada niat mengubah format yang sekarang berjalan?
Ya, saya berencana memulai format baru tahun 2009. Saya ingin menemukan cara pemerataan klub yang berkompetisi musim 2009-10. Bisa saja dengan menggelar pertandingan antara klub senegara (Inggris, Spanyol, Italia, Prancis, Jerman, dan Portugal) yang berada di posisi paling bawah kualifikasi sehingga tersisa satu tempat kosong untuk diperebutkan negara-negara dengan liga yang lebih kecil.
Politisi dan Hooligan
Anda meraih gelar juara Piala Champion bersama Juventus tahun 1985, tapi kemenangan atas Liverpool itu dibayang-bayangi sebuah tragedi…
Saya memenangi trofi ini dalam situasi sulit. Jadi, tak bisa saya katakan bagaimana perasaan pemain sekarang yang menjuarai Liga Champion. Saya menjuarai ajang ini dalam pertandingan yang dramatis.
Trofi itu sendiri diberikan kepada kami di ruang ganti, tersembunyi dari publik. Bagi saya, hal ini mewakili sisi buruk sepakbola.
Apa yang dibutuhkan untuk memberantas hooliganism di sepakbola?
Anda harus mengeluarkan hooligan dari stadion, apalagi di dalam lapangan. Pemain yang bersikap seperti hooligan sebaiknya dihukum karena mereka seharusnya memberikan citra baik dalam sepakbola.
Untuk membasmi kekerasan di stadion, kita butuh pertolongan para politisi karena UEFA sendiri tak bisa berbuat banyak selain mencoba dan bekerja sama dengan politisi dan pihak kepolisian.
Kami perlu petugas keamanan di tempat kejadian yang sanggup memindahkan kerusuhan keluar dari stadion. UEFA harus memastikan etika sepakbola tetap tidak berubah bahwa citra olahraga ini tetap positif dan para pemain tampil dengan baik.
Kita butuh pertunjukan seperti yang dilakukan para artis. Setelah itu, kita wajib memastikan bahwa sportivitas tetap dijunjung tinggi.
