Search blog.co.uk

Posts archive for: 21 April, 2007
  • Michel Platini

    Sisi Indah Sepakbola

    Pria bernama lengkap Michel Francois Platini itu dipuji sebagai salah satu pemain terbaik di era 1980-an. Julukannya Le Roi alias Sang Raja dan kini ia menjadi “raja” di sepakbola Eropa. Ya, Platini mengalahkan Lennard Johansson dalam pemilihan Presiden UEFA, 26 Januari 2007.

    Michel Platini, ingin memberi kesempatan klub kecil tampil di Liga Champion.

    Entah sekadar ingin mengais simpati dari negara-negara kelas dua di federasi Benua Biru, dalam kampanyenya Platini berniat mengubah format Liga Champion. Harapannya sepakbola kembali menjadi hiburan menarik bagi semua orang.

    Mari simak buah pemikirannya yang dituangkan melalui situs UEFA dan beberapa sumber lain.

    Apa tantangan terbesar UEFA di bawah kepemimpinan Anda?

    Tantangan terbesar adalah membuat peraturan sepakbola dengan bantuan FIFA, berbagai federasi sepakbola, asosiasi masing-masing negara, dan keluarga besar sepakbola.

    Kami harus mengatur sepakbola, permainan yang kita cintai, agar nantinya tidak sekadar menjadi sebuah produk, melainkan permainan yang indah untuk anak-anak kita, serta pertunjukan menakjubkan bagi semua orang untuk dinikmati.

    Lalu, seperti apa gambaran Liga Champion nanti?

    Inilah kejuaraan yang menggambarkan sepakbola terbaik Eropa. Karena itu, sangat penting menjadi klub terbaik di Eropa.

    Liga Champion selalu memunculkan berita besar dan trofi ini selalu diraih klub-klub besar. Tapi, tetap ada klub lain yang ingin namanya tercatat dalam sejarah sebagai pemenang kompetisi ini.

    Ingin saya katakan pemain terbaik dari Afrika, Amerika Latin, dan Asia selalu berharap bermain di Eropa sehingga akhirnya melemahkan level sepakbola di benua mereka sendiri. Sebaliknya kehadiran mereka meningkatkan permainan di Eropa dan menambah kualitas sepakbola di berbagai liga negara Eropa.

    Benarkah ada niat mengubah format yang sekarang berjalan?

    Ya, saya berencana memulai format baru tahun 2009. Saya ingin menemukan cara pemerataan klub yang berkompetisi musim 2009-10. Bisa saja dengan menggelar pertandingan antara klub senegara (Inggris, Spanyol, Italia, Prancis, Jerman, dan Portugal) yang berada di posisi paling bawah kualifikasi sehingga tersisa satu tempat kosong untuk diperebutkan negara-negara dengan liga yang lebih kecil.

    Politisi dan Hooligan

    Anda meraih gelar juara Piala Champion bersama Juventus tahun 1985, tapi kemenangan atas Liverpool itu dibayang-bayangi sebuah tragedi…

    Saya memenangi trofi ini dalam situasi sulit. Jadi, tak bisa saya katakan bagaimana perasaan pemain sekarang yang menjuarai Liga Champion. Saya menjuarai ajang ini dalam pertandingan yang dramatis.

    Trofi itu sendiri diberikan kepada kami di ruang ganti, tersembunyi dari publik. Bagi saya, hal ini mewakili sisi buruk sepakbola.

    Apa yang dibutuhkan untuk memberantas hooliganism di sepakbola?

    Anda harus mengeluarkan hooligan dari stadion, apalagi di dalam lapangan. Pemain yang bersikap seperti hooligan sebaiknya dihukum karena mereka seharusnya memberikan citra baik dalam sepakbola.

    Untuk membasmi kekerasan di stadion, kita butuh pertolongan para politisi karena UEFA sendiri tak bisa berbuat banyak selain mencoba dan bekerja sama dengan politisi dan pihak kepolisian.

    Kami perlu petugas keamanan di tempat kejadian yang sanggup memindahkan kerusuhan keluar dari stadion. UEFA harus memastikan etika sepakbola tetap tidak berubah bahwa citra olahraga ini tetap positif dan para pemain tampil dengan baik.

    Kita butuh pertunjukan seperti yang dilakukan para artis. Setelah itu, kita wajib memastikan bahwa sportivitas tetap dijunjung tinggi.

  • Kenali Sumber Inspirasi Sukses

    Siapa sih yang ‘nggak’ pengin sukses? Pasti semua mau dong. Bahkan tujuan manusia dalam hidup ini adalah mencapai kesuksesan, baik dalam karir maupun kehidupan pribadi. Tapi sebagai manusia biasa dengan segala keterbatasan, kadang kita menemui jalan buntu. Rasanya untuk mencapai sukses yang diidamkan susah sekali. Boro-boro mendapatkan karir bagus, bisa bertahan kerja di suatu tempat rasanya sudah sangat beruntung. Terlebih di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit ini.

    Kondisi begini tak jarang menimbulkan ‘stagnasi’, semangat mengendor dan gairah seakan pudar. Kesuksesan yang dicita-citakan sepertinya cuma impian belaka. Di saat-saat begini rasanya tak ada ‘stimulus’ untuk melangkah menuju kesuksesan. Tapi stop! Jangan manjakan rasa pesimis anda. Apapun kondisinya masih ada jalan menuju sukses. Caranya? Yaitu dengan mencari sumber inspirasi sukses. Inspirasi tertentu konon dapat menggugah semangat kita untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

    Mau tau nggak apa aja sih sumber inspirasi sukses itu? Ternyata menurut pengakuan beberapa orang sukses, ada empat sumber inspirasi sukses bagi mereka, simak deh:

    * Kisah-kisah sukses di sekeliling anda
    Kalau anda mau mengakui, sebenarnya banyak contoh sukses di sekeliling anda. Nggak perlu jauh-jauh, di keluarga anda mungkin ayah anda termasuk orang yang sukses dalam karirnya. Atau mungkin ada tetangga anda yang cukup sukses berwiraswasta. Atau lihatlah bos anda yang cukup sukses memimpin anak buah dan perusahaan. Tanyakan pada mereka atau amati bagaimana perjuangannya meraih sukses. Mungkin anda bisa meniru cara mereka menggapai sukses. Bukankah meniru jejak mereka yang sukses adalah hal positif?

    * Kisah sukses public figure atau orang terkenal
    Coba anda ikuti kisah sukses seorang tokoh terkenal yang menjadi idola anda. Simak bagaimana dia bisa meniti kesuksesan. Anda bisa mengetahuinya lewat surat kabar, televisi dan media yang memuat kisah suksesnya. Walau tidak berpengaruh langsung pada kesuksesan anda tapi kisah sukses orang-orang terkenal bisa menjadi sumber inspirasi anda untuk meraih sukses.

    * Cerita fiksi
    Coba anda amati kisah-kisah fiksi seperti film, sinetron, novel, atau telenovela. Meski ceritanya banyak yang tak masuk akal, tapi ada beberapa yang menyelipkan pesan positif meraih sukses. Walau ceritanya mustahil dan ‘ajaib’ tapi mungkin bisa menjadi sumber inspirasi anda.

    * Bermimpi
    Pernahkah anda bermimpi menjadi orang yang kaya, terkenal dan bahagia? Jika ya kembangkan mimpi anda. Tidak selamanya mimpi itu buruk. Jika anda terobesi akan mimpi anda, anda justru akan berusaha mewujudkannya. Bukankah kadang kesuksesan justru berawal dari sebuah mimpi dan khayalan?

    Bagaimana dengan anda sendiri? sudahkah anda menemukan inspirasi sukses anda? Kalau sudah, inspirasi tersebut jangan cuma 'ditampung'
    dalam otak anda. Berusahalah untuk merealisasikan inspirasi tersebut. Siapa tahu sukses itu memang milik anda.

  • Amalia Sarah Santi

    Bagi Amalia Sarah Santi, dunia anak sungguh tidak terbatas. “Supaya win their heart, sebagai pemasar, kami dituntut untuk memahami dunia mereka,” papar Sarah. Untuk memahaminya, tidak ada jalan lain selain harus selalu dekat dengan anak-anak. Sarah yakin, dengan cara ini ia bisa mencari celah dan ide yang unik. Agaknya keyakinannya terbukti. Program yang digebernya mendapat sambutan positif dan kinerja mereknya tumbuh double digit.

    Sejak Mei 2006, Sarah didapuk mengelola merek Taro. Lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung ini menjabat sebagai Manajer Merek. Tahun lalu, saat meluncurkan dua varian baru yaitu Taro ChickenZilla rasa ayam BBQ dan Taro Chillikong rasa saus sambal, ia menonjolkan konsep Petualangan Taro. Konsep ini diterjemahkan dalam berbagai bentuk komunikasi dan kegiatan. Selain TVC, ia juga menggelar dua acara besar di Jakarta dan Surabaya. Bentuk acaranya adalah permainan yang memberikan pengalaman pada anak-anak melalui petualangan yang menyenangkan. “Hasilnya bagus. Semua target tercapai seperti target audiens yang datang di acara ini,” kata Sarah yang gemar travelling, dan pernah bekerja di PT Orix Indonesia dan Cussons.

    Tak dipungkiri, kesuksesan kegiatan itu membuat mantan Asisten Manajer Merek Sari Wangi ini puas. “Tapi saya ingin membangun Taro lebih baik dari sekarang,” katanya. Apa yang hendak dilakukan Sarah? Ia mengaku akan konsisten dengan misi Taro, yaitu pertumbuhan dan perkembangan anak. Meski begitu, “Apa pun yang akan dilakukan, semua dalam konsep Petualangan Taro. Intinya, pasti selalu ada petualangan Taro yang baru yang dibuat dalam satu paket,” ujar kelahiran Jakarta, 12 Juli 1980, yang baru saja mengakhiri masa lajangnya ini.

  • Ika Suwandi

    Ika Suwandi termasuk salah seorang yang tergiur mengikuti tren menimba ilmu manajemen perhotelan. Lajang kelahiran Jakarta, 14 April 1977, ini pun melanjutkan pendidikan diploma manajemen perhotelan di Blue Mountain Hotel Management School, Australia, dan program S-1 bisnis manajemen perhotelan di IHTTI, Swiss. Untuk menuntaskan ilmunya, ia mengambil program MBA di Boston University, AS. “Ternyata, saya senang juga kok. Karena, saya orangnya senang bergaul dan ngobrol,” kata penggemar salsa yang pernah menjadi management trainee di Vermont Hotel, AS, ini

    Usai merampungkan pendidikan, ia total bekerja di industri ini. Tercatat, ia pernah menjadi Duty Manager Hotel Le Meredien Bali, Manajer Penjualan Hotel Hilton Jakarta dan Manajer Penjualan Hotel JW Marriot. Baru ketika industri properti booming, ia tergiur masuk dunia baru dan bergabung dengan CBRE Indonesia sebagai Manajer Penjualan Senior. “Terakhir, saya mengerjakan proyek Grand Indonesia dengan mencarikan tenant-nya, yang kliennya kebanyakan high-end brand,” tuturnya. Setelah sukses mencapai target yang dibebankan, ia pun bergabung dengan Kidzania pada Januari 2006.

    Sebagai Direktur Pemasaran, tugasnya memonitor dan mengoordinasi pencarian sponsor. Dari 40 paviliun yang ditawarkan, 32 di antaranya sudah terisi sampai Maret. Kenyataan ini tentu saja membuatnya bangga. Pasalnya, Kidzania Meksiko saja perlu waktu 1,5 tahun untuk mendapatkan 30 sponsor. Kidzania Jepang, empat bulan sebelum buka baru ada 25 sponsor. “Sebentar lagi, ada 6 sponsor lagi,” kata Ika yang selalu sukses memimpin pre opening team seperti di Hotel JW Marriot, Grand Indonesia dan Kidzania ini. Apa kuncinya? “Jeli saja melihat setiap industrinya dan datang dengan membawa konsep, meskipun kami mengikuti standar mereka,” ujarnya tandas.

  • Irving Hutagalung

    Sejak SMA, Irving Hutagalung tertarik mengutak-atik komputer. “Bagi saya, menjadi programer sangat menarik, karena berhubungan dengan logika dan gampang diprediksi,” ucapnya. Maka, usai menamatkan kuliah di Teknik Informatika ITB, Irving memilih bergabung dengan Jatis Solutions pada 1998. Di perusahaan ini, kelahiran Medan, 22 November 1976, ini menapaki karier setapak demi setapak sampai akhirnya dipercaya menjadi Kepala Technical Architecture & Framework (Senior Solution Architect). Tanggung jawabnya sekarang berhubungan dengan masalah arsitektur terbaik. “Dan target saya, yaitu tidak ada problem technical. Kalaupun ada problem, harus cepat ditangani,” kata pemilik website pribadi www.irvingevajoan.com ini.

    Sesuai dengan impiannya, awal karier Irving di Jatis adalah sebagai programer dan ia banyak memegang proyek yang berhubungan dengan Internet, seperti electronic store di Sanur Online. Dari pengalamannya ini, ia lalu diangkat menjadi manajer proyek untuk membuat online authorization kartu kredit BII. Berbekal kemampuannya menangani proyek bank dan e-store, ia pun menjadi salah satu arsitek proyek Internet banking BCA. “Sejak itu, karier saya lebih sebagai solution architect, termasuk ketika saya ditugaskan ke Singapura,” ungkapnya. Memang, saat perusahaan membuka kantor di Singapura, Jatis mendapatkan proyek, antara lain membangun sistem middle ware di UOB.

    Balik ke Indonesia, sebagai manajer proyek sekaligus arsiteknya, ia membangun electronic reload Excelcom. “Buat kami, ini sukses juga, karena penjualan mereka sukses,” katanya. Karena kesuksesannya ini, DIGI, perusahaan dari Malaysia, pun meminta Jatis mengimplementasikan electronic reload-nya. Ia pun ditunjuk sebagai manajer proyek. “Ini merupakan proyek terbesar yang pernah saya pegang dan ini terakhir kalinya saya menjadi project manager,” ujar ayah Joseline Irvana Anastasia Hutagalung ini. Irving pun dipercaya Microsoft menjadi direktur regional karena keterlibatannya dalam komunitas Microsoft.

  • Fergie Puas Satu Piala

    Manchester - Manchester United berpeluang meraih tiga piala alias treble musim ini. Namun manajernya Sir Alex Ferguson malah puas hanya mendapat satu.

    Liga Champions, Premiership dan Piala FA adalah tiga piala yang berpeluang mengisi rak tropi di Old Trafford musim ini. Liga Champions sudah menembus semifinal, memuncaki klasemen sementara di Premiership dan mencapai final Piala FA, membuat peluang MU cukup terbuka memboyong ketiga piala tersebut.

    "Ada kemungkinan kami bisa meraih satu tropi prestisius dan dengan keberuntungan kami bisa memenangkan tiga," aku Fergie dilansir SkySports, Sabtu (21/4/2007).

    Menanggapi adanya tekanan untuk mengulang sukses Class of '99 meraih treble, Fergie mengaku bahwa dirinya dan para pemain sama sekali tidak didera tekanan apa pun. Malahan mereka menjalani sepanjang musim ini dengan perasaan senang.

    "Anda harus selalu bisa menikmati permainan ini. Kami terlibat dalam tiga kompetisi, itu memang penting. Tapi yang terpenting adalah para pemain menikmatinya, saya pun turut menikmatinya hanya dengan melihat penampilan mereka," lugas dia.

    Meski begitu, manajer asal Skotlandia itu ternyata cukup senang dengan satu kesuksesan alias satu piala saja musim ini. "Jika kami memenangkan Liga Inggris, saya sudah cukup senang," tandas Fergie.

  • Kewirausahaan Kolaboratif

    Tulisan ini saya rasa tepat untuk terbit saat topik Enterprise 50 (E-50) kembali hadir. Mengapa? Dalam ajang E-50, keunikan yang menjadi salah satu penilaian untuk melihat keberhasilan para wirausaha adalah kemampuan mereka menggalang kebersamaan untuk mencapai kinerja yang tinggi.

    Selama ini, selalu terdapat mitos tentang kewirausahaan -- istilah kerennya, entrepreneurship. Ada pandangan, kewirausahaan tak lepas dari aktivitas pengusaha yang bersifat individualistis, seolah-olah menjadi pahlawan usaha dan ajang menunjukkan keberanian -- seperti kata akarnya, wirausaha = berani berusaha. Padahal, kewirausahaan merupakan aktivitas yang sangat kolaboratif. Penelitian terhadap perusahaan segala ukuran di beberapa negara, maju dan berkembang, mengungkap bahwa mitos pahlawan usaha tidaklah benar dan terlihat bahwa kewirausahaan merupakan jiwa yang harus ada pada setiap individu untuk menghasilkan kinerja yang tinggi untuk organisasi, bukan untuk diri sendiri.

    Lantas, apa yang sebenarnya merupakan ciri khas jiwa kewirausahaan?

    Kapan pun dan dalam kondisi apa pun terdapat 6 karakteristik pokok. Pertama, kreatif dan inovatif. Ini merupakan jantung kewirausahaan yang memotori cara berpikir dan kerja mereka. Wirausaha sejati dapat mengidentifikasi kesempatan, besar atau kecil, yang mungkin tidak pernah dilirik orang lain.

    Kedua, mampu mengaplikasikan kreativitasnya. Mereka dapat mencari sumber daya untuk secara efektif menjalankan tujuan organisasi.

    Ketiga, memiliki semangat berkarya. Mereka yakin dapat mengubah dan menghasilkan sesuatu yang berbeda, sekaligus memiliki kemauan dan penjiwaan untuk berhasil.

    Keempat, fokus untuk menghasilkan nilai. Mereka ingin melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih cepat dan lebih murah.

    Kelima, bersedia mengambil risiko. Mereka kadang harus melawan aturan main, melangkah dari garis-garis batas kewajaran, dan tidak puas dengan status quo.

    Keenam, berbeda dari persepsi atau stereotip wirausaha sebagai figur pemberani dan hanya bekerja sendiri, mereka sangat kolaboratif. Mereka memiliki jaringan kerja di dalam dan di luar organisasi, dengan sungguh-sungguh menghubungkan perusahaan mereka ke sumber inspirasi, keahlian, inovasi dan kreativitas lainnya.

    Melihat seluruh karakteristik tersebut, bisa disimpulkan bahwa jiwa kewirausahaan sebenarnya relevan terhadap semua jenis dan ukuran organisasi, sektor dan lokasi, serta tidak terbatas pada pemilik atau pendiri. Bahkan, untuk perusahaan multinasional ataupun pengelolaan warung Tegal. Dan bagi organisasi bisnis, persoalannya adalah bagaimana membangkitkan motivasi dan menghimpun energi seluruh awak organisasinya. Anggota organisasi atau perusahaan bukanlah karyawan yang hanya menunggu perintah, melainkan yang memerlukan tantangan yang dapat berdampak pada kinerja organisasi.

    Dari hasil penelitian untuk Indonesia, karakter pemimpin individualistis sedikit dipilih para responden. Kreatif, berani mengambil risiko, memiliki motivasi tinggi, mampu melihat kesempatan dan memiliki visi, jauh berada di atas individualistis. Untuk mendorong karyawan agar berjiwa wirausaha, responden setuju bahwa para pemimpin sebaiknya mengomunikasikan pentingnya nilai-nilai kewirausahaan, mau berbagi keahlian dan pengetahuan tentang bisnis, serta menunjukkan semangat kewirausahaan tersebut kepada mereka.

    Berangkat dari hal itu, maka diperlukan gaya kepemimpinan yang dapat menghasilkan lingkungan kewirausahaan sejati. Masih banyak eksekutif yang ragu memberikan kebebasan kepada karyawannya untuk bertindak atau memutuskan. Padahal, mereka juga kerap mengeluh, karyawannya kurang memiliki semangat kewirausahaan. Nah, tampaknya mereka, para eksekutif itu lupa bahwa untuk memiliki jiwa kewirausahaan, diperlukan kelonggaran dalam bergerak, berpikir dan berkreativitas. Kunci fokusnya adalah pada kolaborasi dan kerja kelompok yang efektif, ketimbang selalu memberikan promosi kepada para pemberani yang selalu ingin menonjolkan diri dalam organisasi.

    Akhir kata, budaya dan sikap organisasi juga menjadi kunci keberhasilan kewirausahaan. Para pemimpin perlu memahami perbedaan-perbedaan iklim usaha di seluruh dunia, dan bagaimana dapat memengaruhi perilaku di dalam dan di luar usaha mereka. Di Indonesia, banyak yang percaya bahwa budaya kewirausahaan harus tumbuh dari dalam organisasi sendiri, dan tidak hanya mengandalkan citra dari ikon publik, yaitu wirausaha perseorangan. Tentu, dengan bantuan media massa, para kerabat usaha dan dukungan pemerintah, jiwa kewirausahaan merupakan budaya nasional, dan tidak hanya bersumber pada masing-masing organisasi.

  • Asah Inner Beauty, Menebar Pesona

    Coba perhatikan teman-teman di lingkungan kantor anda, siapa yang memiliki inner beauty? Emangnya gimana sih orang yang punya inner beauty itu? Mereka yang memiliki inner beauty, secara fisik mungkin biasa-biasa saja atau katakanlah nilainya cuma rata-rata, tapi ada pesona lain yang ia tebarkan. Sehingga penampilannya secara keseluruhan terlihat lebih menarik.

    Memang tak dapat dipungkiri, pesona pada diri seseorang seringkali bersumber dari fisik. Artinya anda yang berwajah ganteng, cantik, bertubuh proporsional plus ditunjang pakaian dan penampilan yang keren, akan terlihat menarik. Tapi pesona lahir seperti ini akan luntur manakala tidak didukung oleh pesona dari dalam. Pesona dari dalam itu antara lain intelektual dan perilaku menyangkut etiket dan tata krama menghadapi orang lain. Pesona dari dalam inilah yang kerap disebut kharisma atau ‘inner beauty’.

    Memang, inner beauty bukan monopoli kaum hawa aja. Coba aja anda lihat mereka cowok cewek yang penampilannya terlihat keren dan oke dari luar, nggak terlihat menarik lagi ketika otaknya ‘adem’ dan kelakuannya ‘nol’. Mungkin cukup sulit ya kalau anda harus menemukan orang yang menarik mulai dari fisik, intelektual dan perilakunya. Mungkin setelah berpikir keras, anda baru bisa menyebutkan satu atau dua nama rekan kantor anda.

    Emang sih memoles daya tarik lahir jauh lebih mudah daripada daya tarik batin. Karena memoles daya tarik lahir bisa dilakukan secara instant dan asal mau ‘membayar’. Bagi cewek-cewek yang merasa penampilannya kurang oke, asal rajin ke salon, poles sana poles sini bisa berubah jadi ‘cling’. Begitu juga bagi yang cowok, asal mau ‘ngerawat’ body, misalnya rajin fitness hingga bodynya ‘berisi’ plus dibalut pakaian yang bagus, secara fisik ia akan tampil menarik.

    Tapi ternyata menarik secara lahir saja tidaklah cukup untuk membuat anda tampil sebagai sosok yang mempesona. Dalam hal ini bukan berarti cuma mempesona lawan jenis, tapi mempesona setiap orang yang melihat dan berbicara dengan anda. Jika anda ingin tampil sebagai pribadi yang mempesona luar dalam dan lahir batin, anda membutuhkan waktu dan proses yang tidak sebentar. Tapi jangan cemas, pada dasarnya, semua orang berpotensi untuk memiliki ‘inner beauty’. Asal anda mau mengasahnya anda akan memiliki ‘inner beauty’ dan tampil sebagai sosok yang lebih mempesona.

    Lalu, gimana cara ngasah inner beauty? Menurut para psikolog, pertama-tama yang harus anda lakukan adalah berpikir positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Berpikir positif diyakini dapat membuat wajah anda lebih bersinar karena apa yang ada di dalam hati dan pikiran anda, akan terpancar di wajah dan mata anda. Makanya jangan sekalipun menyesali kekurangan diri anda. Tapi lebih baik berpikir positif bahwa manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan hendaknya kelebihan yang ada dapat menutupi kekurangan pada diri anda.

    Kemudian asahlah intelektual anda. Dengan wawasan dan pengetahuan yang luas, akan membuat anda memiliki nilai plus di mata rekan-rekan. So pasti anda pun akan terlihat lebih menarik. Selain itu jangan lupa untuk selalu mensyukuri nikmat apapun yang anda peroleh. Karena rasa syukur yang tulus membuat batin anda lebih tentram. Dan ini akan memberi pancaran tersendiri di wajah anda.

    Rasa syukur juga membuat anda terhindar dari rasa iri dan dengki. Anda tidak akan merasa ‘keki’ dengan keberhasilan dan kebahagiaan orang lain. Sebaliknya anda akan turut merasa bahagia bila melihat orang lain bahagia. Dan biasakanlah untuk mengulurkan bantuan bagi orang yang membutuhkan. Tentu saja anda harus melakukannya dengan ikhlas.

    Hal yang tak kalah penting adalah ‘senyum’. Karena dengan senyum dapat meluluhkan ketegangan jiwa anda. Percaya deh senyum yang tulus tanpa kesan ‘terpaksa’ akan membuat wajah anda lebih bersinar. Ya, pada intinya semua memang harus anda lakukan dengan 'tulus'. Karena apa? karena kesan yang tertangkap oleh kasat mata kadang menipu. Senyum, sikap, kata-kata, perilaku, perhatian, bantuan dan bahasa tubuh masih tergolong 'outer beauty'. Artinya semua hal yang baik tersebut kadang hanya di luar saja. Banyak orang yang melakukannya hanya untuk mencapai kepentingan pribadinya. Padahal di lubuk hatinya ia tidak sebaik di luar. Istilah ngetopnya cuma 'jaim' atau 'jaga image'.

    Sedangkan 'inner beauty' mengandung pengertian yang lebih dalam, lebih dari sekedar senyum ramah dan bahasa yang santun. Di baliknya ada ketulusan yang sesungguhnya, tanpa sikap dibuat-buat dan nggak ada pamrih terselubung. Tapi ingat, tetap aja penampilan fisik harus anda perhatikan. Kalau perilaku anda baik, pengetahuan dan wawasan anda oke tapi kalau anda jarang mandi, badan loyo, dan pakaian acak-acakan sama aja bohong.

    So, buruan deh asah 'inner beauty' anda, en siap-siap aja menjadi sosok yang mempesona di lingkungan kantor atau di lingkungan manapun anda berada.

  • Pemenang dan Pecundang

    Akhir tahun sering dipenuhi dengan perasaan waswas. Penilaian kinerja segera dilaksanakan. Bagai palu godam, hasilnya hendak meluluhlantakkan si pecundang. Jangankan bonus yang cukup untuk tamasya ke mancanegara, untuk ongkos fiskalnya pun kadang tak mencukupi. Sebaliknya, bagi pemenang, selain bonus besar, juga jaminan kenaikan gaji yang lumayan di tahun depan. Ini adalah siklus yang terus terjadi tahun demi tahun. Tak ada hal yang baru. Namun kenyataannya, gejolaknya masih dirasakan dramatis bagi banyak orang.

    Si pecundang akan memainkan trik tertentu untuk memperoleh penilaian yang lebih besar dari yang seharusnya ia terima. Beribu alasan dan excuse terus dilontarkan. Industri sedang meradang, kompetisi bertambah berat, pesaing meluncurkan produk baru, prinsipal tidak mendukung, persaingan yang tak wajar, pesaing banting harga – itu adalah alasan basi yang terus dikumandangkan. Si pecundang selalu akan menunjuk hidung orang lain sebagai biang keladi kekalahan. Lagu kata ”andaikan” terus dimainkan. Andaikan bagian produksi meluncurkan produknya tahun ini; andaikan bagian keuangan menyetujui down payment split; andaikan bagian support melakukan factory campaign. Tunjuk hidung, bukan tunjuk dada. Kesalahan bukan ditudingkan pada dirinya sendiri.

    Kalau pun 8 dari 10 target tidak tercapai, si pecundang masih bisa menunjukkan bahwa dua target itu sebenarnya sangat besar implikasinya dibandingkan dengan yang 8. Pecundang memang tak pernah lelah mengibarkan kesuksesannya, walaupun bagai setitik nila di antara sebelangga susu. Ia berusaha menjadi pemenang bagi dirinya sendiri. Sebuah penyangkalan fakta yang teramat naif.

    Lain halnya dengan si pemenang, apalagi yang mendapat kategori istimewa, biasanya tak menduga mendapat predikat itu. Ia pikir biasa-biasa saja. Ia hanya berpikir yang terbaik saat ini. Kalau sang bos melihat ia memiliki prestasi prima, baginya itu sebuah pecutan untuk lari lebih cepat lagi. Penilaian akhir tahun adalah sebuah jeda bagi si pemenang untuk mengambil ancang-ancang etape berikutnya.

    Piala akhir tahun yang ia peroleh, bonus dan kenaikan gaji atau promosi, selalu beriringan dengan prestasi seluruh anggota kelompoknya. Pemenang selalu dikelilingi oleh para juara. Ia tidak pemain tunggal yang berdiri sendiri di puncak. Melainkan, ia adalah pemain kelompok yang berada di belakang sebuah kelompok juara yang saling mendukung. Pemenang tidak pernah merasa kesepian seperti pecundang. Pemenang selalu berbagi tawa dengan kelompoknya. Pemenang memiliki pendukung pemenang juga, yang pada saatnya bakal menggantikannya sebagai pemenang baru.

    Pemenang selalu merujuk pada rekan sekerja untuk menunjukkan pemenang sebenarnya. Tidak menunjuk pada dirinya sendiri. Atau meminjam teori kodok yang perlu menekan ke bawah supaya ia dapat terangkat tinggi. Hanya soal waktu, pemenang macam beginilah yang dapat bertahan. Sayangnya, banyak yang mengabaikan hukum alam ini.

    Saya teringat pada sebuah cerita yang pernah saya kliping 8 tahun silam, ditulis oleh sahabat saya, Debora. Ia berujar tentang pemenang yang menang justru dalam sebuah kekalahan. Bukan menang tanpo ngasorake, melainkan menang tanpa sebuah kemenangan. Pemenang yang sejati bukan ditentukan oleh sebuah piala, atau rekor, atau medali fisik, melainkan ditentukan pula oleh sikapnya sebagai pemenang tatkala medali dan piala itu justru ia berikan kepada orang lain. Ia bisa dan mampu meraihnya, tetapi ia sadar bahwa medali ini sebaiknya diserahkan kepada orang lain agar mereka menikmati kemenangan. Ia sendiri larut dalam kenikmatan kemenangan orang lain.

    Begini ceritanya. Kim Peek, seorang anak yang menderita kerusakan otak, ikut dalam lomba lari 50 meter di olimpiade khusus kaum cacat tahun 1968. Sebagai atlet yang mewakili negaranya, Kim berharap membawa pulang medali karena ia memiliki rekor lari dengan kursi roda yang fantastis. Ia menanti hari pertandingan dengan antusias persis seperti atlet normal lainnya.

    Saat pertandingan tiba, Kim dan kedua peserta lain memasuki arena pertandingan yang kala itu sudah di babak final. Kim bergerak cepat mendahului kedua lawannya ketika pistol berbunyi tanda perlombaan dimulai. Dia berada 20 meter di depan dan 10 meter dari garis akhir pada saat ia mendengar bunyi benda yang tertubruk di belakangnya. Ia memperlambat laju kursi rodanya. Ia melihat ke belakang.

    Ia melihat seorang lawannya, anak perempuan, terbentur dinding. Kursi rodanya berbalik arah dan ia kesulitan untuk mengembalikan ke arah semula. Kim melihat, peserta lainnya – anak laki-laki – berusaha mendorong kursi roda si anak perempuan untuk kembali pada arah yang tepat.

    Kim berhenti. Lalu ia pun berbalik dan menolong si anak perempuan sehingga kembali seperti semula. Bukan hanya itu. Dengan segenap kekuatannya, ia mendorong kursi roda si anak perempuan sampai ke garis akhir. Anak laki-laki yang sempat berbalik arah tadi memenangi perlombaan itu; sementara si anak perempuan meraih juara kedua; sedangkan Kim kalah.

    Benarkah Kim kalah? Para penonton berdiri memberi tepuk tangan meriah untuk Kim. Mereka tidak berpikir bahwa Kim kalah. Kim tersenyum, ia merangkul si anak perempuan dan si anak laki-laki yang menjadi lawannya. Kim memang kehilangan medali emas, tetapi ia puas.

    Kim adalah pemenang sejati. Sejatinya ia tidak merasa kehilangan medali. Ia tidak merasa kalah. Ia adalah sosok pemenang yang dibutuhkan bangsa ini untuk maju. Memberi jalan agar yang lain berada di karpet merah kemenangan. Ia tersenyum bangga, bahwa ia telah melahirkan jawara baru. Ia adalah jawara sejati. Kapan kita bisa seperti Kim?

  • Wawancara Kerja? Jangan Grogi..!

    Saat wawancara pekerjaan seringkali menjadi saat yang mendebarkan. Apalagi bagi anda yang baru pertama kali melakukannya. Biasanya anda akan merasa nervous, grogi, gugup, takut dan sebagainya. Tapi jangan cemas, anda yang baru pertama ataupun sudah beberapa kali wawancara kerja, ikuti kiat ini:

    * Berpakaian yang pantas
    Perhatikan cara dan gaya berbusana anda saat ingin wawancara kerja. Walaupun belakangan ini busana kerja semakin casual tapi pilihlah busana yang paling pas dan pantas. Yaitu pakaian yang rapih dan sopan. Karena pakaian seperti ini mencerminkan bahwa anda menghargai diri sendiri dan orang lain. Ingat, pakaian yang salah dapat mengurangi rasa percaya diri anda.

    * Percaya diri
    Walau anda berstatus pencari kerja, bukan berarti anda harus minder dan takut. Jangan merasa seperti terdakwa yang siap diadili saat wawancara kerja berlangsung. Jawablah setiap pertanyaan wawancara dengan ucapan dan sorot mata penuh percaya diri.

    * Bersikap tenang
    Jangan menunjukkan kepanikan dan kegugupan anda. Cobalah untuk lebih santai dan rileks. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan-lahan saat anda mulai dilanda rasa panik. Ingat, orang yang tampak panik dan gugup menandakan orang yang tidak pandai mengontrol emosinya. Dan umumnya pihak pewawancara selain mencari karyawan yang kompeten di bidangnya, juga mencari karyawan yang tidak mudah terganggu emosinya.

    * Miliki sudut pandang
    Bekali diri anda dengan pengetahuan seputar bidang di perusahaan yang anda lamar dan pengetahuan umum lainnya. Dan bersiaplah untuk mendiskusikan banyak hal, mulai dari produk perusahaan sampai mungkin masalah di negeri ini. Jangan ragu untuk mengungkapkan opini anda tentang topik yang sedang dibicarakan.

    * Jabat tangan
    Berjabat tangan dengan pewawancara saat mulai dan akhir wawancara mencerminkan sikap antusias yang positif. Tapi bukan berarti anda harus berjabat tangan sekuat tenaga. Jabatlah tangan dengan erat tapi tidak terlalu kuat. Aliri keyakinan lewat jabat tangan bahwa anda adalah orang yang dapat diharapkan dan dipercaya.

    Dengan hal-hal di atas, setidaknya anda sudah berusaha tampil seprofesional mungkin saat wawancara. Dan hal ini akan memperlancar proses wawancara anda. Jangan lupa berdoa saat memasuki ruangan wawancara. Semoga wawancara anda berlangsung sukses..!

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.