Sevilla Pimpin Armada La Liga
Tak pelak lagi, kompetisi antarklub Eropa 2006/07 ini mutlak menjadi dominasi Liga Premier Inggris dan La Liga Spanyol. Enam dari delapan spot semifinal Liga Champion dan Piala UEFA dihuni perwakilan dua negara itu.
Inggris lebih dulu mendominasi kala trio Manchester United, Chelsea, dan Liverpool menembus empat besar LC. Keesokan harinya giliran Spanyol yang menuai pesta. Pada perempatfinal “kasta kedua” Benua Biru itu, Sevilla, Osasuna, dan Espanyol sukses mengharumkan nama Espana dengan menyingkirkan Tottenham Hotspur, Bayer Leverkusen, dan Benfica.
“Tiga klub di semifinal. Rasanya ini cukup membuktikan kekuatan Spanyol sebagai salah satu liga terbaik di dunia,” begitu ujar Juande Ramos, pelatih Sevilla, mengomentari kesuksesan Los Blancos dalam mengimbangi Spurs 2-2 di White Hart Lane.
Hasil imbang itu cukup bagi Sevilla lantaran 1st leg di Ramon Sanchez Pizjuan pekan lalu, berujung kemenangan 2-1. Seperti pekan lalu pula, di London Frederic Kanoute pun menjadi sosok penentu.
Sundulan pemain Mali yang memanfaatkan sepak pojok Luis Marti pada menit ketiga berhasil membuat panik bek Spurs. Bola liar di depan gawang Paul Robinson ini kemudian disambar Christian Poulsen. Sebetulnya tendangan Poulsen mengarah keluar andaikan tak dihalau Steed Malbranque, yang tengah berdiri di tiang jauh.
Saking kerasnya, tapi tak terkena dengan sempurna, si kulit bundar malah masuk ke gawang tuan rumah. Berselang lima menit, serangan balik Sevilla lewat permainan one-two Kanoute dan Aleksandr Kerzhakov tak bisa dibaca Robinson.
Petaka Delapan Menit
Dengan sekali kontrol, Kanoute, yang untuk pertama kalinya kembali ke White Hart Lane, klub lamanya sebelum ia pindah ke Sevilla, menceploskan bola di luar jangkauan kiper utama Inggris itu. Dua gol cepat ini kontan meruntuhkan moral The Lilywhites, yang sebenarnya cuma butuh menang 1-0.
“Jika Anda bermain di panggung Eropa dan kemasukan gol pada menit ketiga, berarti ini lebih dari sebuah pukulan berat. Dengan sedikit keberuntungan, mungkin kami bisa lolos. Namun, malapetaka sudah terjadi pada delapan menit pertama,” ucap Martin Jol, gaffer Spurs.
Kemasukan sepasang gol di rumah sendiri berarti Dimitar Berbatov dkk. harus memasukkan dua gol lebih banyak. Upaya maksimal sudah dilakoni armada berlogo cockerel alias ayam jago itu. Namun, hanya Jermain Defoe dan Aaron Lennon yang berhasil masuk score-sheet.
“Saat mereka (Spurs) memasukkan gol kedua, kami sempat terkejut, kesulitan, dan berada dalam tekanan. Tetapi, setelah berhasil kembali mengambil alih laga, kami tak pernah khawatir bakal mengalami kekalahan,” kata Ramos lagi.
Dengan kemenangan ini, Sevilla berkesempatan untuk menjadi klub pertama yang bisa merebut dua gelar Piala UEFA berturut-turut setelah Real Madrid pada 1984/85 dan 1985/86. Musim lalu, Kanoute cs. meraih trofi seusai mencukur Middlesbrough 4-0. (Sapto Haryo Rajasa)
>> Kembali ke Atas
Werder Bremen
Lungsuran LC Terakhir
Walau nyaris menyingkirkan Barcelona di fase grup Liga Champion, Werder Bremen belum mendapat pengakuan publik. Posisi nyaman sebagai runner-up Bundesliga juga tak mampu mendongkrak popularitas Werder dari segi prestasi.
Hasil teranyar pasukan Thomas Schaaf di perempatfinal Piala UEFA, Kamis (12/4), tampaknya bakal menghapus rasa skeptis publik. Ya, di tengah pandangan sebelah mata itu, Miroslav Klose membalikkan prediksi dan memukul wakil Belanda AZ Alkmaar 4-1.
Pesta gol tuan rumah di Weser Stadion dibuka Tim Borowski (16’). Meski Moussa Dembele sempat menyamakan skor di menit ke-32 sekaligus membuat hasil agregat 1-1 ini condong mengunggulkan tim tamu, dua gol Klose dan satu gol Diego akhirnya menutup asa AZ.
“Klose selalu berlatih dengan keras dan tak pernah kehilangan kepercayaan diri,” ujar Schaaf di situs resmi klub. Belakangan bomber Der Panzer kelahiran Polandia ini menjadi pusat cercaan menyusul paceklik gol sejak 31 Januari dan mengambil rentang 1.158 menit. “Saya selalu berpikir untuk membuat gol dan saya buktikan masih mampu,” timpal Klose.
Sumbangsih Klose tak hanya membanggakan Bremen, tapi juga memperpanjang napas tim buangan LC. Maklum, Si Hijau kini menjadi satu-satunya klub lungsuran LC yang masih bertahan di Piala UEFA. Tujuh tim lain yang hijrah berkat posisi ketiga di fase grup rontok semua.
Mereka adalah Spartak Moskva (kalah dari Celta Vigo; 32 besar), Bordeaux (Osasuna, 32), Steaua Bucuresti (Sevilla, 32), CSKA Moskva (Maccabi Haifa; 32), AEK Athena (Paris Saint Germain; 32), Shakhtar Donetsk (Sevilla; 16), dan Benfica (Espanyol; 8).
Kegagalan Benfica di tangan Espanyol juga cukup mengejutkan. Bukan lantaran Los Pariquitos (Si Parkit), julukan Espanyol, kurang berkualitas, namun lebih pada jam terbang Si Elang, julukan Benfica, di antarklub Eropa yang jauh lebih panjang ketimbang Si Parkit.
Benfica juga mengantongi dua away goal berkat skor 2-3 di Lluis Companys. Saat ganti menjamu Raul Tamudo dkk. di Estadio Da Luz, Simao Sabrosa cs. hanya bisa bermain imbang tanpa gol dan harus mengaku kalah agregat 2-3.
“Kami punya lima peluang untuk mencetak gol. Tapi, tak ada yang berhasil,” keluh Fernando Santos, bos Benfica. Tanggapan Ernesto Valverde, el entrenador Espanyol? “Untuk ukuran kami, lolos ke semifinal adalah hal luar biasa.” Maklum, terakhir kali mereka tampil di empat besar adalah 19 tahun silam. Kala itu Espanyol kalah dari Bayer Leverkusen di final 1987/88. (shr)
>> Kembali ke Atas
Trio Spanyol Pertama
Tujuh tahun setelah klub-klub Spanyol mendominasi tiga tempat di babak semifinal Liga Champion 1999/2000, trio La Liga kembali unjuk gigi. Namun, kali ini bukan di panggung terwahid Eropa seperti yang dilakoni Real Madrid, Barcelona, dan Valencia kala itu.
Pada musim kompetisi 2006/07 ini, Sevilla, Osasuna, dan Espanyol menjadi tiga punggawa ranah Spanyol di arena Piala UEFA. Meski kerap dibilang pantas kasta kedua, pencapaian mereka bertiga tetap pantas diacungi jempol. Setidaknya oleh warga Espana.
Apa pasal? Ini merupakan kesuksesan perdana Spanyol dalam mewakilkan tiga personel di Piala UEFA, kendati sebetulnya klub-klub Primera pernah mementaskan all-Spanish final di LC 99/00 dan tiga kali final sesama di Piala Fairs (pentas sebelum diganti menjadi Piala UEFA) pada awal 60-an.
Catatan ini boleh membuat Spanyol bangga. Tapi, dalam urusan dominasi semifinal, baru Bundesliga yang pernah membukukan rekor all-German semifinal di Piala UEFA. Ini terjadi pada musim 1979/80 saat VfB Stuttgart, Borussia Moenchengladbach, Bayern Muenchen, dan Eintracht Frankfurt masuk empat besar.
Hingga detik ini, belum ada negara yang mampu menyamai rekor tersebut. (shr)
Inggris Memimpin Lagi
Tiga klub Premiership mendominasi babak semifinal Liga Champion. Kenyataan itu membuat suporter Inggris berbunga-bunga. Inikah konfirmasi bahwa Inggris sudah kembali memimpin sebagai liga terbaik di Eropa?
Untuk pertama kali, babak semifinal dikuasai klub-klub Inggris. Manchester United, Chelsea, dan Liverpool berpeluang menciptakan all-English final seperti yang pernah dilakukan Spanyol pada 2000 dan Italia pada 2003.
Para pencinta Premiership tentu akan teringat pada periode dominasi Inggris akhir 1970-an dan awal 1980-an. Saat itu, klub Inggris, yang diwakili Liverpool, Nottingham Forest, dan Aston Villa, berhasil menjadi juara Piala Champion enam kali berturut-turut antara 1977-1982.
Inggris sempat tenggelam setelah UEFA menjatuhkan skorsing lima tahun antara 1985-1990 menyusul tragedi Heysel, di mana suporter Liverpool bertanggung jawab atas tewasnya 39 penonton di final Piala Champion 1984/85.
Pada periode tersebut, tercatat 16 klub Inggris tidak dapat tampil di kompetisi Eropa. Dari Everton, yang seharusnya bermain di Piala Champion 1985/86, ke Norwich City, yang semestinya tampil di Piala UEFA 1989/90.
Kembalinya kekuatan klub Inggris dimulai oleh keberhasilan United menjuarai Liga Champion 1998/99. Isyarat semakin menjadi-jadi setelah Liverpool menjadi kampiun 2004/05 dan Arsenal berhasil lolos ke laga final 2005/06.
Sekarang dengan tiga klub Inggris ada di semifinal, yang berarti paling tidak satu tempat di partai final akan menjadi milik klub Premiership, wajar jika negeri Pangeran Charles jadi merasa masa kejayaan sudah kembali.
Uang, Pemain, Manajer
“Fakta bahwa tiga klub Inggris lolos ke semifinal barangkali membuat liga kami menjadi yang terbaik di Eropa. Naluri kompetitif dan kualitas sepakbola Inggris sudah banyak berkembang,” sergah manajer United, Sir Alex Ferguson.
Pengakuan diucapkan dua orang pelatih yang timnya disingkirkan klub Inggris: Luciano Spalletti (Roma) serta Ronald Koeman (PSV). Roma dipermalukan 1-7 oleh United dan PSV dibuat Liverpool gagal membuat gol.
“Klub Inggris punya uang, pemain bagus, dan manajer yang bagus,” sebut Koeman. Argumen Spalletti lebih gamblang. “Klub Inggris seperti Italia beberapa tahun lalu. Mereka punya pemain-pemain bagus dan keuangan hebat,” kata Spalletti seperti dikutip situs resmi UEFA.
“Klub Inggris lebih fisikal dan lebih komplet. Pemain-pemain mereka lebih siap berduel satu lawan satu karena terbiasa melakukan itu di Premiership. Sekarang, mereka membawa kekuatan tersebut ke Eropa,” tambahnya. (Dwi Widijatmiko)
>> Kembali ke Atas
Peringatan bagi Pemabuk
Keberhasilan Manchester United, Liverpool, dan Chelsea lolos ke semifinal Liga Champion di satu sisi membanggakan. Akan tetapi di sisi lain, tidak sedikit pihak yang merasa khawatir dengan perilaku para suporter Inggris.
Bukan rahasia lagi bahwa sebagian pendukung klub Inggris lebih ganas dari suporter negara lain. Hooligan mereka sering membuat masalah dengan memicu kerusuhan antarsuporter, baik di dalam maupun di luar stadion.
Kekhawatiran dilontarkan UEFA, yang secara khusus meminta United mengontrol suporternya agar mereka tidak memasuki stadion dalam keadaan mabuk. Ritual minum-minum memang telah biasa dilakukan.
Suporter United sudah terlibat kerusuhan saat melawat ke Stadion Olimpico melawan Roma di partai pertama babak perempatfinal. Pada 2 Mei, mereka akan bertamu ke Milano menghadapi Milan di 2nd leg semifinal.
“Manchester United harus memberi pengertian pada suporter mereka apa yang pantas dilakukan. Masalah dimulai dari perilaku irasional karena pengaruh alkohol. Akan sangat bagus jika suporter bisa dinasihati tidak melakukan itu,” tutur juru bicara UEFA, William Gaillard.
Di Liga Champion musim ini, pendukung The Red Devils sudah memiliki “catatan kriminal” yang panjang. Mereka pernah bentrok dengan polisi setempat ketika klub mereka bermain di Lens, Roma, dan Manchester.
Insiden terakhir di Roma sampai sekarang masih diselidiki UEFA. Publik Inggris menuding polisi Italia bertindak berlebihan. Tapi, polisi Italia membela diri dengan menyebut pendukung United yang memulai insiden dengan menyerbu pembatas antara suporter kedua kubu. (wid)
>> Kembali ke Atas
Italia Memuji Milan
Sebagai satu-satunya klub Italia di semifinal, Milan jelas menjadi harapan terakhir Negeri Piza. Wajar media-media Italia jadi serentak memuji pencapaian Il Diavolo Rosso sehari setelah partai kedua perempatfinal.
“Terbang, Milan, Terbang!,” tulis koran La Gazzetta dello Sport. “Milan Kebanggaan Italia,” sambung Corriere dello Sport. “Milan, Hanya Kalian,” imbuh Tuttosport.
Pujian juga diberikan Presiden FIGC yang baru, Giancarlo Abete. “Beliau berterima kasih kepada kami karena terus membawa bendera Italia di kompetisi sepenting ini,” ungkap Wakil Presiden I Rossoneri, Adriano Galliani.
Sekarang publik Italia berharap Milan bisa menebus rasa malu yang muncul seusai Roma dibantai Manchester United 1-7 di partai kedua perempatfinal (10/4). Milan akan bertemu United di babak semifinal, 24 April dan 2 Mei nanti.
“Setelah skor 1-7 tersebut, orang membuat lelucon tentang sepakbola Italia. Saya bisa pastikan bahwa kami, orang Italia, punya hati dan karakter. Milan sudah menunjukkan itu,” sergah gelandang Milan, Gennaro Gattuso.
Milan juga membuat bangga Italia karena konsistensi mereka di Liga Champion. Gattuso dan sebagian besar pemain Milan yang lain adalah tim yang sama yang membawa Il Diavolo dua kali mencapai final dan dua kali pula menembus semifinal Liga Champion dalam lima tahun terakhir.
“Liga Champion merupakan bagian dari sejarah Milan. Ini kompetisi kami, mentalitas kami. Konsistensi kami dalam lima tahun terakhir tidak bisa ditandingi siapa pun,” sebut Galliani seperti dikutip Football Italia. (wid)
>> Kembali ke Atas
Nasionalisme Milik Italia
Inggris boleh bangga karena memiliki tiga wakil di semifinal. Tapi, rasa bangga itu akan sedikit kabur jika melihat kesuksesan trio Manchester United-Liverpool-Chelsea banyak ditentukan orang-orang asing, bukan asli Inggris.
Bicara soal nasionalisme sejati, Italia, yang diwakili Milan, bisa jumawa. Aktor-aktor penentu I Rossoneri merupakan orang asli Italia, dari pemain sampai presidennya.
Lihat saja komposisi starter Milan saat menekuk Bayern Muenchen 2-0, Rabu (11/4). Ada tujuh Italiano yang mengisi posisi-posisi vital di semua lini. Mereka adalah Massimo Oddo, Alessandro Nesta, Paolo Maldini, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, Massimo Ambrosini, dan Filippo Inzaghi.
Bandingkan dengan United, yang cuma didukung lima orang Inggris: Rio Ferdinand, Wes Brown, Michael Carrick, Alan Smith, serta Wayne Rooney. Jumlah pemain asli Inggris di Liverpool dan Chelsea malah lebih parah.
Chelsea cuma mempunyai tiga: John Terry, Ashley Cole, dan Frank Lampard. Sementara itu, Liverpool hanya memiliki dua, yaitu Jermaine Pennant serta Peter Crouch.
Nasionalisme Milan juga terasa di posisi pelatih. I Rossoneri adalah satu-satunya semifinalis yang diarsiteki pribumi. United diasuh orang Skotlandia, Chelsea oleh orang Portugal, sedangkan Liverpool oleh orang Spanyol.
Begitu pula di kursi presiden. Di belakang layar Milan ada Silvio Berlusconi, orang asli Italia. Tiga pemilik semifinalis asal Inggris adalah orang asing. Chelsea dipunyai orang Rusia dan United-Liverpool dipegang orang Amerika. (wid)