Search blog.co.uk

Posts archive for: 13 April, 2007
  • 9 tips memberi nama anak...

    >
    > 1. Nama itu mengandung do'a.
    >
    > Nama anak itu cermin harapan orang tua. Nama itu mengandung Do'a.Tetapi
    > do'anya yang singkat saja. Kalau terlalu panjang nanti dikira Tahlil
    > atau Wirid. Kalau dipanggil bukannya nengok, malah bilang "Amiinn.."
    >
    > 2. Nama jangan nyusahin orang Kelurahan
    >
    > Nama anak mudah dibaca dan mudah ditulis. Meskipun tampaknya
    > bagus,jangan pakai huruf mati yang digandeng-gandeng atau
    > didobel-dobel (mis.Lloyd,Nikky, Thasya dll). Biasanya sama petugas
    > Kelurahan akan terjadi salah tulis dalam pembuatan Akta Kelahiran, Kartu
    > Keluarga, KTP dll.Nah... nggak enaknya lagi kalo kita minta revisi biasanya
    > kena biaya lagi... dan prosesnya lama lagi.
    >
    > 3. Nama jangan cuma satu kata
    >
    > Minimal ada First Name, Nick Name dan Family name gitu loh.... Ini
    > penting terutama kalo pas lagi ngurus Paspor atau Visa. Nggak jadi
    > berangkat ke Amrik hanya gara-gara namanya cuma Prakoso atau Pamuji
    > atau Paryono khan esiaan...
    >
    > 4. Nama jangan terlalu panjang
    >
    > Nama yang panjang bererot bisa bikin susah si pemilik nama. Disamping
    > susah ngingetnya, juga ngerepotin waktu ngisi formulir pendaftaran
    > masuk Perguruan Tinggi Negeri (dulu UMPTN). Itu lho..yang ngitemin
    > buletan-buletan pakai pensil 2B. Capeek khaan... Nama panjang seperti
    > Siti Hartati Riwayati Mulianingsih Adiningrum Mekar Berseri Sepanjang
    > Hari.... adalah sangat-sangat not-recommended.
    >
    > 5. Nama anak bersifat internasional
    >
    > Anak kita hidup dimasa depan, di era globalisasi dimana hubungan dengan
    > dunia internasional amat sangat intens. Jadi jangan mempersulit anak
    > dengan nama-nama yang sulit di-eja. Nama Saklitinov, misalnya, orang
    > Jepang nyebutnya Sakuritino, orang Sunda bilang aktinop, orang Amrik
    > bilang Sechlaytinove. .. Syusah khaaannn Padahal maksudnya : Sabtu Kliwon
    > Tiga November...
    >
    > 6. Ketahuilah arti nama anak
    >
    > Ketahuilah arti nama anak. Jangan memberikan nama hanya karena enak
    > diucapkan atau bagus ditulisnya. Nama Jalmowono memang sepintas enak
    > diucapkan dan bagus kalo ditulis tetapi ketahuilah bahwa Jalmowono itu
    > artinya Orang Utan.
    >
    > 7.Jangan pakai nama artis.
    >
    > Nama artis memang bagus-bagus, cuma masalahnya kalau artis itu
    > kelakuannya baik... lha kalau jadi bahan gosip melulu khan jadi beban
    > juga buat si anak. Lagian pakai nama artis itu tandanya anda gak
    > kreatif dalam bikin nama.
    >
    > 8. Abjad huruf pertama nama anak.
    >
    > Huruf pertama "A" pada nama anak ada enak gak enaknya. Gak enaknya
    > kalau pas ada ujian/test/wawancar a sering dipanggil duluan. Gak sempet
    > nanya-nanya ama temannya. Tapi kadang-kadang juga pas giliran dapat
    > pembagian apa gitu, dapetnya juga sering duluan. Sebaiknya ambil
    > huruf pertama itu antara D sampai K. Cukupan lah... Huruf depan Z... wah..
    > biasanya adanya dibawah...
    >
    > 9. Jangan sok Kebarat-baratan
    >
    > Jangan memberi nama anak dengan bergaya kebarat-baratan, biar dibilang
    > keren. Kudu diinget, anda lahir dibumi Indonesia, orang Indonesia,
    > kultur ya tetap orang Indonesia. Kalau nama keindo-indoan, tapi mukanya
    > ya melayu-melayu juga, malu sendiri kan, anaknya ya ortunya.. Lagian
    > kalo kejepit toh bilangnya "adawww...." bukan "Oh my God.."

  • Teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika

    Caranya begitu unik.
    Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan
    hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.
    Maklum, ordernya memang begitu.
    Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau
    binatang sirkus di Amerika.

    Cara menangkapnya sederhana saja.
    Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit.
    Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma.
    Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang.
    Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan
    menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

    Para pemburu melakukannya di sore hari.
    Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di
    dalam botol tak bisa dikeluarkan.
    Kok, bisa?
    Tentu kita sudah tahu jawabnya.

    Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples.
    Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang
    ada di dalam.
    Tapi karena menggenggam kacang,
    monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
    Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak.
    Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
    Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !

    Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
    Tapi,

    tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri.
    Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
    Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet
    mengenggam kacang.

    Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maafâ’

    Mulut mungkin berkata ikhlas,
    tapi bara amarah masih ada di dalam dada.
    Kita tak pernah bisa melepasnya.

    Bahkan, kita bertindak begitu bodoh,
    membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi.
    Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
    Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

    Teman,
    sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman
    tangannya.

    Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau
    melepas

    semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita.

    Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya
    dengan senyum.
    Dan, kita pun tahu surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya
    bersih.

    Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu?

  • Apakah tiga faktor utama pembentuk dan pengembang sebuah komunitas?

    Adanya seorang pemimpin yang di percaya.

    Ke-utuhan & perkembangan dari suatu komunitas tidak bisa di pungkiri datangnya dari seorang pemimpin yang handal.

    Saya mengutip dari perkataan pak Mario yang bijaksana yaitu : lebih baik sekelompok domba yang di pimpin oleh seekor singga dari pada sekelompok singa yang di pimpin oleh seekor domba.

    Mempunya Visi & Misi.

    Visi & Misi adalah arah dan tujuan untuk komununitas tsb, seekor singa akan bisa menjadikan sekelompok domba menjadi berani selayaknya sekelompok singa, karena misi & visi yang jelas & logis.

    Menciptakan rasa aman ( secure ), bagi members.

    Apabila sekelompok domba yang lemah saja sudah merasa aman di pimpin oleh seekor singa yang perkasa, rasanya domba-domba tersebut akan rela menyerahkan seluruh kemampuannya untuk komunitas tsb.

  • Memahami Cara Mewujudkan Suatu Gagasan

    Setiap individu pasti pernah memiliki gagasan atau ide. Bahkan dalam
    kenyataan banyak ditemui bahwa satu orang mungkin bisa memiliki puluhan
    gagasan sekaligus. Tanpa memandang tingkat pendidikan dan status sosial
    ekonomi sebuah gagasaan akan muncul manakah seseorang dihadapkan pada
    suatu tantangan atau berada dalam suatu lingkungan baru. Namun dari
    sekian banyak orang yang memiliki gagasan, hanya sedikit saja yang mampu
    mewujudkan gagasan tersebut menjadi suatu hasil karya yang berguna bagi
    dirinya maupun lingkungannya.

    Pertanyaannya adalah mengapa tidak semua orang bisa mewujudkan gagasan
    atau ide tersebut menjadi kenyataan? Tahapan apa saja yang harus dilalui
    agar gagasan yang cemerlang dapat terwujudkan dan berguna bagi
    kesejahteraan individu? Artikel singkat ini ditulis untuk mencoba
    menjawab pertanyaan-pertanya an tersebut.

    Menjadi Awal

    Gagasan adalah bukan ?sesuatu? tetapi ia menjadi awalnya. Mirip angka
    nol yang menjadi awal seluruh hitungan tetapi ia tidak memiliki makna
    hitungan apapun kecuali jika ia berasosiasi dengan angka lain. Begitu
    juga dengan gagasan anda. Tanpa diasosiasikan dengan perangkat lain,
    gagasan akan tetap selamanya menjadi gagasan. Maka tugas anda yang
    paling utama adalah menjadi pejuang gagasan anda, bukan sekedar
    memilikinya.

    Kesalahan umum yang sering terjadi adalah gagasan ditempatkan sebanding
    dengan sesuatu hingga akhirnya mengakibatkan gagasan tersebut menemui
    ajal sebelum waktunya. Anda merasa cukup berhenti dengan memilikinya
    tanpa perjuangan untuk mewujudkannya atau memilih untuk membunuhnya
    sebelum dikeluarkan judgment lingkungan bahwa gagasan anda tidak akan
    hidup. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka sembunyikan
    gagasan anda dari siapapun sebelum anda menemukan cara bagaimana gagasan
    tersebut bisa direalisasikan supaya tidak langsung menjadi santapan
    virus lingkungan.

    Tahapan

    Bagian dari perjuangan terhadap gagasan adalah memahami bagaimana ia
    bekerja sesuai dengan hukum alamnya sehingga anda menjadi sadar (aware)
    terhadap sesuatu yang terjadi pada diri anda selama menjalani proses.
    Tanpa pemahaman yang cukup, maka akan mengakibatkan bongkar pasang
    gagasan atau cepat tergoda oleh gangguan eksternal yang menggerogoti
    kegigihan anda memperjuangkan gagasan tersebut. Berikut adalah tahapan
    proses yang ditempuh gagasan menuju realisasi fisiknya.

    Tindakan

    Jika gagasan masih berupa angka nol, bukan sesuatu, maka tindakan
    adalah angka satu yang berarti sesuatu. Temukan format tindakan tertentu
    yang menjadi padanan fisik gagasan anda atau yang memperdekat ke arah
    realisasi riilnya. Seluruh tindakan anda memiliki fungsi bagi gagasan
    anda meskipun tidak semuanya berhasil. Seperti orang yang sedang
    memecahkan batu dengan jumlah pukulan yang tidak terhitung. Jika anda
    mengatakan batu tersebut pecah oleh pukulannya yang terakhir, jelas
    anda salah. Batu tidak pecah oleh hanya satu pukulan, tetapi beberapa
    pukulan di mana masing-masing pukulan memiliki maknanya sendiri.

    Tindakan memiliki daya tarik yang berfungsi untuk mengangkut gagasan
    anda menuju padanan fisiknya ketika tindakan tersebut sudah anda pahami
    sebagai habit dalam bentuk aktifitas atau kesibukan. Persoalannya adalah
    bagaimana anda menciptakan tindakan yang bernilai tinggi bagi gagasan
    anda sebab terkadang tidak semua tindakan punya relevansi dengan
    realisasi gagasan, meskipun tidak berarti bahwa tindakan tersebut
    sia-sia. Dalam hal ini masalahnya lebih pada suatu tindakan yang
    efektivitas dan efisiensi.

    Agar tidak kehilangan relevansi, maka janganlah menjadikan tindakan atau
    aktivitas atau kesibukan sebagai tujuan, sebaliknya letakkan semua pada
    perspektif masing-masing secara benar. Tujuan adalah hasil sedangkan
    tindakan merupakan media untuk mencapainya. Katakanlah jika anda sudah
    memiliki tujuan, target atau tujuan mikro, dan tindakan, maka
    pertanyaannya, sejauhmana masing-masing komponen tersebut berfungsi
    mengarah pada titik fokus anda. Atau lebih singkatnya, sejauhmana
    aktivititas anda mampu menghasilkan asset bagi hidup anda?

    Tidak cukup dengan menjaga relevansinya saja, tindakan pun perlu bahan
    bakar yang dihasilkan dari kematangan spektrum emosi. Kuncinya terdapat
    pada penggunaan pilihan positif bagi keyakinan, pikiran, mental, sikap,
    atau perasaan anda. Dengan pilihan tersebut anda mampu mengatasi
    tantangan atau godaan yang mayoritasnya berupa keragu-raguan, pesimisme,
    rasa tidak berdaya atau ?The I cannot attitude?, malas, pengecut, atau
    kekerdilan harga diri yang seringkali muncul di tengah perjuangan hidup
    anda.

    Interaksi

    Jika tindakan berupa angka satu, maka interaksi adalah angka dua.
    Maksudnya, anda harus menemukan pasangan dari kelompok yang anda pilih
    untuk merealisasikan gagasan anda. Alasannya sangat jelas, bahwa
    pertama, anda tidak bisa menjadi hebat di atas gagasan anda dengan
    seorang diri, dan kedua, semua yang ingin anda wujudkan dengan gagasan
    tersebut berada di tangan orang lain. Itulah betapa penting peranan
    interaksi.

    Riset international membuktikan bahwa keberhasilan suatu gagasan
    seseorang ditentukan oleh keahlian tekhnis dan keahlian bagaiman anda
    menciptakan interaksi. Keahlian tekhnis memegang peranan lima belas
    sampai dua puluh lima persen dan sisanya interaksi. Tanpa interaksi
    maka mustahil diciptakan kreasi atau prestasi dari gagasan anda. Oleh
    karena itu keberhasilan suatu gagasan tidak bisa didasarkan dari sudut
    merah-putih, atau benar-salahnya akan tetapi dari cara bagaimana gagasan
    itu diinteraksikan ke pikiran orang lain.

    Interaksi menciptakan experiencing dalam hal business of selling yang di
    dalamnya mengandung the skill of leadership, the art of networking,
    marketing, dan promotion yang dibutuhkan layaknya seorang pejuang. Bisa
    dibayangkan jika Soekarno atau Mahatma Gandhi tidak didukung oleh
    rakyatnya, bahkan Bill Gate pun bukan manusia pengecualian jika
    penemuannya tidak mendapat sambutan dari orang banyak untuk sama-sama
    merealisasikan penggunaan software komputer yang digagasnya.

    Kreasi

    Kreasi adalah moment of ?Aha? yang merupakan angka tiga di mana gagasan
    anda telah menemukan padanan fisiknya atau sudah bisa bekerja untuk
    kehidupan anda. Kemerdekaan yang diciptakan Gandhi adalah kreasi
    termasuk juga putra-putri anda atau pekerjaan yang sekarang menopang
    hidup anda. Semua itu tercipta setelah muncul gagasan, tindakan, dan
    interaksi entah dalam bantuk polarisasi, integrasi atau kontradiksi
    [baca: paradoks] seperti seorang bayi yang pasti dilahirkan dari proses
    interaksi lawan jenis.

    Di jagat raya ini hampir tidak ada yang menyamai kedahsyatan gagasan
    yang telah menemukan padanan fisiknya. Untuk memperoleh pemahaman ini
    anda tidak perlu harus membuka lembaran sejarah yang telah dipenuhi
    prestasi spektakuler para nabi yang berjuang dengan gagasannya ratusan
    tahun lalu dan hingga kini masih diperjuangkan pengikutnya, ilmuan atau
    industrian yang hasil jerih payahnya telah dimasukkan ke dalam asset
    dunia, atau nenek moyang keluarga kerajaan Inggris dan Saudi yang
    seakan-akan direlakan oleh bangsanya untuk memiliki suatu negara tanpa
    batas. Di sekeliling anda masih banyak manusia yang asal mulanya
    biasa-biasa tetapi kemudian dibedakan dengan kreasinya sehingga ia tidak
    hanya sekedar menjadi someone bagi someone akan tetapi menjadi "world"
    bagi banyak someone. Banyak kepala keluarga yang menjadi world bagi
    putra-putrinya, demikian pula seorang pengusaha sukses yang menjadi world
    bagi banyak karyawannya. Sekali lagi, itulah gagasan yang telah
    menemukan padanan fisiknya.

    Tetapi jangan berpikir ke tahap kreasi jika anda sudah memilih takdir
    untuk menjadi pejuang gagasan orang lain alias pengikut. Kedahsyatan
    kreasi ditentukan oleh seberapa dalam kreasi tersebut menjadi
    representasi dari orisinilitas anda sehingga ia memiliki akar kokoh ke
    tanah terlepas di bidang apapun kreasi anda diimplementasikan. Dengan
    kata lain, kreasi adalah tahapan dari self ? realization dan self -
    actualization yang ditandai dari start di mana kaki anda tidak ragu-ragu
    lagi menginjak di atas tanah realitas atau di mana keyakinan anda
    sepenuhnya diberangkatkan dari dalam ke luar.

    Dengan memahami bagaimana cara mewujudkan sebuah gagasan maka diharapkan
    gagasan-gagasan yang ada di kepala anda dapat segera terwujudkan. Dengan
    perwujudan tersebut mudah-mudahan dapat memberikan sumbangan bagi bangsa
    kita yang memang kaya akan gagasan tetapi sangat miskin realisasinya.
    Semoga berguna. (jp)

  • Berani gagal

    Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan ''tertidur.'' Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan ''tertidur.''

    Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

    Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!

    Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah ''rahmat terselubung' ' karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

    Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.

    Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata,

    ''Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!''

    Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas,

    ''Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.''

    Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

    Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.

    Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin,

    ''Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalam an spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalam an manusiawi.''

    Manusia bukanlah ''makhluk bumi'' melainkan ''makhluk langit.'' Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ''rumah'' untuk mencari ''rumah'' yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

    Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.

    Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!

    Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulka n kekayaan -- apalagi dengan menyalahgunakan jabatan -- kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.

    Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:

    Belajarlah MENDENGARKAN.

    Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.

  • Cerita petani

    Dari kecil saya senang mendengar cerita. Baik lisan maupun tertulis. Dan cerita ini pula sering menjadi bahan ilustrasi saya jika sedang kebagian tugas mengajar. Tidak tahu kenapa, buat saya selalu saja ada hikmah dari cerita yang saya dengar. Berikut salah satu cerita yang ingin saya share:

    Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu2 nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.

    Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu
    berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".
    Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

    Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang2 dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni "koleksi" kuda2 yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang2 kuda segera menawar kuda2 tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.

    Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu
    berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
    Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

    Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.

    Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu
    berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".
    Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

    Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.

    Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
    Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

    Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa2 yang kita sebut hari ini sebagai "kesialan", barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju "keberuntungan" . Maka orang2 seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk "menghakimi" kejadian dengan label2 "beruntung", "sial", dan sebagainya.

    Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu "kesialan", manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain.

    Maka berhentilah menghakimi apa –apa yang terjadi hari ini, kejadian –kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas dan apapun namanya . . . .yang selama ini kita sebut dengan "kesialan" , "musibah " dll , karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu (di).

    "Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja."

    Dari kecil saya senang mendengar cerita. Baik lisan maupun tertulis. Dan cerita ini pula sering menjadi bahan ilustrasi saya jika sedang kebagian tugas mengajar. Tidak tahu kenapa, buat saya selalu saja ada hikmah dari cerita yang saya dengar. Berikut salah satu cerita yang ingin saya share:

    Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu2 nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.

    Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu
    berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".
    Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

    Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang2 dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni "koleksi" kuda2 yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang2 kuda segera menawar kuda2 tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.

    Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu
    berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
    Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

    Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.

    Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu
    berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".
    Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

    Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.

    Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
    Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

    Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa2 yang kita sebut hari ini sebagai "kesialan", barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju "keberuntungan" . Maka orang2 seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk "menghakimi" kejadian dengan label2 "beruntung", "sial", dan sebagainya.

    Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu "kesialan", manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain.

    Maka berhentilah menghakimi apa –apa yang terjadi hari ini, kejadian –kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas dan apapun namanya . . . .yang selama ini kita sebut dengan "kesialan" , "musibah " dll , karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu (di).

    "Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja."

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.