Walaupun tidak ada kehidupan yang tidak dipengaruhi Yesus, tetap saja Bart Ehrman, Dan Brown, dan penulis lainnya menyang-sikan keilahian Yesus. Popularitas dan uang telah membutakan mata hati mereka.
BART EHRMAN - Terguncang Kesalahan Penyalinan
Dalam buku Misquoting Jesus, Bart Ehrman menceritakan pertobatan dan keraguannya yang kemudian muncul. Ehrman dibesarkan di gereja Episkopal liberal, namun “mengalami kelahiran kembali” ketika SMA. Ia merasa kesepian dan mengira ada sesuatu yang hilang. Menurutnya, seorang pemimpin Youth of Christ memanfaatkan kesepian itu dan “menyampaikan pesan yang ampuh bahwa kehampaan batin kami (Kami masih remaja! Kami semua merasakan kehampaan itu!) terjadi karena kami tidak memiliki Kristus di dalam hati kami.” Akhirnya Ehrman pasrah, menerima Kristus, dan mengalami kelegaan karena telah “diselamatkan”.
Ehrman lalu kuliah di Moody Bible Institute, Chicago, selama tiga tahun. Prestasinya bagus sekali. Namun, semakin ia mencermati naskah Kitab Suci berbahasa Yunani, semakin ia bergumul dengan apa yang dipandangnya sebagai kekeliruan menyesatkan di balik permukaan. Ineransi Perjanjian Baru bergantung pada adanya naskah asli, padahal yang kita miliki sekarang tinggal salinan—bahkan salinan kesekian. Dan naskah itu penuh dengan kesalahan penyalinan. Ada yang tidak sengaja, namun sebagian disengaja. Begitu menurutnya.
Ia pun menekuni Perjanjian Baru bahasa Yunani di Wheaton College. Pergumulannya semakin nyata. “Saya terus-menerus kembali kepada pertanyaan saya yang mendasar: apa gunanya kita mengatakan bahwa Alkitab adalah firman yang tidak bisa salah dari Allah jika kenyataannya kata-kata yang ada dalam Alkitab kita bukanlah kata-kata yang terilham dan tidak bisa salah dari Allah…?”
Kuliah lanjutan di Princeton menjadi sebuah titik balik. Dan bila saja ditemukan satu kesalahan sahih (misalnya, Markus 2:26 menyebut Abyatar menjabat sebagai imam besar pada masa Daud, padahal seharusnya Ahimelekh) terkuaklah jalan bagi Ehrman untuk memercayai bahwa Perjanjian Baru itu tidak seandal pandangan yang dianutnya selama ini. “Singkatnya, penelitian saya terhadap Perjanjian Baru bahasa Yunani, dan penyelidikan saya terhadap manuskrip-manuskripnya, menghasilkan perubahan radikal terhadap pemahaman saya akan Alkitab.”
Saat ini Ehrman mengepalai jurusan studi agama di Universitas North Carolina, Chapel Hill. Seorang penulis prolifik, Ehrman menjadi orang skeptis yang tak henti-hentinya mempertanyakan pemahaman tradisional terhadap Perjanjian Baru, pesannya, dan sejarahnya. Apakah Ehrman masih orang Kristen? Ia menyebut dirinya “orang agnostik yang bahagia.” Dalam wawancara dengan The Washington Post, ia memaparkan pemahamannya akan kehidupan sesudah kematian: “Menurut saya itu hanya akhir dari keberadaan Anda, seperti nyamuk yang Anda tepuk kemarin.”
DAN BROWN - “Saya Orang Kristen”
Sebelum menjadi penulis, Dan Brown ternyata sempat menjajal karier sebagai penulis lagu dan penyanyi. Untuk promosinya, ia dibantu oleh Blythe Newlon, yang kelak menjadi istrinya dan berpengaruh besar pada kariernya. Hasilnya jauh dari harapan.
Brown beralih menjadi guru bahasa Inggris di kota asalnya, New Hampshire. Tahun 1994 saat berlibur di Tahiti, ia membaca Doomsday Conspiracy karya Sidney Sheldon, dan yakin dapat menulis novel yang lebih baik. Ia pun mulai mengerjakan Digital Fortress, dan bersama istrinya menulis buku humor. Tiga novel pertama dan dua buku humornya kurang laku. Namun, novel keempatnya, The Da Vinci Code yang kontroversial itu, melejitkan namanya dan mengatrol penjualan buku-bukunya yang lain.
Buku-buku Brown, khususnya The Da Vinci Code, dianggap anti-Kristen. Namun, Brown menyebut dirinya orang Kristen. “Saya orang Kristen, meskipun mungkin bukan dalam arti kata yang paling tradisional. Bila Anda menanyai tiga orang apa artinya menjadi orang Kristen, Anda akan mendapatkan tiga jawaban yang berbeda. Sebagian merasa dibaptis itu sudah cukup. Yang lain merasa Anda harus menerima Alkitab sebagai fakta historis yang kekal. Yang lain menganggap semua Buku-buku Brown, khusus-nya The Da Vinci Code, dianggap anti-Kristen. Namun, Brown menyebut dirinya orang Kristen. “Saya orang Kristen, meskipun mungkin bukan dalam arti kata yang paling tradisional. Bila Anda menanyai tiga orang apa artinya menjadi orang Kristen, Anda akan mendapatkan tiga jawaban yang berbeda. Sebagian merasa dibaptis itu sudah cukup. Yang lain merasa Anda harus menerima Alkitab sebagai fakta historis yang kekal. Yang lain menganggap semua Menurutnya, kontroversi itu bagus untuk menggugah “diskusi dan debat” yang pada akhirnya membuahkan iman yang dipertahankan secara lebih solid.
MICHAEL BAIGENT - Yesus Tidak Mati di Salib
Michael Baigent berasal dari Selandia Baru. Ia dibesarkan sebagai orang Katolik, rajin ke gereja tiga kali seminggu, dan diajari teologi Katolik sejak berumur 5 tahun.
Ayahnya pergi saat ia berusia 8 tahun, dan ia lalu menggunakan nama Baigent, mengikuti kakek dari pihak ibunya. Ia sempat berniat melanjutkan bisnis keluarga dengan berkuliah di bidang kehutanan, namun kemudian ia tertarik mempelajari perbandingan agama dan filsafat. Ia menelisik agama Budha, Hindu, dan kekristenan. Berkeliling Australia dan Asia Tenggara, kadang-kadang ia hidup menggelandang. Ia lalu kembali ke Auckland, meraih gelar sarjana dalam psikologi.
Tahun 1976, ia pindah ke Inggris. Minatnya pada Knights Templar (ordo militer Kristen pada abad pertengahan) membawanya berkenalan dengan Richard Leigh. Semula ia berencana membuat film dokumenter tentang hal itu. Namun, setelah sekian tahun meneliti masuk keluar hutan dan mengamati reruntuhan kuno— yang mereka hasilkan sebuah buku menggegerkan: The Holy Blood and the Holy Grail (1982).“Kami muncul di halaman setiap surat kabar di dunia, dan dalam acara bincang-bincang di Amerika. Namun, hal itu menimbulkan, khususnya dari orang Kristen fundamentalis, yang mengincar saya sejak saat itu, mengatakan saya akan masuk neraka dan saya harus meminta ampun,” kenangnya.
Menurut buku itu, Yesus menikahi Maria Magdalena dan memiliki keturunan yang masih hidup sampai sekarang. Gagasan itulah yang konon dicaplok Dan Brown dan dibesutnya menjadi The Da Vinci Code. Baigent dan Leigh sempat mengajukan tuntutan, menuduh Brown menjiplak karya mereka, namun pengadilan memenangkan Bown.Berbarengan dengan proses pengadilan itu, pada Maret 2006 ia menerbitkan The Jesus Papers, yang dicela sebagai sekadar pemolesan ulang Holy Blood, Holy Grail. Di situ ia antara lain mengklaim bahwa Yesus masih hidup sesudah disalibkan. Dalam wawancara ia mengatakan, banyak hal yang selama ini kita ketahui tentang Yesus adalah dusta. Itu dusta yang terang-terangan.
Konspirasi Media Menyalibkan Yesus
Simbiosis antara kerakusan kapitalis & bidat purba yang dikemas modern
Gayung bersambut. Begitulah para penulis antikristen saat bersua kapitalis transnasional. Terbentuk konspirasi yang saling mendukung, menguntungkan, dengan gelimang dollar yang aduhai!
Cerdik, tetapi menyesatkan. Itulah kesimpulan yang dapat ditarik kala mengamati fenomena getol-nya media-media “menyalibkan” Yesus. Skenario yang terencana matang dengan dukungan ahli-ahli teologi yang salah menempatkan iman, dan sumber-sumber purba sempalan yang terlalu dilebih-lebihkan nilainya; dikemas apik oleh media dan dipromosikan dengan gencar. Jadilah dagangan yang meng-guncang iman. Awalnya, munculnya pengania-yaan Yesus di media terlihat acak dan tidak memiliki pola tertentu. Namun, jika kita cermat mengamati, di antara produk-produk media seperti Beyond Belief, The Da Vinci Code, Misquoting Jesus, The Lost Gospel, The Gospel of Judas, The Secret of Judas, dan The Lost Tomb of Jesus terdapat mata rantai yang menghubungkan: ide perekayasaan Injil, kesamaan latar belakang pencetusnya (penulis, ilmuwan, sutradara, atau produser) dan dukungan raksasa kapitalis media.
Hal yang sangat menonjol dari gempuran media tersebut adalah usaha yang pantang menyerah untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah yang menjelma menjadi manusia. Mereka berusaha merekayasa Yesus sesuai dengan gambaran yang mereka ciptakan sendiri serta mencari sumber-sumber yang mendukung. Dan, mereka mengklaim sumber itu sudah ditemukan: Perpustakaan Nag Hammadi.
GNOSTISISME YANG BERSALIN RUPA
Perpustakaan Nag Hammadi adalah koleksi teks Gnostik Kristen yang ditemukan di kota Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Di dalamnya terdapat tiga belas kodeks ‘naskah’ papirus yang dijilid kulit dan terkubur dalam bejana yang disegel. Kodeks ini diyakini seba-gai suatu perpustakaan yang disembunyikan oleh para biarawan di St. Pakhomius saat kepemilikan atas tulisan-tulisan tersebut dikecam sebagai sesat.Tulisan-tulisan dalam kodeks tersebut dibuat dalam bahasa Koptik, meskipun karya-karyanya mungkin merupakan terjemahan dari bahasa Yunani. Naskah yang paling terkenal dalam kodeks tersebut adalah Injil Maria (Magdalena), Injil Thomas, dan Injil Yudas. Secara umum, manuskrip-manuskrip tersebut adalah salinan dari naskah-naskah asli yang dipercaya beberapa ahli bertarikh akhir abad kedua (walaupun pembuktiannya belum final, bisa jadi naskah-naskah itu berumur lebih muda), saat Injil-injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) telah populer digunakan di gereja-gereja purba.
Teks-teks dalam naskah Nag Hammadi sangat menarik bagi orang-orang yang merasa tidak puas dengan gambaran Yesus selama ini: manusia sejati sekaligus Allah sejati. Terutama, sejak ditemukannya naskah ini, orang-orang seakan mendapat pijakan yang kuat atas ide mereka untuk merekonstruksi Yesus dan kekristenan.
ORANG-ORANG YANG MEMPROMOSIKAN GNOSTISISME
Lalu bagaimana orang-orang itu saling terkait? Kaitan yang terdapat diantara orang-orang tersebut bisa dilihat dari ide yang diajukan dalam karya-karya mereka yang berusaha memasyhurkan gnostisisme serta cabang-cabangnya karena dalam gnostisisme, keilahian Yesus disangkal.
Dan Brown misalnya, novel The Da Vinci Code (Doubleday—anak Random House, 2003) berusaha me-masyhurkan Injil Maria (Magdalena) dan Injil Filipus—juga naskah Nag Hammadi— yang di dalamnya terdapat konsep tentang Yesus Kristus yang menikahi Maria Magdalena. Kabarnya, beberapa ide novel itu menjiplak buku Michael Baigent, Henry Lincoln, dan Richard Leigh: Holy Blood, Holy Grail (1982). Bahkan Leigh dan Teabing (anagram dari Baigent) menjadi tokoh antagonis dalam novel. Michael Baigent adalah editor Majalah Freemasonry Today—Freemasonry adalah salah satu bentuk neo-gnostisisme.
Bart D. Ehrman, penulis Misquoting Jesus (Harper, 2005)—berisi penghakiman sepihak bahwa bapa-bapa gereja telah memanipulasi isi Injil kanonik—adalah anggota tim penafsir Injil Yudas dan penulis pengantar tambahan dalam Injil tersebut. Berkali-kali ia mengatakan bahwa ada bentuk kekristenan yang hilang yaitu kekristenan yang terdapat dalam Injil-injil Nag Hammadi.
Elaine Pagels menulis dalam bukunya, Beyond Belief (Random House, 2003), bahwa seharusnya Injil Thomas—Injil yang ditemukan dalam kepustakaan Nag Hammadi—ditempatkan sebagai Injil kelima untuk melengkapi Injil kanonik atau bahkan se-harusnya menggantikan Injil Yohanes. Elaine Pagels adalah anggota tim penafsir Injil Yudas—Injil kepustakaan Nag Hammadi yang berisi Yudas Iskariot sebagai murid kesayangan Yesus dan pengkhianatannya malah merupakan perintah Yesus.
Herb Krosney penulis The Lost Gospel (National Geographic, 2006) yang menarasikan kisah penemuan Injil Yudas adalah wartawan dan salah satu produser televisi National Geographic. Dalam salah satu wawancara dengan National Geographic, ia mengungkapkan, “Injil Yudas akan membuka pengetahuan tentang sejarah dunia yang selama ini tidak terlalu dipahami(tentang kekristenan—red.) dan memberikan penafsiran baru tentang Yudas Iskariot dan hubungan dirinya dengan Yesus.”
Marvin Meyer yang menerjemah-kan Injil Yudas (National Geographic, 2006) adalah salah satu anggota Jesus Seminar yang dipimpin Robert Funk.
KAITAN DI ANTARA MEREKA
Jesus Seminar adalah kelompok yang terdiri dari 200 ahli Perjanjian Baru yang didirikan Robert Funk pada tahun 1985 untuk memilah perkataan-perkataan Yesus dalam kategori dan menandainya dengan warna yang berbeda—selama ini hanya warna merah untuk ucapan Yesus dan warna hitam untuk tulisan yang lain—jika semua setuju ucapan itu asli, diberi warna merah; jika ada yang agak diragukan, diberi warna merah jambu; jika seba-gian besar dari mereka meragukan, ucapan itu diberi warna abu-abu; dan jika seluruh anggota tidak setuju, diberi warna hitam.
Hasilnya hanya 18 persen perkataan Yesus yang benar-benar mereka anggap valid keluar dari mulut Yesus dan berdasar kesimpulan itu, Yesus digambarkan sebagai pribadi bijaksana, tetapi tidak pernah mengkhotbahkan Injil Kerajaan Allah, tidak mati disalib-kan, apalagi bangkit dari kematian. Di dalamnya terdapat Karen Armstrong (Penulis Sejarah Tuhan, History of God, Ballantine—anak Random House, 1993), Robert Price (penulis buku Deconstructing Jesus: yang isinya menyangkal Yesus pernah hidup di dunia), dan James M. Robinson (The Secret of Judas, Harper, 2006). Robinson, Meyer, Ehrman, Pagels menjadi bagian terpenting atas terbitnya The Gospel of Judas. Menurut mereka, Yesus tidak bisa disamakan dengan Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia hanyalah manusia biasa. Pemahaman inilah yang mendasari naskah-naskah Gnostik Nag Hammadi.
Semangat mereka untuk menon-jolkan Injil-injil di luar empat Injil kanon tersebut membuktikan bahwa mereka sedang mengusung Neo-gnostisisme, paham yang menjadi bagian dari paham Gerakan Zaman Baru (New Age—paham yang mengajarkan bahwa manusia dapat mencapai kesempurnaan dan setara dengan Tuhan melalui laku tertentu, misalnya dengan meditasi, yoga, atau dalam gnostisisme dengan menyerap pengetahuan baru). Atau dengan kata lain mereka sedang menampilkan gnostisisme dalam wajah baru. Namun, apakah motivasi mereka sedemikian “suci”; memperjuangkan keyakinan apa pun risikonya?
KONSPIRASI DIMOTORI UANG
Bukankah media massa dan Yudas Iskariot tahu Yesus bisa mendatangkan uang. Sepertinya Brown, Ehrman, Pagels, Meyer, dan Robinson juga tahu itu. Saat mereka bertemu media dengan membawa konsep “penyaliban” yang disukai media; klop sudah. Hanya saja, media melangkah lebih jauh daripada yang dilakukan Yudas. Yudas menjual Yesus seharga 30 keping perak (harga budak belian di Palestina pada abad pertama), tetapi menyesal saat mengetahui gurunya disalib dan kemudian menggantung dirinya (Matius 27:3-5). Media menjual Yesus dengan nilai yang bermiliar kali 30 keping, sekaligus menjadi hakim atas-Nya, dan menjadi “eksekutor” penyaliban-Nya.
HARGA KOMODITAS YESUSHal paling mencolok dalam fenomena ini adalah perputaran kapital yang mega besar. Buku The Da Vinci Code (penerbit Doubleday—anak perusa-haan Bertelsmann AG yang salah satu anak perusahaannya adalah perusa-haan rekaman BMG) yang terjual lebih dari 60,5 juta kopi (dengan pemasukan kotor mendekati $600 juta atau Rp5,4 triliun)—diterjemahkan dalam 44 bahasa—di seluruh dunia menempatkan penulisnya di deretan orang terkaya di dunia—hanya dari satu judul buku—dan tidak hanya mendongkrak novel-novel awalnya, tetapi bahkan mendongkrak larisnya buku-buku sejenis, seperti The Last Templar dan The Templar Legacy (Ballantine, 2005). Ke-suksesan novel tersebut tidak lepas dari dukungan penuh semangat New York Times, People Magazine, dan Washington Post. Beberapa waktu kemudian, Sony Corp melalui anak perusahaannya, Columbia Pictures, membayar Dan Brown $6 juta (Rp54 miliar) untuk mendapatkan hak pembuatan film berdasar novelnya karena Sony mengendus bau uang di dalamnya. Dan, filmnya sendiri—walau mendapat banyak kritik karena tidak sesuai kelas pemenang Oscar, Ron Howard (Beautiful Mind) dan Tom Hanks (Forest Gump)—meledak di pasar dan menambah pundi-pundi Sony Corp setidaknya $756 juta (setara Rp6,8 triliun). Jadi total uang yang “dimainkan” dari novel, film, dan pernak-pernik The Da Vinci Code jauh lebih banyak daripada anggaran wajib belajar Indonesia (berarti seluruh anak SD-SMP di Indonesia bisa sekolah gratis dengan uang itu).
JANGAN TERKEJUT!
Kemungkinan besar, konspirasi-kons-pirasi yang bertujuan untuk melemahkan iman orang-orang percaya di masa depan akan makin canggih dan intensif; disertai dengan “bukti-bukti” yang seakan-akan sulit disangkal. Namun, seperti yang dikatakan Paulus, “… karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu” (Ef. 6:12). Jadi, bersiap-siaplah sebab seperti dikatakan Yesus, “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat. 10:16).
Buku-buku yang Menyalibkan Yesus
Judul/Buku/Pengarang: Kesalahan:
Holy Blood, Holy Grail
Michael Baigent, Henry Lincoln, Richard Leigh (1983) Cawan suci adalah seorang manusia.
Maria Magdalena sebagai Cawan Suci dianggap meneruskan garis keturunan Yesus hasil pernikahan mereka.
Pada Perjamuan Terakhir, yang diminum adalah darah Yesus sendiri. Cawan Suci adalah sebuah legenda abad pertengahan tentang piala Perjamuan Terakhir.
Alkitab melarang keras memakan darah. Dan Yesus mengangkat cawan berisi anggur sebagai lambang. Jadi bukan darah-Nya sendiri.
The Gospel of Barnabas
Lonsdale Ragg, Laura Maria Roberts Ragg (1994) Yesus = Yohanes pembaptis.
Yesus tidak disalibkan, Yudaslah yang disalibkan.
Yesus bukanlah Mesias. Yohanes Pembaptis adalah sepupu Yesus dan dia adalah orang yang membaptis Yesus dengan air (Mat. 3:13-17).
Yesuslah yang disalibkan, sementara Yudas mati menggantung diri (Luk. 23:33-43; Flp. 2:8; Kis. 1:18).
Yesus adalah anak Allah yang hidup (Mat. 16:16).
The Gospel of Thomas
Richard Valantasis(1997) Semua orang bisa menjadi Kristus.
Keselamatan didapat dari usaha mempersembahkan diri.
Wanita lebih terpenjara jiwanya dibandingkan pria dan lebih rendah dari pria. Kristus itu Tuhan, dan kita tidak bisa menjadi Tuhan.
Keselamatan hanya didapat lewat anugerah, jadi bukan hasil usaha manusia.
Wanita dan pria sama-sama diciptakan serupa dan segambar dengan Allah (Kej. 1:27).
The Gospel of Mary Magdalene
Jean-Yves Leloup and Jacob Needleman (2002) Yesus selalu merahasiakan sesuatu dari murid-murid-Nya.
Dunia ini bebas dari dosa. Yesus tidak pernah merahasiakan apa pun dari para murid-Nya, termasuk dalam pergumulan berat-Nya di Taman Getsemani (Mat.26:38).
Dunia ada dalam pengaruh dosa dan semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).
The Da Vinci Code
Dan Brown (2003) Yesus menikah dengan Maria Magdalena.
Lukisan dalam Perjamuan Makan Terakhir bukanlah Yohanes, tapi Maria Magdalena.
Injil Gnostik merupakan bagian yang hilang dari Injil Alkitab.
Brown mengklaim Yesus menghendaki agar gerakan feminisme sakral yang dipimpin Maria Magdalena dibuat berkembang.
Petrus menyimpan iri hati terhadap Maria Magdalena karena Ia lebih mengasihi Maria daripada dirinya.
Yesus bukanlah Tuhan. Dia hanya manusia biasa. Baru pada zaman Kaisar Konstantin, Yesus dianggap sebagai Tuhan melalui Konsili Nicea (325). Berdasarkan catatan para saksi mata, tidak pernah ada petunjuk Yesus menikah.
Alkitab mengatakan Yohanes hadir pada Perjamuan Terakhir (Yoh. 13:23, 19:26, 20:2, 21:7). Tidak satu pun injil-injil Gnostik yang memenuhi syarat sebagai dokumen yang bisa dipercaya berdasarkan standar Perjanjian Baru.
Maria Magdalena bukan seorang feminis. Dia adalah pengikut Kristus yang setia.
Tidak pernah ditunjukkan Petrus terlibat konflik tajam dengan Maria.
Para murid mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan (Yoh. 1:41,49; 20:18; Mat. 16:15-16).
Yohanes Pembaptis pun bersaksi bahwa Yesus adalah anak Allah (Yoh. 1:29-34).
Buku-buku ini hanya sebagian kecil dari banyak buku yang mendeskreditkan Yesus dan mempertanyakan keakuratan Alkitab sebagai firman Tuhan. Kami memilih berdasarkan banyaknya kontroversi yang muncul dan polemik yang berkepanjangan seputar penerbitan buku-buku tersebut.
